Home > Bimbingan Islam > Matan Abu Syuja > Kajian 036 | Rukun-Rukun Shalat (Bagian 1)

Kajian 036 | Rukun-Rukun Shalat (Bagian 1)


🌍 BimbinganIslam.com
👤 Ustadz Fauzan ST, MA
📗 Matan Abu Syuja
📝 Ahmad bin Al-Husain bin Ahmad Al-Asfahāniy (Imam Abū Syujā’)

➖➖➖➖➖➖➖

MATAN KITAB

أركان الصلاة(فصل) وأركان الصلاة ثمانية عشرة ركنا النية والقيام مع القدرة وتكبيرة الإحرام وقراءة الفاتحة وبسم الله الرحمن الرحيم آية منها والركوع والطمأنينة فيه والرفع والاعتدال والطمأنينة فيه والسجود والطمأنينة فيه والجلوس بين السجدتين والطمأنينة فيه والجلوس الأخير والتشهد فيه والصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم فيه والتسليمة الأولى ونية الخروج من الصلاة وترتيب الأركان على ما ذكرناه.

Rukun-rukun (fardhu) shalat ada 18 (delapan belas); niat, berdiri apabila kuasa, takbirotul ihram, membaca al-fatihah dengan barmalah-nya, ruku’, tumakninah dalam ruku’, bangun dari ruku’, i’tidal (berdiri setelah ruku’), tuma’ninah saat i’tidal, sujud, dan tuma’ninah saat sujud, duduk di antara dua sujud dan tuma’ninah, duduk terakhir, dan tasyahud (tahiyat) saat duuk terakhir, membaca shalawat pada Nabi saat tahiyat akhir, salam pertama, niat keluar dari shalat, tertib sesusai urutan rukun di atas.
➖➖➖➖➖

بسمــ اللّه الرحمنــ الرحيمـ‍ـ 
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وبعد

Para Sahabat Bimbingan Islam yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, kita masuk pada halaqah ke-36 tentang “Rukun-rukun Di Dalam Shalat”.

قال المصنف:
((وأركان الصلاة ثمانية عشرة ركنا))

((Dan rukun-rukun shalat ada 18 macam perbuatan))

Perbuatan-perbuatan dalam shalat terbagi menjadi:

⑴ Perbuatan yang termasuk dalam rukun shalat.
⑵ Perbuatan yang termasuk dalam wajib shalat.
⑶ Perbuatan yang termasuk dalam sunnah shalat.

Rukun adalah perbuatan yang secara umum apabila ditinggalkan maka shalat menjadi batal.

Ada beberapa keadaan secara rinci:

■ Pertama | Apabila ditinggalkan secara sengaja sementara dia mampu untuk melakukannya maka batal shalatnya

■ Kedua | Apabila ditinggalkan karena lupa maka ada beberapa keadaan:

⑴ Apabila seseorang teringat setelah melakukan shalat maka apabila jeda waktunya panjang maka batallah shalatnya.

⑵ Namun apabila jeda waktunya pendek maka yang rajih adalah pendapat Imām Syāfi’ī yaitu mengulangi rukun yang ditinggalkan dan perbuatan-perbuatan setelahnya sampai selesai shalat.

⇒ Panjang dan pendeknya jeda yang diperbolehkan maka dikembalikan kepada ‘urf (kebiasaan) yang berlaku pada masyarakat tersebut.

✓Apabila teringat di dalam waktu shalat maka dia mengulangi rukun tersebut dan gerakan-gerakan setelahnya sampai selesai shalat kemudian dia sujud syahwi.

✓Apabila teringat setelah masuk raka’at berikutnya, misalnya seseorang terlupa rukun pada raka’at pertama dan kemudian dia telah masuk kepada raka’at yang kedua maka raka’at yang pertama itu tidak teranggap dan raka’at yang kedua maka dia menjadi raka’at yang pertama.

■ Ketiga | Takbiratul ihrām jika ditinggalkan sengaja atau lupa maka shalatnya tidak dianggap (shalatnya batal).

Dan disebutkan oleh Penulis dalam matan bahwasanya ada 18 gerakan yang terhitung termasuk di dalam rukun. Disebutkan secara rinci:

● RUKUN KE-1

((النية))

((Niat))

Tidak sah shalat seseorang yang dilakukan tanpa niat.

◆ Dalil:

• Sabda Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

إنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

“Sesungguhnya amal-amal perbuatan itu tergantung niatnya.” (HR Bukhāri dan Muslim)

• Dan dinukilkan bahwasanya hal ini adalah ijmā’ oleh Imām Nawawi, Ibnu Mundzir dan Ibnu Qudamah yaitu tidak sah shalat seseorang yang dilakukan tanpa niat.

Niat dilakukan sebelum melaksanakan shalat dan tempat niat adalah di dalam hati dan tidak dilafazhkan di lisan.

● RUKUN KE-2

((والقيام مع القدرة))

((Berdiri jika mampu))

Hukum berdiri saat shalat perlu diperinci sebagai berikut.

✓Untuk shalat fardhu maka berdiri merupakan rukun di dalam shalat, artinya apabila ditinggalkan sengaja maka shalatnya batal.

◆ Dalil

• Firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla:

وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ

“Dan berdirilah kalian untuk Allāh dalam shalatmu dalam keadaan yang khusyū’.” (QS Al Baqarah: 238)

⇒ Para mufassirin bersepakat bahwasanya maksud وَقُومُوا (dan berdirilah) dalam ayat tersebut yaitu berdiri untuk shalat.

• Dan dalam hadits bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

صَلِّ قَائِمًا فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ

“Shalatlah kamu berdiri, jika tidak mampu maka duduklah, jika tidak mampu maka berbaringlah.” (HR Bukhāri)

✓Untuk shalat sunnah maka  maka diperbolehkan untuk shalāt sambil duduk bahkan bagi orang yang mampu untuk berdiri dalam shalatnya.

◆ Dalil:

• Hadits ⑴

عن عمران بن حصين قال : سألت النبي صلى الله عليه و سلم عن الذي يصلي قاعدا قال من صلى قائما فهو أفضل ومن صلى قاعدا فله نصف أجر القائم ومن صلى نائما فله نصف أجر القاعد.

Dari ‘Imrān bin Husain radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu berkata: Saya bertanya kepada Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam tentang shalatnya seseorang sementara dia dalam keadaan duduk.

Maka Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Barangsiapa yang shalat dan dia dalam keadaan berdiri maka itulah yang lebih baik bagi dia.

Dan barangsiapa yang dia duduk maka dia mendapatkan setengah dari pahala orang yang berdiri.

Dan barangsiapa yang shalat dalam keadaan berbaring maka dia mendapatkan pahala setengah pahala dari orang yang shalat sambil duduk.” (HR Bukhāri)

• Hadits ⑵

عن عائشة رضي الله تعالى عنها:  أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يصلي جالسا

Dari ‘Āisyah radhiyallāhu Ta’āla ‘anhā: bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi  wa sallam pernah shalāt sambil duduk
(HR Bukhāri dan Muslim)

Bolehnya shalāt sambil duduk untuk shalāt sunnah disebutkan para ulama adalah ijma’, yang dinukilkan ijma oleh Imām Nawawi, Ibnu ‘Abdil Barr dan Ibnu Qudāmah.

● RUKUN KE-3

((وتكبيرة الإحرام))

((Dan takbiratul ihrām))

Yaitu takbir yang pertama kali dan dengan takbir tersebut maka sesuatu yang halal menjadi haram, beberapa perbuatan yang boleh dilakukan di luar shalat tidak boleh dilakukan di dalam shalat. Dan dia termasuk dalam rukun shalat.

◆ Dalil

• Hadits ⑴
Hadits ‘Ali bin Abī Thālib radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

مِفْتَاحُ الصَّلاة الطُّهور، وتَحْرِيْمُهَا التكبيرُ، وَتَحْلِيلُهُا التَّسْلِيم

“Bersuci adalah pembuka (kunci) shalat dan takbir adalah yang membuat haram (hal-hal yang diperbolehkan diluar shalat) dan salam adalah yang membuat menjadi halal kembali.” (HR Imām Abū Dāwūd dan Tirmidzi)

• Hadits ⑵
Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

اذا قُمْتَ إلَى الصَّلاةِ فَكَبِّرْ

“Jika hendak melaksanakan shalat maka bertakbirlah.” (HR Al Khamsah)

Demikian para Sahabat sekalian, kita akan lanjutkan tentang rukun-rukun yang lainnya pada halaqah yang berikutnya.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
وآخر دعونا أن الحمد لله رب العالمين
____________

image_pdfimage_print

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top