Home > Kajian Kitab > Kitab Awaa’iqu ath Thalab > Materi 73 – Beberapa Faedah Tentang Sikap Tawaqquf (Berhenti ) Pada Hal Yang Tidak Diketahui (2)

Materi 73 – Beberapa Faedah Tentang Sikap Tawaqquf (Berhenti ) Pada Hal Yang Tidak Diketahui (2)

🌍 Kajian Kitab
👤 Al-Ustadz Abu Haidar As-Sundawy حفظه الله
📗 Kitab Awaa’iqu ath Thalab (Kendala Bagi Para Penuntut Ilmu)
📝 as-Syaikh Abdussalam bin Barjas Alu Abdul Karim حفظه الله

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Keempat diantara faedah dari sikap wallahu ‘alam adalah hal itu menjadi dalil, menjadi indikasi tentang terpercaya nya dia, sikap amanahnya dia. Jadi kalau ditanya, ‘Aduh wallahu ‘alam saya belum baca, saya belum temukan, saya belum tahu tentang hal itu’ ini menunjukan orang tersebut amanah, orang ini terpercaya dan orang ini yakin terhadap perkara yang dia sampaikan, apa yang dia sampaikan berarti dia sudah yakini kebenaran dari apa yang dia sampaikan, kalau belum yakin dia tidak akan sampaikan, buktinya ketika ditanya tentang sesuatu yang dia tidak tahu dia jawab ‘saya tidak tahu, saya belum tahu, saya belum baca tentang hal itu’, berarti apa yang dia sampaikan sudah dia yakini kebenarannya. Sebab kalau orang itu tidak jujur, orang itu tidak terpercaya dia bisa menjawab semaunya, mau benar mau tidak yang penting jawab walaupun dia belum yakin tentang kebenaran dari apa yang dia jawab, sebagaimana orang yang selalu bersegera berbicara termasuk kedalam perkara yang tidak dia ketahui. Umpamanya dia berbicara tentang sesuatu yang murid-muridnya sudah tahu tentang sesuatu itu, mana yang benar dari sesuatu yang disampaikan oleh sang ustadz, ternyata sang ustadz itu menyampaikan atau memberi jawaban yang keliru, yang salah. Sering ada mad’u, ada mustami, ada murid bertanya kepada guru bukan karena ingin tahu tetapi karena ingin ngetes seberapa luas ilmu sang ustadz, dia tahu jawabannya lalu dia tanyakan kembali, ada yang seperti itu ? ada, macam-macam motivasi nya pertama ngetes, kedua untuk mengadu dengan jawaban ustadz lainnya (dibenturkan), yang ketiga mencari masalah saja, bukan karena ingin jawaban yang sebenarnya tetapi kadang ingin mempermalukan ustadz ‘nih saya beri pertanyaan yang sulit, kalau ustadz itu gak bisa jawab, malu dia’, disangkanya kalau ustadz tidak bisa jawab dia akan malu ? engga, cukup mengatakan wallahu ‘alam. Apakah dengan mengatakan wallahu ‘alam itu turun derajat ke ustadz-an nya ? engga, malah orang semakin percaya ‘oh kalau ustadz ini mengatakan tidak tahu berarti dia amanah’, jadi kalau orang berbicara apapun dia omongin, dia jawab walaupun jawabannya ngaco timbul keraguan dalam diri si murid ‘ini yang diomongin ustadz benar engga semua dari awal tadi sampai sekarang, buktinya ketika ditanya tentang A jawabannya begini dia jawab begitu’ ragu dia, akhirnya karena ragu terhadap satu jawaban maka seluruh penjelasan dia dari awal sampai akhir diragukan kembali. Berdasarkan hal itulah maka orang yang mengatakan wallahu ‘alam, saya tidak tahu, saya tidak paham, saya tidak mengerti maka orang itu adalah orang yang amanah, orang yang jujur, orang yang tsiqoh (terpercaya) sehingga dia bisa dipercaya terus oleh murid-muridnya. Kelima sesungguhnya seorang mualim (guru, ustadz, kiyai) bila murid-muridnya muta’alim (orang yang belajar) melihat sang guru tawaqquf dalam perkara yang tidak diketahuinya itu disebutnya ‘teaching by doing‘ artinya mengajar sambil langsung praktik. Si guru mempraktikkan sebuah pelajaran yang berharga, apa pelajaran yang berharga itu ? kalau dalam perkara tidak tahu jujur-lah bilang tidak tahu, jangan memaksa-maksakan diri menjawab dengan kebodohannya. Si guru langsung mempraktikkannya dan itu yang disebut tadi ‘teaching by doing‘ mengajar dengan cara langsung praktik, langsung di aplikasikan, langsung di wujudkan didalam sikap dan ittiba’ mengikuti amal itu lebih bagus, lebih sempurna daripada mengikuti ucapan. Mengajar dengan praktik jauh lebih hebat pengaruhnya daripada mengajar dengan kata-kata. Dahulu Imam Ahmad bin Hamba rahimahullah kalau ngaji tidak kurang dari dua puluh ribu orang yang hadir tetapi hanya sedikit diantara murid-muridnya yang menulis, yang mencatat. Umumnya belasan ribu dari kalangan murid-muridnya belajar tanpa mencatat satu huruf-pun, lalu apa yang mereka pelajari ? mereka belajar langsung dari pengamalan imam Ahmad, diperhatikan segala sesuatu yang dilakukan oleh imam Ahmad, seluruh amalan yang dilakukan oleh para ulama zaman dahulu baik prilaku yang dilakukan oleh anggota badan termasuk ekspresi wajah, termasuk bagaimana ketika si ulama itu berbicara, itu seluruhnya merupakan aplikasi dari ilmu, pengamalan dari ilmu. Jadi untuk mempelajari ilmunya para ulama lihatlah sikapnya, lihat bagaimana mereka ibadah, lihat bagaimana mereka berbicara, lihat bagaimana mereka bermuamalah dengan sesama manusia (kepada muridnya, kepada tetangganya, kepada kawannya, kepada anggota keluarganya, kepada orang tuanya) itu semua merupakan perwujudan nyata dari ilmu yang sudah dipahami oleh para ulama. Jadi betapa banyaknya dan lebih banyak murid yang belajar ilmu dengan melihat amal yang dilakukan oleh guru-gurunya. Inilah yang dimaksud dengan ungkapan ‘Al iqtida bil ahwal wal amal, ablaghu minal iqtida bil akwal‘ mengikuti keadaan dan amalan sang guru jauh lebih efektif daripada mengikuti ucapan. Itulah lima faedah yang terkandung didalam sikap ungkapan wallahu ‘alam. Demikian yang bisa disampaikan

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ ، أشْهَدُ أنْ لا إلهَ إِلاَّ أنْتَ ، أسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إلَيْكَ
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *