Home > Kajian Kitāb > Kitab Awaa’iqu ath Thalab > Materi 72 – Beberapa Faedah Tentang Sikap Tawaqquf (Berhenti ) Pada Hal Yang Tidak Diketahui (1)

Materi 72 – Beberapa Faedah Tentang Sikap Tawaqquf (Berhenti ) Pada Hal Yang Tidak Diketahui (1)

🌍 Kajian Kitab
👤 Al-Ustadz Abu Haidar As-Sundawy حفظه الله
📗 Kitab Awaa’iqu ath Thalab (Kendala Bagi Para Penuntut Ilmu)
📝 as-Syaikh Abdussalam bin Barjas Alu Abdul Karim حفظه الله

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Sekarang kita memasuki Fawaidul Tawaqquf amma la ya’lam beberapa faedah tawaqquf (berdiam diri dari perkara-perkara yang tidak diketahuinya). Ada faedah, ada manfaat yang terkandung dari sikap yang mulia ini. Berkata Mualif, “Didalam sikap berdiam diri dari perkara-perkara yang tidak diketahui ada faedah yang banyak bahwa sikap ini adalah kewajiban bagi dia, bagi setiap orang”. Berdiam diri, tidak bicara, tidak bersikap dalam perkara-perkara yang tidak diketahui adalah wajib. Allah subhanahu wa ta’ala yang memerintahkan demikian dalam surat Al-Isra ayat 36, Allah berfirman : وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ “Dalam perkara-perkara yang kamu tidak tahu ilmunya tentang hal itu jangan bersikap, jangan berbicara, jangan berkomentar, maknanya bertawaqquf-lah (berdiam diri-lah dari hal itu)”. Ini larangan dari Allah azza wa jalla, larangan dari apa ? larangan dari bersikap tentang perkara yang kita tidak tahu. Salah satu diantara sikap yang dimaksud dalam ayat ini adalah berbicara, berbicara tentang sesuatu yang tidak diketahuinya termasuk menjawab pertanyaan yang dia tidak paham tentang jawaban yang sebenarnya tetapi dia paksa-kan diri untuk menjawab, ini keliru. Jadi tawaqquf terhadap sesuatu yang kita tidak tahu hukumnya wajib dengan mengatakan wallahu ‘alam atau laa ‘alam atau laa adri atau laa afham, saya tidak tahu, saya tidak paham, saya tidak begitu mengerti, Allah lah yang lebih tahu tentang masalah itu. Abdullah bin Mas’ud menyatakan, “wallahu’alam nisful ilmi” perkataan wallahu ‘alam adalah setengah dari ilmu. Jadi yang pertama wajib, kalau yang wajib ini dilakukan berpahala atau tidak ? berpahala, kalau dilanggar bagaimana ? berdosa, berbicara tentang sesuatu tanpa ilmu adalah dosa bahkan tidak hanya keliru untuk dirinya tetapi membuat orang lain ikut keliru mengikuti kekeliruan dirinya, dhollu wa mudhillu. Kedua ini teralami oleh setiap ustadz dan setiap murid yang berguru ke ustadz tersebut. Diantara faedah dari tawaqquf dalam perkara yang tidak diketahui adalah bila seorang ustadz, seorang guru, pengajar dia mengatakan wallahu ‘alam dalam perkara yang tidak diketahui maka ilmu akan datang kepada orang itu dengan segera, karena apa ? karena dia akan mencari setelah itu, “oh ternyata perkara ini saya belum pelajari, perkara ini saya belum pahami, perkara ini belum saya ketahui, setelah ngaji saya pulang saya bongkar kitab, saya cari jawaban dari pertanyaan itu”, jadi dia termotivasi untuk memuroja’ah atau setelah itu datang salah satu muridnya memberitahukan “ustadz yang tadi ditanyakan oleh ikhwan tadi yang bilang ustadz wallahu ‘alam atau belum tahu, ini nih jawabannya nih silahkan dibaca” ada yang seperti itu. Jadi informasi itu datang lebih cepat, dia terdorong untuk memuroja’ah kembali, kadang-kadang kalau si ustadz belajar sendiri atau membaca sendiri kadang-kadang banyak perkara yang luput, tidak atau belum dia pelajari dan itu muncul di pertanyaan, dia belum tahu maka dia akan segera mencari tahu setelah pengajian selesai dan itu menjadi hutang bagi dirinya dan itu motivasi besar untuk membaca lebih giat lagi. Jadi ini faedah yang kedua dia akan segera mencari jawaban dari pertanyaan yang tadi ditanyakan yang dia belum tahu jawabannya, cepat dia pulang, cepat dia membuka kitab, cepat dia kalau tidak didapati didalam kitab dia mungkin menghubungi orang yang lebih berilmu daripada dirinya. Oleh karena itulah, maka salah satu diantara salah satu faedah wallahu ‘alam adalah memotivasi dia untuk mencari jawaban dari pertanyaan tadi. Salah satu diantara faedah dari tawaqquf adalah menyadarkan si ustadz, si mualim bahwa dia itu kurang belajar buktinya masih ada yang belum dia ketahui, memotivasi dia untuk belajar lebih giat lagi, lebih sering lagi, lebih rajin lagi daripada sebelumnya, nanti ngaji lagi ditempat lain ada pertanyaan lain yang tidak dia ketahui lagi padahal mungkin jawaban dari pertanyaan itu urgen (segera) mau diamalkan saat itu juga tetapi dia tidak tahu jawabannya dan itu menimbulkan madhorot bagi si penanya karena dia berharap akan dapat jawaban yang segera akan diamalkan ternyata jawaban yang dia harapkan tidak kunjung tiba dari ustadz yang ditanya. Dengan adanya pertanyaan yang tidak diketahui “oh benar saya ini masih bodoh, saya ini kurang belajar, saya ini kurang giat, saya ini kurang baca, mungkin lebih banyak waktu untuk yang lain daripada menela’ah.. menela’ah.. dan menela’ah”. Jadi menanamkan kesadaran tentang kurangnya ilmu pada diri sang ustadz. Demikian yang bisa disampaikan

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ ، أشْهَدُ أنْ لا إلهَ إِلاَّ أنْتَ ، أسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إلَيْكَ
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
image_pdfimage_print

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top