Home > Kajian Kitab > Kitab Awaa’iqu ath Thalab > Materi 68 ~ Apa Yang Harus Dilakukan Oleh Murid Jika Gurunya Melakukan Kesalahan

Materi 68 ~ Apa Yang Harus Dilakukan Oleh Murid Jika Gurunya Melakukan Kesalahan

🌍 Kajian Kitab
👤 Al-Ustadz Abu Haidar As-Sundawy حفظه الله
📗 Kitab Awaa’iqu ath Thalab (Kendala Bagi Para Penuntut Ilmu)
📝 as-Syaikh Abdussalam bin Barjas Alu Abdul Karim حفظه الله

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Bagaimana sikap seorang murid ketika melihat gurunya salah ? Bila seorang guru salah dalam mengajarkan mungkin karena kebodohan guru walaupun berilmu ada banyak hal, banyak poin yang dia tidak ketahui sementara ada beberapa muridnya yang tahu, seorang guru tidak mengetahui semuanya, sekarang kesalahan banyak ikhwan akhwat seolah-olah ustadz itu serba tahu, tentu saja tidak. Termasuk kedalam akidah, tauhid sering mengajarkan masalah itu dan dia menguasai itu tetapi mungkin dalam poin-poin tertentu dia kurang menguasai masalah, ada beberapa muridnya yang lebih memahami masalah itu mungkin sangat mungkin. Sehingga ketika salah secara sengaja karena ketidaktahuan itu sangat mungkin atau salahnya karena keceletot lidah, betapa seringnya kita ketika maksudnya ingin berbicara A dalam hati pikiran tetapi yang keluar dari mulut B, pernah begitu ? pernah, termasuk ustadz siapapun. Bagaimana kalau ustadz salah ? kalau seorang mualim melakukan kesalahan tentang sesuatu termasuk kesalahan tersebut dalam hal amal dia melakukan dosa dan maskiat diluar pengajian kemudian diketahui oleh muridnya, jangan sampai difoto, di film lalu ditempel di facebook, maka apa yang harus kita lakukan ? tegur-lah dia dengan cara yang santun dan halus sesuai keadaan yang menyebabkan ustadz sadar bahwa dia keliru dan salah tanpa dipermalukan, tanpa menyinggung hatinya karenanya termasuk salah satu diantara hak orang alim kepada murid-muridnya. Cara yang baik, yang benar, yang santun akan lebih menggiring secara baik sang ustadz kepada kebenaran. Dia tahu salah tanpa tersinggung dia sadar, dia tidak dipermalukan. Adapun membantah dengan su’ul adab (adab yang buruk) lalu menyinggung hati, ini akan berdampak buruk kalau sang ustadz saat itu mengalami degradasi iman, sebagai manusia sangat mungkin turun imannya. Dia bisa-bisa mengingkari kebenaran yang disampaikan oleh muridnya terus dia berbuat kasar. Oleh karena itulah bisa menghalangi turunnya hidayah, bisa menghalangi orang dari kebenaran apabila cara menegurnya salah, jangankan murid ke ustadz, sekarang ustadz ceramah, dakwah, mengajak orang kepada kebaikan tetapi caranya kasar. Umpamanya dengan mengatakan kepada orang-orang yang berbuat salah bid’ah atau maksiat, mengatakan “Dengar hai orang-orang bego, neraka tuh menanti kalian, takut engga ? takut dong, makannya jauhi perbuatan haram, najis tersebut” bayangkan orang pasti akan tersinggung, isinya mungkin benar tetapi caranya yang keliru. Cara yang keliru bisa menghalangi orang dari kebenaran, itu kalau ustadz yang dianggap orang yang berilmu kepada orang awam tetapi caranya salah, caranya kasar, caranya menyinggung perasaan, bisa di tolak apa tidak ? ya, bisa ditolak. Dan betapa banyaknya orang yang lari dari Qur’an dan Sunnah, lari dari kebenaran, lari dari manhaj yang hak, manhaj salafushaleh hanya karena kekasaran dan keburukan akhlak orang-orang yang menyebarkannya dan kekasaran kata-katanya, membuat orang tersinggung, membuat orang terhina-kan, apa akibatnya ? mereka balik menghinakan, balik menyerang, balik melakukan sikap-sikap yang kasar kepada kita, itu karena segelintir oknum bukan seluruhnya, itulah yang harus dilakukan. Adapun bagi si mualim (ustadz) dia wajib untuk rujuk kepada kebenaran.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ ، أشْهَدُ أنْ لا إلهَ إِلاَّ أنْتَ ، أسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إلَيْكَ
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *