Home > Kajian Kitab > Kitab Awaa’iqu ath Thalab > Materi 62 ~ Tentang Metode Dalam Menuntut Ilmu

Materi 62 ~ Tentang Metode Dalam Menuntut Ilmu

🌍 Kajian Kitab
👤 Al-Ustadz Abu Haidar As-Sundawy حفظه الله
📗 Kitab Awaa’iqu ath Thalab (Kendala Bagi Para Penuntut Ilmu)
📝 as-Syaikh Abdussalam bin Barjas Alu Abdul Karim حفظه الله

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Point berikutnya adalah Metodologi Belajar (cara belajar, cara menuntut ilmu). Berkata mualif, “Setelah niat ikhlas. Maka baik pengajar ataupun pelajar wajib memulai belajarnya dengan aspek terpenting terlebih dahulu lalu baru beralih ke aspek-aspek lainnya dari ‘ulum-‘ulum syar’iah (dari ilmu-ilmu syar’i) disiplin ilmu bisa membantu untuk memahami ilmu berupa bahasa arab, Al-Qur’an dalam bahasa arab, Hadits dalam bahasa arab. Kitab tafsir, kitab hadits seluruhnya dalam bahasa arab. Maka untuk memahami dengan pemahaman yang benar perlu alat khusus yaitu bahasa arab dan rincian tentang masalah ini begitu banyak dan ma’ruf dan berbeda sesuai dengan keadaan dan pribadi orang masing-masing.” Sudah dijelaskan di bab-bab yang lalu tentang perbedaan hal ini, maka hendaklah setiap orang mengambil cara terdekat yang bisa menyampaikan dia kepada apa yang dia maksud, apa yang dia inginkan. Ingat ! jangan lupakan berdo’a, dengan do’a dan juga ketaqwaan. Nanti dengan do’a dan ketaqwaan Allah akan memudahkan kita untuk mencari ilmu, memudahkan kita dipertemukan dengan guru yang bisa memberikan pelajaran secara efektif dan efisien (cepat, gampang dicerna, mudah untuk dipahami) berbeda dengan guru yang lainnya (mumet, lieur, bikin pusing) akhirnya berhenti ditengah jalan dan nanti mengulang lagi. “Hendaklah dia memilih kitab-kitab yang menceritakan, membahas, menerangkan disiplin ilmu tertentu lalu dia sibukan dengan kitab terbaik, terjelas, dan paling banyak faedahnya“. Umpamanya tentang masalah tauhid, ada yang dasar (enteng, mudah dicerna dan jelas) ada juga yang mumet (perlu pemikiran bahkan perlu guru yang khusus) seperti kitab Al-Ushul Tsalatsah, itu awal dan ada syarahnya walaupun simpel dan sederhana tetapi perlu penjelasan dari ahlinya. Jangan sampai masalah akidah langsung masuk ke Al-Qowaidul Mustla, kitab Al-Qowaidul Mustla itu kitab yang membahas tentang tauhid asma wa sifat tetapi dengan penjelasan dan gaya bahasa dan logika berfikir yang perlu fokus, perlu konsentrasi. Kalau umpamanya kurang cerdas tidak akan paham atau salah paham. Agak mending tidak paham, kalau tidak paham dia akan diam. Yang bahaya adalah salah paham, dia merasa memahami ini tetapi pemahaman nya salah lalu dia sampaikan, itu bisa sesat dan menyesatkan. Jadi dia pilih kitab-kitab untuk bisa menentukan kitab mana maka tanyalah ke ahlinya (guru, ustadz yang paham) lalu dia menjadikan tujuan pokok kesibukan dia kepada kitab-kitab itu adalah menghafal apabila memungkinkan, memuroja’ah penjelasan dengan cara mengulang-ngulang, menelaah lagi. Umpamanya satu kitab Al-Ushul Tsalatsah begitu selesai satu kali tidak merasa puas, ulang dari awal baca lagi. Bacaan kedua akan menemukan faedah lain yang tidak ditemukan pada bacaan pertama, sampai tamat ulang lagi dari awal terlebih dia kalau mau mengajarkan kitab itu harus dibaca keseluruhan sampai tamat, untuk mengambil intinya kemudian ulangi lagi dari awal. Ketika bacaan kedua memperoleh faedah melebihi dari bacaan pertama, ketiga dapat lagi tambahan baru yang tadinya tidak kepikiran di yang pertama dan yang kedua begitu dan begitu seterusnya. Lalu disebutkan “makna yang tertanam didalam kitab itu terpelihara dalam hafalan, dalam pikiran tidak sekedar isi bentuk huruf, halamannya juga bisa terbayang, tergambar” tetapi tidak perlu dikemukakan bentuk hurufnya seperti begini dan begitu, cukup untuk diri sendiri. Makanya salah satu tips untuk memudahkan menghafalkan Al-Qur’an atau matan (matan sebuah kitab) harus menghafal dari nuskhoh yang sama (cetakan yang sama) karena nanti ketika kita mengulang tidak melihat mushaf yang terbayang apa ? tulisan, bentuk tulisan dari ayat Al-Qur’an tersebut. Jikalau mushaf-nya ganti-ganti kadang yang kecil, kadang yang besar maka nanti yang akan dibayangkan yang mana ? tetapi kalau yang itu-itu juga maka akan fokus, begitu juga dengan matan (matan kitab) cetakannya berbeda. Kalau umpamanya berbeda cetakan, berbeda huruf, berbeda halaman, berbeda segala-galanya (ukuran, font huruf berbeda, bentuk huruf berbeda walaupun isinya sama) pas dihafalkan. Jangan diambil dari beberapa nuskhoh yang berbeda walaupun isinya sama tetapi ambil dari nuskhoh yang sama, kalau sudah hancur atau rusak dan lecet maka tidak apa-apa asalkan kebaca kalau sudah tidak terbaca ganti lagi dengan cetakan yang sama, huruf yang sama agar bentuk hurufnya dan segala-galanya tetap sama dan tidak membuyarkan fokus dan konsentrasi kita. “Lalu dia terus mengulang-ulang bacaan itu se-sering yang dia bisa, lebih sering lebih bagus“. Inilah metodologi belajar, jadi metodologi belajar pertama ambil metode yang paling cepat dan paling enteng, paling memungkinkan bagi dia terus diulang-ulang, berkali-kali tidak hanya sekali dua kali tetapi berkali-kali.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ ، أشْهَدُ أنْ لا إلهَ إِلاَّ أنْتَ ، أسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إلَيْكَ
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *