Home > Kajian Kitab > Kitab Awaa’iqu ath Thalab > Materi 63 ~ Hal-Hal Yang Harus Di Lakukan Seorang Pengajar Kepada Muridnya (1)

Materi 63 ~ Hal-Hal Yang Harus Di Lakukan Seorang Pengajar Kepada Muridnya (1)

🌍 Kajian Kitab
👤 Al-Ustadz Abu Haidar As-Sundawy حفظه الله
📗 Kitab Awaa’iqu ath Thalab (Kendala Bagi Para Penuntut Ilmu)
📝 as-Syaikh Abdussalam bin Barjas Alu Abdul Karim حفظه الله

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Point yang ketiga, kewajiban seorang alim kepada murid-muridnya, kewajiban ustadz kepada orang-orang yang belajar kepadanya. Ini yang pertama menyangkut materi pelajaran dan harus tadarruj (bertahap). Wajib bagi seorang mualim (pengajar, guru, da’i atau ustadz) untuk memperhatikan otak artinya daya tangkap orang itu, background dia, pemahaman dia dan kuat lemahnya kemampuan dia untuk menyerap pelajaran. Jangan sampai dibiarkan si murid menyibukan dirinya dengan membahas kitab atau materi yang tidak sesuai dengan kemampuannya, dengan keadaannya. Karena apa ? karena yang sedikit tetapi dipahami, dimengerti itu lebih baik daripada yang banyak tetapi tidak paham lalu membuatnya pusing dan lupa terhadap pelajaran. Demikian juga si guru itu harus memberikan penjelasan, mengulang-ulang penjelasan sesuai dengan kemampuan dan daya tangkap mustami (murid-muridnya) jangan sampai dicampur aduk satu dengan yang lainnya ketika menjelaskan umpamanya masalah akidah dimasukkan penjelasan fiqih, jadi si murid itu sudah fokus ke urusan akidah jadi harus membuka memori yang berkaitan dengan fiqih, dicampur aduk akhirnya dia bingung tidak paham keduanya. Hendaklah si guru tidak berpindah ke satu masalah kepada masalah yang lain sebelum masalah yang pertama ini terpahami. Dia harus menguatkan dulu pondasi dari pelajaran dasar sebelum berlanjut kepada pelajaran ke tingkat berikutnya. Jadi jangan dulu berpindah kepada materi yang lebih tinggi sebelum materi yang awal itu terpahami secara benar dan terkuasai. Karena apa ? karena materi pada tahap berikutnya sangat bertumpuk pada materi yang sebelumnya. Adapun kalau si guru memasukkan masalah dan jenis ilmu satu sama lain dicampur aduk sebelum dipahami oleh muridnya maka itu menjadi penyebab tersia-siakannya pelajaran awal, dia tidak memahami pelajaran awal sudah harus memperoleh pelajaran level berikutnya, seluruh masalah itu akhirnya bertumpuk di otak maka akhirnya lahirlah kejemuan, kejenuhan, akhirnya perasaannya sumpek tidak mau kembali lagi ke awal karena sudah terlalu mumet dengan yang kedua akhirnya dia berhenti ditengah jalan. Salah satu penyebabnya kekeliruan sang ustadz karena tidak tadarruj didalam memberikan pelajaran, tidak bertahap. Nah hal ini yang harus diperhatikan oleh para asatidzah, para guru. Kewajiban kedua, wajib bagi guru untuk memberikan nasehat kepada muridnya semampu dia dengan cara yang mampu dia lakukan dan bersabar karena ke tidak pahaman sang murid. Ada murid yang lambat didalam menerima pelajaran, bikin susah, bikin emosi, harus sabar dan wajib sabar bagi setiap guru atas ke tidak pahaman murid-muridnya, atas tidak beradabnya murid-muridnya dan atas kekasaran muridnya kepada gurunya (ke kurang ajaran murid-muridnya kepada gurunya) sambil tetap dia berusaha sungguh-sungguh menginginkan si anak ini paham mengerti apa yang dia sampaikan dan itu tujuan utamanya. Jadi tetap tujuan utama si guru adalah agar si murid ini paham, mengerti, jangan sampai cuek mau paham atau tidak itu anak orang, tidak boleh seperti itu nanti rugi. Apa ruginya ? mengajar itu investasi akhirat. Hanya dengan mengajar mau paham atau tidak si anak dia akan mendapatkan pahala. Tetapi tidak sampai disana. Ada perbedaan anak yang paham dan yang tidak, kalau anak yang paham lalu mengamalkan bahkan mengajarkan maka investasi akhirat kita berkembang. Ketika anak ini mengamalkan ilmu yang kita sampaikan dia dapat pahala dari amalannya kita pun mendapatkan pahala, diajarkan lagi ke orang dia dapat pahala dari mengajarkannya dan murid dia mengamalkan dapat pahalanya dia juga kita dapat pahala, terus begitu. Tetapi kalau murid yang tidak paham, tidak mengerti, tidak diamalkan, tidak diajarkan maka berhenti pemanfaatan ilmu yang kita ajarkan sampai dia. Jelas ada bedanya maka jangan pandang ini anak siapa, mau anak kita sodara kita, tetangga, musuh kita jangan pandang itu tetapi pandang investasi yang kita tanam dalam diri anak ini untuk kepentingan kita diakhirat.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ ، أشْهَدُ أنْ لا إلهَ إِلاَّ أنْتَ ، أسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إلَيْكَ
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *