Kitab: Aqidah Ath-Thahawiyah
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله
Halaqah yang ke-174 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-Aqidah Ath-Thahawiyah yang ditulis oleh Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāh.
Beliau mengatakan raḥimahullāh
وَنَرَى الجَمَاعَةَ حَقًّا وَصَوَابًا
Agama Islam ini adalah agama yang pertengahan. Jadi, dia adalah agama yang intinya adalah Tauhid, dan dia adalah agama yang pertengahan. Allāh ﷻ mengatakan:
وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا
Demikianlah Kami jadikan kalian umat yang pertengahan. (QS. Al-Baqarah: 143)
Ajaran Islam itu adalah ajaran yang adil, berada di pertengahan:
وَهُو بَيْنَ الغُلُوِّ والتَّقْصِيرِ
Berada di antara berlebih-lebihan dan juga bermudah-mudahan.
Dan ini, kalau kita mempelajari lebih dalam tentang Islam, kita dapatkan demikian, bahwasanya, agama ini berada di pertengahan antara orang yang ghuluw dan orang yang taqṣīr, antara orang yang berlebihan dan orang yang bermudah-mudahan.
Contoh misalnya dalam ilmu dan amal: orang Yahudi berilmu tapi tidak beramal, orang Nasrani semangat ibadah tapi tidak berdasarkan ilmu. Islam mengajarkan untuk berilmu dan juga beramal, dua-duanya.
Orang Nasrani mengatakan bahwa Nabi ʿĪsā adalah anak Allāh ﷻ. Orang Yahudi mengatakan ʿĪsā adalah anak zina. Di dalam agama Islam pertengahan, Islam mengajarkan bahwa ʿĪsā adalah seorang hamba Allāh ﷻ, bukan anak Allāh ﷻ. Dia hamba seperti kita menyembah Allāh ﷻ, tapi Beliau juga bukan hamba biasa. Beliau adalah seorang hamba berpangkat Rasūl, dan Rasūl bukan dari anak zina. Rasūl nasabnya diketahui, nasab yang mulia. Nabi ʿĪsā adalah anak dari Maryam, hamba Allāh ﷻ. Berarti, di sini agama Islam itu berada di pertengahan antara ghuluw dengan taqṣīr.
Makanya, kalau kita ingin di pertengahan, kita berpegang teguh dengan agama Islam, karena Islam ajarannya itu di pertengahan, dan itu dalam banyak hal.
Contoh misalnya dalam masalah sikap terhadap pemerintah: sebagian orang menentang pemerintah karena dia melakukan kesalahan, akhirnya memberontak kepada penguasa. Ini berlebihan. Sebagian orang ingin dekat dengan pemerintah, makanya dia mengorbankan agamanya supaya mendapatkan kekuasaan, atau supaya dekat dengan pemerintah. Ini tidak benar.
Ahlus-Sunnah berada di pertengahan. Mereka mendengar dan taat kepada penguasa, bukan karena ingin kekuasaan, tapi ini adalah perintah Allāh ﷻ dan juga Rasūl ﷺ. Mereka mendengar dan taat, tapi mereka tidak berlebihan. Sehingga kalau diperintahkan untuk berbuat kemaksiatan atau melaksanakan perintah yang di situ ada kemaksiatan, mereka tidak akan melaksanakan perintah tersebut. Ini, mereka berada di pertengahan.
Sikap terhadap ulama juga berada di pertengahan, dan seterusnya. Inilah agama Allāh ﷻ itu, berada di antara yang ghuluw dengan orang yang bermudah-mudahan. Dan setan berusaha untuk menggelincirkan seseorang dari jalan Allāh ﷻ yang di pertengahan ini, mungkin dengan cara ghuluw, mungkin dengan cara yang taqṣīr. Dan mereka tidak peduli dari arah mana saja mereka berhasil menggelincirkan kita.
وَبَيْنَ التَّشْبِيهِ والتَّعْطِيلِ
Agama Allāh ﷻ ini berada di antara tasybīh dan juga taʿṭīl.
Tasybīh yaitu menyerupakan Allāh ﷻ dengan makhluk. Taʿṭīl menafikan. Tasybīh ini berlebih-lebihan dalam menetapkan. Dia menetapkan sifat Allāh ﷻ tapi tidak bisa mengerem. Dia menetapkan sifat Allāh ﷻ dan mengatakan bahwasanya sifat Allāh ﷻ sama dengan sifat makhluk. Ini berlebihan dalam meng-itsbāt.
Adapun muʿaṭṭil, ahlut-Taʿṭīl, mereka berlebihan dalam menafikan. Ahlus-Sunnah di pertengahan: kami menetapkan seluruh sifat Allāh ﷻ yang memang Allāh ﷻ tetapkan atau ditetapkan oleh Rasūl ﷺ, tapi kami meyakini bahwasanya sifat-sifat tersebut tidak sama dengan sifat makhluk. Mereka berada di pertengahan, menetapkan sebagaimana datangnya, kemudian kita menafikan segala sesuatu yang di situ ada tasybīh. Kita katakan bahwasanya Allāh ﷻ memiliki sifat ini, tetapi tidak sama dengan sifat makhluk.
Ketika kita menetapkan, berarti kita menyelisihi Ahlut-Taʿṭīl. Ketika kita mentanzīh dan mengatakan ini tidak sama dengan sifat makhluk, berarti kita menyelisihi Ahlut-Tasybīh.
وَبَيْنَ الجَبْرِ وَالقَدَرِ
Agama Allāh ﷻ itu antara jabr dan juga qadar
Yaitu dalam masalah takdir. Al-Jabr, yaitu Jabriyyah, mereka mengatakan bahwasanya kita ini tidak memiliki masyī’ah, Allāh ﷻ lah yang menciptakan perbuatan kita, dan kita tidak memiliki masyī’ah (kehendak). Adapun Qadariyyah, maka mereka mengatakan kita memiliki masyī’ah, dan Allāh ﷻ tidak menciptakan amalan kita, tapi kita yang menciptakan amalan kita sendiri.
Dan Ahlus-Sunnah berada di pertengahan. Mereka mengatakan bahwasanya Allāh ﷻ lah yang menciptakan kita dan menciptakan amalan kita. Dan Allāh ﷻ juga menciptakan masyī’ah untuk kita, tapi masyī’ah kita berada di bawah masyī’ah Allāh ﷻ. Kita bukan menciptakan masyī’ah sendiri, kita bukan menciptakan amalan kita sendiri. Allāh ﷻ yang menciptakan.
Demikian pula, kita tidak mengatakan bahwasanya kita tidak punya masyī’ah, sebagaimana Jabriyyah. Jabriyyah berlebihan, mengatakan: kita ini tidak punya masyī’ah. Sementara orang-orang Qadariyyah mengatakan: kita yang menciptakan masyī’ah, kita yang menciptakan amalan kita sendiri.
Ahlus-Sunnah di pertengahan, mengatakan: Allāh ﷻ yang menciptakan masyī’ah kita, berarti di sini mengingkari orang-orang Jabriyyah. Kemudian yang kedua, masyī’ah kita di bawah masyī’ah Allāh ﷻ, ini adalah bantahan terhadap orang-orang Qadariyyah. Allāh ﷻ mengatakan:
وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ
Dan tidaklah kalian menghendaki kecuali apabila Allāh ﷻ menghendaki. (QS. At-Takwīr: 29)
Ketika Allāh ﷻ mengatakan wa mā tasha`ūna, menunjukkan bahwasanya kita ini punya kehendak, tapi kehendak kita di bawah kehendak Allāh ﷻ. Kita ini punya kehendak — bantahan terhadap orang-orang Jabriyyah. Kehendak kita di bawah kehendak Allāh ﷻ — bantahan terhadap orang-orang Qadariyyah.
وَبَيْنَ الأَمْنِ وَالإِيَاسِ
Agama Islam itu antara merasa aman dan juga putus asa.
Agama Islam itu berada di antara merasa aman dari makar Allāh ﷻ dan putus asa dari raḥmat Allāh ﷻ. Merasa aman dari makar Allāh ﷻ — sama sekali dalam hatinya tidak ada rasa takut terhadap makar Allāh ﷻ — ini sifat orang kāfir, karena Allāh ﷻ mengatakan:
أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ ۚ فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ
Apakah mereka merasa aman dari makar Allāh? Maka tidak merasa aman dari makar Allāh kecuali orang-orang yang rugi. (QS. Al-Aʿrāf: 99)
Seorang Muslim takut dengan makar Allāh ﷻ. Dia khawatir kalau dia mendapatkan kenikmatan, dan sementara dia terus melakukan dosa, maka dia khawatir. Ini perasaan yang dimiliki oleh seorang Muslim. Adapun orang kāfir, maka mereka tidak merasa takut. Bahkan mereka merasa aman dari makar Allāh ﷻ.
Dan putus asa, yaitu putus asa dari raḥmat Allāh ﷻ. Karena sebaliknya, sebagaimana merasa aman dari makar Allāh ﷻ itu adalah bukan sifat orang yang beriman, merasa putus asa dari raḥmat Allāh ﷻ ini juga bukan sifat orang yang beriman.
إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِن رَّوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ
Sungguh tidak putus asa dari raḥmat Allāh kecuali orang-orang yang kafir. (QS. Yūsuf: 87)
Dan Allāh ﷻ mengatakan:
وَمَن يَقْنَطُ مِن رَّحْمَةِ رَبِّهِ إِلَّا الضَّالُّونَ
Dan tidaklah putus asa dari raḥmat Rabb-nya kecuali orang-orang yang sesat. (QS. Al-Ḥijr: 56)
Merasa aman dari raḥmat Allāh ﷻ — yaitu tertipu dengan raḥmat Allāh ﷻ — dan juga putus asa dari raḥmat Allāh ﷻ, ini adalah sesuatu yang tercela. Yang benar adalah: di pertengahan. Seseorang beribadah kepada Allāh ﷻ antara rajā’, mengharap raḥmat Allāh ﷻ, dan juga antara khawf, takut dengan adzab Allāh ﷻ.
Inilah sifat para Nabi:
إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا ۖ وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ
Sungguh mereka (para Nabi) bersegera dalam kebaikan dan berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas, dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami. (QS. Al-Anbiyā`: 90)
Yaitu dalam keadaan mengharap dan takut kepada Allāh ﷻ. Kita shalat mengharap raḥmat Allāh ﷻ, ingin masuk ke dalam Surga, dan kita shalat juga takut masuk ke dalam Neraka-Nya Allāh ﷻ. Kita gabungkan antara rasa harap dan juga rasa takut, itulah yang benar. Karena kalau sampai kita hanya beribadah dengan rasa takut saja, ini seperti orang Khawārij. Kalau beribadah kepada Allāh ﷻ hanya dengan rajā’ saja, maka ini Murji`ah.
Makanya disebutkan oleh Al-Imām Abū Jaʿfar Aṭ-Ṭaḥāwī disini, kita ini bukan orang yang hanya yang aman dengan makar Allāh ﷻ, bukan orang yang putus asa dari raḥmat Allāh ﷻ. Kita di pertengahan, menggabungkan antara rajā’ dengan khawf. Kita bukan Jabriyyah, bukan Qadariyyah. Kita bukan Musyabbihah, bukan Muʿaṭṭilah. Kita berada di pertengahan.
Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

