Kitab: Aqidah Ath-Thahawiyah
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله
Halaqah yang ke-167 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-Aqidah Ath-Thahawiyah yang ditulis oleh Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāh.
Beliau mengatakan raḥimahullāh
وَإِنَّ العَشَرَةَ الَّذِينَ سَمَّاهُمْ رَسُولُ اللهِ ﷺ وَبَشَّرَهُمْ بِالجَنَّةِ، نَشْهَدُ لَهُمْ بِالجَنَّةِ، عَلَىٰ مَا شَهِدَ لَهُمْ رَسُولُ اللهِ ﷺ، وَقَوْلُهُ الحَقُّ
Keyakinan Ahlus Sunnah bahwasanya 10 orang yang disebutkan oleh Nabi ﷺ, kita bersaksi bahwa mereka berada di dalam Surga berdasarkan persaksian Rasulullāh ﷺ.
Karena Beliau mengatakan: Abū Bakr fil-jannah, wa ʿUmar fil-jannah, wa ʿUṯmān fil-jannah, wa ʿAlī fil-jannah, dan seterusnya. Memastikan bahwasanya mereka berada di dalam Surga, dan tentunya ini tidak ada kecuali dengan wahyu. Maka kita pun membenarkan apa yang memang ada dalil di sana, bahwa salah seorang di antara sahabat Nabi ﷺ adalah termasuk penduduk Surga. Kita pastikan sebagaimana dipastikan oleh Allāh ﷻ dan juga Rasul-Nya.
وَقَوْلُهُ الحَقُّ
Dan ucapan Nabi ﷺ adalah benar adanya
وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ . إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ
Dan tidaklah ia berbicara dari hawa nafsunya. Dan (ucapannya) tidak lain hanyalah wahyu yang diwahyukan. (QS. An-Najm: 3–4)
وَهُمْ: أَبُو بَكْرٍ، وَعُمَرُ، وَعُثْمَانُ، وَعَلِيٌّ
Dan mereka adalah Abū Bakr, dan ʿUmar, dan ʿUṯmān, dan juga ʿAlī.
Ada sebagian orang yang meyakini Abū Bakr dalam Neraka dan juga ʿUmar di dalam Neraka, padahal Nabi ﷺ mengatakan Abū Bakr fil-jannah, wa ʿUmar fil-jannah, bagaimana dia menentang dan mengingkari apa yang dikatakan oleh Nabi ﷺ?
وَطَلْحَةُ، وَالزُّبَيْرُ، وَسَعْدٌ، وَسَعِيدٌ، وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ، وَأَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الجَرَّاحِ، وَهُوَ أَمِينُ هَذِهِ الأُمَّةِ، رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ أَجْمَعِينَ
Abū ʿUbaidah adalah Amīnuhāżihil-Ummah, yaitu orang yang dipercaya umat ini. Sebagaimana disebutkan dalam Hadits ketika Nabi ﷺ mengatakan,
لَأَبْعَثَنَّ عَلَيْكُمْ أَمِينًا حَقَّ أَمِينٍ
“Sungguh aku akan mengutus kepada kalian orang yang bisa dipercaya.”
Ternyata yang diutus saat itu adalah Abū ʿUbaidah Ibn al-Jarrāḥ. Maka Beliau adalah Amīnuhāżihil-Ummah. Beliau adalah Amīn-nya, orang yang dipercayai umat ini. Semoga Allāh ﷻ meriḍhai mereka semuanya.
وَمَنْ أَحْسَنَ القَوْلَ فِي أَصْحَابِ رَسُولِ اللهِ ﷺ، وَأَزْوَاجِهِ [الطَّاهِرَاتِ مِنْ كُلِّ دَنَسٍ]، وَذُرِّيَّاتِهِ [المُقَدَّسِينَ مِنْ كُلِّ رِجْسٍ]؛ فَقَدَ بَرِئَ مِنَ النِّفَاقِ
Dan barang siapa yang baik di dalam ucapannya terhadap para sahabat Nabi ﷺ — jadi ketika membicarakan para sahabat, lisannya mengucapkan ucapan yang baik tentang para sahabat Nabi ﷺ sebagaimana Allāh ﷻ katakan dalam Al-Qur’ān:
وَالَّذِينَ جَاءُوا مِن بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا
Dan orang-orang yang datang setelah Muhājirīn dan Anṣār, mereka mengatakan, “Wahai Rabb kami, ampunilah dosa kami dan dosa saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dalam keimanan, dan janganlah Engkau jadikan dalam hati kami kedengkian kepada orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Ḥasyr: 10)
Ucapan mereka, lisan mereka mengucapkan istighfār, bukan mencela. Apa itu istighfār? Memohonkan ampun untuk para sahabat Nabi ﷺ. Kalau seseorang dengan sungguh-sungguh dia memohonkan ampun bagi orang lain, yaitu mengatakan, “Yā Allāh, ampunilah dosa si fulān, ampunilah dosa si fulān,” apakah akan muncul dari mulutnya ucapan yang tidak baik kepada orang tersebut? Tentunya tidak. Seseorang yang dia tidak minta tapi kita doakan dengan istighfār, bagaimana kita mencela orang tadi?
Makanya, Ahlus Sunnah wal Jamāʿah — ucapan mereka selamat dari ucapan yang jelek terhadap para sahabat Rasulullāh ﷺ.
Wa man aḥsana al-qawla fī aṣḥābi Rasūlillāh — barang siapa yang baik ucapannya terhadap para sahabat Nabi ﷺ — wa azwājihī, dan juga istri-istri Beliau, tidak menuduh ʿĀisyah berzina seperti yang diucapkan oleh orang-orang Rāfiḍah. Wa dhurriyyātihi, dan ucapannya baik terhadap anak keturunan Nabi ﷺ, menjaga lisannya dari membicarakan para sahabat dari kalangan keluarga Nabi ﷺ.
Membicarakan Ḥasan karena Beliau telah menyerahkan kekhilafahan kepada Muʿāwiyah, kemudian dicela habis-habisan. Tidak boleh! Dan ini dilakukan oleh orang-orang Rāfiḍah yang mencela Ḥasan karena Beliau menyerahkan kekuasaan kepada Muʿāwiyah. Bahkan mereka membuat gelar yang jelek kepada Ḥasan bin ʿAlī.
Ucapan yang baik adalah ucapan yang sesuai dengan dalil. Tidak baik terhadap keluarga Nabi termasuk di antaranya adalah berlebihan terhadap keluarga Nabi ﷺ. Jadi ucapan yang baik adalah yang sesuai dengan dalil. Kalau tidak sesuai dengan dalil, maka itu ucapan yang buruk. Seperti orang yang berlebih-lebihan terhadap keluarga Nabi, terhadap Ahlul-Bait, ini termasuk orang yang tidak baik ucapannya. Orang yang baik ucapannya, yaitu sesuai dengan dalil, mencintai keturunan Nabi ﷺ dan keluarga Beliau. Tapi tidak boleh berlebihan dalam mencintai mereka.
Faqad bari’a minan-nifāq — maka sungguh dia telah terlepas dari kenifaqan. Jadi orang yang ucapannya baik, menjaga lisannya terhadap para sahabat, istri-istri Nabi, dan juga keturunan Nabi ﷺ, maka sungguh dia telah terbebas dari kenifāqan.
Tentang masalah Ahlul-Bait, maka Ahlul-Bait tentunya bukan hanya sekadar anak keturunan Nabi ﷺ. Ahlul-Bait itu adalah istri-istri Nabi, itu termasuk Ahlul-Bait. Kemudian setiap orang — setiap Muslim dan juga Muslimah — dari keturunan Hāsyim bin ʿAbd al-Muṭṭalib, dari keturunan ʿAbd al-Muṭṭalib. Dan ʿAbd al-Muṭṭalib ini adalah anaknya Hāsyim. Dan Hāsyim tidak memiliki anak yang terus hidup kecuali ʿAbd al-Muṭṭalib. Sehingga setiap Muslim dan Muslimah yang keturunan dari ʿAbd al-Muṭṭalib, maka ini akan termasuk Ahlul-Bait.
Keturunan ʿAbd al-Muṭṭalib itu bisa keturunan ʿAbbās, bisa anak-anaknya Abū Ṭālib seperti ʿAlī, anaknya ʿAlī, anaknya Jaʿfar, anaknya ʿUqayl. Ya, kemudian juga anak-anaknya ʿAbbās. Mereka adalah termasuk keluarga Rasulullāh ﷺ. Kita harus menjaga ucapan kita, jangan kita berlebihan dan jangan sampai kita membenci. Kalau kita bisa menjaga, maka faqad barīʾa min an-nifāq — sungguh dia telah terlepas dari kenifāqan.
Sebaliknya, barang siapa yang mencela para sahabat Rasulullāh ﷺ, dan mencela dengan ucapan, itu menunjukkan kebencian yang ada dalam hati. Barang siapa yang mencela para istri Nabi dan mencela keluarga Nabi, keturunan Rasulullāh ﷺ, berarti dia telah terjerumus ke dalam kenifāqan.
Hati-hati seseorang terhadap kehormatan para sahabat, kehormatan para istri Nabi, dan juga keturunan Nabi ﷺ. Bagaimana dengan orang yang menyimpang di antara mereka? Ahlul-Bait tidak semuanya lurus.
Pertama, kita cintai mereka sesuai dengan kadar ketaatan mereka kepada Allāh ﷻ, dan kita cintai mereka karena mereka adalah keluarga Nabi ﷺ.
Kemudian yang kedua, kita berikan hak harta. Karena Ahlul-Bait itu memiliki hak dari rampasan perang — itu ada sebagian hak untuk keluarga Nabi. Demikian pula fa’i, yaitu harta yang didapatkan oleh orang Islam tanpa peperangan. Ini keluarga Nabi juga memiliki bagiannya. Kalau memang itu ada, harus kita berikan kepada mereka.
Jadi itu di antara sikap kita. Kita pertama: tetap mencintai mereka dan menjaga wasiat Nabi ﷺ. Kemudian yang kedua: kita berikan hak harta bagi mereka kalau memang ada fa’i, ada ghanimah. Itu di antara sikap yang bisa kita lakukan terhadap apa yang kita lihat mungkin di sana ada keluarga Nabi ﷺ yang mereka menyimpang dari jalan yang lurus. Jadi bukan berarti mereka keluarga Nabi kemudian mereka benar terus dan mereka maʿṣūm dari kesalahan. Tidak. Kita mencintai mereka dan mengetahui bahwa mereka adalah manusia seperti yang lain. Tidak boleh kita berlebih-lebihan terhadap keluarga Nabi ﷺ.
Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

