Kitab: Aqidah Ath-Thahawiyah
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله
Halaqah yang ke-166 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-Aqidah Ath-Thahawiyah yang ditulis oleh Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāh.
Beliau mengatakan raḥimahullāh
وَنُثْبِتُ الخِلَافَةَ بَعْدَ رَسُولِ اللهِ ﷺ أَوَّلًا لِأَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ
Kita Ahlus Sunnah menetapkan khilafah setelah Rasūlullāh ﷺ, yang pertama kali menjadi khalifah setelah Nabi ﷺ, khalifah yang pertama setelah Nabi ﷺ adalah Abū Bakr As-Ṣiddīq. Nabi ﷺ tidak mengangkat beliau secara langsung, tidak menulis bahwasanya khalifah setelahku adalah Abū Bakr As-Ṣiddīq, tapi di sana ada isyarat-isyarat yang menunjukkan bahwasanya yang menjadi khalifah setelah Beliau adalah Abū Bakr As-Ṣiddīq.
Misalnya ketika Beliau ﷺ sakit, maka yang ditunjuk untuk menggantikan Beliau sebagai imam adalah Abū Bakr As-Ṣiddīq raḍiyallāhu taʿālā ʿanhu. Ada isyarat bahwasanya yang menggantikan Beliau kalau udzur itu adalah Abū Bakr As-Ṣiddīq.
Dalam kisah yang lain, ada seorang wanita yang datang kepada Nabi ﷺ, kemudian Nabi ﷺ saat itu ada uzur, sehingga Beliau mengatakan — yaitu menolak dengan lembut — “Setelah ini nanti kamu datang lagi ke sini.” Ketika dikatakan kepada wanita tadi disuruh untuk datang lagi ke sini, maka wanita ini mengatakan, “Bagaimana kalau saya tidak menemukan dirimu?” Maka Nabi ﷺ mengatakan “Datangilah Abū Bakr” — ini juga isyarat bahwasanya kalau Beliau tidak ada — disuruh untuk menemui Abū Bakr As-Ṣiddīq.
Dan dalam sebuah Hadits, Nabi ﷺ mengatakan:
يَأْبَى اللَّهُ وَالْمُؤْمِنُونَ إِلَّا أَبَا بَكْرٍ
“Allāh dan juga orang-orang yang beriman tidaklah menginginkan, kecuali Abū Bakr As-Ṣiddīq.”
Jadi meskipun Nabi ﷺ tidak menulis siapa yang menjadi khalifah setelah Beliau, orang-orang yang beriman akan memilih Abū Bakr As-Ṣiddīq. Tidaklah Allāh ﷻ menginginkan dan juga orang-orang yang beriman kecuali Abū Bakr As-Ṣiddīq.
Kemudian Abū Bakr As-Ṣiddīq akhirnya dibaiat oleh kaum Muhājirīn dan Anṣār, semuanya mereka membaiat kepada Abū Bakr As-Ṣiddīq raḍiyallāhu taʿālā ʿanhu. Maka kita Ahlus Sunnah wal Jamāʿah meyakini bahwa khalifah setelah Rasūlullāh ﷺ adalah Abū Bakr As-Ṣiddīq raḍiyallāhu taʿālā ʿanhu.
تَفْضِيلًا لَهُ
karena sebabnya adalah mengutamakan beliau.
Kenapa kita mengatakan bahwa khalifah setelah Nabi ﷺ adalah Abū Bakr As-Ṣiddīq? Tafdīlan lahu, karena kita mengutamakan beliau, berdasarkan baiat tadi, berdasarkan isyarat Nabi ﷺ, berdasarkan keutamaan beliau yang banyak
وَتَقْدِيمًا عَلَىٰ جَمِيعِ الأُمَّةِ
kemudian juga didahulukannya beliau di atas umat ini, berdasarkan ayat dan juga Hadits tadi tentang keutamaan-keutamaan Abū Bakr As-Ṣiddīq, ditambah beliau dibaiat oleh para sahabat raḍiyallāhu taʿālā ʿanhum.
Maka kita tetapkan, khalifah setelah Rasūlullāh ﷺ adalah Abū Bakr As-Ṣiddīq. Tidak ada keraguan di dalamnya. Ada yang mengatakan, “Harusnya ʿAlī,” dan, “Abū Bakr telah merampas kekhilafahan.” Ini adalah dusta. ʿAlī bin Abī Ṭālib ikut membaiat Abū Bakr As-Ṣiddīq. Seandainya beliau adalah yang berhak untuk menjadi khalifah, tentunya beliau tidak akan membaiat. Beliau dikenal sebagai seorang yang pemberani, bukan seorang yang pengecut. Kalau memang itu adalah wasiat Nabi, kenapa beliau tidak melaksanakan wasiat Nabi?
Kemudian, beliau mengatakan raḥimahullāh,
ثُمَّ لِعُمَرَ بْنِ الخَطَّابِ
kemudian khalifah setelahnya adalah ʿUmar bin Khaṭṭāb
Karena ditunjuk langsung oleh Abū Bakr As-Ṣiddīq raḍiyallāhu taʿālā ʿanhu. Beliau menulis surat, dan setelah bermusyawarah dengan sebagian orang dekat beliau, para sahabat, maka akhirnya Abū Bakr As-Ṣiddīq meninggal dunia dalam keadaan beliau sudah menunjuk ʿUmar bin Khaṭṭāb sebagai khalifah setelah beliau raḍiyallāhu taʿālā ʿanhu.
ثُم لِعُثْمَانَ
Kemudian khalifah setelahnya adalah ʿUṡmān.
ʿUmar bin Khaṭṭāb, setelah 10 tahun beliau menjadi seorang khalifah — dan qadarullāh — beliau ditusuk. Dan sebelum beliau meninggal dunia, beliau kumpulkan enam orang. Di antaranya adalah ʿUṡmān, ʿAlī, Zubair, Ṭalḥah, Saʿad bin Abī Waqqāṣ, ʿAbdurraḥmān bin ʿAwf. Dikumpulkan mereka, dan diwasiatkan oleh ʿUmar supaya mereka bermusyawarah segera menentukan siapa yang menjadi khalifah. Dan kalau sudah dipilih seorang khalifah, maka yang lain harus mendukung, dan seterusnya. Akhirnya yang terpilih saat itu adalah ʿUṡmān bin ʿAffān raḍiyallāhu taʿālā ʿanhu.
ثُمَّ لِعَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ
Kemudian setelahnya yang menjadi khalifah adalah ʿAlī bin Abī Ṭālib raḍiyallāhu taʿālā ʿanhu.
Setelah meninggalnya ʿUṡmān terbunuh, maka kaum Muslimin membaiat ʿAlī bin Abī Ṭālib sebagai khalifah, kurang lebih selama 5 tahun ʿAlī bin Abī Ṭālib sebagai khalifah, ʿUṡmān selama 12 tahun, ʿUmar selama 10 tahun, dan Abū Bakr As-Ṣiddīq selama 2 tahun.
وَهُمُ الخُلَفَاءُ الرَّاشدُونَ وَالأَئِمَّةُ المَهْدِيُّونَ
Maka mereka lah para khalifah yang Rāsyidūn, para khalifah yang lurus. Wal-aʾimmatul-mahdiyyūn, dan mereka adalah pemimpin-pemimpin yang mendapatkan petunjuk.
Nabi ﷺ mengatakan:
فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ مِنْ بَعْدِي
Hendaklah kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan juga sunnah para khulafāʾur-rāsyidīn yang mereka mendapatkan petunjuk setelahku.
Makanya setelah Nabi ﷺ meninggal, setelah itu adalah para khalifah. Kita disuruh untuk mengikuti sunnahnya para khulafāʾur-rāsyidīn: Abū Bakr, ʿUmar, ʿUṡmān, dan juga ʿAlī.
Di dalam Hadits yang lain, Nabi ﷺ mengatakan:
خِلَافَةُ النُّبُوَّةِ ثَلَاثُونَ سَنَةً، ثُمَّ يُؤْتِي اللهُ الْمُلْكَ، أَوْ مُلْكَهُ، مَنْ يَشَاءُ
Kekhilafahan kenabian itu ada 30 tahun. Kemudian Allāh ﷻ memberikan kerajaan ini kepada siapa yang Allāh ﷻ kehendaki.
Nabi ﷺ mengatakan di sini bahwasanya kekhilafahan kenabian, yaitu kekhilafahan setelah kenabian, itu ada 30 tahun. Dan kalau kita lihat jumlah tahun pemerintahan Abū Bakr, ʿUmar, ʿUṡmān, dan juga ʿAlī, itu hampir 30 tahun. Jadi Nabi ﷺ meninggal Rabīʿul Awwal tahun ke-11, dan ʿAlī bin Abī Ṭālib meninggal Ramaḍān tahun 41. Kalau kita hitung dari semenjak meninggalnya Nabi sampai meninggalnya ʿAlī, itu ada 29 tahun 6 bulan. Dan orang Arab biasa, mereka kalau ada pecahan itu dilengkapi. Kalau 29,6 ya dilengkapi oleh mereka menjadi 30. 15,7 ya 16.
Ini menunjukkan bahwasanya mereka adalah yang dimaksud dengan khulafāʾur-rāsyidūn, dari Abū Bakr sampai ʿAlī bin Abī Ṭālib raḍiyallāhu taʿālā ʿanhum jamīʿan.
Ada yang mengatakan bahwasanya khalifah yang kelima adalah Ḥasan bin ʿAlī. Ini menurut sebagian ulama. Namun sebagian besarnya mengatakan yang termasuk khulafāʾur-rāsyidūn hanyalah empat tadi. Adapun Ḥasan, kita akui tentang keutamaan beliau, cuma bukan termasuk khulafāʾur-rāsyidūn al-mahdiyyīn, karena sebab utamanya adalah sebentarnya beliau menjadi khalifah, hanya sekitar 6 bulan saja beliau menjadi seorang khalifah. Sehingga jumhur mengambil pendapat yang pertama tadi, yaitu khulafāʾur-rāsyidūn hanyalah empat saja.
Baik. Ada yang mengatakan, ar-rāsyid ini adalah yang memiliki ilmu yang benar, al-mahdī yang mendapatkan petunjuk, yaitu karena dia mengamalkan ilmu. Sehingga para khulafāʾur-rāsyidūn al-mahdiyyūn, karena mereka berilmu dan mengamalkan ilmunya.
Kalau kita lihat, memang mereka ini adalah orang-orang yang berilmu: Abū Bakr, ʿUmar, ʿUṡmān, ʿAlī. Ini mereka adalah orang-orang yang dalam ilmunya, dan mereka adalah orang yang sangat semangat dalam mengamalkan ilmunya. Sehingga tidak heran, mereka lah para khulafāʾur-rāsyidūn al-mahdiyyūn.
Biasanya orang yang menjadi seorang pemerintah atau penguasa itu lalai dari menuntut ilmu, dari beramal. Tapi para khulafāʾur-rāsyidūn, mereka adalah orang-orang yang menggabungkan antara memiliki kekuasaan dan mereka memiliki ilmu yang dalam, dan semangat dalam mengamalkan ilmunya.
Baik. Ini keyakinan Ahlus Sunnah tentang para khulafāʾur-rāsyidūn. Ada sebagian ahlul bida’ yang tadi kita sebutkan mengingkari kekhilafahan Abū Bakr, dan juga ʿUmar, dan juga ʿUṡmān, hanya meyakini kekhilafahan ʿAlī bin Abī Ṭālib saja.
Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

