Kitab: Aqidah Ath-Thahawiyah
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله
Halaqah yang ke-150 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-Aqidah Ath-Thahawiyah yang ditulis oleh Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāh.
Beliau mengatakan
وَكُلٌّ يَعْمَلُ لِمَا قَدْ فُرِغَ لَهُ
Dan masing-masing akan beramal atau mengamalkan sesuatu yang sudah diputuskan sebelumnya
Yaitu takdir. Masing-masing baik ahlul Jannah maupun ahlun-Nār itu akan mengamalkan sesuatu yang sudah ditakdirkan sebelumnya. Furigha minhum maksudnya adalah sudah diselesaikan, yaitu takdir yang sudah ditulis dan ditetapkan oleh Allāh ﷻ.
Jadi, ahlul Jannah, mereka mengamalkan amalan yang sudah ditulis dalam Lawḥul-Maḥfūẓ. Demikian pula ahlun-Nār, mereka akan mengamalkan amalan yang sudah ditulis dalam Lawḥul-Maḥfūẓ.
وَصَائِرٌ إِلَى مَا خُلِقَ لَهُ
Dan mereka akan kembali kepada sesuatu yang dia diciptakan untuknya
Maksudnya ke dalam Surga atau ke dalam Neraka. Semuanya akan kembali kepada sesuatu yang dia diciptakan untuknya. Orang yang sudah ditulis dalam Lawḥul-Maḥfūẓ akan masuk ke dalam Surga, maka dia akan mengamalkan amalan penduduk Surga dan akhirnya masuk ke dalam Surga. Orang yang ditetapkan dia akan masuk ke dalam Neraka, maka dia akan mengamalkan amalan penduduk Neraka dan akhirnya akan masuk ke dalam Neraka, sebagaimana dalam ḥadīts:
اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ
Tidaklah kalian beramal, maka masing-masing dari kalian akan dimudahkan untuk sesuatu yang dia diciptakan untuknya. Beramalah, karena masing-masing akan dimudahkan untuk melakukan sesuatu yang dia diciptakan untuknya.
Orang yang sudah ditakdirkan akan masuk ke dalam Surga akan dimudahkan oleh Allāh ﷻ untuk masuk ke dalam Surga, dan orang yang ditakdirkan masuk ke dalam Neraka maka akan dimudahkan untuk melakukan amalan-amalan penduduk Neraka.
Dan sudah berlalu, kita ḥusnudẓan kepada Allāh ﷻ, sebagaimana Allāh ﷻ memberikan taufiq kepada kita untuk memeluk agama Islām dan mengizinkan lisan kita untuk mengatakan
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ
Dan memilih hati kita sehingga hati kita mengenal Allāh ﷻ, dan mengenal agama Islām ini. Semoga ini semua adalah pertanda Allāh ﷻ menginginkan kebaikan untuk diri kita. Ḥusnuzẓan kepada Allāh ﷻ yang tentunya diiringi dengan rasa syukur kepada Allāh ﷻ atas kehendak Allāh ﷻ yang baik ini.
Bagaimana caranya? Kita istiqāmah di atas Islām. Kalau memang kita sudah dikenalkan oleh Allāh ﷻ dengan Islām, dikenalkan oleh Allāh ﷻ dengan Sunnah, ya kita istiqāmah. Kita amalkan agama Islām ini dengan sebaik-baiknya, dari sisi akidah kita mempelajarinya, akhlak, adab, amal-amal shāliḥ. Ini adalah bentuk rasa syukur kita karena diberikan taufiq oleh Allāh ﷻ untuk Islām dan juga Sunnah ini.
وَالخَيْرُ وَالشَّرُّ مُقَدَّرَانِ عَلَىٰ العِبَادِ
Kebaikan dan kejelekan ini sudah ditakdirkan atas para hamba.
Ini kembali beliau mengingatkan tentang masalah takdir. Dan Nabi ﷺ telah mengatakan:
وَأَنْ تُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ
Dan engkau beriman dengan takdir yang baik maupun yang buruk.
Berarti sudah ditakdirkan semuanya. Kenikmatan sudah ditakdirkan oleh Allāh ﷻ. Wa sharri, demikian pula musibah, ini juga sudah ditakdirkan oleh Allāh ﷻ. Dan tidak mungkin terjadi di dunia ini yang keluar dari apa yang sudah Allāh ﷻ takdirkan, baik berupa kebaikan maupun kejelekan.
Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

