Home > Kajian Kitab > Kitab Awaa’iqu ath Thalab > Materi 36 ~ Tertipu, Ujub Dan Kibr (06) – Sombong dengan ilmu adalah sebesar-besarnya penyakit

Materi 36 ~ Tertipu, Ujub Dan Kibr (06) – Sombong dengan ilmu adalah sebesar-besarnya penyakit

🌍 Kajian Kitab
👤 Al-Ustadz Abu Haidar As-Sundawy حفظه الله
📗 Kitab Awaa’iqu ath Thalab (Kendala Bagi Para Penuntut Ilmu)
📝 as-Syaikh Abdussalam bin Barjas Alu Abdul Karim حفظه الله

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Idealnya seorang yang berilmu itu harus tawadhu merendahkan hatinya. Merasa diri rendah, hina dan tidak memiliki harga. Sebuah atsar tentang Umar bin Abdul Aziz radhiyallahu’anhu seorang khalifah yang rasyid, seorang ulama ahli hadits, seorang yang shaleh yang diakui kesholehannya dan keutamaannya oleh semua manusia dizaman itu sampai dikatakan “Wahai Umar, kalau engkau nanti mati kami akan kuburkan engkau dikamar Rasul ﷺ”. Berdampingan dengan kuburan Nabi, Abu Bakr dan Umar. Kemudian apa kata Umar bin Abdul Aziz ? beliau berkata, “Kalau Allah azza wa jalla melemparkan seluruh dosa kecuali syirik maka itu lebih aku sukai daripada aku memandang diriku layak untuk demikian (dikuburkan disamping Nabi ﷺ)”. Hal itu adalah sikap yang tawadhu.

Di dalam kitab tahdzibul hilyah, siapakah pengarangnya ? yakni Imam Al-Ghazali didalamnya banyak bercerita tentang aspek yang berkaitan dengan tazkiatun nafs termasuk masalah penyakit hati, takabur dan ujub. Tetapi sayangnya yang sering kita ungkapkan hilyah umuludin campur aduk antara Al-Qur’an dan hadits-hadits yang shahih dan ada juga hadits yang dha’if bahkan yang palsu. Dibuang seluruhnya sayang dan dipakai seluruhnya berbahaya maka kemudian disaring mana yang shahihnya dan mana yang dha’ifnya yang palsu-palsunya dibuang. Maka kitab hasil penyaringan tersebut disebut dengan tahdzib dan banyak tahdzib terhadap kitab hilyah umuludin diantaranya mukhtasor min hajil qashidin susunan al-Imam Ibnu Qudamah rahimahullah.

Disebutkan dalan tahdzibul hilyah, “Takabur dengan ilmu merasa diri besar hanya karena dia berilmu itu sebesar-besarnya kekeliruan, segawat-gawat penyakit yang berbahaya dan paling jauh untuk menerima terapi pengobatan. Orang yang takabur seperti itu biasanya dinasehati malah tambah menjadi-jadi dengan ketakaburannya. Di ingatkan itu malah memarahi yang mengingatkan karena merasa dirinya lebih besar daripada yang menasihatinya”. Kecuali dengan kesungguhan, usaha yang ekstra keras. Kenapa orang yang berilmu ada ketakaburan kecuali yang Allah selamatkan dari hal itu karena memang kadar ilmu itu begitu agung disisi Allah dan agung juga disisi manusia. Allah memuliakan orang-orang yang berilmu dan manusia juga memuliakan orang-orang yang berilmu dan keagungan kadar ilmu lebih besar daripada kadar harta ataupun kegantengan dan kecantikan. Orang yang berharta juga lebih dihargai daripada orang yang miskin atau hartanya kurang tetapi kadar penghargaan kepada orang yang berilmu karena ilmunya itu lebih besar terutama dikalangan para thalabul ilmu (penuntut ilmu).

Dahulu para ulama mereka dimuliakan karena ilmu dan amalnya bukan karena jabatan, tidak melimpah kekayaan tetapi diagungkan karena ilmu dan amal dari ilmunya.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ ، أشْهَدُ أنْ لا إلهَ إِلاَّ أنْتَ ، أسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إلَيْكَ
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *