Home > Kajian Kitab > Kitab Awaa’iqu ath Thalab > Materi 35 ~ Tertipu, Ujub Dan Kibr (05) – Fenomena fitnah: Merasa diri besar setelah sedikit belajar

Materi 35 ~ Tertipu, Ujub Dan Kibr (05) – Fenomena fitnah: Merasa diri besar setelah sedikit belajar

🌍 Kajian Kitab
👤 Al-Ustadz Abu Haidar As-Sundawy حفظه الله
📗 Kitab Awaa’iqu ath Thalab (Kendala Bagi Para Penuntut Ilmu)
📝 as-Syaikh Abdussalam bin Barjas Alu Abdul Karim حفظه الله

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Berkata Mualif selanjutnya ini sebuah fenomena yang real dan nyata semoga kita tidak termasuk didalamnya. “Kita telah diberikan musibah dizaman sekarang ada sekelompok kecil tidak banyak mereka membaca satu, dua kitab menghafalkan satu, dua masalah belajar dari satu, dua ustadz setelah satu, dua hari, seminggu, satu dua bulan dari usia mereka menuntut ilmu, mereka sudah merasa menjadi mujtahid. Mereka menuduh dengan keterbatasan ilmunya dengan dipenuhi rasa sombong, merendahkan, mentahdzir, mengkritik para ulama yang ilmunya sudah diakui oleh umat islam seluruh dunia. Ini musibah bagi para penuntut ilmu mereka memandang dirinya diposisi yang sangat tinggi yang tidak terjangkau oleh orang lain dan itu nampak pada gaya mereka dari cara mereka berjalan dan ucapan-ucapan mereka. Betapa banyaknya mudhorot yang ditimbulkan oleh mereka, betapa sedikitnya manfaat ilmu mereka dan betapa busuknya kebodohan mereka. Kita memohon kepada Allah, semoga Allah azza wajalla memberikan hidayah kepada mereka ke jalan yang lurus”.

Nah liat apa dan bagaimana sikap para ulama !
Berkata Imam Ibnu Jauzi rahimahullahuta’ala ketika menerangkan akhlaq para ulama, “Aku menelaah kepada banyak akhlaq ulama dan zuhaad jamak dari zaahid “orang yang zuhud”. Zuhud itu artinya ada murubbah fii dunya maknanya tidak ada minat untuk menikmati kesenangan dunia atau dengan kata lain meninggalkan apa-apa yang tidak ada manfaatnya. Kalau waro’ tarku ma yadurruh meninggalkan apa yang mudhorot. Maka mana yang lebih utama ? Waro’ atau Zuhud ? jawabannya adalah Zuhud karena yang mubah tidak ada dosa tetapi tidak ada manfaatnya ditinggalkan apalagi yang mudhorot. Kalau waro’ hanya meninggalkan yang mudhorot tetapi kadang-kadang yang mubah selama tidak mudhorot masih dilakukan. Setiap yang zuhud pasti waro’ tetapi tidak setiap waro’ itu zuhud. Zuhud itu pasti ahli ibadah”.

“Aku menelaah secara seksama para ulama dan para zuhaad, dibedakan para ulama adalah orang yang berilmu, para zuhud yakni orang yang zuhud tetapi ilmunya mungkin pas-pasan tetapi ibadahnya luar biasa mereka menyembunyikan rasa besar mereka maknanya tidak memperlihatkan dirinya seorang yang besar yakni mereka tawadhu. Mereka duduk memandang disuatu tempat yang rendah dan melihat orang lain selalu dianggap diatas dirinya, melihat orang lain hanya sisi kelebihan yang dimiliki oleh orang itu yang tidak ada pada dirinya”. Hal itu adalah untuk memotivasi dirinya. Kemudian “Sedikit sekali orang dikalangan ulama yang aku lihat kecuali dia selalu menelaah dirinya sendiri, selalu melihat kekurangan dirinya sendiri. Saat ini yang sangat aneh adalah orang melihat sisi kelebihan dirinya sendiri dan melihat sisi kelemahan orang lain”. Ini adalah kekeliruan dan ini adalah yang menyebabkan kesombongan dan menghilangkan ke tawadhuan.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ ، أشْهَدُ أنْ لا إلهَ إِلاَّ أنْتَ ، أسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إلَيْكَ
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *