🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
📗 Silsilah Qawa’idul Arba’
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين
Halaqah yang ke-11 Penjelasan Kitāb Al Qawā’idul Arba’ karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb At-tamīmiy rahimahullāh
√ Apa yang memasukan seseorang kedalam agama Islām?
√ Apa yang membedakan antara orang Islām dengan orang-orang musyrikin tersebut?
Apabila dalam masalah penciptaan, masalah pengaturan rejeki sama antara kita dengan mereka, lalu apa yang membedakan antara diri kita dengan mereka.
Apa yang diinginkan oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dari orang-orang musyrikin tersebut.
Yang beliau inginkan bukan hanya mereka mengakui bahwasanya Allāh yang mencipta, memberikan rejeki, dan juga mengatur alam semesta tetapi yang di inginkan oleh Allāh dan Rasūl Nya dari orang-orang musyrikin tersebut (adalah) supaya mereka mengesakan ibadah hanya untuk Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Inilah yang diinginkan oleh Allāh dan Rasūl Nya.
Allāh dan Rasūl Nya menginginkan dari orang-orang musyrikin tersebut selain mereka mengakui bahwasanya Allāh yang mencipta, mengatur alam semesta dan memberikan rejeki,yang diinginkan dari mereka supaya mereka mengesakan ibadah hanya untuk Allāh.
Orang-orang musyrikin tidak mengEsakan Allāh didalam ibadahnya, inilah yang membedakan antara kita dengan mereka, terkadang mereka melakukan ibadah untuk Allāh seperti ketika hajian karena ibadah haji ini sudah ada sejak zaman nabi Ibrāhīm ‘alayhissalām kemudian dilanjutkan nabi Ismāil dan seterusnya dan orang-orang Quraysh mereka adalah keturunan nabi Ismāil ibnu Ibrāhīm.
Ibadah haji masih mereka pegang sampai dizaman Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam oleh karena itu setiap tahun mereka senantiasa melakukan ibadah haji dan ini dilakukan untuk Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Kita membaca didalam kitāb-kitāb sirah tentang perjanjian ‘Aqabah yang pertama maupun yang kedua, bai’at antara Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dengan kaum Anshār.
Kapan terjadi, ketika musim-musim haji, ketika orang-orang Arab (orang-orang Quraysh) dan orang-orang Arab yang ada disekitarnya mereka melakukan ibadah haji menuju ke Mekkah.
Disanalah pertemuan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dengan orang-orang Anshār, terkadang mereka beribadah kepada Allāh dan terkadang mereka beribadah kepada selain Allāh, sehingga ketika terjadi musibah misalnya :
↝Diantara mereka ada sebagian yang datang kepada Jin, atau
↝Ada diantara mereka ketika ingin berperang dan ingin menang menaruh senjata-senjata mereka digantungkan disebuah pohon tertentu dengan keyakinan bahwa senjata itu akan membawakan barakah.
↝Terkadang mereka menyembah kepada Allāh, beribadah kepada Allāh semata dan
↝Terkadang mereka serahkan sebagian ibadah mereka kepada selain Allāh.
Inilah yang membedakan antara diri kita orang Islām dengan orang-orang musyrikin tersebut.
Kalau meyakini bahwasanya;
√Allāh yang mencipta satu-satunya,
√ Memberikan rejeki satu-satunya,
√ Mengatur alam semesta satu-satunya.
Seharusnya keyakinan ini menjadikan mereka hanya menyembah kepada Allāh.
√ Bagaimana kita menyembah sesuatu yang tidak mencipta?
√ Bagaimana seseorang menyembah sesuatu yang tidak memberikan rejeki baik, dari langit maupun dari bumi sedikitpun?
√ Bagaimana seseorang menyembah sesuatu yang tidak mengatur alam semesta?
Bahkan mereka diciptakan, mereka diberikan rejeki, mereka diatur oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Kenapa mereka tidak menyembah saja dzat yang telah menciptakan benda-benda tersebut yang telah menciptakan makhluk-makhluk tersebut.
Oleh karena itu Allāh mengatakan,
فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُون
“Lalu katakan kepada mereka, kenapa mereka tidak takut dan taqwa kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.”
(QS Yūnus : 31)
Inilah yang diinginkan oleh Allāh dan Rasūl Nya dan ini ditolak dan di ingkari oleh orang-orang Quraysh, ketika mereka di dakwahi ” ‘Lā ilāha illallāh ” tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allāh.
Mereka semuanya memahami bahwasanya makna kalimat ini berarti saya harus meninggalkan seluruh sesembahan selain Allāh yang selama ini aku sembah dan hanya menyembah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Dan hanya menyembah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Orang-orang kāfir Quraysh (orang-orang musyrikin) mereka semua memahami kalimat ini karena mereka adalah orang-orang Arab dan sangat mengenal makna kalimat ‘Lā ilāha illallāh ada diantara mereka yang menerima dan langsung masuk Islām dan ada diantara mereka yang menolak dan tidak mau mengucapkan ‘Lā ilāha illallāh bahkan mereka sombong.
إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ يَسْتَكْبِرُون * وَيَقُولُونَ أَئِنَّا لَتَارِكُو آلِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَجْنُون
“Sesungguhnya mereka, kata Allāh, apabila dikatakan kepada mereka, diajak untuk mengucapkan ‘Lā ilāha illallāh( يَسْتَكْبِرُون ) mereka sombong (menolak kebenaran) tidak mau mengucapkan ‘Lā ilāha illallāh karena mereka tahu tentang tuntutan dari kalimat ini.
(QS As Shaffat : 35-36 )
Kalau saya mengucapkan kalimat ini berarti saya harus masuk Islām, sesembahan yang begitu banyak aku tinggalkan dan hanya menyembah kepada Allāh yang satu.
Tidak boleh lagi aku berdo’a kepada selain Allāh dan tidak boleh aku beristi’ānah /beristiqhasah kepada selain Allāh.
Oleh karena itu mereka (يَسْتَكْبِرُون) sombong dan tidak mau mengucapkan kalimat ini( وَيَقُولُونَ ) dan mereka mengatakan,
َ أَئِنَّا لَتَارِكُو آلِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَجْنُون
“Apakah kami harus meninggalkan ( آلِهَتِنَا ) sesembahan- sesembahan kami hanya karena seorang tukang syair yang gila”.
(QS As Shaffat : 36 )
Selain mereka menolak mereka juga menghina Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam adalah tukang syair padahal beliau adalah orang yang tidak mengetahui tentang syair dan mengatakan bahwasanya beliau adalah seorang yang gila.
Semuanya ini adalah menunjukan Kesombongan mereka, selain menolak dakwah beliau mereka juga berusaha untuk merendahkan beliau supaya manusia tidak mengikuti dakwah beliau.
Didalam ayat yang lain mereka mengatakan:
أَجَعَلَ الْآلِهَةَ إِلَهًا وَاحِدًا إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ
“Apakah dia menjadikan tuhan-tuhan yang banyak ini hanya menjadi tuhan yang satu. Sesungguhnya ini adalah sesuatu yang sangat mengherankan (kata mereka)”.
(QS Shād : 5)
Ini adalah kesombongan orang-orang Quraysh (orang-orang musyrikin Quraysh) mereka tidak mau mengucapkan kalimat ‘Lā ilāha illallāh karena ini lah yang akan memasukan mereka kedalam agama islam.
Inti dari kaidah yang sudah kita sampaikan ini bahwasanya :
⑴ Orang-orang musyrikin yang diperangi oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam sama dengan kita mengakui bahwasanya Allāh yang telah menciptakan mereka, memberikan rejeki kepada mereka, mengatur alam semesta ini dan sesungguhnya ini tidak memasukan mereka kedalam agama islam.
⑵ Apa sebenarnya yang memasukan seseorang kedalam agama Islām yaitu apabila seseorang hanya mengesakan Allāh didalam beribadah, hanya menyerahkan ibadah kepada Allāh adapun seseorang hanya meyakini Allāh yang mencipta, Allāh yang memberi rejeki, Allāh yang mengatur alam semesta, maka ini belum membedakan antara dia dengan orang musyrikin.
⑶ Hendaknya seseorang didalam berdakwah atau mendakwahi manusia kedalam agama Islām tidak mencukupkan diri hanya mengenalkan mereka bahwa Allāh yang menciptakan, memberikan rejeki dan juga mengatur alam semesta.
Karena ini tidak membedakan antara kita dengan yang lain karena sebagian ketika berdakwah dan mengajak orang kepada Islām hanya mengingatkan tentang perkara-perkara ini padahal disana ada sesuatu yang lebih penting dari itu atau yang setelahnya yang harus disampaikan.
Bukan hanya menyampaikan tentang rubūbiyyah (keyakinan bahwasanya Allāh yang mencipta, memberikan rejeki, dan juga mengatur alam semesta tapi juga harus disampaikan bahwasanya keyakinan ini menuntut kita, mengharuskan kita hanya untuk mengesakan Allāh Subhānahu wa Ta’āla didalam ibadah.
Dan in syā Allāh kaidah ini akan diperjelas pada kaidah-kaidah selanjutnya.
وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته


Bismillah …
Izin meng-copy catatannya untuk keperluan internal ya ukhty.
Jazaakillahu khayran wa baarakallahu fiikum.