Halaqah 172 | Ahlus Sunnah Tidak Membenarkan Dukun, Peramal, & Orang yang Menyelisihi Al-Quran, Sunnah, & Ijma Kaum Muslimin

Kitab: Aqidah Ath-Thahawiyah
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-172 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-Aqidah Ath-Thahawiyah yang ditulis oleh Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāh.

Beliau mengatakan raḥimahullāh

وَلاَ نُصَدِّقُ كَاهِنًا وَلاَ عَرَّافًا

Kita Ahlus Sunnah tidak membenarkan dukun dan tukang ramal.

Beliau berbicara karena ini termasuk Tauhid. Ahlus Sunnah wal Jamāʿah, mereka tidak membenarkan dukun. Karena dukun ini mereka mengaku mengetahui ilmu yang ghaib dengan cara apa pun. Maka itu dinamakan dengan dukun. Intinya dia mengaku mengetahui ilmu yang ghaib. Mungkin dengan cara melihat mangkok, atau dengan cara menggaris di tanah, atau dengan cara pura-pura melihat jari, atau pura-pura melihat mata, kemudian mengatakan, “Oh, kamu nanti minggu depan nasibnya demikian dan demikian.” Itu dukun.

Bolehkah kita membenarkannya? Tidak boleh. Karena yang mengetahui ilmu ghaib itu hanya Allāh. Itu harus kita yakini:

عَالِمُ ٱلْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَىٰ غَيْبِهِۦٓ أَحَدًا إِلَّا مَنِ ٱرْتَضَىٰ مِن رَّسُولٍ

Dialah Allāh ﷻ yang mengetahui ilmu ghaib, maka Allāh tidak menampakkan ilmu ghaib tadi kepada siapa pun kecuali orang yang Allāh ridhai, dari kalangan para rasūl. (QS. Al-Jinn: 26–27)

Dukun bukan rasūl. Rasūl pun, sebagian ilmu ghaib saja diberitahukan kepada mereka, tidak semua. Maka kita benarkan apa yang ada dalam Al-Qur’ān:

قُل لَّا يَعْلَمُ مَن فِى ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ٱلْغَيْبَ إِلَّا ٱللَّهُ

Katakanlah, tidak mengetahui siapa pun yang ada di langit dan di bumi perkara yang ghaib kecuali Allāh. (QS. An-Naml: 65)

Maka dukun seterkenal apa pun, jangan kita benarkan.

مَنْ أَتَى كَاهِنًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ، فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ، فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنزِلَ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ ﷺ

Barangsiapa yang mendatangi dukun, bertanya, membenarkan, maka sungguh dia telah kufur dengan apa yang diturunkan kepada Nabi Muḥammad ﷺ. (HR. Abū Dāwūd no. 3904, di-shahih-kan oleh Al-Albānī)

Karena di antara yang diturunkan kepada Nabi Muḥammad ﷺ adalah tentang masalah bahwa ilmu ghaib tidak mengetahuinya kecuali Allāh saja. Maka tidak boleh kita membenarkan. Mendatangi tidak boleh, bertanya tidak boleh, apalagi membenarkan.

Wa lā ʿarrāfan, demikian pula tukang ramal. Ini hampir sama maknanya dengan dukun. Mereka berbeda caranya saja. Sama-sama intinya adalah mengaku mengetahui ilmu yang ghaib, dan semuanya mereka bertaʿāwun dengan jin dalam menipu manusia. Kita Ahlus Sunnah tidak membenarkan dukun-dukun tadi dengan berbagai jenis mereka.

وَلاَ مَنْ يَدَّعِي شَيْئًا يُخَالِفُ الكِتَابَ والسُّنَّةَ وإجْمَاعَ الأُمَّةِ

Demikian pula kita tidak membenarkan setiap orang yang mengaku, mengakui sesuatu yang bertentangan dengan Al-Qur’ān, Sunnah, dan juga ijmāʿ ummat ini. Karena yang menjadi prinsip Ahlus Sunnah wal Jamāʿah adalah mengikuti Al-Qur’ān, Sunnah, dan juga ijmāʿ.

Adapun di sana ada orang yang melakukan sesuatu yang bertentangan dengan Al-Qur’ān, dan juga Sunnah, dan juga ijmāʿ ummat, maka kita tidak membenarkan yang demikian. Kita pastikan itu adalah sebuah kesalahan. Karena Ahlus Sunnah dinamakan dengan Ahlus Sunnah dengan sebab berpegang teguhnya mereka dengan Sunnah Nabi ﷺ. Maka jelas bahwasanya mereka tidak akan mengakui dan tidak akan membenarkan segala sesuatu yang bertentangan dengan Al-Qur’ān. Karena Al-Qur’ān itulah yang ḥaqq, itulah yang benar, yang tidak ada keraguan di dalamnya:

فَإِنَّ أَصْدَقَ ٱلْحَدِيثِ كِتَٰبُ ٱللَّهِ

Yang paling benar ucapannya adalah Kitābullāh.

Kalau bertentangan dengan Al-Qur’ān berarti itu adalah kesalahan. Sunnah Nabi ﷺ adalah sebaik-baik petunjuk:

وَخَيْرُ ٱلْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمَّدٍ ﷺ

Petunjuk terbaik adalah petunjuk Nabi Muḥammad ﷺ.
Kalau ada yang menyelisihi Sunnah maka itu jelas bukan petunjuk yang benar.

Ijmāʿ al-ummah pasti benar. Karena dalam sebuah Hadits, Nabi ﷺ mengabarkan bahwa Allāh tidak akan mengumpulkan umat-Nya atau umat Islām di atas kesesatan. Sehingga kalau semuanya sepakat atas satu perkara, pasti itu adalah benar dan tidak boleh kita menyelisihi.

وَمَن يُشَاقِقِ ٱلرَّسُولَ مِنۢ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ ٱلْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ ٱلْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِۦ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِۦ جَهَنَّمَۖ وَسَآءَتْ مَصِيرًا

Barang siapa yang menyelisihi rasūl dan mengikuti jalan selain jalan orang-orang yang beriman… (QS. An-Nisā’: 115)

Ini adalah dalil ijmāʿ sebagaimana disebutkan oleh Al-Imām Asy-Syāfiʿī. Mengikuti jalan orang-orang yang beriman adalah wajib. Dan mengikuti selain jalan mereka, ini adalah sebuah penyimpangan. Tidak mungkin Allāh ﷻ mengumpulkan umat Islām di atas kesesatan. Sehingga kalau terjadi ijmāʿ, itu adalah sebuah petunjuk. Itu adalah sebuah kebenaran.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

image_pdfimage_print

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top