Halaqah 171 | Ahlus Sunnah Beriman Dengan Keluarnya Dajjal, Addabbah, & Terbitnya Matahari Dari Arah Tenggelamnya Yang Merupakan Tanda Kiamat

Kitab: Aqidah Ath-Thahawiyah
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-171 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-Aqidah Ath-Thahawiyah yang ditulis oleh Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāh.

Setelah beliau berbicara tentang masalah karāmah, dan ini masuk dalam keimanan dengan para rasūl, karena karāmah ini hubungannya dengan muʿjizat. Maka beliau berpindah kembali mengajak kita untuk mendalami tentang hal yang berkaitan dengan iman kepada hari akhir.

Beliau mengatakan raḥimahullāh

وَنُؤْمِنُ بِـ[أَشْرَاطِ السَّاعَةِ: مِنْ] خُرُوجِ الدَّجَّال، ونُزُولِ عِيسَى بْنِ مَرْيَمَ [عَلَيْهِ السَّلامُ] مِنَ السَّماءِ

Kita Ahlus Sunnah beriman dengan keluarnya Dajjal, berdasarkan dalil-dalil yang banyak tentang keluarnya Dajjal ini. Nabi ﷺ telah menjelaskan sejelas-jelasnya tentang Dajjal, tentang bahwa dia adalah termasuk ashyrāṭu as-sāʿah al-kubrā (termasuk tanda-tanda Hari Kiamat yang besar). Ada sepuluh tanda Hari Kiamat sebagaimana disebutkan dalam Hadits. Kalau sudah keluar satu maka akan segera mengikuti yang lain. Yang pertama kali akan keluar adalah Dajjal di masa al-Imām Mahdi.

Nabi ﷺ telah menyebutkan ciri-cirinya: bagaimana matanya, bahwasanya matanya dua, kemudian yang kanan ini buta dan yang kiri cacat. Disebutkan dalam Hadits itu seperti anggur yang keluar. Dan dia keriting, gemuk. Dan sekarang dia sudah ada sebagaimana disebutkan dalam Hadits Tamīm ad-Dārī. Dia dan juga beberapa orang pernah bertemu dengan Dajjal dan berbicara. Dia sudah ada sekarang, tinggal menunggu perintah untuk keluar. Dan dia adalah fitnah yang besar di akhir zaman.

Ketika dia keluar, akan mengelilingi dunia dengan cepat, sehingga dinamakan dia dengan al-Masīḥ, karena tidaklah ada satu tempat pun di dunia ini kecuali dia akan datangi, kecuali Makkah dan Madinah. Dia tidak bisa masuk. Fitnah yang besar, karena dia keluar ketika manusia dalam keadaan paceklik yang panjang, dalam keadaan lapar, dalam keadaan haus dan membutuhkan. Kemudian dia keluar dan mengaku bahwa dirinya adalah Rabbul-ʿĀlamīn.

Allāh ﷻ berikan dia kemampuan, mengatakan kepada langit: “Turunkan hujan,” maka turunlah hujan. Mengatakan kepada bumi: “Keluarkan isimu,” maka bumi mengeluarkan isinya, tanaman. Dan akan mengikuti Dajjal orang-orang Yahudi.

Nabi ʿĪsā ʿalaihis-salām yang sekarang di atas sana akan diturunkan oleh Allāh ﷻ dan akan bertemu dengan Dajjal, dan beliaulah yang akan membunuh Dajjal dengan tombak kecilnya.

Kita beriman dengan keluarnya Dajjal, tidak boleh kita menolak dan mendahulukan akal kita. Dia akan keluar sebagaimana dikabarkan oleh Nabi ﷺ. Ini keyakinan Ahlus Sunnah.

Wa nuzūli ʿĪsā bni Maryam mina as-samāʾ — dan turunnya Nabi ʿĪsā ʿalaihis-salām dari atas, yaitu ketika Dajjal keluar, maka Allāh ﷻ akan menurunkan Nabi ʿĪsā ʿalaihis-salām dan akan membunuh Dajjal dengan tangan beliau. Dan Allāh ﷻ telah mengisyaratkan tentang turunnya Nabi ʿĪsā ʿalaihis-salām di dalam Al-Qurʾān:

وَإِنَّهُ لَعِلْمٌ لِلسَّاعَةِ فَلَا تَمْتَرُنَّ بِهَا

Dan sesungguhnya turunnya Nabi ʿĪsā itu adalah tanda (ilmu) tentang Hari Kiamat, maka janganlah kamu meragukannya. (QS. Az-Zukhruf: 61)

Dajjal ini termasuk tanda-tanda yang besar. Kemudian turunnya Nabi ʿĪsā ʿalaihis-salām ini juga termasuk tanda-tanda yang besar.

Allāh ﷻ telah menjadikan setiap manusia itu wafatnya di bumi, termasuk Nabi ʿĪsā ʿalaihis-salām. Meskipun sekarang diangkat oleh Allāh ﷻ di atas sana, maka Allāh ﷻ akan menurunkan beliau, dan beliau turun sebagai seorang pengikut Nabi Muḥammad ﷺ. Akan memecahkan salib, membunuh babi, dan tidak menerima jizyah. Yang ada adalah Islām atau perang. Jizyah saat itu tidak diterima oleh beliau.

Baik. Ini juga termasuk tanda-tanda besar dekatnya Hari Kiamat.

Kemudian beliau mengatakan raḥimahullāh,

وَنُؤْمِنُ بِطُلُوعِ الشَّمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا

Dan kita beriman dengan terbitnya matahari dari arah tenggelamnya.

Matahari, sunnatullāh, diterbitkan oleh Allāh ﷻ dari timur ke barat. Tapi ketika Hari Kiamat sudah dekat, maka Allāh ﷻ tidak mengizinkan matahari untuk terbit dari arah timur. Allāh ﷻ menyuruh dia untuk kembali dari arah tenggelamnya. Kemudian terbit dari maghrib, dari arah tenggelamnya. Di pagi hari tersebut manusia menunggu-nunggu, biasanya matahari keluar jam segitu, tapi mereka tidak mendapatkan matahari keluar (terbit). Tapi mereka mendapatkan matahari terbit dari arah barat.

Dan kejadian ini Allāh ﷻ sebutkan di dalam Al-Qurʾān:

هَلْ يَنْظُرُونَ إِلَّا أَنْ تَأْتِيَهُمُ الْمَلَائِكَةُ أَوْ يَأْتِيَ رَبُّكَ أَوْ يَأْتِيَ بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ

Tidaklah mereka menunggu kecuali kedatangan malaikat (yang akan mencabut nyawa mereka), atau kedatangan Rabb-mu (di Padang Mahsyar), atau kedatangan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Rabb-mu… (QS. Al-Anʿām: 158)

Yang dimaksud dengan sebagian tanda-tanda kekuasaan Allāh ﷻ di sini adalah terbitnya matahari dari arah barat.

يَوْمَ يَأْتِي بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ لَا يَنْفَعُ نَفْسًا إِيمَانُهَا لَمْ تَكُنْ آمَنَتْ مِنْ قَبْلُ أَوْ كَسَبَتْ فِي إِيمَانِهَا خَيْرًا

Hari di mana datang sebagian tanda kekuasaan Rabb-mu, tidaklah bermanfaat iman seseorang yang sebelumnya tidak beriman, atau tidak mengusahakan kebaikan dalam keimanannya. (QS. Al-Anʿām: 158)

Hari di mana datang sebagian tanda kekuasaan tadi, yaitu terbitnya matahari dari arah tenggelamnya, tidak akan bermanfaat keimanan seseorang yang sebelumnya dia tidak beriman, sebelumnya tidak beriman ketika melihat matahari terbit dari arah barat baru beriman, tidak akan diterima oleh Allāh ﷻ. Demikian pula, tidak bermanfaat orang yang ketika dia melihat matahari terbit dari arah barat, kemudian baru beramal, kemudian baru rajin shalat malam. Kalau sebelumnya dia sudah menjaga, kemudian terus dia menjaga, tidak masalah. Diterima oleh Allāh ﷻ. Tapi kalau dia baru berubah ketika matahari sudah terbit dari arah barat, maka inilah yang tidak diterima oleh Allāh ﷻ.

Dalam sebuah Hadits Nabi ﷺ mengatakan:

لَا تَنْقَطِعُ الْهِجْرَةُ حَتَّى تَنْقَطِعَ التَّوْبَةُ، وَلَا تَنْقَطِعُ التَّوْبَةُ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا

Hijrah tidak akan terputus sampai terputusnya taubat, dan taubat tidak akan terputus sampai matahari terbit dari arah barat. (HR. Abū Dāwūd)

Kalau sudah terbit matahari dari arah tenggelamnya, maka terputus taubat. Sudah tidak dibuka pintu taubat. Masuk Islām setelah terbitnya matahari dari arah barat tidak bermanfaat.

Maka kita beriman akan terbitnya matahari dari arah baratnya, dari arah tenggelamnya.

وَخُرُوجِ دَابَّةِ الأَرْضِ مِنْ مَوْضِعِهَا

Demikian pula, kita beriman dengan keluarnya seekor hewan bumi dari tempatnya, yaitu dari dalam bumi.

Dalam sebuah ayat Allāh ﷻ mengatakan:

وَإِذَا وَقَعَ الْقَوْلُ عَلَيْهِمْ أَخْرَجْنَا لَهُمْ دَابَّةً مِنَ الْأَرْضِ تُكَلِّمُهُمْ أَنَّ النَّاسَ كَانُوا بِآيَاتِنَا لَا يُوقِنُونَ

Dan apabila sudah terjadi keputusan atas mereka, Kami akan mengeluarkan untuk mereka seekor hewan yang melata dari bumi yang berbicara kepada mereka bahwa sesungguhnya manusia tidak meyakini ayat-ayat Kami. (QS. An-Naml: 82)

Ini adalah termasuk tanda yang besar, termasuk ʿalāmātu as-sāʿah al-kubrā. Di mana dia keluar, Allāhu a’lam, yang jelas Allāh ﷻ akan mengeluarkan hewan tersebut. Ini harus kita imani. Perkara-perkara tadi harus kita imani semuanya karena dalil-dalil menunjukkan demikian.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

image_pdfimage_print

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top