Home > Halaqah Silsilah Ilmiyah > Al-'Aqīdah Al-Wāsithiyyah > Halaqah 081 | Dalil yang Menunjukkan Sifat Kalam Bagi Allāh ﷻ Bag 02

Halaqah 081 | Dalil yang Menunjukkan Sifat Kalam Bagi Allāh ﷻ Bag 02

🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah
🖊 Ilmiyyah.com
〰〰〰〰〰〰〰

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-81 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah yang ditulis oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullāh.

Pembahasan tentang sifat kalam bagi Allāh ﷻ, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullāh beliau mendatangkan Firman Allāh ﷻ dalam surat An-Nisa’ juga

وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ قِيلاً

Dan siapakah yang lebih benar ucapannya daripada Allāh ﷻ.

Ini hampir sama maknanya dengan ayat yang sebelumnya, قِيلاً maknanya adalah حَدِيثًا yaitu كَلَاما,

وَقَوْلُـهُ

Dan juga Firman Allāh ﷻ

وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ

Dan ketika Allāh ﷻ berkata Wahai ‘Isa ibn Maryam

Allāh ﷻ sebutkan dalam surat Al-Mā’idah ayat 116, syahidnya di sini وَإِذْ قَالَ اللَّهُ dan ketika Allāh ﷻ berkata, dan makna قَالَ adalah takallama, ketika Allāh ﷻ berkata, dan ayat dalam Al-Qur’an dengan lafadz seperti ini yaitu قَالَ اللَّهُ ini banyak, banyak di dalam Al-Qur’an disebutkan قَالَ اللَّهُ (Allāh ﷻ berkata), maknanya adalah takallama (Allāh ﷻ berbicara), maka ayat ini adalah termasuk dalil tentang penetapan sifat Al-Kalam bagi Allāh ﷻ

يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ

Wahai ‘Isa ibn Maryam, dan ini menunjukkan bahwasanya Firman Allāh ﷻ atau ucapan Allāh ﷻ adalah dengan huruf, يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ dengan huruf

ءَأَنتَ قُلۡتَ لِلنَّاسِ ٱتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَٰهَيۡنِ مِن دُونِ ٱللَّهِۖ

Apakah engkau berkata kepada manusia jadikanlah aku dan juga ibuku sebagai 2 sesembahan selain Allāh ﷻ, menunjukkan bahwasanya Firman Allāh ﷻ adalah dengan huruf

قَالَ سُبۡحَٰنَكَ

Maka nabi ‘Isa ‘alaihissalam mengatakan Maha Suci Engkau ya Allāh ﷻ

مَا يَكُونُ لِيٓ أَنۡ أَقُولَ مَا لَيۡسَ لِي بِحَقٍّۚ إِن كُنتُ قُلۡتُهُۥ فَقَدۡ عَلِمۡتَهُۥۚ تَعۡلَمُ مَا فِي نَفۡسِي وَلَآ أَعۡلَمُ مَا فِي نَفۡسِكَۚ إِنَّكَ أَنتَ عَلَّٰمُ ٱلۡغُيُوبِ  ١١٦

[Al-Ma’idah]

Maha Suci Engkau ya Allāh ﷻ, tidak pantas bagiku untuk mengatakan sesuatu yang aku tidak berhak, kalau aku mengatakannya tentunya Engkau sudah tahu, Engkau mengetahui apa yang ada dalam diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada dalam diri-Mu, sesungguhnya Engkau adalah Dzat Yang Maha Mengetahui perkara yang ghaib.

Ucapan Nabi ‘Isa ‘alaihissalam سُبۡحَٰنَكَ dan seterusnya menunjukkan bahwasanya beliau mendengar apa yang diucapkan oleh Allāh ﷻ, kalau beliau mendengar berarti Firman Allāh ﷻ atau Kalāmullāh adalah dengan suara, di sana ada suara yang beliau dengar, dan ini menunjukkan bahwasanya Firman Allāh ﷻ yaitu Kalāmullāh adalah dengan huruf dan juga dengan suara. Ini di antara ayat-ayat yang di situ ada kalimat قَالَ اللَّه. Ayat yang setelahnya

وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلاً

Dan telah sempurna kalimat Rabb mu kebenaran-Nya dan keadilan-Nya.

Syahidnya disini adalahكَلِمَةُ , kalimah artinya adalah kalām yaitu Firman Allāh ﷻ. Dan telah sempurna kalimat Rabb mu yaitu Kallamullāh sempurna dari sisi kebenarannya dan dari sisi keadilannya. Para ulama mufassirin mereka menjelaskan bahwasanya صِدْقًا ini adalah sifat dari khobar, adapun عَدْلاً maka ini adalah sifat dari hukmun sehingga mereka mengatakan sidqan fil akhbar wa adlan fil ahkam, sidqan yaitu benar dari sisi khobarnya karena Kalāmullāh terkadang berupa khobar, kabar tentang sifat Allāh ﷻ, kabar tentang umat-umat terdahulu, kabar tentang apa yang terjadi di masa yang akan datang, maka

تَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ صِدْقًا

semakna dengan

وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ قِيلاً
وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ حَدِيثًا

تَمَّتْ sudah sempurna mencapai puncak kesempurnaannya sehingga orang yang berbicara berdasarkan Al-Qur’an maka dia adalah orang yang jujur, orang yang berbicara berdasarkan Al-Qur’an dengan lafadz yang benar dengan makna yang benar sesuai dengan pemahaman para salaf maka dia adalah orang yang jujur, sehingga sebagian salaf mengatakan barang siapa yang berbicara dengan Al-Qur’an, maksudnya adalah berbicara berdasarkan Al-Qur’an صدَق, maka dia adalah orang yang jujur, karena

وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ حَدِيثًا
تَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ صِدْقًا

وَعَدْلاً

Dan adil dari sisi al-ahkam hukum-hukum yang ada dalam Al-Qur’an adalah keadilan, tidak ada kedzaliman didalamnya, baik perintah-perintah Allāh ﷻ dan larangan-larangan Allāh ﷻ, keputusan-keputusan Allāh ﷻ tentang pembagian, misalnya pembagian warisan atau di sana ada zakat harta berapa persen kemudian zakat untuk hewan ternak ini nishabnya berapa maka tidak ada yang didzhalimi di dalam hukum-hukum Allāh ﷻ, semuanya adalah

وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلاً

mencapai puncak kesempurnaan dalam masalah keadilan, tidak ada kedzaliman di dalam hukum-hukum Allāh ﷻ,  maka barangsiapa yang menghukumi dengan Al-Qur’an sungguh dia telah berbuat adil, man hakama bihi adl, barangsiapa yang berhukum dengan Al-Qur’an yaitu menghukumi manusia dengan Al-Qur’an, seandainya mereka terjadi perselisihan kemudian dikembalikan kepada Al-Qur’an dan mengikuti Al-Qur’an maka dia telah berbuat adil, tidak ada kedzaliman di dalamnya.

Maka yakinlah di dalam syariat Allāh ﷻ itu adalah keadilan semata, bahkan di dalamnya banyak keutamaan dan anugerah dari Allāh ﷻ untuk manusia, pasti di sana ada hikmah yang terpendam di dalam syariat Allāh ﷻ, maslahat bagi manusia baik hukum-hukum yang berkaitan dengan ibadah, wudhunya, shalat, puasa pasti di sana ada hikmah yang terpendam, terkadang kita tidak mengetahuinya dan terkadang kita mengetahuinya, apa yang ada dalam hukum Allāh ﷻ mungkin adalah sebuah keadilan atau di adalah sebuah karunia dan juga keutamaan dari Allāh ﷻ, tidak ada kedzaliman di dalamnya.

وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلاً

Syahidnya disini adalah كَلِمَةُ رَبِّكَ dan makna kalimah adalah kalām.

Ada sebagian qurra’ yang membaca

وَتَمَّتْ كَلِمَاتُ رَبِّكَ

jamak, dan ada yang membaca كَلِمَةُ رَبِّكَ sehingga disini ditulis bukan ta’ marbuthohnya, ta’ nya ta’ maftuhah disini, karena disana ada yang membaca كَلِمَاتُ رَبِّكَ dan yang lain membaca كَلِمَةُ رَبِّكَ dan maknanya sama karena seandainya itu adalah mufrad maka mufrad disini di idhafahkan (disandarkan) sehingga faidahnya adalah untuk keumuman, ini seperti firman Allāh ﷻ

وَإِن تَعُدُّواْ نِعۡمَةَ ٱللَّهِ لَا تُحۡصُوهَآۗ

Kalau kalian menghitung nikmat Allāh ﷻ niscaya kalian tidak akan bisa menghitungnya, kalian tidak akan bisa menyebutkan semua nikmat Allāh ﷻ, dan نِعۡمَة di sini mufrad disandarkan dan di idhafahkan sehingga faidahnya adalah untuk keumuman.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top