Home > Grup Islam Sunnah > Kitab Sifat Shalat Nabi ﷺ > Halaqah 48 – Pembahasan Membaca Al Fatihah ~ Cara Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam Membacanya

Halaqah 48 – Pembahasan Membaca Al Fatihah ~ Cara Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam Membacanya

🌍 Grup Islam Sunnah | GiS
🎙 Ustadz Dr. Musyaffa Ad Dariny M.A.
📗 صفة صلاة النبي ﷺ من التكبير إلى التسليم كأنك تراها
📝 Syaikh Al-Albani رحمه الله
~~~•~~~•~~~•~~~•~~~

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه ومن تبع هداه

Kaum muslimin dan kaum muslimat yang saya cintai karena Allah, khususnya anggota GiS -Grup Islam Sunnah- yang semoga dirahmati dan diberkahi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Pada kesempatan yang berbahagia ini kita akan bersama-sama mengkaji sebuah kitab yang sangat bagus yang ditulis oleh Asy Syaikh Al Albani rahimahullah, yakni kitab Sifat Shalat Nabi atau sebagaimana judul aslinya Shifatu Shalatin Nabiyyi Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam Minattakbiri ilattaslim Ka-annaka Taraha (Sifat Shalat Nabi Mulai dari Takbir sampai Salamnya Seakan-akan Anda Melihatnya).

Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam setelah Beliau membaca istiftah, Beliau biasanya membaca ta’awudz, yaitu berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari syaitan yang terkutuk. Kemudian setelah itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membaca basmalah:

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Kemudian setelah membaca “bismillahirrohmanirrohim” dengan suara yang lirih, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membaca

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ

meneruskan Al-Fatihah-nya. Dan Beliau ketika membaca Al-Fatihah ini memotongnya ayat demi ayat, tidak menyambungnya.

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

اَلْحَمْدُ لِله رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ

الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ

اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ

اِھْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَـقِيْمَ

صِرَاطَ الَّذِيۡنَ اَنۡعَمۡتَ عَلَيۡهِمۡ ۙ غَيۡرِ الۡمَغۡضُوۡبِ عَلَيۡهِمۡ وَلَا الضَّآلِّيۡنَ

Ayat demi ayat Beliau baca. Beliau tidak menyambung. Ini di antara sunnah dalam membaca Al-Qur’an; ayat itu diletakkan ada batasan-batasannya agar kita membacanya sama seperti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membaca Al-Quran.

Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dahulu ketika membaca Al-Qur’an, tidak, kebiasaan Beliau tidak menyambung antara satu ayat dengan ayat yang lainnya. Walaupun kadang-kadang maknanya belum sempurna, walaupun kadang-kadang suatu ayat maknanya belum sempurna, tapi diputus oleh Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Kita juga mengikutinya seperti misalnya ayat di dalam surat Al Maa’un.

{ فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّيْنَ }

Di situ ada ayat, padahal artinya “celakalah orang-orang yang shalat”.
Artinya belum sempurna.

{ ٱلَّذِینَ هُمۡ عَن صَلَاتِهِمۡ سَاهُونَ }

Sampai [ َسَاهُوْن ] ini sempurna,
“yaitu orang-orang yang lalai dari menjalankan shalatnya”.

Tapi inilah sunnah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau ketika membaca ayat tersebut, Beliau potong ayat demi ayat, dan cara membaca surat tersebut Beliau potong ayat demi ayat.

Di dalam surat Al-Baqarah juga, ada sebuah ayat yang maknanya tidak sempurna tapi dipotong oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Rasulullah berhenti sampai di situ, kemudian setelah itu meneruskan,

{ كَذَ ٰ⁠لِكَ یُبَیِّنُ ٱللهُ لَكُمُ ٱلۡـَٔایَـٰتِ لَعَلَّكُمۡ تَتَفَكَّرُونَ } { فِی ٱلدُّنۡیَا وَٱلۡـَٔاخِرَةِۗ }

Kata-katanya { لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُوْنَ }
“agar kalian berpikir”, berhenti di situ padahal itu belum sempurna.

Ayat selanjutnya { فِی ٱلدُّنۡیَا وَالآخِرَةِۗ }
“di dunia dan di akhirat”

Maksudnya “agar kalian berpikir di dunia dan di akhirat” tapi dipotong di situ.

{ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُوْنَ }

Agar kalian ingat di dunia dan di akhirat.  Maka kita sebagai umatnya ketika membaca Al-Qur’an juga demikian. Kita afdalnya memotong ayat per ayat. Ada juga ayat-ayat yang lain seperti itu. Jadi maknanya belum sempurna, tapi ada ayat di situ, tetap kita memotongnya, tidak kita sambung. Ini sunnah ya, tidak berarti kalau disambung jadi haram, tidak, tapi meninggalkan yang lebih afdol.

Makanya Syaikh Albani rahimahullah di sini, ia mengatakan, “kemudian Beliau membaca surat Al-Fatihah dengan memenggalnya ayat demi ayat”

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

kemudian berhenti.
Kemudian membaca

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ

kemudian berhenti.
Kemudian membaca

الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

kemudian berhenti.
Kemudian membaca

مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ

dan demikian selanjutnya, demikian seterusnya hingga akhir surat.

Demikianlah cara Beliau membaca semua ayat dalam Al-Qur’an. Beliau berhenti pada akhir ayat dan tidak menyambungnya dengan ayat setelahnya. Ini sunnah dalam membaca Al-Qur’an. Kita membaca ayat per ayat.

Kemudian beliau di sini menyebutkan

وَكَانَ تَارَةً يَقُوْلُهَا  مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنَ

Dahulu Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam terkadang membaca Al-Fatihah dengan bacaan ‘malikiyaumiddin’.
Kalau bacaan yang biasa:  ‘maaliki yaumiddin’. Tetapi di dalam sebuah riwayat beliau menyebutkan bahwa Beliau membacanya ‘malikiyaumiddin’ dengan memendekkan ‘mim’-nya.

Di zaman ini para ulama mewajibkan kita membaca Al-Fatihah sesuai dengan riwayat masing-masing. Tidak boleh kita mencampur antara riwayat yang satu dengan riwayat yang lainnya.

Oleh karenanya kita ketika membaca Al-Fatihah, maka kita cukupkan dengan satu riwayat. Ada riwayat yang ‘malikiyaumiddin’ ya silakan dibaca dari awal sampai akhir dengan riwayat itu.
Ada riwayat yang ‘maaliki yaumiddin’,  silakan dibaca riwayat itu dari awal Al-Fatihah sampai akhir Al-Fatihah.

Demikianlah yang bisa kita kaji pada kesempatan kali ini. Semoga  menjadi ilmu yang bermanfaat dan diberkahi oleh Allah Jalla wa ‘Alaa.

InsyaaAllah kita akan lanjutkan pada kesempatan yang akan datang.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

image_pdfimage_print

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top