Home > Belajar Islam > Pendidikan Anak > Kisah Teladan Orang Tua Sebagai Pendidik

Kisah Teladan Orang Tua Sebagai Pendidik

🌍 Belajar Islam
🎙 Ustadz Beni Sarbeni حفظه لله تعالى
📗 Pendidikan Anak
〰〰〰〰〰〰〰

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه وَمَنْ وَالاَهُ. أمَّا بعد

Saudara sekalian para orang tua yang semoga diberkahi oleh Allah rabbul ‘alamin, kita lanjutkan materi tentang pendidikan anak. Kali ini saya akan menyampaikan kisah teladan orang tua sebagai pendidik.

Yaitu kisah dua orang Shahabat Nabi, yang pertama kisah Abu Thalhah dan yang kedua adalah Ummu Sulaim radhiallahu anhum.

Diriwatkan dari Anas radhiyallahu anhu, beliau berkata:

“Putra dari Abu Thalhah[1] radhiyallahu anhu sedang mengeluh karena sakit. Lalu Abu Thalhah keluar rumah (karena ada kebutuhan), kemudian putranya itu wafat[2].

Setelah Abu Thalhah pulang, ia bertanya (kepada istrinya ummu Sulaim): ‘Bagaimana kabar putraku?’, Ummu Sulaim (ibu akan tersebut) menjawab: ‘Ia lebih tenang dari sebelumnya’.

Lalu Ummu Sulaim menyuguhkan makan malam untuk Abu Thalhah, dan ia pun makan malam, kemudian menggauli istrinya itu. Setelah (semua itu) selesai, Ummu Sulaim berkata: ‘Kuburkanlah anak itu!’.

Di pagi harinya Abu Thalhah pergi kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengabarkan apa yang terjadi.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada Abu Thalhah: ‘Apakah malam tadi kalian berdua berhubungan (jima)?’

Abu Thalhah menjawab: ‘Betul’, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa: ‘Ya Allah berkahilah mereka berdua’.

Kemudian Ummu Sulaim melahirkan seorang anak laki-laki. Abu Thalhah berkata kepadaku (kepada Anas bin Malik): ‘Bawa anak itu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam!’

Dan beliau pun mengutusnya dengan membawa beberapa biji kurma.

Nabi bertanya kepadaku (kepada Anas bin Malik): ‘Apakah ada sesuatu bersamanya?’, jawab Anas: ‘Ia, beberapa biji kurma’.

Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambilnya dan mengunyahnya, kemudian mengambil dari mulut beliau dan meletakannya ke mulut anak itu, kemudian Nabi mentahniknya[3] dan menamakan anak itu Abdullah.” (Muttafaq ‘Alaihi)

Cerita ini diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dan Muslim.

Dalam riwayat Al-Bukhari dikatakan, bahwa Ibnu Uyainah berkata: seseorang dari kalangan Anshar berkata:

“Aku melihat sembilan putra Abdullah, yang semuanya telah hafal Al-Qur’an.”

Abdullah adalah putra dari Abu Thalhah dan Ummu Sulaim tadi, yang ketika lahir dibawa Anas bin Malik kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Saudara sekalian yang dimuliakan oleh Allah para orang tua, yang semoga senantiasa di jaga oleh Allah rabbul ‘alamin.

Dimana letak pelajaran dalam dunia pendidikan anak dari cerita di atas?

Saudara sekalian, pendidikan anak itu dimulia bukan semenjak anak itu lahir, akan tetapi sebelum anak itu lahir bahkan sebelum sepasang lelaki dan wanita menikah.

Termasuk bagian dari pendidikan anak adalah ketika seorang lelaki memilih pasangan untuk dijadikan sebagai istrinya, demikian pula seorang wanita ketika memilih pasangan untuk dijadikan sebagai suaminya.

Karena tujuan menikah, bukan hanya sebatas memenuhi kebutuhan syahwat, akan tetapi juga adanya keturunan yang menjadi simpanan berharga bagi kita di dunia dan di akhirat.

Dalam kisah di atas, perhatikan bagaimana Allah subhanahu wa ta’ala memberikan keberkahan untuk keluarga tersebut dengan cucu-cucu yang seluruhnya penghafal Al-Qur’an.

Kemudian saudara sekalian, pendidikan pun bukanlah amal yang buahnya mesti dirasakan langsung, bisa jadi pengaruhnya terasa setelah waktu yang begitu lama. Akan tetapi yakinlah semua usaha yang kita lakukan dalam pendidikan anak ini pasti ada pengaruhnya yang sangat besar!

Jadi, kesabaran ummu Sulaim ketika ditimpa musibah dengan putranya yang wafat, ketegaran beliau, bahkan berusaha untuk tampil sebagai istri yang menenangkan suami.

Ketika Abu Thalhah datang disiapkan makan malam, bahkan berhias. Dalam riwayat Muslim dijelaskan berhias secantik mungkin, lebih cantik dari sebelumnya (untuk apa?), untuk menenangkan suaminya.

Karena itulah kewajiban utama seorang istri adalah menenangkan suami, sebagaimana yang Allah subhanahu wa ta’ala firmankan:

لِّتَسْكُنُوٓا۟ إِلَيْهَا

“Agar kalian (para suami) tenang bersamanya.” (QS. Ar-Rum [30]: 21)

Begitu sabar, sehingga Allah subhanahu wa ta’ala memberikan untuknya keturunan yang semuanya adalah penghafal Al-Qur’an.

Saudara sekalian yang dimuliakan oleh Allah rabbul ‘alamin, demikianlah sedikit contoh tentang sosok bapak dan ibu sebagai pendidik yang ideal. Semoga apa yang saya sampaikan bermanfaat.

Akhukum fillah
Abu Sumayyah Beni Sarbeni
________________________________________
[1] Abu Thalhah ini adalah bapak tiri dari Anas bin Malik.
[2] Anak itu wafat tanpa sepengetahuan Abu Thalhah.
[3] Yaitu memutar-mutarkan jari dengan kurmanya pada langit-langit mulut.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *