Home > Bimbingan Islam > Tarbiyatul Abna > Halaqah 18 | Apa Sikap Kita Ketika Kita Diberikan Keturunan Oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla

Halaqah 18 | Apa Sikap Kita Ketika Kita Diberikan Keturunan Oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla

🌍 BimbinganIslam.com
👤 Ustadz Arief Budiman, Lc
📗 Kitāb Fiqhu Tarbiyatu Al-Abnā wa Thāifatu min Nashā’ihi Al Athibbāi
(Fiqih Mendidik atau Membimbing Anak-anak dan Sebagian Nasehat para Dokter dalam hal ini)
📝 Syaikh Musthafa Al Adawi
~~~~~~~~~~~~

*APA SIKAP KITA KETIKA KITA DIBERIKAN KETURUNAN OLEH ALLĀH SUBHĀNAHU WA TA’ĀLA*

Apa sikap kita ketika kita diberikan keturunan oleh Allāh

بسم اللّه الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ رَسُوْلِ لله وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ، ولا حَوْلَ وَلا قُوَّةَ إِلا باللَّهِ، أَمَّا بَعْدُ

Ma’asyiral musta’mi’in wa rahīmaniy wa rahīmakumullāh.

Kita lanjutkan pembahasan kita ke-18 dari kitāb Fiqhu Tarbiyatul Abnā wa Thāifatu min Nashā’ihi Al Athibbāi tentang fiqih mendidik atau membimbing anak-anak dan penjelasan sebagian nasehat dari para dokter karya Syaikh Musthafa Al Adawi Hafīdzahullāh.

Dan pada pertemuan ini kita masih melanjutkan pembahasan tentang sub judul “Apa sikap kita ketika kita diberikan keturunan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla”

Sikap kita ketika diberi rejeki berupa keturunan oleh Allāh kita harus bersyukur.

Dan tidak selalu anak laki-laki menguntungkan dan tidak selalu anak laki-laki adalah kebanggaan bagi orang tuannya, sebagaimana tidak selalu anak perempuan merupakan kesialan dan kehinaan sebagaimana keyakinan orang-orang jāhilīyyah.

Kita lihat nabi Ibrāhīm alayhissallām, nabi Ibrāhīm alayhissallām adalah seorang nabi yang dikaruniai anak laki-laki dan tidak diriwayatkan bahwa beliau memiliki anak perempuan, sedangkan nabi Lūth alayhissallām adalah seorang nabi yang dikaruniai anak perempuan dan sama sekali tidak memiliki anak laki-laki.

Bahkan beliau berkata:

يَٰقَوۡمِ هَٰٓؤُلَآءِ بَنَاتِي هُنَّ أَطۡهَرُ لَكُمۡۖ

_“Wahai kaumku! Inilah putri-putriku mereka lebih suci bagimu.”_

(QS. Hūd: 78)

Ini menunjukkan nabi Lūth alayhissallām semua anaknya adalah perempuan.

Lihat juga nabi kita Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam, beliau memiliki anak laki-laki yang meninggal sejak kecil, sedangkan yang hidup sampai dewasa hanyalah anak-anak perempuan.

Ini menunjukkan bahwasanya tidak selalu anak laki-laki pasti dan sebaliknya tidak selalu anak perempuan pasti buruk.

Selanjutnya penulis menuturkan sebuah hadīts yang diriwayatkan Bukhāri dan Muslim dari hadīts Abū Hurairah.

Bahwasanya beliau mendengar Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

لَم يَتَكَلَّم فِي المهدِ إلَّا ثَلَاثَةٌ

_”Tidak ada bayi yang dapat berbicara ketika masih dalam buaian, kecuali tiga bayi saja.”_

Di dalam hadīts tersebut diungkapkan:

وَبَيْنَا صَبِيٌّ يَرْضَعُ مِنْ أُمِّهِ فَمَرَّ رَجُلٌ رَاكِبٌ عَلَى دَابَّةٍ فَارِهَةٍ وَشَارَةٍ حَسَنَةٍ فَقَالَتْ أُمُّهُ اللَّهُمَّ اجْعَلِ ابْنِي مِثْلَ هَذَا . فَتَرَكَ الثَّدْىَ وَأَقْبَلَ إِلَيْهِ فَنَظَرَ إِلَيْهِ فَقَالَ اللَّهُمَّ لاَ تَجْعَلْنِي مِثْلَهُ . ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَى ثَدْيِهِ فَجَعَلَ يَرْتَضِعُ . قَالَ فَكَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَهُوَ يَحْكِي ارْتِضَاعَهُ بِإِصْبَعِهِ السَّبَّابَةِ فِي فَمِهِ فَجَعَلَ يَمُصُّهَا . قَالَ وَمَرُّوا بِجَارِيَةٍ وَهُمْ يَضْرِبُونَهَا وَيَقُولُونَ زَنَيْتِ سَرَقْتِ . وَهِيَ تَقُولُ حَسْبِيَ اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ . فَقَالَتْ أُمُّهُ اللَّهُمَّ لاَ تَجْعَلِ ابْنِي مِثْلَهَا . فَتَرَكَ الرَّضَاعَ وَنَظَرَ إِلَيْهَا فَقَالَ اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِثْلَهَا . فَهُنَاكَ تَرَاجَعَا الْحَدِيثَ فَقَالَتْ حَلْقَى مَرَّ رَجُلٌ حَسَنُ الْهَيْئَةِ فَقُلْتُ اللَّهُمَّ اجْعَلِ ابْنِي مِثْلَهُ . فَقُلْتَ اللَّهُمَّ لاَ تَجْعَلْنِي مِثْلَهُ . وَمَرُّوا بِهَذِهِ الأَمَةِ وَهُمْ يَضْرِبُونَهَا وَيَقُولُونَ زَنَيْتِ سَرَقْتِ . فَقُلْتُ اللَّهُمَّ لاَ تَجْعَلِ ابْنِي مِثْلَهَا . فَقُلْتَ اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِثْلَهَا قَالَ إِنَّ ذَاكَ الرَّجُلَ كَانَ جَبَّارًا فَقُلْتُ اللَّهُمَّ لاَ تَجْعَلْنِي مِثْلَهُ . وَإِنَّ هَذِهِ يَقُولُونَ لَهَا زَنَيْتِ وَلَمْ تَزْنِ وَسَرَقْتِ وَلَمْ تَسْرِقْ فَقُلْتُ اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِثْلَهَا

“Ketika seorang bayi menyusu dari ibunya, seorang laki-laki dengan memgendarai tunggangan yang kuat dan pakaian yang indah melewatinya, sang ibu berkata, ‘Yā Allāh, jadikanlah anakku seperti orang itu’. Lalu anak tersebut berhenti menyusu untuk melihat orang tersebut. Bayi tersebut berkata,’Yā Allah, janganlah Engkau jadikan aku seperti orang itu’, lalu dia kembali menyusu.

Aku melihat Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam menceritakan tentang bagaimana sang bayi itu menyusup, sambil menggambarkannya dengan jari telunjuk beliau di mulut, lalu memghisapnya. Beliau bersabda, ‘Lalu seorang budak wanita lewat di depan ibu, orang-orang memukulinya dengan berkata, ‘Engkau telah berzina, engkau telah mencuri’, Budak wanita itu berkata, ‘Cukuplah Allāh menjadi penolong bagiku dan Dia sebaik-baik pelindung’.

Sang ibu berkata, ‘Yā Allāh, janganlah Engkau jadikan anakku seperti wanita itu’. Lalu bayi itu berhenti dari menyusu dan melihat kepada budak wanita tersebut, lalu sang bayi berkata, ‘Yā Allāh, jadikanlah aku seperti orang itu’. Ketika itulah dia berbicara dengan bayi kecilnya, sang ibu berkta keheranan, ‘Aduhai, sungguh celaka! Ketika seorang laki-laki lewat dengan penampilannya yang bagus aku berkata, ‘Yā Allāh, jadikanlah anakku seperti orang itu’ engkau malah berkata, ‘Yā Allāh, janganlah Engkau jadikanlah aku seperti orang itu’.

Kemudian ketika orang-orang membawa budak wanita sambil memukulinya seraya berkata, ‘Engkau telah berzina, engkau telah mencuri! Dan aku berkata, ‘Yā Allāh, janganlah Engkau jadikan anakku seperti orang itu.

Sang bayipun menjawab keheranan ibunya dia berkata, ‘Sesungguhnya laki-laki tersebut adalah orang yang sombong sehingga aku berkata, ‘Yā Allāh janganlah Engkau jadikan aku seperti orang itu’, sedangkan seorang budak wanita, orang-orang berkata kepadanya, ‘Engkau telah berzina padahal dia tidak melakukannya, mereka mengatakan, ‘Engkau telah mencuri, padahal dia sama sekali tidak mencuri, karena itu aku berkata, ‘Yā Allāh jadikan aku seperti orang itu’.”

(Hadīts shahīh riwayat Muslim nomor 2550)

Maka lihatlah selalu orang yang lebih rendah dari kita janganlah kita melihat orang yang lebih tinggi dalam kehidupan dunia.

Kisah ini menjelaskan terkadang apa yang kita lihat tidak seperti kenyataannya, terkadang apa yang kita inginkan tidak seperti apa yang kita harapkan.

Sebagaimana firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla:

وَعَسَىٰٓ أَن تَكۡرَهُواْ شَيۡـٔٗا وَهُوَ خَيۡرٞ لَّكُمۡۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّواْ شَيۡـٔٗا وَهُوَ شَرّٞ لَّكُمۡۚ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ وَأَنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ

_”Boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allāh mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”_

(QS. Al-Baqarah: 216)

Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلاَ تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ

_”Lihatlah orang yang ada di bawah kalian dan janganlah kalian melihat orang yang ada di atas kalian, karena hal itu lebih baik agar kalian tidak menyepelekan nikmat Allāh”_

(Hadīts shahīh riwayat Muslim nomor 2963)

Penulis mengatakan:

Lihatlah nabi Sulaimān alayhissallām dikaruniai anak dengan wujud setengah manusia!

Maha suci Allāh, nabi Sulaimān seorang raja yang dikaruniai Allāh sebuah kerajaan yang tidak akan pernah Dia karuniakan kepada siapapun setelahnya, akan tetapi dia dikaruniai anak dengan wujud setengah manusia!

Lihat nabi Sulaimān!

Jinn dan syaithān ditundukkan untuk nabi Sulaimān, angin yang bertiup keras dan angin yang sepoi-sepoi ditundukkan untuknya sehingga ia bertiup sesuai dengan keinginannya.

Di dalam shahīh Muslim juga disebutkan bahwa isteri beliau berjumlah 90 orang dan beliau sempat bertekad:

“Sungguh, aku akan menggilir 90 isteriku pada malam ini dan masing-masing akan melahirkan satu orang pejuang yang akan berjuang di jalan Allāh.”

Lalu shahābatnya berkata, ‘Ucapkanlah In syā Allāh!’ tetapi beliau tidak mengucapkannya, akhirnya dia menggauli semua isterinya, dan tidak satu orang pun dari mereka yang hamil kecuali satu isteri saja yang melahirkan anak dengan wujud setengah manusia.

“Demi jiwa Muhammad yang berada di tanganNya, seandainya dia mengucapkan, ‘In syā Allāh’, niscaya mereka semua akan melahirkan para pejuang yang berjuang di jalan Allāh Subhānahu wa Ta’āla.”

Oleh karena itu bersyukurlah terhadap rejeki berupa keturunan, yang Allāh berikan kepada kita baik itu laki-laki maupun perempuan.

Demikian, semoga bermanfaat.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين
واخردعوانا أن الحمد لله رب العالمين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

_________________________

image_pdfimage_print

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top