Home > Halaqah Silsilah Ilmiyah > Al-Ushulu Ats-Tsalasah > Halaqah 01 | Pengantar Al-Ushulu Ats-Tsalāsah (Bagian 01)

Halaqah 01 | Pengantar Al-Ushulu Ats-Tsalāsah (Bagian 01)

🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Silsilah Al-Ushulu Ats-Tsalasah

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه

Halaqah yang pertama dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitāb Al Ushūlu AtsTsalātsah wa Adillatuhā (3 Landasan utama dan dalīl-dalīlnya) yang dikarang oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb bin Sulaimān At Tamimi rahimahullāh.

Kitāb ini sebagaimana judulnya Al Ushūlu AtsTsalātsah yang artinya adalah 3 landasan utama, yang dimaksud dengan 3 landasan disini, adalah:

⑴ Ma’rifatullāh (Mengenal Allāh Subhānahu wa Ta’āla)
⑵ Ma’rifatunnabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam (mengenal Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam)
⑶ Ma’rifatudīnil Islām (Mengenal agama Islām)

Inilah yang dimaksud dengan Al Ushūlu AtsTsalātsah (3 Landasan utama) yang ingin disampaikan oleh pengarang didalam kitāb beliau ini.

Apa keutamaan mengenal 3 perkara ini?

Didalam sebuah hadīts yang diriwayatkan oleh Imām Ahmad, Abū Dāwūd dan juga yang lain, dan hadīts ini adalah hadīts yang shahīh.

Dari Al Barā ibnu Azīb radhiyallāhu ta’āla ‘anhu dimana didalam hadīts ini Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam menceritakan tentang kisah seseorang atau setiap manusia ketika dia meninggal dunia.

Bagaimana dia dicabut nyawanya oleh malāikat, bagaimana dibawa nyawanya keatas kemudian dikembalikan kebumi, kemudian akan datang dua orang malāikat yang bernama Munkar dan Nankir yang akan bertanya kepada orang tersebut tentang tiga perkara.

Baik orang tersebut seorang yang mukmin (muslim) kāfir atau seorang munāfiq sekalipun, akan ditanya tentang 3 perkara ini.

⑴ Ditanya tentang manrabbuka (siapa tuhanmu).
⑵ Ditanya tentang maa dīnuka (apa agamamu)
⑶ Ditanya tentang siapa nabimu.

Setiap dari kita akan ditanya tentang tiga perkara ini, kecuali yang memang telah dikecualikan oleh dalīl.

Setiap kita akan ditanya siapa Rabbnya, siapa Nabinya dan apa agamanya. Apabila dia seorang muslim yang selama hidupnya,

√ Mengenal Allāh Subhānahu wa Ta’āla, menunaikan haknya.
√ Mengenal Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam, menunaikan hak beliau sebagai seorang rasūl.
√ Mengenal agama Islām, menjalankan perintahnya menjauhi larangannya.

Maka diharapkan orang seperti ini akan mendapatkan taufīq dan kemudahan dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla didalam menjawab pertanyaan dua malāikat ini.

Dia akan mengatakan:

√ Rabb ku adalah Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
√ Nabiku adalah Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam.
√ Agamaku adalah agama Islām.

Namun apabila selama didunia dia termasuk orang yang kufur, mengingkari Allāh, mengingkari Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan berpaling dari memeluk agama Islām seperti orang-orang kāfir, maka mereka tidak akan mendapatkan taufīq untuk bisa menjawab tiga pertanyaan ini.

Demikian pula orang munāfiq yang mereka menampakkan keislāman dan menyembunyikan kekufuran di dalam hati mereka, mereka menampakan keislāman diantara manusia.

√ Mengucapkan kalimat ‘Lā ilāha illallāh.
√ Mengatakan kalimat Muhammadur rasūlullāh.

⇒ Secara lisan (zhahir) akan tetapi didalam bathinnya dia mengingkari ini semua. Maka orang yang demikian keadaannya, tidak akan bisa menjawab pertanyaan dialam kubur yang dinamakan dengan fitnah kubur.

Sebagaimana yang dikabarkan oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam ketika orang munāfiq ditanya mereka mengatakan, “hah… hah” (artinya) mereka tidak bisa menjawab pertanyaan tersebut, padahal mereka didunia dia mengucapkan “Lā ilāha illallāh” sebagaimana orang-orang Islām mengucapkan
“Lā ilāha illallāh” dan dia didunia mengucapkan
“Muhammadur rasūlullāh”, sebagaimana orang-orang Islām mengucapkan “Muhammadu rasūlullāh”.

Akan tetapi dia tidak mengucapkan ucapan tersebut dengan ikhlās, akan tetapi hanya secara zhahir (lisan) tanpa diyakini didalam hatinya.

Oleh karena itu tidak heran apabila pengarang disini mengarang sebuah kitāb yang ringkas (mudah dipahami) oleh semua, baik orang awam, seorang penuntut ilmu apalagi seorang ulamā dengan harapan masing-masing dari kita baik seorang muslim maupun muslimah bisa mempersiapkan diri untuk bisa menjawab pertanyaan dialam kubur yang dinamakan dengan fitnatuqabr menjawab pertanyaan tersebut dengan baik dan juga dengan benar.

Dan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab beliau adalah seorang yang sangat gigih didalam dakwahnya, dan beliau lahir di sebuah daerah di Jazirah Arab yang dinamakan dengan ‘Uyainah pada tahun 1115 Hijriyyah dan beliau menuntut ilmu agama dimulai dari keluarganya, karena bapak beliau juga seorang ulamā dan sudah menghapal Al Qurān ketika beliau berumur 10 tahun, kemudian setelah itu melanjutkan mempelajari ilmu-ilmu yang lain bersimpuh dihadapan para ulamā yang ada di Najed, Hijaz, kota Mekkah, kota Madīnah.

Beliau datang kepada mereka menuntut ilmu agama termasuk diantaranya berguru kepada seorang muhadīts di kota Madīnah ini yaitu Syaikh Muhammad Al Hayah As Sindi rahimahullāh dan juga ulamā-ulamā lain kemudian setelah itu beliau memulai dakwahnya menyebarkan ilmu agama mengajak, manusia kembali kepada Allāh, kembali, kepada agama Allāh, mengarang banyak kitāb-kitāb yang bermanfaat diantaranya adalah;

√ Kitābul At Tauhīd.
√ Al Qawā’idul ‘Arba’.
√ Al Ushūlu As Sittah.
√ Ushūlul Imān.
√ Adabul Masyyi ilā Ash shalāh.
√ Kasyfu syubhat.

Termasuk diantaranya kitāb yang in syā Allāh akan kita pelajari yaitu Al Ushūlu AtsTsalātsah wa Adilatuhā (3 landasan utama dan juga dalīl-dalīlnya). Dan beliau meninggal dunia pada tahun 1206 Hijriyyah.

Itulah yang bisa kita sampaikan.

وبالله التوفيق و الهداية
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

10 komentar untuk “Halaqah 01 | Pengantar Al-Ushulu Ats-Tsalāsah (Bagian 01)”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top