Home > Halaqah Silsilah Ilmiyah > Al-Ushulu Ats-Tsalasah > Halaqah 02 | Pengantar Al-Ushulu Ats-Tsalāsah (Bagian 02)

Halaqah 02 | Pengantar Al-Ushulu Ats-Tsalāsah (Bagian 02)

🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Silsilah Al-Ushulu Ats-Tsalasah

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه

Halaqah yang kedua dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitāb Al Ushūlu AtsTsalātsah wa Adillatuhā (3 Landasan utama dan dalīl-dalīlnya) yang dikarang oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb bin Sulaimān At Tamimi rahimahullāh.

Dan sebelum beliau memulai membahas tentang 3 landasan utama, sebelumnya beliau memberikan muqaddimah dari kitāb ini (pembukaan yang sangat bermanfaat).

Beliau menyebutkan diawal muqaddimahnya
tentang tafsir dari surat Al Ashr.

Beliau mengatakan:

بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ

“Dengan menyebut nama Allāh, Ar rahmān Ar rahīm”

Beliau memulai kitābnya dengan basmalāh karena mengikuti,

⑴ Allāh Subhānahu wa Ta’āla, ketika Allāh Subhānahu wa Ta’āla memulai kitābnya (Al Qur’ān) dengan basmallāh.

⑵ Demikian pula mengikuti apa yang dilakukan oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam ketika beliau mengirim surat-surat dakwah kepada sebagian raja-raja (para penguasa yang ada di zaman beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam)) beliau memulai suratnya dengan basmallāh.

Dan ب didalam kalimat بسم الله adalah ب al isti’ānah, ب yang isinya adalah memohon pertolongan kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Bismillāh (بسم الله) ismullāh (nama Allāh) maksudnya adalah nama-nama Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Ism disini mufrad dalam bahasa Arab adalah kalimat (kata) yang tunggal apabila disandarkan maka ini adalah mencakup seluruh nama, jadi tidak hanya mencakup satu nama Allāh saja tetapi mencakup seluruh nama Allāh Subhānahu wa Ta’āla yang dinamakan dengan Al Asmā’ul Husna.

Apabila seseorang mengatakan bismillāh berarti dia telah beristi’ānah memohon pertolongan dengan menyebut seluruh nama Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Bukan hanya lafdzu Jalālah (الله) bukan hanya الرحمن الرحيم tetapi dengan seluruh nama Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Lafdzu Jalālah Allāh adalah nama Allāh yang paling ‘adham (yang paling besar) dimana nama-nama yang lain disandarkan kepada lafdzu Jalālah ini.

Seseorang mengatakan Ar rahmān (الرحمن) adalah nama diantara nama-nama Allāh, Ar rahīm (الرحيم) adalah nama diantara nama-nama Allāh, dan tidak mengatakan Allāh adalah nama diantara nama-nama Ar rahmān (الرحمن) karena lafdzu Jalālah (الله) adalah nama yang paling besar, nama-nama yang lain yaitu Ar rahmān (الرحمن), Ar rahīm (الرحيم), Al Mālik (الملك) Al Qudus (القدوس) As Salām (السلام), Al Azīz (العزيز) nama-nama yang lain disandarkan kepada lafdzu Jalālah (الله) ini.

Dan lafdzu Jalālah (الله) berasal dari Al ilah (الإله) atau Al Uluhah (الأولوه) yang artinya ibadah.

Allāh adalah al ma’lūh dan arti al ma’lūh adalah (المعبود) yang disembah.

وَهُوَ اللَّهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَفِي الْأَرْضِ

“Dan Dia adalah Allāh yang disembah baik dilangit maupun dibumi”

√ Dilangit disembah oleh para malāikat.
√ Dibumi oleh orang-orang yang beriman.

Ar rahmān (الرحمن) yang artinya Maha Penyayang diambil dari kata rahmah (kasih sayang) Allāh Subhānahu wa Ta’āla diantara namanya adalah Ar rahmān (الرحمن) dan tidak boleh makhluk memiliki nama Ar rahmān (الرحمن).

Yang mengandung sifat rahmah demikian pula Ar rahīm yang artinya Maha Penyayang dan Allāh Subhānahu wa Ta’āla memiliki sifat rahmah.

Dan perbedaan antara Ar rahmān dengan Ar rahīm diantaranya disebutkan oleh para ulamā bahwasanya;

√ Ar rahmān mengandung sifat rahmah yang menyeluruh untuk semua makhluk Nya, termasuk diantaranya orang-orang kāfir mereka mendapatkan rejeki, mereka mendapatkan makanan, mendapatkan harta, mendapatkan minuman, mendapatkan rejeki anak, mendapatkan isteri, ini semua bagian dari rahmat Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Namun bukan khusus orang yang beriman Allāh berikan juga kepada orang-orang yang kāfir.

√ Ar rahīm maka mengandung sifat Ar rahmah yang khusus untuk orang-orang yang beriman.

Seperti (misalnya):

√ Hidayah (petunjuk kepada jalan yang lurus)
√ Nikmat keimanan,
√ Nikmat beramal shālih.

Oleh karena itu Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَكَانَ بِٱلْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًۭا

“Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.”

(QS. Al Ahzāb: 43)

Itulah yang bisa kita sampaikan.

وبالله التوفيق و الهداية
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top