Home > Bimbingan Islam > Matan Abu Syuja > Kajian 045 | Jumlah Rakaat dan Gerakan (Bagian 1)

Kajian 045 | Jumlah Rakaat dan Gerakan (Bagian 1)


🌍 BimbinganIslam.com
👤 Ustadz Fauzan ST, MA
📗 Matan Abu Syuja
📝 Ahmad bin Al-Husain bin Ahmad Al-Asfahāniy (Imam Abū Syujā’)

〰〰〰〰〰〰〰

MATAN KITAB

(فصل) وركعات الفرائض سبعة عشر ركعة: فيها أربع وثلاثون سجدة وأربع وتسعون تكبيرة وتسع تشهدات وعشر تسليمات ومائة وثلاث وخمسون تسبيحة. وجملة الأركان في الصلاة مائتان وأربعة وثلاثون ركنا: في الصبح ثلاثون ركنا وفي المغرب اثنان وأربعون ركنا وفي الرباعية أربعة وخمسون ركنا. ومن عجز عن القيام في الفريضة صلى جالسا ومن عجز عن الجلوس صلى مضطجعا.

Jumlah raka’at shalāt fardhu ada 17 (tujuh belas) raka’at: 34 sujud, 94 takbir, 9 tahiyat, 10 salam, 153 tasbih.

Jumlah rukun dalam shalāt ada 234 rukun: shalāt subuh 30 rukun, maghrib 42 rukun, shalāt empat raka’at ada 54 rukun.

Barangsiapa yang tidak mampu berdiri dalam shalāt fardhu maka boleh shalāt duduk, yang tidak mampu duduk, boleh shalāt tidur miring.

〰〰〰〰〰〰〰

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله أما بعد

Para sahabat BiAS yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta’āla kita lanjutkan pada halaqah yang ke-45, dan kita masuk pada fasal tentang jumlah raka’at di dalam shalāt dan gerakan-gerakan lainnya yang ada di dalam shalāt.

قال المصنف

Penulis rahimahullāh berkata:

((وركعات الفرائض سبعة عشر ركعة))

🔹Shalāt yang wajib itu ada 17 raka’at (dalam sehari semalam), yaitu:

√ Subuh 2 raka’at
√ Dhuhur 4 raka’at
√ Ashar 4 raka’at
√ Maghrib 3 raka’at
√ Isya 4 raka’at

Adapun bagi musafir maka dia  mengqashar shalāt yang 4 raka’at menjadi 2 raka’at, sehingga total raka’at dalam sehari semalam menjadi 11 raka’at.

((فيها أربع وثلاثون سجدة وأربع وتسعون تكبيرة وتسع تشهدات وعشر تسليمات ومائة وثلاث وخمسون تسبيحة))

🔹Di dalam shalāt tersebut ada:

√ 17 kali ruku,
√ 34 kali sujud,
√ 94 kali takbir,
√  9 kali tasyahud, yang 5 kalinya adalah wajib,
√ 10 kali salam,
√153 kali tasbih.

((وجملة الأركان في الصلاة مائتان وأربعة وثلاثون ركنا؛
في الصبح وثلاثون ركنا، وفي المغرب اثنان وأربعون ركنا وفي الرباعية أربعة وخمسون ركنا))

🔹 Jumlah rukun di dalam shalāt ada  234 rukun, dengan rincian:

√ Pada shalāt subuh ada 30 rukun.
√ Pada shalāt maghrib ada 42 rukun.
√ Pada shalāt yang 4 raka’at (Dhuhur, Ashar, Isya) masing-masing 54 rukun.

Ini adalah jumlah-jumlah yang disebutkan oleh penulis di sini, bahwasanya shalāt terdiri dari 17 raka’at, dan kalau ditotal maka semua macam-macam yang ada dalam shalāt baik rukunnya, sujudnya dan rukunya sebagaimana yang disebutkan oleh penulis rahimahullāh.

Kemudian beliau mengatakan:

((ومن عجز عن القيام في الفريضة صلى جالسا ))

Barangsiapa yang tidak mampu untuk berdiri di dalam shalāt wajib maka dia  shalāt dalam keadaan duduk.

((ومن عجز عن الجلوس صلى مضطجعا (أي على جنبه الأيمن) ))

Barangsiapa yang tidak mampu  shalāt sambil duduk maka shalāt dalam keadaan berbaring (berbaring pada posisi bertumpu pada sisi sebelah kanan).

((ومن عجز عن ذلك يصلي بالإيماء))

Apabila dia juga tidak mampu untuk shalāt sambil berbaring maka dia shalāt dengan memberikan isyarat.

((وإن عجز عن ذلك يصلي بطرفه وينوي بقلبه))

Jika masih tidak mampu untuk shalāt dengan isyarat mengerakan sebagian dari kepalanya misalnya maka dia  shalāt dengan mengekedipkan matanya dan berniat dalam hatinya.

Ini adalah beberapa perkara yang disebutkan bahwasanya bila seseorang tidak mampu shalāt sambil berdiri maka dia shalāt dalam keadaan duduk.

Para sahabat sekalian,

Bahwasanya berdiri di dalam shalāt hukumnya adalah wajib dan termasuk di dalam rukun.

Sebagaimana firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla:

وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ

“Dan berdirilah kalian untuk Allāh dalam shalātmu dalam keadaan yang khusyū’.”

(QS Al Baqarah: 238)

Oleh karena itu, hukum asal berdiri di dalam shalāt adalah rukun. Apabila seseorang meninggalkan rukun tersebut tanpa alasan yang dibenarkan oleh syariat maka shalātnya batal.

🔹Diantara alasan yang dibenarkan untuk shalāt sambil duduk atau sambil berbaring, adalah:

① Jika dia berdiri menyebabkan kesulitan yang sangat.
② Seseorang yang sakit (apabila berdiri dia akan bertambah sakit).
③ Orang yang lumpuh atau orang yang sudah tua yang tidak mampu untuk berdiri.
④ dll

Berdasarkan hadīts Bukhāri:

عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : كَانَتْ بِي بَوَاسِيرُ ، فَسَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الصَّلَاةِ ، فَقَالَ : ( صَلِّ قَائِمًا ، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا ، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ).

“Dari Imran bin Husain radhiyallāhu”anhu  berkata, saya dulu punya penyakit bawasir (ambeien), maka sayapun bertanya kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam tentang shalātnya maka beliaupun bersabda, ‘Shalātlah berdiri, jika tidak mampu maka sambil duduk, jika tidak mampu maka berbaringlah’.”

وقال النووي رحمه الله : ” أجمعت الأمة على أن من عجز عن القيام في الفريضة صلاها قاعدا ولا إعادة عليه , قال أصحابنا : ولا ينقص ثوابه عن ثوابه في حال القيام , لأنه معذور , وقد ثبت في صحيح البخاري أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : ( إذا مرض العبد أو سافر كتب له ما كان يعمل صحيحا مقيما ) . قال أصحابنا : ولا يشترط في العجز أن لا يتأتّى القيام ، ولا يكفي أدنى مشقة ، بل المعتبر المشقة الظاهرة ، فإذا خاف مشقة شديدة أو زيادة مرض أو نحو ذلك أو خاف راكب السفينة الغرق أو دوران الرأس صلى قاعدا ولا إعادة ” انتهى من “المجموع” (4/201) .

Berkata Imām Nawawi rahimahullāh dalam kitab Al majmu’, “Umat telah sepakat bahwa orang yang tidak mampu berdiri di dalam shalāt wajib maka boleh shalāt sambil duduk dan tidak perlu mengulang shalātnya.”

Beliau berkata,  “Sahabat-sahabat kami (para ulama syāfi’iyah) berkata:

Bahwasanya shalāt dalam keadaan duduk, tidak mengurangi pahalanya sedikitpun karena dia memiliki alasan (udzur syar’i).”

Dan disebutkan di dalam Shahīh Bukhāri:

( إذا مرض العبد أو سافر كتب له ما كان يعمل صحيحا مقيما )

Apabila seorang hamba sakit atau bepergian, maka akan tetap dicatatkan pahala amalan yang biasa dia lakukan dalam keadaan sehat dan mukim (tidak bepergian).

Sahabat-sahabat kami (oara ulama syāfi’iyah) mengatakan bahwa:

Tidak disyaratkan bahwa seseorang yang dikatakan tidak mampu berdiri, bahwasanya dia sama sekali tidak bisa berdiri, dan tidak cukup juga hanya dengan sedikit masyaqqoh (kesulitan) maka langsung dikategorikan sebagai seseorang yang tidak mampu (misalnya kesemutan).

Kesulitan yang masuk dalam kategori yang diperbolehkan adalah kesulitan yang tampak jelas.

Jika seseorang mengkhawatirkan bahwasanya dengan berdiri akan timbul kesulitan yang sangat, atau menyebabkan sakitnya bertambah parah atau yang semisalnya, atau dikhawatirkan dia akan tenggelam jika berdiri (misalnya seseorang sedang naik perahu) atau akan merasakan pusing yang sangat, maka pada saat itu  diperbolehkan shalāt sambil duduk.

Demikian yang disampaikan oleh Imām An nawawi (Al Majmū’ 4/201).

Jadi, seseorang apabila dia tidak mampu berdiri, bukan berarti sama sekali tidak bisa berdiri, namun apabila dia memiliki alasan-alasan yang disebutkan  di atas dengan kaedah masyaqqoh dzahirah (kesulitan yang benar-benar jelas) atau di sana ada mudharat yang jelas  maka masuk pada kategori “al ajzu” atau tidak mampu yang dengan alasan tersebut boleh berpindah dari posisi berdiri menjadi posisi duduk atau berbaring.

Para sahabat sekalian,

• Posisi duduk.

Untuk posisi duduk, tidak diharuskan dengan posisi duduk tertentu, boleh dengan posisi duduk iftirasy (seperti dalam shalāt) dan boleh juga dengan posisi bersila.

Sebagian ulama mengatakan lebih afdal posisi iftirasy, sebagian mengatakan bahwasanya lebih afdal posisi bersila (karena lebih nyaman). Akan tetapi di dalam hadīts tidak dijelaskan, yang dijelaskan adalah boleh seseorang berpindah dari posisi berdiri menjadi posisi duduk.

Dan diperbolehkan juga duduk di atas kursi dan ini juga masuk dalam kaedah posisi duduk.

Adapun didalam shalāt sunnah dijelaskan oleh para ulama bahwasanya boleh seseorang duduk di dalam shalātnya (shalāt sunnah) walaupun dia mampu untuk berdiri.

Ini berbeda dengan shalāt wajib, shalāt (wajib) wajib untuk berdiri.

Dan untuk shalāt sunnah diperbolehkan untuk duduk (walaupun dia mampu untuk berdiri). Namun dia akan mendapatkan separuh dari pahala shalāt dengan berdiri.

Hal ini berdasarkan hadīts yang diriwayatkan Imām Muslim dari ‘Abdullah bin Amr, bahwasanya beliau dikabari bahwa Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

لما روى مسلم (1214) عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رضي الله عنه قَالَ : حُدِّثْتُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : ( صَلاةُ الرَّجُلِ قَاعِدًا نِصْفُ الصَّلاةِ

“Shalāt orang yang duduk separuh (pahala) shalāt (berdiri).”

Maksudnya pahalanya separuh dari shalāt orang yang berdiri.

Demikian yang bisa disampaikan, semoga bermanfaat.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
____________

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top