Home > Bimbingan Islam > Matan Abu Syuja > Kajian 040 | Sunnah-Sunnah Sebelum dan Ketika Shalat

Kajian 040 | Sunnah-Sunnah Sebelum dan Ketika Shalat


🌍 BimbinganIslam.com
👤 Ustadz Fauzan ST, MA
📗 Matan Abu Syuja
📝 Ahmad bin Al-Husain bin Ahmad Al-Asfahāniy (Imam Abū Syujā’)

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله أما بعد

Para Sahabat Bimbingan Islam yang dirahmati Allāh, kita lanjutkan halaqah yang ke-40 dalam Kitab Matan Abū Syujā’.

قال المصنف
((وسننها قبل الدخول فيها شيئان: الأذان، والإقامة))

((Dan sunnah-sunnah sebelum masuk shalat ada 2 yaitu adzān dan iqāmah))

Disini, penulis menyebutkan sunnah sebelum masuk shalat dan sunnah pada saat sudah masuk shalat.

■ SUNNAH SEBELUM MASUK SHALAT

Dan sunnah-sunnah di dalam shalat yaitu sunnah yang merupakan penyempurna shalat dan mendapatkan pahala apabila dikerjakan.

Diantara sunnah sebelum shalat wajib (yang dimaksud shalat disini adalah shalat yang wajib/fardhu) adalah dengan mengumandangkan adzan dan iqomah.

⇒ Jadi, mengumandangkan adzan dan iqamah merupakan sunnah sebelum melaksanakan shalat.

Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh imam yang lima, diantaranya adalah Imām Bukhāri:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: «لَمَّا كَثُرَ النَّاسُ» قَالَ: «ذَكَرُوا أَنْ يَعْلَمُوا وَقْتَ الصَّلاَةِ بِشَيْءٍ يَعْرِفُونَهُ، فَذَكَرُوا أَنْ يُورُوا نَارًا، أَوْ يَضْرِبُوا نَاقُوسًا فَأُمِرَ بِلاَلٌ أَنْ يَشْفَعَ الأَذَانَ، وَأَنْ يُوتِرَ الإِقَامَةَ»

Dari Anas bin Mālik radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu beliau berkata:

“Manakala orang-orang/manusia sudah banyak dan orang-orang mengusulkan untuk memberikan tanda pemberitahuan shalat dengan sesuatu yang mereka ketahui, ada yang dengan menyalakan api atau dengan menabuh genderang. Maka Bilāl diperintahkan untuk mengumandangkan adzān dua-dua, dan iqāmah dengan satu lafadz.”

(HR Bukhāri)

⇒ Maksudnya disini adalah lafazh adzān diulang 2 kali sementara iqāmah disebutkan 1 lafadz.

Dan ini adalah salah satu alamat/tanda bahwa shalat sudah masuk.

Dalam hadits yang lain dalam Shahīh Bukhāri, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam memberikan tawjih:

فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلاَةُ فَلْيُؤَذِّنْ لَكُمْ أَحَدُكُمْ، وَلْيَؤُمَّكُمْ أَكْبَرُكُمْ (صحيح البخاري (1/ 128))

“Apabila datang waktu shalat maka hendaknya salah seorang kalian adzan dan yang paling besar diantara kalian menjadi imam.”

Juga berdasarkan hadits ‘Abdullāh bin Zayd radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu yang diriwayatkan oleh Imām Abū Dāwūd:

وَتَقُولُ: إِذَا أَقَمْتَ الصَّلَاةَ، اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ… (سنن أبي داود (1/ 135))

“Dan hendaknya kamu apabila hendak menegakkan/melaksanakan shalat mengucapkan ‘Allāhu akbar, Allāhu akbar’..(seterusnya sampai akhir).”

⇒ Yaitu mengucapkan adzan, dan ini menunjukkan bahwasanya adzan adalah sunnah.
⇒ Dan perintah disini hukum asalnya adalah wajib dan menjadi sunnah berdasarkan dalil-dalil yang lain.

■ SUNNAH SETELAH MASUK SHALAT

قال المصنف
((وبعد الدخول فيها شيئان : التشهد الأول والقنوت في الصبح وفي الوتر في النصف الثاني من شهر رمضان))

((Dan setelah masuk shalat maka ada 2 sunnah, yaitu: tasyahhud awwal dan qunut di shalat subuh dan di shalat witir pada pertengahan akhir bulan Ramadhān))

Diantara sunnah di dalam shalat yang disebutkan:

⑴ TASYAHHUD AWWAL

Berdasarkan hadits-hadits yang shahih diantaranya hadits Riwayat Bukhāri:

«إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامَ مِنَ اثْنَتَيْنِ مِنَ الظُّهْرِ لَمْ يَجْلِسْ بَيْنَهُمَا، فَلَمَّا [ص:68] قَضَى صَلاَتَهُ سَجَدَ سَجْدَتَيْنِ، ثُمَّ سَلَّمَ بَعْدَ ذَلِكَ»(صحيح البخاري (2/ 67) )

“Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam berdiri dari raka’at kedua pada saat shalat dhuhur dan tidak duduk. Maka, setelah selesai melaksanakan shalat maka Beliaupun sujud dua kali sujud kemudian salam.”

⇒ Pada kisah ini, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam lupa untuk duduk tasyahhud awwal sehingga tatkala Beliau berdiri dari raka’at kedua, Beliau langsung berdiri tanpa melakukan duduk tasyahhud awwal, kemudian setelah selesai shalat Beliau melakukan sujud sahwi (atau sujud karena lupa).

⇒ Ini menunjukkan bahwa tasyahhud awal adalah sunnah, apabila hukumnya adalah rukun maka shalat itu menjadi batal.

Sunnah kedua yang disebutkan oleh Penulis adalah:

⑵ QUNUT

Dan di sana ada qunut pada shalat Shubuh dan qunut pada shalat Witir.

● DO’A QUNUT SHALAT SHUBUH

Do’a qunut pada Shalat Shubuh, di sini dijelaskan oleh para ulama fiqih tentang definisi dari qunut;

القنوت في تعريف الفقهاء هو : اسم للدعاء في الصلاة في محل مخصوص من القيام

◆ Qunut adalah istilah untuk do’a didalam shalat setelah gerakan tertentu atau pada waktu tertentu dalam gerakan di dalam shalat.

Do’a Qunut merupakan do’a yang diamalkan saat mengerjakan shalat pada raka’at terakhir yaitu setelah mengerjakan ruku atau pada saat I’tidal, berdasarkan khilaf (perbedaan pendapat) di antara para ulama, apakah sebelum ruku’ atau setelah ruku’.

Do’a qunut disyari’atkan pada:

⑴ Akhir raka’at shalat witir, yaitu setelah ruku’.
⑵ Saat terjadi musibah/bencana yang menimpa kaum muslimin, yang disebut sebagai qunut Nazīlah.

Adapun qunut subuh, maka di dalam madzab Syāfi’ī sudah disepakati (muttafaq) bahwa membaca doa qunut dalam shalat subuh pada I’tidal rekaat kedua (raka’at terakhir) adalah sunnah, namun dalil yang dijadikan sandaran adalah dalil yang lemah (tidak sahih) sehingga tidak bisa menjadi hujjah dalam beramal.

Yang rajih (kuat) adalah pendapat jumhur para ulama bahwasanya qunut subuh yang dilakukan secara terus menerus dalam setiap keadaan, baik keadaan musibah atau keadaan aman maka hal tersebut tidak ada dasar yang sahih yang datang dari Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Adapun dalil yang shahih yang datang dari Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam adalah Beliau melakukan qunut manakala terjadi musibah/bencana yang menimpa kaum muslimin yang disebut qunut nazilah.

Dan beliau doa qunut pada shalāt subuh dan juga shalāt yang lainnya (tidak dikhususkan pada shalat Subuh saja)

● DOA’ QUNUT DALAM SHALAT PADA PERTENGAHAN BULAN RAMADHĀN

Sebagaimana diatas telah dijelaskan tentang masyru’nya (disyari’atkannya) do’a qunut pada saat shalat tarawih.

Kita simak perkataan Syaikh Bin Bāz:

المراد بالقنوت في الوتر أن يأتي بدعوات بعد الركوع في الركعة الأخيرة من صلاة الوتر وهو سنة ومشروع عند جميع أهل العلم، فينبغي للمؤمن أن يفعله كما فعله النبي صلى الله عليه وسلم، وكما فعله الصحابة.

“Yang dimaksud dengan qunut dalam witir addalah dengan mengucapkan doa setelah ruku’ pada raka’at terakhir dalam shalāt witir dan dia adalah sunnah dan disyariatkan berdasarkan pendapat seluruh ulama, maka semestinya/seyogyanya bagi setiap orang yang beriman (muslim) mengerjakan sebagaimana yang dikerjakan oleh nabi saw dan juga para shahābat Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Beliau melanjutkan:

ويقنت بما جاء عن النبي صلى الله عليه وسلم، فقد ورد في الحديث الصحيح حديث الحسن بن علي رضي الله عنه وعن أبيه أن النبي صلى الله عليه وسلم علمه كلمات يقولها في قنوت الوتر:

«اللهم اهدني فيمن هديت، وعافني فيمن عافيت، وتولني فيمن توليت، وبارك لي فيما أعطيت، وقني شر ما قضيت، فإنك تقضي ولا يقضى عليك، وإنه لا يذل من واليت، تبارك ربنا وتعاليت»

زاد في رواية البيهقي: «ولا يعز من عاديت»

وتعليم النبي صلى اللهعليه وسلم  لشخص من الصحابة تعليم للأمة كلها.

Dan berdo’a qunut sebagaimana yang datang dari Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam yang terdapat dalam hadits shahih, yaitu hadits Hasan bin ‘Ali radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu dan dari bapaknya (yaitu ‘Ali bin Abī Thālib);

Bahwasanya Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengajarkannya beberapa kalimat doa yang diucapkan pada saat qunut witir:

“Allāhummahdina fī man hadaita, wa ‘āfinī fī man ‘āfaiyta, wa tawallanī fī man tawallayta, wa bāriklī fī man a’thayta, wa qinī syarra mā qhadayta, fainnaka taqdhī wa lā yuqdha ‘alaiyka, wa innahu lā yadzilu man walayta tabāraka Rabbanā wa ta’ālayta.”

(“Wahai Allāh, berilah petunjuk padaku sebagaimana Engkau berikan petunjuk (kepada selainku), berilah keselamatan kepadaku sebagaimana Engkau berikan keselamatan (kepada selainku), jadikanlah aku wali-Mu sebagaimana Engkau jadikan (selainku) sebagai wali, berilah berkah kepadaku pada semua pemberian-Mu, lindungilah aku dari kejelekan takdir-Mu, sesungguhnya Engkau menakdirkan dan tidak ada yang menentukan takdir bagimu, dan orang yang Engkau jadikan wali tidak akan terhinakan. Mahasuci dan Mahatinggi Engkau.”)

(HR Abū Dāwūd; do’a dibawakan oleh Syaikh Al Albāniy dalam Sifat Shalat Nabi, hal. 180–181)

Dan Beliau menambahkan dalam riwayat Al Bayhaqiy:

“Wa lā ya’izu man ‘ādayta.”

(“Dan Engkau tidak memuliakan orang-orang yang memusuhiMu.”)

Dan pengajaran Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam kepada salah seorang shahābat adah berarti pengajaran kepada ummat secara keseluruhan.

Demikian yang di nukil dari perkataan Syaikh Bin Bāz rahimahullāh.

Adapun kapan disyari’atkan do’a qunut di dalam witir, berkata Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah rahimahullāh:

“Adapun qunut di dalam witir maka hukumnya adalah boleh dan tidak wajib.”

Dan diantara shahābat Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam;

⑴ Ada yang tidak melakukan do’a qunut.
⑵ Ada yang qunut pada akhir Ramadhān.
⑶ Ada yang qunut selama setahun penuh.

⇒ Diantara para ulama ada yang menyukai yang ⑴, yaitu tidak melakukan qunut, seperti Imām Mālik.

⇒ Dan diantara mereka (para ulama) ada yang menyukai yang ⑵, yaitu seperti Imām Syāfi’ī dan Imām Ahmad, dalam suatu riwayat.

⇒ Dan diantara mereka ada juga yang menyukai pilihan ⑶, seperti Imām Abū Hanīfah dan Imām Ahmad dalam suatu riwayat beliau.

Demikian yang bisa disampaikan dalam pertemuan kali ini.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
____________

image_pdfimage_print

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top