Home > Kajian Kitab > Kitab Awaa’iqu ath Thalab > Materi 49 ~ Beberapa Contoh Semangat Tinggi Para Ulama Dalam Menuntut Ilmu (1)

Materi 49 ~ Beberapa Contoh Semangat Tinggi Para Ulama Dalam Menuntut Ilmu (1)

🌍 Kajian Kitab
👤 Al-Ustadz Abu Haidar As-Sundawy حفظه الله
📗 Kitab Awaa’iqu ath Thalab (Kendala Bagi Para Penuntut Ilmu)
📝 as-Syaikh Abdussalam bin Barjas Alu Abdul Karim حفظه الله

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Berikut beberapa contoh para ulama dalam mencari ilmu diantaranya : Seorang ulama ibn Thahir Al-Maqdisi rahimahullahu ta’ala, beliau kalau belajar melintas sahara luas dengan berjalan kaki tanpa alas dan dipunggungnya tergendong kantong yang berisi tumpukan kitab hadits karena zaman dahulu kitab tidak seperti zaman kita sekarang dari kertas, dulu ada yang dari kulit binatang, dari tulang belulang, kemudian ada yang terbuat dari kulit-kulit pohon, daun-daun kuat yang bisa dipakai untuk menulis. Maka tidak terbayang isinya dan beratnya seberapa. Dipanggul saking beratnya beban sampai beliau mengalami kencing darah. Berkata ibn Thahir Al-Maqdisi, “Aku mengalami kencing darah dua kali, pertama di Baghdad dan yang kedua di Mekah. Aku bertelanjang kaki dibawah teriknya matahari tanpa berkendaraan dalam menuntut ilmu hadits sambil memanggul tumpukan kitab diatas punggungku. Waktu kita mau membahas kitab riyadhus shalihin karangan imam An-Nawawi. Di mukadimah kitab itu sudah kita terangkan keunggulan imam An-Nawawi dalam satu hari beliau belajar dua belas cabang ilmu baik itu ilmu fiqih, hadits, tafsir, termasuk bahasa, termasuk menyangkut aqidah. Ibn Jahm (seorang ulama ahli hadits) beliau itu kalau sedang membahas sebuah kitab, beliau menjadi lupa terhadap apapun. Seluruh penderitaan yang sedang beliau alami baik itu sakit, lapar, haus termasuk ngantuk semuanya hilang apabila sudah menekuni kitab-kitab para ulama sampai ketika beliau mengantuk salah satu cara yang beliau lakukan untuk mengusir rasa ngantuk tersebut diambilnya buku kitab lalu dibaca maka ngantuk pun hilang. Kenapa ? karena jiwanya, pikirannya masuk kedalam apa yang diterangkan didalam kitab tersebut. Saking tidak mau adanya waktu yang terlewatkan kecuali harus memperoleh ilmu, salah seorang ulama yang menjadi kakek dari syakhul islam Ibn Taimiyah namanya Majdudin (maka sudah pantas anak cucunya menjadi ulama besar). Apabila beliau mau masuk kedalam toilet, beliau menyuruh murid-muridnya atau keluarganya untuk membacakan kitab diluar toilet secara keras sehingga waktu selama beliau didalam toilet tetap ilmu itu masuk dengan cara mendengarkan apa yang dibaca oleh muridnya diluar toilet. Dia tidak bisa didalam toilet sambil membawa kitab, seandainya dibolehkan secara syar’i membawa kitab kedalam toilet niscaya akan berjam-jam didalam toilet. Bahkan imam Al-Khatib tidak pernah selama hidupnya lepas dari kitab. Kemana pun beliau pergi kitab selalu dibawanya sehingga tidak pernah ada satu langkah pun yang beliau lakukan kecuali satu langkahnya menghasilkan minimal satu poin ilmu kedalam otaknya dan pikirannya. Imam ibn Jauzi rahimahullah yang tadi kita kutip beberapa pendapatnya sepanjang hidupnya beliau telah membaca lebih dari dua puluh ribu judul kitab sampai-sampai Al-Khatib al-Baghdadi ketika beliau belajar kitab shahih bukhori, beliau membaca kitab shahih bukhori di tiga majelis dalam tiga malam, setiap malam mulai ba’da maghrib hingga sampai menjelang sholat shubuh dan shahih bukhori tamat hanya dalam tiga hari. Sebagai catatan bahwa isi dari kitab shahih bukhori tersebut berisi lebih dari tujuh ribu hadits, kalau kitab tersebut tamat dalam tiga malam berarti dalam satu hari beliau rata-rata mampu membaca dua ribu empat ratus hadits sehingga shahih bukhori tersebut tamat hanya dalam tiga malam saja. Adapun kebiasaan para ulama membaca tidak sekedar membaca, kalau itu nash hadits mereka hafalkan. Mereka menghafalkan bukan sekedar matan tetapi juga sanad dengan menyebut para perawinya dan mereka menghafalkannya diluar kepala. Apa yang mereka baca mereka hafalkan dan apa yang mereka hafalkan mereka amalkan setelah mereka amalkan mereka tuliskan sehingga lahirlah sebuah motto dikalangan para ulama bahwa “Amalan mereka adalah isi buku mereka, isi buku mereka adalah amalan mereka“. Apa yang mereka sudah tulis apalagi diajarkan kepada orang lain berarti ilmu yang mereka sudah tulis dan diajarkan kepada orang lain mereka sudah hafal itu diluar kepala itu yang pertama dan yang kedua mereka sudah mengamalkan didalam kehidupan sehari-hari maka ilmu mereka cermin dari hafalan dan cermin juga dari amalan. Oleh karena itu tidak mustahil atau tidak heran apabila para ulama zaman dahulu tidak sekedar mulia karena ilmunya tetapi juga mulia karena amalnya, karena ibadahnya dan karena akhlaqnya. Kalau kita ingin mengetahui bagaimana akhlaq para ulama, bagaimana ibadah para ulama, bagaimana amalan para ulama baca saja kitab karya mereka karena kitab karya mereka itu sudah teraplikasi dalam kesehariannya. Jadi kenapa ilmu dan waktu mereka barokah karena mereka memiliki niat yang tulus dalam mencari ilmu. Apa niat tulus tersebut ? yakni mereka meniatkan mencari ilmu bukan untuk dunia tetapi untuk meraih ridho Allah azza wa jalla dan untuk menghilangkan kebodohan didalam dirinya. Mereka mencari ilmu dengan niat untuk diaplikasikan dan diamalkan, mereka mencari ilmu dengan niat memperbaiki seluruh kerusakan, kekurangan dan penyimpangan yang ada didalam diri mereka.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ ، أشْهَدُ أنْ لا إلهَ إِلاَّ أنْتَ ، أسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إلَيْكَ
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *