Home > Kajian Kitab > Kitab Awaa’iqu ath Thalab > Materi 50 ~ Beberapa Contoh Semangat Tinggi Para Ulama Dalam Menuntut Ilmu (2)

Materi 50 ~ Beberapa Contoh Semangat Tinggi Para Ulama Dalam Menuntut Ilmu (2)

🌍 Kajian Kitab
👤 Al-Ustadz Abu Haidar As-Sundawy حفظه الله
📗 Kitab Awaa’iqu ath Thalab (Kendala Bagi Para Penuntut Ilmu)
📝 as-Syaikh Abdussalam bin Barjas Alu Abdul Karim حفظه الله

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Berkata imam Ahmad bin Hambal rahimahullahu ta’ala, “Ilmu itu tidak ada yang bisa menandinginya bila niatnya benar ketika mencari ilmu”. Kemudian para muridnya bertanya, “Bagaimana niat yang benar ketika mencari ilmu itu ?”. Beliau menjawab, “Dia meniatkan mencari ilmu untuk menghilangkan kebodohan dari diri sendiri dan kebodohan dari diri orang lain”. Naik turunnya iman salah satu penyebab naiknya iman adalah ilmu dan salah satu penyebab turunnya iman adalah kebodohan dan kebodohan itu penyebab utama seluruh keburukan. Seseorang tidaklah melakukan perbuatan syirik melainkan karena kebodohan. Seseorang tidaklah melakukan perbuatan dosa dan maksiat kecuali karena kebodohan. Seseorang tidaklah melakukan perbuatan bid’ah kecuali karena kebodohan. Semuanya bermuara kepada kebodohan dan itulah penyebab orang banyak melakukan penyimpangan apapun bentuk penyimpangannya. Ini yang disebut dengan kekurangan itu yang disebut dengan aib pada diri sendiri dan hal itu bisa dihilangkan dengan ilmu. Niat mencari ilmu adalah untuk menutupi kekurangan, memperbaiki kesalahan untuk menambal aib-aib pada diri sendiri. Makanya para ulama pada zaman dahulu, mau dakwah ataupun tidak, mau mengajar ataupun tidak, mau ceramah atau tidak mereka tetap belajar, mereka tetap menela’ah ilmu, mereka tetap membuka kitab, mereka tetap membongkar karya-karya para ulama sebab ilmu yang mereka pelajari utamanya untuk diri sendiri bukan untuk orang lain. Setelah ilmu didapat dan diterapkan maka barulah menjadikan mereka sebagai rujukan tempat bertanya, tempat menimba ilmu, tempat ber-uswah dan ber-qudwah, menjadikan mereka sebagai teladan yang layak diikuti dan itulah awal kemuliaan yang diraih oleh para ulama. Makanya dibagian akhir dari tulisan mualif ini menyatakan, “Perbanyaklah muthola’ah (menela’ah). Karena apa ? karena dia akan melihat ilmu-ilmunya para ulama, akan melihat ketinggian dari cita-cita mereka, akan melihat besarnya kesungguhan mereka yang mengasah pikiran mereka, memotivasi jiwa mereka, menggerakan tekad mereka sehingga terdorong untuk bersungguh-sungguh didalam menimba ilmu-ilmu yang bermanfaat bagi dirinya. Berdasarkan hal itulah maka jangan patah semangat, jangan lemah semangat, jangan menetapkan cita-cita alakadarnya ketika mencari ilmu. Ketika seseorang cita-citanya rendah kemudian tekadnya tidak kuat maka dia akan banyak terkendala didalam mencari ilmu. Dia nanti akan termasuki oleh rasa malas, dia akan lebih memilih berleha-laha daripada bersungguh-sungguh akibatnya dari dahulu sudah tahunan belajar, sudah tahunan berinteraksi dengan ilmu tetapi tidak ada perubahan dalam hal pengetahuannya, akhlaqnya, ibadahnya dan yang lain-lainnya. Apa akibatnya nanti akan muncul kendala yang ke sembilan dan yang kesepuluh. Kesembilan itu disebut taswif dan kesepuluh tamanni.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ ، أشْهَدُ أنْ لا إلهَ إِلاَّ أنْتَ ، أسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إلَيْكَ
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *