Home > Halaqah Silsilah Ilmiyah > Nawaqidhul Islam > Halaqah 12 – Penjelasan Kaidah Yang Kedua Bagian 1

Halaqah 12 – Penjelasan Kaidah Yang Kedua Bagian 1


🌍 HSI AbdullahRoy
👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
📗 Silsilah Nawaqidhul Islam

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

“Pembatal keIslaman yang kedua“

Beliau rahimahullahu berkata :

الثَّانِي: مَنْ جَعَلَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللهِ وَسَائِطَ يَدْعُوهُمْ وَيسْأَلُهُمْ الشَّفَاعَةَ، وَيَتَوَكَّلُعَلَيْهِمْ كَفَرَ إِجْمَاعًا.

Yang Kedua kata beliau diantara pembatal-pembatal keIslaman:

“barangsiapa yang menjadikan antara dia dengan Allāh perantara-perantara berdoa kepada mereka & meminta kepada mereka syafaat & bertawakkal kepada mereka « كَفَرَ إِجْمَاعًا » maka dia telah kufur dengan kesepakatan para ulama”.

Ini adalah pembatal keIslaman yang kedua

Yang bisa mengeluarkan seseorang dari agamanya, membatalkan amalannya dan seandainya dia meninggal dalam keadaan dia tidak bertaubat dari perbuatan ini maka Allāh Subhānahu wa Ta’āla tidak akan mengampuni dosanya. Dan ini adalah termasuk kufur termasuk kesyirikan sebagaimana nanti akan kita jelaskan.

Beliau mengatakan

“diantara pembatal-pembatal keIslaman adalah orang yang menjadikan antara dia dengan Allāh perantara-perantara dimana dia berdoa kepada perantara-perantara tersebut & meminta kepadanya syafaat & bergantung kepadanya”.

Maka perbuatan seperti ini adalah perbuatan yang diharamkan didalam agama Islām & dia adalah termasuk syirik termasuk kekufuran kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Barangsiapa yang menjadikan antara dia dengan Allāh perantara, maksudnya adalah didalam ibadah menjadikan disana makhluk baik seorang Nabi, atau seorang Malaikat atau orang yang shaleh atau yang lain sebagai perantara didalam ibadah dia kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, mendekatkan dia kepada Allāh atau menjadikan dia sebagai syufaa / yang memberikan syafa’at baginya disisi Allāh & bergantung kepada perantara tersebut, bertawakkal kepada perantara tersebut, maka ini adalah perbuatan yang diharamkan.

“Betul“ Allāh Subhānahu wa Ta’āla telah mengutus para Rasul, para Nabi sebagai perantara, antara Allāh dengan makhluk-Nya, namun perantara disini maksudnya didalam menyampaikan risalah. Allāh menjadikan disana Malaikat sebagai rasul, Allāh menjadikan disana manusia sebagai rasul yaitu sebagai perantara Allāh dengan manusia.

Allāh tidak mewahyukan kepada masing-masing dari kita, memberitahukan kepada masing-masing dari kita secara langsung akan tetapi Allāh mengangkat disana para rasul menyampaikan risalah dari Allāh, menyampaikan Al-Qur’an, menyampaikan Al-Kitab, menyampaikan wahyu disampaikan kepada kita, para rasul alaihim salam adalah perantara di dalam menyampaikan risalah Allāh kepada manusia.

اللَّهُ يَصْطَفِي مِنَ الْمَلَائِكَةِ رُسُلًا وَمِنَ النَّاسِ ۚ

[Surat Al-Hajj 75] “Allāh Subhānahu wa Ta’āla telah memilih para utusan dari kalangan malaikat dan juga dari kalangan manusia”.

Malaikat & juga para rasul mereka adalah perantara bukan di dalam ibadah kita kepada Allāh akan tetapi di dalam menyampaikan risalah dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla kepada kita. Adapun orang yang didlm ibadahnya menjadikan disana perantara antara dia dengan Allāh dan dia berdoa kepada perantara tersebut & meminta kepadanya syafaat, bertawakkal kepadanya maka ini tidak diperbolehkan di dalam agama Islām & ini adalah termasuk syirik.

Di antara dalilnya Allāh sebutkan di dalam Al-Qur’an tentang agama orang-orang musyrikin yaitu kaumnya Rasulullãh ﷺ (orang-orang quraish), Allāh sebutkan didalam dua ayat didalam Al-Qur’an yang menyebutkan diantara kesyirikan yang dilakukan oleh orang-orang musyrikin quraish

firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla

وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَٰؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ ۚ قُلْ أَتُنَبِّئُونَ اللَّهَ بِمَا لَا يَعْلَمُ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ ۚ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ

[QS Yunus 18] “dan mereka (orang-orang musyrikin quraish)

يَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ

menyembah kepada selain Allāh

مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُم

yang tidak memberikan mudharat mereka & juga tidak memberikan manfaat

وَيَقُولُونَ

Kemudian mereka mengatakan

هَٰؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ ۚ

Mereka ini (orang-orang shaleh) kami sembah

شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ ۚ

Mereka adalah orang-orang yang memberikan syafa’at kepada kami disisi Allāh

قُلْ أَتُنَبِّئُونَ اللَّهَ

Apakah kalian memberitahu kepada Allāh sesuatu yang tidak Allāh ketahui dilangit maupun dibumi Maha suci Allāh &Maha Tinggi dari apa yang mereka sekutukan”.

Dalam ayat ini Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengabarkan kepada kita tentang hakikat dari peribadatan “sebagian orang-orang musyrikin yang ada di zaman nabi ﷺ.“

Bahwasanya ada diantara mereka yang menjadikan orang-orang yang shaleh sebagai syufaa menjadikan mereka sebagai orang-orang yang memberikan syafa’at bagi mereka disisi Allāh.

“Bagaimana caranya?“

Caranya adalah menyerahkan sebagian ibadah kepada orang-orang shaleh tersebut, baik dengan berdoa, seperti yang disampaikan disini mengatakan

“ya Fulan berikanlah aku ini, jauhkanlah aku dari ini”.

Atau meminta kepada mereka syafaat dengan mengatakan:

“ya Fulan berilah aku syafaat disisi Allāh”.

Allāh berfirman:

وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ

“dan mereka (orang-orang musyrikin quraish) beribadah kepada selain Allāh yang tidak memberikan mudharat kepada mereka & juga tidak memberikan manfaat”.

Di antara ibadahnya kepada orang-orang shaleh tersebut berdoa & doa adalah ibadah, mengatakan “ya Fulan” ini adalah permintaan dan ini adalah doa, berdoa kepada selain Allāh yang tidak memberikan mudharat & juga tidak memberikan manfaat. Seseorang beribadah harusnya kepada Dzat yang memberikan mudharat dan juga memberikan manfaat yaitu “Allāh Subhānahu wa Ta’āla.“

Dialah Allāh Subhānahu wa Ta’āla yang kebaikan ditangan-Nya, “apabila Allāh menghendaki kebaikan bagi seseorang / memberikan manfaat kepada seseorang maka tidak ada yang bisa menolaknya & apabila Allāh menghendaki mudharat maka tidak ada yang bisa menolaknya.“

وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ ۖ وَإِنْ يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَادَّ لِفَضْلِهِ ۚ يُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ ۚ وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

[Surat Yunus 107] “kita beribadah kepada Dzat yang memberikan manfaat & juga memberikan mudharat”

Adapun orang-orang musyrikin quraish Allāh mengatakan

وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ

“mereka menyembah kepada selain Allāh yang tidak memberikan mudharat dan juga tidak memberikan manfaat”

“Yaitu kepada orang-orang yang shaleh tersebut yang mereka sudah meninggal dunia, menolong diri mereka sendiri tidak mampu, bagaimana mereka bisa menolong orang lain“

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
image_pdfimage_print

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top