Home > Halaqah Silsilah Ilmiyah > Beriman Kepada Para Rasul Allah ﷻ > Halaqah-06 Cara Beriman kepada Para Rasul Bagian 4

Halaqah-06 Cara Beriman kepada Para Rasul Bagian 4

👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Beriman Kepada Para Rasul Allah ﷻ

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-6 dari Silsilah Ilmiyyah Beriman dengan Para Rasul adalah tentang Cara Beriman kepada Para Rasul Bagian yang Ke Empat”

Diantara cara beriman kepada para rasul adalah meyakini bahwa mereka ma’sum yaitu terjaga dari dosa besar seperti: zina, mencuri, menipu, sihir, membuat berhala, dan lain lain.

Ini adalah kesepakatan umat, adapun orang Yahudi dan Nashrani maka mereka menganggap para Nabi dan Rasul melakukan Dosa besar, seperti keyakinan bahwa Nabi Harun dialah yang membuat berhala dan keyakinan bahwa Nabi Ibrahim mengorbankan Istrinya (Sarah) kepada Firaun dan seperti keyakinan bahwa Nabi Luth عَلَيهِ السَّلَامُ mabuk dan lain lain.

Adapun dosa kecil maka menurut sebagian besar ulama terkadang seorang nabi melakukan dosa kecil namun tidak sampai berhubungan dengan wahyu dan dengan cepat sekali mereka bertaubat kepada Allah ‘azza wa jalla.

Nabi Adam alaihi salam beliau dilarang untuk memakan buah tertentu didalam surga, akan tetapi beliau melanggarnya kemudian beliau mengatakan

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Wahai Rabb kami, kami telah mendholimi diri kami sendiri dan seandainya Engkau tidak mengampuni dosa kami dan menyayangi kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi” (Al-A’raf : 23)

Nabi Nuh عَلَيهِ السَّلَامُ meminta kepada Allah supaya menyelamatkan anaknya yang kafir, maka Allah ajja wajalla menegur beliau dan menasihati beliau kemudian beliau langsung meminta kepada Allah seraya berkata

قَالَ رَبِّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَسْأَلَكَ مَا لَيْسَ لِي بِهِ عِلْمٌ ۖ وَإِلَّا تَغْفِرْ لِي وَتَرْحَمْنِي أَكُنْ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Beliau berkata wahai Tuhanku sesungguhnya aku berlindung kepada Mu dari meminta kepadaMu sesuatu yang tidak aku memiliki ilmu tentangnya dan seandainya Engkau tidak mengampuni aku dan menyayangi aku, niscaya aku termasuk orang-orang yang merugi” ( Hud : 47)

Nabi Musa عَلَيهِ السَّلَامُ pernah memukul orang kifti (orang Mesir) yang berakibat terbunuhnya orang tersebut ini adalah dosa kecil karena pukulan Nabi Musa عَلَيهِ السَّلَامُ sebenarnya tidak mematikan dan beliau عَلَيهِ السَّلَامُ juga tidak bermaksud untuk membunuh, Nabi Musa عَلَيهِ السَّلَامُ mengiringi kesalahan ini dengan taubat kepada Allah.

Allah berfirman:

قَالَ رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي فَاغْفِرْ لِي فَغَفَرَ لَهُ ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Beliau berkata _wahai Rabbku sesungguhnya aku mendzhalimi diriku sendiri maka ampunilah aku_, maka Allah pun mengampuni beliau sesungguhnya Allāh adalah Dzat Yang Maha Pemgampun lagi Maha Penyayang” (Al-Qashas : 16)

Nabi Yunus عَلَيهِ السَّلَامُ pernah marah meninggalkan kaumnya karena mereka tidak menerima dakwah beliau dan setelah ditelan ikan yang besar, Beliau pun segera meminta ampun kepada Allah. Allah berfirman

وَذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَىٰ فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

“Dan ingatlah kisah dzunnun yaitu Yunus ketika dia pergi dalam keadaan marah lalu dia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya maka dia berdoa dalam keadaan yang sangat gelap tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Engkau Maha Suci Engkau sungguh aku termasuk orang-orang yang dzhalim” (Al-Anbiya’ : 87)

Nabi Muhammad ﷺ ketika sedang mendakwahi pembesar Quraisy datang kepada beliau Ibnu Ummi Maktum ingin bertanya tentang sesuatu, maka beliau bermuka masam dan berpaling, Allah pun menurunkan firman-Nya:

عَبَسَ وَتَوَلَّىٰٓ (١) أَن جَآءَهُ ٱلۡأَعۡمَىٰ (٢) وَمَا يُدۡرِيكَ لَعَلَّهُ ۥ يَزَّكَّىٰٓ (٣)أَوۡ يَذَّكَّرُ فَتَنفَعَهُ ٱلذِّكۡرَىٰٓ (٤

“Dia (Muhammad) berwajah masam dan berpaling karena seorang buta telah datang kepadanya. dan tahukah engkau (wahai Muhammad) barangkali dia ingin menyucikan dirinya atau dia ingin mendapatkan pengajaran yang memberi manfaat kepadanya” (‘Abasa : 1-4)

Setelah itu Rasulullah ﷺ pun memuliakannya sebagaimana yang dikabarkan oleh Annas bin Malik radhiallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Abu Ya’la didalam Musnadnya.

itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini, dan sampai bertemu pada halaqah selanjutnya.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
image_pdfimage_print

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top