Halaqah 156 | Segala Sesuatu Berjalan Sesuai Dengan Kehendak Allāh ﷻ

Kitab: Aqidah Ath-Thahawiyah
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-156 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-Aqidah Ath-Thahawiyah yang ditulis oleh Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāh.

Beliau mengatakan raḥimahullāh

وَكُلُّ شَيْءٍ يَجْرِي بِمَشِيئَةِ اللهِ تَعَالَىٰ وَعِلْمِهِ وَقَضَائِهِ وَقَدَرِهِ

Segala sesuatu berjalan dengan Mas̱yī’atullāh, berjalan dengan kehendak Allāh ﷻ, kullu shay’in, segala sesuatu, tidak terkecuali perbuatan kita, atau gerakan, diamnya sesuatu yang ada di sekitar kita. Jangan dikira bahwasanya diamnya tembok yang ada di sekitar kita itu terlepas dari Mas̱yī’atullāh. Allāh ﷻ menghendaki dia diam, maka dia diam. Kalau Allāh ﷻ menghendaki dia bergetar, akan bergetar. Kullu shay’in yajri bi-mas̱yī’atillāh, segala sesuatu adalah berjalan dengan kehendak Allāh ﷻ.

Tidak mungkin terjadi di dunia ini sesuatu yang di luar kehendak Allāh ﷻ, termasuk di antaranya ketaatan, kemaksiatan, musibah, kenikmatan. Itu adalah dengan kehendak Allāh ﷻ. Tapi ingat, bahwasanya kehendak Allāh ﷻ (irādah Allāh) itu ada dua, yaitu irādah syarʿiyyah dengan irādah kauniyyah. Mas̱yī’ah ini adalah nama lain dari irādah kauniyyah. Segala sesuatu terjadi dengan kehendak Allāh ﷻ, bahkan termasuk kehendak kita ini juga terjadi dengan kehendak Allāh ﷻ:

وَمَا تَشَاؤُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

Dan tidaklah kalian menghendaki kecuali apabila Allāh ﷻ menghendaki. (QS. At-Takwīr: 29)

Waʿilmihī wa qaḍā’ihī wa qadarihī, segala sesuatu terjadi dengan ilmu Allāh ﷻ, yaitu terjadi dan Allāh ﷻ mengetahui. Sebelum terjadinya Allāh ﷻ sudah tahu, ketika terjadinya Allāh ﷻ tahu, dan apa yang akan terjadi Allāh ﷻ tahu. Bi-mas̱yī’atillāh, ini adalah keimanan kita dengan tingkatan takdir yang ketiga: wa ʿilmihī, dan kita beriman dengan ilmu Allāh ﷻ—ini adalah tingkatan takdir yang pertama. Allāh ﷻ Maha mengetahui segala sesuatu, yang sebelum terjadi, ketika terjadi, maupun apa yang akan terjadi.

Kenapa di sini disebutkan? Karena ada sebagian orang yang sesat yang mengatakan bahwasanya Allāh ﷻ tahu setelah terjadi, sebelum terjadinya Allāh ﷻ tidak tahu. Dan sudah disampaikan berkali-kali bahwasanya sampai penduduk Surga dan juga penduduk Neraka Allāh ﷻ tahu siapa di antara kita yang akan masuk ke dalam Surga dan siapa di antara kita yang akan masuk ke dalam Neraka. Itu bukan sesuatu yang samar bagi Allāh ﷻ.

Nas’alullāhal-Jannah, kita memohon kepada Allāh ﷻ, semoga Allāh ﷻ masukkan kita ke dalam Surga.

Wa qaḍā’ihī wa qadarihī, dan terjadi segala sesuatu dengan qaḍāʾ dan juga qadar Allāh ﷻ. Di sini disebutkan qaḍāʾ dan juga qadar. Kalau dua-duanya disebutkan dalam satu tempat seperti ini, maka sebagian ulama mengatakan makna qaḍāʾ adalah apa yang sudah ditakdirkan, yang sudah dijadikan oleh Allāh ﷻ, sudah diciptakan. Tapi kalau masih ditulis oleh Allāh ﷻ dan belum terjadi, maka itu dinamakan dengan qadar. Berarti qadar itu lebih dulu daripada qaḍāʾ. Kalau sudah terjadi, Anda katakan: “Ini adalah qaḍāʾ Allāh,” ini sudah ditentukan oleh Allāh ﷻ, Allāh ﷻ sudah menjadikan, Allāh ﷻ sudah menciptakan ini—ini adalah qaḍāʾ Allāh ﷻ. Tapi kalau qadar, maka ini adalah apa yang baru, masih tertulis dan belum terjadi. Berarti qadar itu lebih dulu daripada qaḍāʾ.

Tapi kalau disebutkan satu di antara keduanya, maka membawa makna kedua-duanya. Kalau disebutkan qadar saja—ya, baik yang belum terjadi maupun yang sudah terjadi. Kalau disebutkan qaḍāʾ saja, maka mencakup yang belum terjadi maupun yang sudah terjadi. Sehingga mungkin kita sering mendengar, “beriman dengan qaḍāʾ dan qadar,” itu maksudnya. Tapi kalau disebutkan qadar saja, sebagaimana sabda Nabi ﷺ:

وَأَنْ تُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ

Dan engkau beriman kepada takdir, yang baik maupun yang buruk.

Disebutkan qadar saja di sini, maka ini mencakup yang sudah terjadi maupun yang belum terjadi.

Dan ucapan beliau ﷺ: Qadarullāh wa mā shāʾa faʿal, maka ini juga mencakup yang telah terjadi maupun yang belum terjadi. Maka semuanya dengan qaḍāʾ Allāh ﷻ dan juga qadar-Nya. Allāh ﷻ yang menentukan, Allāh ﷻ yang menjadikan, dan Allāh ﷻ yang menentukan sebelumnya.

Kembali kita diajak oleh muallif untuk beriman dengan takdir Allāh ﷻ.

إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ

Sesungguhnya segala sesuatu Kami ciptakan dengan takdir. (QS. Al-Qamar: 49)

Bukan terjadi dengan sendirinya.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

image_pdfimage_print

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top