Kitab: Aqidah Ath-Thahawiyah
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله
Halaqah yang ke-127 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-Aqidah Ath-Thahawiyah yang ditulis oleh Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāh.
Beliau mengatakan,
وَلَا نَرَى الخُرُوجَ عَلَىٰ أَئِمَّتِنَا وَوُلَاةِ أُمُورِنَا، وَإِنْ جَارُوا
Meskipun mereka berbuat dzalim, selama mereka adalah seorang Muslim, أَئِمَّتِنَا (a’immatinā) — mereka adalah penguasa kita, yaitu penguasa kaum Muslimin — وَإِنْ جَارُوا (wa in jāru), meskipun mereka berbuat dzalim, selama mereka adalah orang Islam, maka tidak boleh kita memberontak kepada penguasa Muslim, meskipun mereka melakukan kedzaliman. Kedzaliman dia bukan berarti menjadikan kita boleh untuk memberontak kepada penguasa.
Apa dalilnya? Nabi ﷺ mengatakan:
تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلْأَمِيرِ، وَإِنْ أَخَذَ مَالَكَ، وَضَرَبَ ظَهْرَكَ، فَاسْمَعْ وَأَطِعْ
“Hendaklah engkau mendengar dan taat kepada Amir (penguasa yang sah), meskipun dia mengambil hartamu dan memukul punggungmu. Maka dengarlah dan taatilah.” (HR. Muslim)
Ini menunjukkan kedzaliman dia — mengambil harta tanpa haq, kemudian memukul fisik kita — ini adalah kedzaliman dalam masalah harta, dan ini adalah kedzaliman dalam masalah fisik. Meskipun demikian, hendaklah engkau mendengar dan taat. Diulang lagi oleh Nabi ﷺ, jadi pertama menyebutkan tasmaʿ wa tuṭīʿ kemudian diakhir mengatakan fasmaʿ wa aṭīʿ, ini menunjukkan tentang pentingnya seseorang mentaati penguasa, sampai meskipun mereka melakukan kedzaliman.
Karena di dalam ketaatan kita kepada penguasa kita, ini maṣlaḥah yang besar, dan di dalam memberontak kepada penguasa, ada mafsadah yang besar, kerusakan yang besar. Kalau dibandingkan dengan kezaliman yang dia lakukan, kerusakan yang diakibatkan oleh memberontak kepada penguasa ini jauh lebih besar.
Mereka mendzolimi, memenjarakan seorang ulama tanpa hak misalnya, kemudian kita terbawa perasaan: “Ini pemerintah mulai dzalim, mereka mulai memusuhi agama kita, maka kita harus bangkit, kita harus melawan kedzaliman,” dan seterusnya — sehingga akhirnya memberontak kepada penguasa yang sah.
Apakah pemerintah kemudian berdiam diri ketika melihat ada gerakan-gerakan seperti itu? Tentunya tidak. Mereka punya bagian keamanan, mereka sudah menyiapkan siapa yang menangani pemberontakan, dan seterusnya. Akhirnya terjadilah peperangan antara orang Islam sendiri, antara tentara dengan pemberontak tersebut.
Berapa yang terbunuh? Bisa 50, bisa 100, bisa 1000. Berapa yang akan dipenjara setelah itu? Bisa 1000, bisa 5000.
Jadilah da’i dipenjara — yang mereka seharusnya mengajarkan umat di masjid mereka, memberikan mereka kajian, memberikan mereka nasehat — akhirnya malah semakin banyak yang dipenjara. Mending kalau dipenjara, mungkin dibunuh juga.
Ini semua adalah akibat seseorang tidak mau mengikuti aturan syariat. Tidaklah Allāh ﷻ menurunkan syariat, kecuali di sana ada hikmah. Kalau kita tidak mengikuti, ya akibatnya kerusakan dan kerugian pada diri sendiri.
Kalau kita taat kepada penguasa, mendengar dan taat, dan kita bersabar kalau misalnya mereka melakukan kedzaliman. Dan sabar di sini bukan berarti kita tidak memberikan nasihat. Bersabar dan kita sebagai seorang Muslim juga memberikan masukan, memberikan nasihat dengan cara yang dibenarkan di dalam syariat, bukan mencari jalan sendiri.
Maka kita berusaha untuk memperbaiki sedikit demi sedikit. Jangan sampai terjadi kerusakan yang lebih besar — dengan cara tetap mendengar dan taat, bukan memberontak kepada penguasa yang sah.
Namun kalau seseorang justru malah memberontak karena melihat kedzaliman, maka dikhawatirkan yang terjadi adalah kerusakan yang lebih besar dan justru malah banyak maslahat dunia maupun maslahat agama yang tidak bisa kita nikmati lagi karena sebab kekacauan.
Bagaimana kita bisa pergi ke pasar kalau di sekitar kita banyak orang yang berlalu-lalang dengan senjata dan sewaktu-waktu bisa terjadi saling membunuh satu dengan yang lain? Bagaimana kita bisa membiarkan anak-anak kita sekolah dalam keadaan seperti itu? Bagaimana kita bisa pergi ke kantor dalam keadaan demikian? Siapa yang akan pergi ke kantor dalam keadaan demikian? Dan kalau tidak ada orang yang ke kantor, siapa yang akan mengurus listrik, masyarakat, air, kalau ada kerusakan? tidak ada yang ke sana karena masing-masing mengurus dirinya sendiri.
Ini semua adalah karena ketidakamanan. Bagaimana seseorang akan melaksanakan shalat berjamaah, bagaimana dia akan mengadakan kajian, bagaimana dia akan pergi umrah dan juga haji kalau keadaan masyarakat demikian? Ini semua karena terlalu mengikuti perasaan, tidak menggunakan akal, dan tidak mengikuti apa yang Allāh ﷻ syariatkan.
Umar bin al-Khaṭṭāb raḍiyallāhu ʿanhu — beliau meriwayatkan:
لَا إِسْلَامَ إِلَّا بِجَمَاعَةٍ، وَلَا جَمَاعَةَ إِلَّا بِإِمَارَةٍ، وَلَا إِمَارَةَ إِلَّا بِسَمْعٍ وَطَاعَةٍ
Tidak ada Islam kecuali dengan berijtima’, kita harus bersatu antara rakyat dengan penguasa. Rakyat tanpa penguasa tidak bisa menegakkan agama, dan penguasa tanpa rakyat juga demikian.
وَلَا جَمَاعَةَ إِلَّا بِإِمَامٍ — dan tidak ada persatuan kalau tidak ada kekuasaan. Tidak mungkin ada sebuah komunitas bisa baik dan bisa berlangsung komunitas tersebut kecuali harus ada yang diangkat menjadi pemimpin.
Keluarga harus ada yang statusnya sebagai pemimpin, yaitu laki-laki. Dalam safar, harus ada salah seorang yang diangkat sebagai pemimpin. Dalam sekolah juga demikian, harus ada kepala sekolah. RT juga harus ada ketua RT. Semua itu dilakukan untuk kebaikan — ada satu orang yang kita jadikan sebagai pemimpin.
Kalau tidak ada pemimpin, lā jamāʿah, tidak ada jamaah, tidak ada persatuan. Masing-masing akan mengambil tindakan sendiri. Tidak ada aturan — “Ana maunya seperti ini,” “Dia maunya seperti itu” — kekacauan yang ada. Tapi ketika ada pemimpin: “Kepala sekolah, kita berangkat sama-sama jam 7, pelajaran.” Jadi semua guru berangkat atau sampai sebelum jam 7. Anak-anak juga demikian.
Tapi kalau tidak ada pemimpin, bagaimana kita bisa melaksanakan belajar di kelas? Guru masing-masing datang semaunya, anak-anak juga tidak ada yang mengatur.
وَلَا إِمَارَةَ إِلَّا بِسَمْعٍ وَطَاعَةٍ — Tidak ada manfaatnya kekuasaan kalau tidak ada mendengar dan taat. Kita punya penguasa, tapi hanya sekadar penguasa — tidak kita taati, tidak ada manfaatnya. Ada manfaatnya kalau kita semua mendengar dan taat kepada beliau.
Ini menunjukkan betapa eratnya antara tegaknya Islam dengan mendengar dan taatnya kita kepada penguasa. Di awal, Umar bin al-Khaṭṭāb mengatakan lā islāma, kemudian diurutkan sampai terakhir mengatakan illā bis-samʿi wa-ṭ-ṭāʿah — kecuali dengan mendengar dan taat kepada penguasa.
Kalau kita ingin tetap tegak agama kita, kita masih ingin menikmati keamanan, bisa melaksanakan agama kita dengan baik, maka kita harus memegang prinsip dasar, yaitu mendengar dan taat kepada penguasa yang sah meskipun mereka dzalim.
Kalau mereka dzalim mengambil harta kita, maka petunjuk Nabi ﷺ adalah: kita berikan apa yang mereka inginkan, kemudian kita meminta kepada Allāh hak kita. Masing-masing kita akan ditanya, dan mereka sebagai penguasa akan ditanya tentang amalan yang mereka lakukan. Apakah mereka melaksanakan amanah sebagai seorang penguasa atau tidak, apakah mereka sudah menunaikan hak rakyatnya?
Ini amanah yang besar. Di depan mereka ini bukan satu atau dua orang — ini jutaan orang. Mereka akan memikul tanggung jawab tersebut di hari kiamat. Ini bukan perkara yang ringan. Amanah.
Sebagaimana mereka akan ditanya, kita pun sebagai rakyat juga akan ditanya: apakah kita sudah melaksanakan kewajiban kita sebagai seorang rakyat atau tidak? Semuanya akan ditanya.
Makanya kita melaksanakan, yaitu mendengar dan taat kepada penguasa, karena kita tahu, kita akan ditanya oleh Allāh sebagai seorang rakyat — sudahkah kita mendengar dan taat kepada penguasa? Masalah mereka dzalim, itu urusan mereka dengan Allāh. Mereka akan mempertanggungjawabkan kedzaliman tersebut di hadapan Allāh. Yang penting, kita selamat. Sudah melaksanakan kewajiban kita sebagai rakyat.
Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

