Home > Kajian Kitab > Kitab Awaa’iqu ath Thalab > Materi 34 ~ Tertipu, Ujub Dan Kibr (04) – Pentingnya sifat tawadhu’ dalam menuntut ilmu

Materi 34 ~ Tertipu, Ujub Dan Kibr (04) – Pentingnya sifat tawadhu’ dalam menuntut ilmu

🌍 Kajian Kitab
👤 Al-Ustadz Abu Haidar As-Sundawy حفظه الله
📗 Kitab Awaa’iqu ath Thalab (Kendala Bagi Para Penuntut Ilmu)
📝 as-Syaikh Abdussalam bin Barjas Alu Abdul Karim حفظه الله

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Kita memasuki point-point penting bagi thalibul ilmi (penuntut ilmu) yaitu :

Berkata Abu Ayub Akh Syathani, “Hendaklah bagi seorang penuntut ilmu meletakan tanahnya diatas kepalanya dalam rangka tawadhu kepada Allah azza wa jalla”. Maknanya jangan sombong dengan ilmunya dan tawadhu-lah kepada Allah.

Dan para ulama berkata, “Orang yang tawadhu dikalangan para penuntut ilmu itu jauh lebih banyak ilmunya sebagaimana tempat yang lebih rendah, lebih banyak menampung air dibanding tempat yang lebih tinggi”. Dan ini di ilustrasikan oleh para ulama seperti ilmu pada sikap seseorang. Semakin seseorang merendahkan dirinya maka ilmu akan semakin banyak tertampung pada dirinya.

Dikatakan kepada seorang hakim (seorang hakim pasti ulama) tidak ada hakim yang bodoh. Ulama terhadap perkara yang menjadi tanggung jawabnya untuk memutuskan hukum dan tidak sekedar teori tetapi ilmu itu sudah menjadi darah daging didalam dirinya.

Ditanyakan kepada seorang alim/hakim/ulama, “Apakah nikmat yang menyebabkan pemilik, penerima nikmat itu tidak akan didengki oleh orang lain. Maka berkata para ulama, “Tawadhu”. Orang yang tawadhu maka tidak akan ada yang iri dan tawadhu merupakan nikmat yang agung luar biasa yang tidak Allah berikan kepada sembarang orang. Hanya kepada orang-orang yang layak dimuliakan oleh Allah.

Kemudian ditanya lagi ulama itu, “Sekarang musibah apa, kendala apa yang menyebabkan orang yang mengalaminya ini tidak akan dikasihani, tidak akan memperoleh simpati apalagi empati. Maka dijawab, “Al-Ujub”, ketika orang yang ujub maka dia terkena musibah. Jadi ujub itu adalah musibah yang menyebabkan orang yang mengalaminya itu tidak akan memperoleh simpati bahkan memperoleh rasa benci.

Oleh karena itu hendaklah para penuntut ilmu berhati-hati dari sifat tercela ini yang mengundang murka Allah, mengundang juga ketidaksukaan orang-orang mukmin. Karena siapa orang yang tawadhu karena Allah maka Allah akan angkat derajatnya lebih tinggi, sebaliknya siapa orang yang tidak tawadhu maka Allah akan hinakan dia, Allah akan rendahkan dia.

Bagaimana kalo ini sudah terjadi ?
Berkata mualif (penulis), “Bila dirimu membisikanmu untuk ujub, siapa aja diantara kita, hendaklah cepat-cepat ingat kemanakah kita akan pergi, ketempat apa, ketempat bagaimana tempat yang nanti akan ditempati setelah dunia ini kita tinggalkan dan hendaklah kita mengetahui ada banyak orang yang lebih muda usianya dari kita tetapi lebih mendalam ilmunya daripada kita”. Itu adalah nasihat yang begitu berharga dari seorang mualif hafidzahullahu ta’ala.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ ، أشْهَدُ أنْ لا إلهَ إِلاَّ أنْتَ ، أسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إلَيْكَ
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *