Kitab: Kitabut Tauhid
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله
Halaqah yang ke-115 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Kitābut-Tauhīd alladzhī huwa haqqullāhi ʿalal ʿabīd yang ditulis oleh Al-Imām al-Mujaddid Muhammad ibn ʿAbdil Wahhāb ibn Sulaimān At-Tamīmī rahimahullāh.
Halaqah yang ke-115 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Kitābut-Tauhīd alladzhī huwa haqqullāhi ʿalal ʿabīd yang ditulis oleh Al-Imām al-Mujaddid Muhammad ibn ʿAbdil Wahhāb ibn Sulaimān At-Tamīmī rahimahullāh.
Beliau rahimahullāh mengatakan:
فِيهِ مَسَائِلُ
Di dalamnya ada beberapa permasalahan (ada beberapa faedah yang bisa kita ambil dari ayat dan juga hadits yang dibawakan oleh beliau dalam bab ini).
الْأُولَى: تَفْسِيرُ آيَةِ بَرَاءَة
1. Penjelasan dari ayat yang ada dalam surat Barā’ah. Surat Bara’ah ini adalah nama lain dari surat At-Taubah. Dinamakan Bara’ah karena di depannya atau ayat yang pertama ada kalimat Bara’ah, barā’atun minallāh, sehingga dinamakan dengan surat Bara’ah. Yaitu yang dimaksud adalah firman Allāh ‘Azza wa Jalla laqad jā’akum rasūlun min anfusikum ‘azīzun ‘alaihi mā ‘anittum harīshun ‘alaikum bil mu’minīna ra’ūfur rahīm. Di situ ada disebutkan tentang bagaimana sifat Nabi ﷺ, beliau adalah orang yang semangat supaya kita ini Islam, semangat supaya kita ini tetap beruntung di dunia dan akhirat dan selamat tauhid kita. Nah ini sifat yang seperti ini mengharuskan untuk melakukan berbagai tindakan supaya umat ini tidak terjerumus ke dalam perkara yang mengurangi tauhidnya atau membatalkan tauhidnya.
الثَّانِيَةُ: إِبْعَادُهُ أُمَّتَهُ عَنْ هَذَا الْحِمَى غَايَةَ الْبُعْدِ
2. Usaha beliau ﷺ untuk menjauhkan umatnya dari perlindungan-perlindungan ini dengan sejauh-jauhnya. Ya karena di sini ada perkara yang membahayakan maka di sana ada perlindungan yang mengitari, beliau ﷺ berusaha untuk menjauhkan umat dari yang mengitari tadi. Karena kalau sampai masuk kepada sesuatu yang melingkari dan mengitari tadi maka dikhawatirkan akan masuk kepada yang diharamkan yaitu kesyirikan.
الثَّالِثَةُ: ذِكْرُ حِرْصِهِ عَلَيْنَا وَرَأْفَتِهِ وَرَحْمَتِهِ
3. Penyebutan tentang semangat beliau untuk menyampaikan hidayah ini kepada kita dan rahmat beliau dan kasih sayang beliau. Ya, jadi semangat dalam dakwah diiringi dengan kasih sayang, maka ini adalah keutamaan yang besar.
الرَّابِعَةُ: نَهْيُهُ عَنْ زِيَارَةِ قَبْرِهِ عَلَى وَجْهٍ مَخْصُوصٍ، مَعَ أَنَّ زِيَارَتَهُ مِنْ أَفْضَلِ الْأَعْمَالِ
4. Larangan beliau untuk menziarahi kuburan beliau ﷺ secara khusus. Yaitu dirutinkan dan diyakini di sana ada keutamaan khusus, ini dilarang oleh beliau ﷺ, padahal berziarah ke makam beliau ini adalah sebaik-baik amalan. Allāhu a’lam di sini maksudnya adalah karena ziarah ini adalah termasuk amal shalih, karena pengertian bahwasanya ziarah ke kuburan beliau ini adalah termasuk amalan yang paling afdhal maka ini perlu dalil yang demikian.
الْخَامِسَةُ: نَهْيُهُ عَنِ الْإِكْثَارِ مِنَ الزِّيَارَةِ
5. Larangan beliau ﷺ untuk memperbanyak berziarah. Maksudnya adalah memperbanyak berziarah ke kuburan beliau. Karena ‘ied maksudnya adalah diulang-ulang, dan ini berarti banyak, dan kita dilarang untuk sering berulang-ulang berziarah ke makam beliau ﷺ. Kalau karena satu sebab, seperti yang dilakukan oleh Abdullah bin Umar, beliau ketika datang dari safar luar Madinah setelah beliau shalat di Masjid Nabawi maka beliau berziarah ke makam Rasulullāh ﷺ dan Abu Bakar dan juga bapak beliau, maka ini tidak masalah. Tapi kalau dirutinkan seminggu sekali, sebulan sekali, setahun sekali, maka ini yang tidak diperbolehkan.
السَّادِسَةُ: حَثُّهُ عَلَى النَّافِلَةِ فِي الْبَيْت
6. Dorongan beliau untuk melakukan berbagai amal shalih di rumah. Ya kalau memang amal shalih tersebut bisa dilakukan di rumah maka kita lakukan di rumah, itu lebih banyak pahalanya dan juga lebih ikhlas.
السَّابِعَةُ: أَنَّهُ مُتَقَرِّرٌ عِنْدَهُمْ أَنَّهُ لَا يُصَلَّى فِي الْمَقْبَرَةِ
7. Sesuatu yang mereka pahami semuanya bahwasanya tidak boleh melakukan shalat di kuburan. Karena Nabi mengatakan jangan kalian jadikan rumah kalian seperti kuburan, karena kuburan tidak dilakukan untuk shalat, tidak dibacakan di dalamnya Al-Qur’an.
الثَّامِنَةُ: تَعْلِيلُهُ ذَلِكَ بِأَنَّ صَلَاةَ الرَّجُلِ وَسَلَامَهُ عَلَيْهِ يَبْلُغُهُ وَإِنْ بَعُدَ، فَلَا حَاجَةَ إِلَى مَا يَتَوَهَّمُهُ مَنْ أَرَادَ الْقُرْبَ
8. Penyebutan sebab kenapa kita tidak boleh sering berziarah ke makam Nabi ﷺ. Karena shalawat yang diucapkan oleh seseorang dan juga salam yang diucapkan oleh seseorang untuk Nabi itu akan sampai kepada beliau meskipun jauh jarak kita. Sehingga tidak perlu seperti yang disangka oleh sebagian, harus mendekat ketika mengucapkan shalawat dan salam untuk Nabi ﷺ, harus berziarah ke kuburan beliau. Di manapun kita mengucapkan shalawat dan salam bisa dan akan sampai kepada Nabi ﷺ meskipun kita tidak berziarah ke makam beliau. Apalagi beliau melarang untuk kita sering berziarah ke makam beliau.
التَّاسِعَةُ: كَوْنُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْبَرْزَخِ تُعْرَضُ عَلَيْهِ أَعْمَالُ أُمَّتِهِ فِي الصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ
9. Bahwasanya Nabi ﷺ di alam barzakh dinampakkan beliau amalan umatnya yang berupa shalawat dan juga salam. Ini dinampakkan. Shalawat yang dilakukan oleh si fulan dan salam yang dilakukan oleh si fulan dinampakkan kepada Nabi ﷺ dan beliau menjawab salam. Dan ini semua menunjukkan bahwasanya mereka para nabi di dalam keadaan hidup di dalam kuburan mereka dengan kehidupan yang lebih sempurna, tidak sama dengan kehidupan kita, tapi bukan berarti mereka mendengar apa yang kita ucapkan, bukan berarti kita boleh untuk meminta do’a mereka. Karena yang disebutkan dalam hadits adalah shalawat dan salam kita disampaikan kepada beliau, bukan beliau mendengar shalawat dan salam kita, ini beda maknanya.
Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
