Kitab: Kitabut Tauhid
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله
Halaqah yang ke-106 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Kitābut-Tauhīd alladzhī huwa haqqullāhi ʿalal ʿabīd yang ditulis oleh Al-Imām al-Mujaddid Muhammad ibn ʿAbdil Wahhāb ibn Sulaimān At-Tamīmī rahimahullāh.
Sampai kita, terakhir kemarin pada bab yang ke-20 dari kitab ini yaitu tentang masalah larangan keras dan ancaman yang keras bagi orang yang melakukan peribadatan kepada Allāh ﷻ di dekat kuburan orang yang shalih. Lalu bagaimana dengan orang yang menyembah dan melakukan peribadatan kepada orang shalih tersebut? Kalau yang beribadah kepada Allāh ﷻ di samping kuburan orang shalih saja ancamannya keras, lalu bagaimana dengan orang yang melakukan kesyirikan dan dia menyembah, melakukan peribadatan kepada orang shalih tersebut?
Masih berkaitan dengan bab tersebut beliau rahimahullāh mendatangkan bab yang ke-21 yang beliau beri judul dengan:
بَابُ مَا جَاءَ أَنَّ الْغُلُوَّ فِي قُبُورِ الصَّالِحِينَ يُصَيِّرُهَا أَوْثَانًا تُعْبَدُ مِنْ دُونِ اللَّهِ
Bab apa-apa yang datang (yaitu dalil-dalil yang datang) yang menunjukkan bahwasanya berlebihan.
Al-ghuluw artinya adalah mujawazatul hadd yaitu melebihi batasnya. Kalau pas sesuai dengan kadarnya maka tidak dinamakan dengan ghuluw, tapi kalau sudah berlebihan maka ini dinamakan dengan ghuluw. Apa-apa yang datang bahwasanya ghuluw berlebihan terhadap kuburan orang yang shalih, kuburan yaitu tempat dimakamkannya orang shalih tersebut. Dan yang dimaksud dengan orang yang shalih adalah orang yang shalih di mata Allāh ﷻ yaitu di dalam agama ini, orang yang istiqamah dan berpegang dengan agama Islam yang benar, orang yang bertauhid mengikuti sunnah Nabi ﷺ, dan menjauhi larangan Allāh ﷻ dan juga rasul-Nya. Maka inilah orang yang shalih.
Bahwasanya ghuluw berlebihan terhadap kuburan orang yang shalih. Apa yang dimaksud dengan berlebihan terhadap kuburan orang shalih? Yaitu melakukan perkara-perkara yang tidak semestinya, sudah melampaui batas, membedakan antara kuburan orang yang shalih dengan kuburan yang lain. Nah ini sudah dinamakan dengan berlebihan. Seharusnya enggak ada bedanya dan tidak perlu dibedakan antara kuburan orang yang shalih dengan kuburan yang lain. Dan inilah petunjuk Nabi ﷺ. Beliau ﷺ di antara petunjuk Beliau ﷺ adalah menyamakan di antara kuburan, tidak dibedakan antara kuburan seorang pemimpin dengan yang dipimpin, antara orang yang shalih dengan orang yang fasik.
Sehingga datang dalam dalil-dalil yang shahih, Beliau ﷺ melarang untuk menulis di atas kuburan. Menulis di sini bermacam-macam, ada menulis nama, disebutkan telah meninggal dunia fulan bin fulan, atau menulis tanggal wafat, atau bahkan seandainya seorang menulis nomor, ini juga tidak diperbolehkan karena keumuman hadits. Seandainya di kuburan tersebut dikasih nomor, ini adalah nomor 1, nomor 2, nomor 3 dan diketahui kalau nomor 2 ini fulan, kalau nomor 1 ini fulan, ini pun tidak boleh karena masuk di dalam larangan tadi. Petunjuk Nabi ﷺ disamakan, enggak usah dibuat tulisan di atasnya. Dan Beliau ﷺ juga melarang untuk membangun di atas kuburan. Dan sudah berlalu tentang masalah membangun di atas kuburan ini, baik bangunan yang kecil berupa nisan misalnya atau bangunan yang lebih besar daripada itu, memiliki atap, memiliki tembok, ini dilarang oleh Rasulullāh ﷺ secara umum. Baik itu kuburan seorang tokoh atau yang lain, baik seorang alim ataupun yang lain, dilarang oleh Nabi ﷺ untuk dibangun di atasnya bangunan. Demikian pula dilarang untuk dihias atau dikapur, yang jelas petunjuk Nabi ﷺ adalah disamakan.
Di dalam sebuah hadits, dan ini di dalam Shahih Bukhari, disebutkan ada seorang yang beliau adalah Sufyan at-Tammar pernah melihat kuburan Nabi ﷺ. Beliau mengatakan:
رَأَيْتُ قَبْرَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُسَنَّمًا
Aku melihat kuburan Nabi ﷺ itu adalah musannam (yaitu seperti punuk unta).
Sehingga sebagian ada yang mengutamakan kuburan itu dibuat seperti gunung kecil, musannaman seperti punuk unta, dan punuk unta itu bukan sesuatu yang tinggi. Sehingga petunjuk Nabi ﷺ itu kalau mau meninggikan tanah di atas kuburan itu sebatas satu punuk unta sekitar satu jengkal, cukup satu jengkal enggak usah berlebihan. Nah ini di dalam kuburan-kuburan yang lain juga demikian, kita samakan. Itu kuburan Nabi ﷺ, demikian pula kuburan Abu Bakar dan Umar dan juga para sahabat radhiyallāhu ta’ālā ‘anhum di Baqi’, tidak ada yang dibedakan satu dengan yang lain, padahal mereka adalah sebaik-baik generasi di dalam umat Islam ini. Petunjuk sahabat radhiyallāhu ta’ālā ‘anhum, dan ini adalah petunjuk Nabi ﷺ, adalah disamakan antara satu kuburan dengan kuburan yang lain.
Nah kalau sudah ghuluw berlebihan, seperti misalnya menjadikan kuburan tadi sebagai tempat ibadah, ini termasuk ghuluw. Atau menjadikan kuburan tadi untuk beri’tikaf berhari-hari membaca Al-Qur’an di situ, melakukan shalat di situ, berdo’a di situ, meyakini bahwasanya melakukan ibadah di situ lebih diterima atau lebih berbarakah lebih khusyu’, ini juga termasuk berlebihan. Melakukan shalat di sana juga termasuk berlebihan. Ada sebagian orang berada di sekitar kuburan dan dia membacakan tentang karamah yang dimiliki oleh yang dikubur di situ. Nah ini semuanya adalah bentuk ghuluw terhadap kuburan. Yang bisa kita lakukan, dan ini adalah yang sesuai dengan sunnah seperti tadi, dari sisi fisiknya cukup kita tinggikan tanah yang ada di atas kuburan setinggi satu jengkal.
Kemudian kalau kita ingin berziarah kubur tafadhal, silakan, sesuai dengan sunnah Nabi ﷺ karena memang Beliau ﷺ menyuruh kita untuk berziarah kubur.
زُورُوا الْقُبُورَ فَإِنَّهَا تُذَكِّرُكُمُ الْآخِرَةَ
Hendaklah kalian berziarah kubur, karena ziarah kubur itu mengingatkan kalian kepada kematian.
Silakan berziarah kubur. Bagaimana caranya? Kita datang, kemudian kalau kita sudah melihat kuburan maka kita mengucapkan salam:
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ لَلَاحِقُونَ، أَسْأَلُ اللَّهَ لَنَا وَلَكُمُ الْعَافِيَةَ
Itu yang diajarkan oleh Nabi ﷺ.
Kalau kita ingin berdo’a dengan do’a yang lain, mendo’akan mereka dengan kebaikan, silakan. Meskipun yang afdhal adalah membaca do’a yang diajarkan oleh Nabi ﷺ tadi. Kalau kita tidak hafal yang datang dari Nabi ﷺ, maka bisa dengan do’a kebaikan yang lain secara umum, bahkan dengan bahasa kita juga boleh. Mengatakan, “Ya Allāh ﷻ ampunilah dosa orang-orang Islam yang ada di sini,” enggak masalah. Jadi maksud dari ziarah kubur di antaranya adalah untuk mendo’akan kebaikan. Maksud yang kedua adalah untuk mengingatkan diri kita dengan kematian, hendaklah kalian berziarah kubur karena ziarah kubur itu mengingatkan kalian kepada kematian.
Sehingga inilah yang sunnah dan ini sangat sederhana sekali dan sangat mudah sekali. Adapun seseorang berlebihan, kemudian berdiam diri di kuburan tadi dan melakukan berbagai macam ibadah di kuburan tadi, meyakini keberkahannya, meyakini bahwasanya do’a di situ adalah mustajab maka ini termasuk ghuluw. Nah ghuluw terhadap kuburan orang-orang shalih:
يُصَيِّرُهَا أَوْثَانًا تُعْبَدُ مِنْ دُونِ اللَّهِ
Ini bisa menjadikan kuburan-kuburan orang shalih tadi itu menjadi autsan.
Autsan ini adalah segala sesuatu yang disembah selain Allāh ﷻ.
تُعْبَدُ مِنْ دُونِ اللَّهِ
Yang disembah selain Allāh ﷻ.
Itu dinamakan dengan autsan jamak dari watsan. Tentunya ini adalah kesyirikan yang sudah berlalu tentang bagaimana bahayanya. Kalau ghuluw terhadap orang-orang shalih ini bisa menjerumuskan kita kepada kesyirikan, maka tentunya kita harus hati-hati dan waspada. Jangan sampai kita terjerumus ke dalam ghuluw terhadap orang-orang yang shalih. Pertama mungkin dia ibadahnya kepada Allāh ﷻ, tapi ketika mulai ada di sana ghuluw, syaithan akan datang dan membisiki dan menyesatkan manusia sampai akhirnya dia menjadikan kuburan orang-orang shalih tadi sebagai sesuatu yang disembah selain Allāh ﷻ. Dan itu sudah terjadi di berbagai daerah, bahkan di berbagai negara banyak kuburan-kuburan orang shalih atau dianggap itu adalah kuburan orang shalih yang sebelumnya manusia ghuluw terhadap kuburan tadi kemudian akhirnya disembah selain Allāh ﷻ. Jadi ini bukan hanya sekedar membuat bab begitu saja, itu sudah terjadi, baik di zaman penulis maupun sebelumnya. Nah ini menunjukkan keharusan kita untuk waspada.
Maka beliau membawakan bab ini tujuannya adalah supaya kita jangan sampai melakukan ghuluw berlebihan terhadap kuburan orang yang shalih. Kita perlakukan kuburan orang shalih sebagaimana yang lain. Siapa di antara umat ini yang paling shalih setelah Nabinya ﷺ? Tentunya adalah para sahabat. Dan kuburan para sahabat radhiyallāhu ta’ālā ‘anhum yang ada di Baqi’, tidak ada di sana pembedaan antara kuburan mereka dengan orang-orang yang datang setelah mereka.
Cinta kepada orang-orang shalih bukan dengan cara seperti itu. Cinta kepada orang-orang shalih caranya adalah dengan mengikuti mereka di dalam kebaikan, mendo’akan mereka, bukan justru malah ghuluw terhadap mereka. Mengikuti mereka dalam kebaikan, mendo’akan mereka dengan kebaikan, kita membela kehormatan mereka ketika mereka dicela, maka ini adalah cara-cara yang benar dalam mencintai orang-orang yang shalih dan juga para ulama kita, bukan justru berlebihan terhadap kuburan-kuburan mereka. Seandainya mereka tahu apa yang dilakukan oleh sebagian orang terhadap kuburan mereka niscaya mereka akan tidak terima dan marah dengan perbuatan itu. Sebagaimana Nabi ﷺ, Beliau tidak terima ketika ada orang yang berlebihan kepada Beliau dan mengatakan, “Masya Allāh wa syi’ta (dengan kehendak Allāh ﷻ dan dengan kehendakmu)”. Beliau tidak terima disamakan kehendaknya dengan kehendak Allāh ﷻ. Kehendak Allāh ﷻ lebih tinggi daripada kehendak manusia.
وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ
Dan tidaklah kalian menghendaki kecuali apabila Allāh ﷻ menghendaki.
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
