Halaqah 103 | Pembahasan Hadits ‘Aisyah Bag 2

Kitab: Kitabut Tauhid
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-103 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Kitābut-Tauhīd alladzhī huwa haqqullāhi ʿalal ʿabīd yang ditulis oleh Al-Imām al-Mujaddid Muhammad ibn ʿAbdil Wahhāb ibn Sulaimān At-Tamīmī rahimahullāh.

Beliau mengatakan:

وَلَهُمَا عَنْهَا

Dan di dalam Shahih Bukhari dan Muslim, dari ‘Aisyah juga, qālat (beliau mengatakan):

لَمَّا نُزِلَ بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Ketika turun kepada Nabi ﷺ (maksudnya adalah mendekat kepada kematian, menjelang kematian beliau).

طَفِقَ يَطْرَحُ خَمِيصَةً لَهُ عَلَى وَجْهِهِ

Beliau dalam keadaan sakit, dalam keadaan demam, kemudian beliau meletakkan sebuah kain di atas wajah beliau. (Wallāhu a‘lam mungkin maksudnya adalah untuk mengompres ya kalau di zaman kita ya).

فَإِذَا اغْتَمَّ بِهَا كَشَفَهَا

Ini karena sangat panasnya demam beliau, dan memang disebutkan dalam hadits demam beliau tidak sama dengan demam kita, demam biasa, demam beliau adalah demam yang sangat panas. Kalau beliau merasa agak sumpek atau sesak maka beliau melepaskan dan menyingkap kain tadi. Ini menunjukkan bagaimana keadaan beliau saat itu.

فَقَالَ، وَهُوَ كَذَلِكَ

Maka beliau berkata, sedangkan beliau dalam keadaan seperti itu.

‘Aisyah ingin menceritakan kepada kita, dalam keadaan yang sangat susah, dalam keadaan yang sangat demam. Biasanya orang sudah tidak mempedulikan yang lain, yang dia pikirkan bagaimana dia bisa segera terlepas dari demam tadi. Tapi ternyata subhānallāh, wahuwa kadzālik, Nabi ﷺ dalam keadaan seperti itu masih sempat mengucapkan kata-kata yang isinya adalah peringatan untuk umat ini. Beliau pikirkan umatnya. Beliau sudah berdakwah selama 23 tahun kurang lebih, mengajak manusia siang dan malam kepada tauhid, maka beliau tidak ingin terjadi setelah itu penyimpangan. Beliau keluarkan apa yang beliau mampu berupa nasihat supaya kita waspada dari penyimpangan-penyimpangan tersebut. Lihat, kita perhatikan apa yang beliau ucapkan saat itu. Dan tentunya ini di keadaan seperti itu dan beliau memaksa dirinya untuk berkata, menunjukkan bahwasanya apa yang beliau sampaikan ini adalah perkara yang sangat penting.

لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى

Laknat Allāh ﷻ kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani.

Laknat artinya adalah dijauhkan dari rahmat Allāh ﷻ. Maksud beliau di sini adalah doa yang jelek untuk orang-orang Yahudi dan Nasrani yang mereka nanti akan disebutkan sebabnya.

Semoga laknat Allāh ﷻ untuk orang-orang Yahudi dan Nasrani.

Yang diutus kepada mereka rasul, diturunkan kepada mereka kitab. Kenapa Nabi ﷺ sampai berdoa dengan doa yang sangat dahsyat tadi? Laknat ini bukan doa biasa ini, dijauhkan dari rahmat Allāh ﷻ. Ini termasuk tasydīd, ini termasuk taghlīzh, ancaman yang keras. Kalau yang pertama orang yang paling jelek di dunia, yang sekarang ternyata mendapatkan laknat, didoakan laknat oleh Nabi ﷺ. Apa sebabnya?

اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ

Ini yang mereka lakukan. Mereka menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid.

Diutus kepada mereka nabi yang banyak. Bani Israil dipimpin oleh para nabi. Kalau sudah mati nabi yang pertama, maka akan digantikan nabi yang lain, tapi yang memimpin adalah para anbiyā’. Nah, kalau dia meninggal dunia—karena nabi juga manusia—kalau mereka meninggal dunia, atau salah seorang di antara nabi tersebut meninggal dunia, mereka membangun di atas kuburan nabi tadi masjidan. Yang dimaksud dengan masjid artinya adalah tempat bersujud atau tempat beribadah. Sekarang dinamakan dengan, kalau tempat ibadah mereka ya gereja. Tapi dalam bahasa Arab namanya adalah masjid yaitu tempat bersujud, tempat beribadah. Sehingga mereka berhak untuk mendapatkan laknat ini. Karena dari sinilah awal kerusakan. Ketika mereka membangun di atas kuburan seorang nabi tempat ibadah, kemudian mereka beribadah di situ, lama-kelamaan yang awalnya inginkan untuk menambah semangat, lama-kelamaan dia akan beribadah kepada orang yang dikuburkan. Beribadah kepada nabi tadi.

Kenapa Nabi ﷺ mengucapkan ucapan ini? ‘Aisyah beliau mengatakan:

يُحَذِّرُ مَا صَنَعُوا

Beliau memperingatkan kita terhadap apa yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani.

Mengingatkan kita. Karena Beliau ﷺ sekarang sudah dalam keadaan sakit yang parah dan kemungkinan akan meninggal dunia, Beliau khawatir nanti apa yang dilakukan oleh umat Beliau ﷺ terhadap jasad Beliau ini. Apa yang dilakukan umat terhadap Beliau ﷺ. Beliau ﷺ tidak ingin umat ini melakukan seperti yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani, yang mereka menjadikan kuburan nabi mereka sebagai tempat ibadah. Makanya Beliau ﷺ sampaikan la‘natullāhi ‘alal-yahūdi wan-nashārā, laknat Allāh ﷻ atas orang-orang Yahudi dan Nasrani, yang mereka melakukan hal ini.

Sehingga tujuan Beliau ﷺ adalah tahdzīr, untuk mengingatkan kita. Maka jangan sampai kita melanggar peringatan Nabi ﷺ. Kalau yang menjadikan kuburan nabi saja sebagai masjid terkena laknat, lalu bagaimana dengan orang yang menjadikan selain nabi, yang tentunya derajatnya lebih rendah daripada itu. Ya, seorang wali atau seorang shalih, kuburannya dijadikan tempat ibadah, maka ini perkaranya lebih parah lagi.

وَلَوْلَا ذَلِكَ لَأُبْرِزَ قَبْرُهُ

Kalau bukan karena (peringatan Nabi ﷺ) ini, niscaya akan ditampakkan kuburan Beliau ﷺ.

Sehingga semua orang bisa melihatnya, sehingga semua orang bisa mendekat ke kuburan Nabi ﷺ. Kalau bukan karena takut terhadap tahdzīr-an Nabi ﷺ dan peringatan Nabi ﷺ, niscaya akan dibuka kuburan Nabi ﷺ sehingga bisa dilihat oleh manusia dan bisa mendekat ke kuburan Nabi ﷺ.

غَيْرَ أَنَّهُ خُشِيَ أَنْ يُتَّخَذَ مَسْجِدًا

Tapi karena dikhawatirkan akan dijadikan sebagai masjid (tempat ibadah di situ), akhirnya dibiarkan dia tertutup.

Tidak dilihat oleh manusia dan mereka tidak bisa mendekat ke kuburan Rasulullāh ﷺ. Karena dikhawatirkan kalau sampai terbuka, orang melihat, kemudian akhirnya mendekat ke kuburan Nabi ﷺ, mungkin dia shalat di samping kuburan Rasulullāh ﷺ menghadap kiblat, untuk Allāh ‘Azza wa Jalla, cuma dia sengaja di samping kuburan Nabi ﷺ, atau mungkin pas menghadap kuburan Nabi ﷺ, menjadikan kuburan Nabi ﷺ di arah kiblatnya kemudian dia shalat di sebelahnya dengan menghadap kuburan Nabi ﷺ. Kalau misalnya kuburan Nabi ﷺ dibuka, dikhawatirkan banyak orang yang melakukan demikian.

Sehingga sengaja dibiarkan dalam keadaan tertutup di kamar ‘Aisyah radhiyallāhu ta‘ālā ‘anhā. Dan sampai sekarang bihamdillāh dalam keadaan tertutup dan tidak ada orang yang bisa mendekat dan masuk ke dalam kuburan Rasulullāh ﷺ.

Ini semua menunjukkan tentang haramnya perkara ini. Nabi ﷺ sendiri yang melarang. Kalau itu dilarang terhadap seorang nabi, lalu bagaimana dengan seorang wali atau seorang yang shalih, tentunya perkaranya lebih dilarang lagi. Jangan kita membuat masjid atau tempat ibadah di atas kuburan seorang yang shalih.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

image_print

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top