
Kitab: Riyadhus Shalihin
Penulis: Imam An-Nawawi ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ
Sumber: https://youtu.be/qwyT2z3RZXw?si=myCBIPjuebG528US
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين وصلى الله و سلم و بارك على عبده و رسوله نبينا محمد و على اله و صحبه أجمعين ،
أما بعد
Ikhwah sekalian dan akhwat, anggota grup WhatsApp Dirosah Islamiyah hafizhana wa hafizhakumullāh.
In sya Allāh kita akan memulai mengkaji mutiara sabda Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam dari kitab Riyadhus Shalihin.
Dan ana ucapkan selamat berkenalan, akrab dengan peninggalan Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam. Ini merupakan sebuah kehormatan untuk seorang muslim, cinta Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam melalui sabdanya.
Dan kita tahu bahwasannya dulu para sahabat ketika ingin mengenang, ketika mereka rindu dengan Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam mereka mengingat dan mengamalkan sunnahnya bahkan ini berlanjut kepada orang-orang setelah mereka.
Abdullah Ibnul Mubarak rahimahullāhu, beliau meninggal tahun 181 Hijriyah. Beliau membaca hadits, menikmati sekali di dalam rumah sampai tidak atau jarang bergaul dengan tetangganya.
Mereka mengatakan,
ألا تستوحش ؟
Kamu tidak bosan? Kamu tidak merasa khawatir dan tertekan membaca hadits terus?
Beliau mengatakan,
كيف أستوحش وأنا مع النبي صلى الله عليه وسلم و الصحابة
Bagaimana aku akan merasa bosan? Sementara aku seolah hidup bersama Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat.
Ini merupakan salah satu contoh orang yang sampai menikmati, ketagihan untuk selalu akrab dengan Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam dan para ulama menjadikan orang yang suka atau cinta terhadap hadits merupakan salah satu cinta terhadap sunnah. Ini disampaikan oleh salah seorang guru dari Imam Bukhari, guru dari Imam Muslim, guru dari para imam hadits juga. Namanya Qutaibah ibn Sa’id rahimahullāhu. Beliau mengatakan,
إذا رأيت الرجل يحب أهل الحديث مثل أحمد بن حنبل ويحي بن سعيد القطان وعبد الرحمن بن مهدي وإسحاق بن راهويه وذكر أقواماً غيرهم فإنه على السنة
Apabila engkau melihat ada orang yang cinta kepada ahli hadits seperti Imam Ahmad, Ishaq ibnu Rahuyah, Yahya ibnu Sa’id Al-Qaththan, Abdurrahman bin Mahdi dan juga para ulama-ulama ahli hadits lainnya. Ketahui dia adalah sunnah, dia berada dalam garis ajaran Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam.
ومن خالف هذا فاعلم انه مبتدع
Kalau ada orang yang tidak suka, dia bahkan benci kepada ahlul hadits, maka ketahui dia melakukan kebid’ahan. Karena memang ahlussunnah cinta sunnah, pengikut Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam cinta kepada sabda Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam.
Maka betul dulu para ulama mengatakan kalau orang memiliki kebiasaan yang tidak sama dengan sunnah maka dia akan sedikit demi sedikit benci kepada Sunnah dan ini disampaikan oleh salah seorang ulama seperti Ahmad, Ibnu Sinan Al Qathar rahimahullāh beliau wafat tahun 256 Hijriyah.
Beliau mengatakan,
ليس في الدنيا مبتدع إلا وهو يبغض أهل الحديث
Tidak ada di dunia ini seorang melakukan kebid’ahan, suatu yang tidak sama dengan sunnah kecuali dia nanti akan terarah untuk membenci ahlul hadits,
فإذا ابتدع الرجل بدعة نزعت حلاوة الحديث من قلبه
Kalau ada orang melakukan sesuatu yang menyimpang dari ajaran Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam maka kelezatan belajar hadits itu akan hilang dari hatinya.
Maka ketika kita membaca hadits, kita berharap bahwa kecintaan terhadap sabda Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam ini akan tumbuh subur. Sehingga kita menjadi orang yang akrab, kita akan menjadi orang terhormat dengan sabda beliau shallallāhu ‘alaihi wa sallam.
Dulu sahabat Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallāhu ‘anhu apabila melihat beberapa anak muda mereka mau belajar hadits, bahagia sekali. Beliau sampai mengatakan,
مرحبا بوصية صلى الله عليه وسلم
Selamat datang, kalian adalah orang-orang yang dipesan, kalian diwasiati oleh Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam.
أوصانا رسول الله صلى الله عليه وسلم أن نوسع لكم في المجلس، وأن نفهمكم الحديث
Kami diperintah oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam, dipesenin beneran, kalau melihat kalian maka kita perlu menyisihkan atau meluaskan, melapangkan tempat untuk kalian agar kami bisa memahamkan kepada kalian hadits.
انتم خلوفنا واهل الحديث بعدنا
Kalian adalah penerus kami dan kalianlah yang akan membawa, menjunjung dan memperjuangkan hadits ini setelah kami tidak ada.
Ini kehormatan kalau mereka para sahabat sudah berlalu kemudian diteruskan para tabi’in, kemudian para tabi’ut tabi’in, diteruskan para aimmatul Islam (imam-imam kaum muslimin). Lalu kita berada di garis ini, di jalur ini kita belajar. Maka ini merupakan kehormatan untuk kita.
Maka ini kesempatan untuk menyisakan waktu berpegang dan memilih pelajaran. Kalau seandainya kita tidak bisa seperti Imam Bukhari, seperti Abdullah ibnul Mubarak, seperti Imam Ahmad Ibnu Hambal paling tidak kita mencontoh mereka. Kita membaca, kita memahami. Kalau bisa kita akan terapkan dalam tutur kata para ulama yang banyak. Mereka mengatakan,
ما مرّ علي حديث إلا عملت به ولو مرة
Ini seperti Imam Ahmad beliau mengatakan, tidaklah aku mempelajari suatu hadits kecuali aku akan usahakan untuk beramal atau aku praktekkan meskipun sekali. Sampai beliau pernah membaca hadits tentang bekam, langsung beliau berbekam, langsung beliau kasih uang orang yang membekam itu.
Kita mungkin tidak bisa banyak berbuat, tetapi mempelajari hadits, mengenal paling tidak kita tahu bahwa di sini ada sebuah sabda Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam.
In sya Allāh, kalau seandainya 1 hari kita membaca 1 hadits kemudian umur kita ini sudah banyak lewat tapi kita ingin memanfaatkan sisanya. Andai 1 orang memiliki 1 tahun, kemudian dalam 1 bulan dia memiliki kesempatan membaca 1 hadits 1 hadits, maka 30 hadits sudah lewat. Satu tahun berarti ada 120-an hadits atau lebih maka bukan 120 akan tetapi lebih dari itu dia akan menghafalkan sampai 360 hadits. Kalau seandainya bukan menghafalkan, tetapi membaca, memahami. Semoga kita termasuk orang yang berkesempatan untuk itu.
Ikhwah, para pengurus dan juga yang sempat bertukar pengalaman mempelajari hadits. Semoga kita mendapat pahala semuanya. Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam dalam sunan Ibnu Majah dari hadits Anas bin Malik radhiyallāhu ‘anhu, Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam menyatakan,
إِنَّ مِنَ النَّاسِ مَفَاتِيحَ لِلْخَيْرِ، مَغَالِيقَ لِلشَّرِّ، وَإِنَّ مِنَ النَّاسِ مَفَاتِيحَ لِلشَّرِّ مَغَالِيقَ لِلْخَيْرِ
Sebagian orang menjadi pintu-pintu kebaikan tetapi menutup semua kejelekan, sebaliknya ada orang yang menjadi pintu-pintu kejelekan bahkan menghalangi kebaikan.
فَطُوبَى لِمَنْ جَعَلَ اللَّهُ مَفَاتِيحَ الْخَيْرِ عَلَى يَدَيْهِ
Maka beruntunglah orang yang Allāh jadikan dia sebagai pembuka dan kunci kebaikan.
وَوَيْلٌ لِمَنْ جَعَلَ اللَّهُ مَفَاتِيحَ الشَّرِّ عَلَى يَدَيْه
Dan celaka lah orang yang Allāh takdirkan dia sebagai penutup pintu kebaikan dan pembuka pintu keburukan. (HR Ibnu Majah no. 237, Ibnu Abi ‘Ashim dalam As-Sunnah no. 297, Ath-Thayalisi dalam Al-Musnad no. 2082 dan Al-Baihaqi Syu’abul Iman no. 298. Dinilai hasan oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 1332).
Semoga orang yang menasehatkan, yang menyebarkan, yang mengajak untuk belajar bersama atau yang merumuskan pelajaran hadits mendapat pahala di sisi Allāh sebagai penunjuk kebaikan,
من دَلَّ على خيرٍ فله أجرُ فاعلِه
Orang yang menunjukkan kebaikan dia akan mendapatkan pahala orang yang juga melakukan kebaikan tersebut.
(HR Muslim)
Kita berharap bisa bekerja sama, bisa disiplin, bisa sabar dalam belajar, mengkaji, mengevaluasi. Tidak ada orang yang belajar kemudian sukses kalau tidak mengulang, kalau tidak mengevaluasi, kalau tidak lagi dia sabar untuk menekuni, membaca pahala in sya Allāh.
Terlebih kita pernah mendengar perkataan Sufyan Ats Tsauri rahimahullāh,
إن لم يكن لِأهل الحديث فائدة إلا أنه يصلي على النبي صلى الله عليه وسلم فإنه لم يزل يصلي عليه ما دام في الكتاب
Kalau seandainya ahlul hadits tidak memiliki keistimewaan kecuali banyak bershalawat kepada Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam, itu cukup menjadi sebuah keistimewaan. Dia akan selalu bershalawat selama hadits yang di kitabnya akan dia baca.
Wallāhu a’lam.
Semoga kita menjadi orang-orang yang beruntung dengan belajar hadits ini.
وصلى الله وسلم وبارك على عبده ورسوله نبينا محمد و آله وصحبه أجمعين، و الحمد لله رب العالمين
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمدلله رب العالمين، وصلى الله وسلم وبارك على عبده ورسوله نبينا محمد وعلى آله وأصحابه أجمعين، يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون، يا أيها الناس اتقوا ربكم الذي خلقكم من نفس واحدة وخلق منها زوجها وبث منهما رجالا كثيرا ونساء واتقوا الله الذي تساءلون به والأرحام إن الله كان عليكم رقيبا. ياأيها الذين آمنوا اتقوا الله وقولوا قولا سديدا يصلح لكم أعمالكم ويغفر لكم ذنوبكم ومن يطع الله ورسوله فقد فاز فوزا عظيما، اما بعد
Anggota grup WhatsApp Dirosah Islamiyah yang semoga senantiasa dirahmati oleh Allāh subhānahu wa ta’ālā.
Adalah merupakan kebahagiaan ketika kita bisa erat dan dekat dengan ilmu dan itu menjadi tanda kebaikan yang Allah harapkan kepada kita. Sebagaimana dalam hadits yang shahih, Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam menyatakan,
مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan (kepada seseorang) maka Allah akan pahamkan dia terhadap agamanya.”
Maka kata Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah, berarti ketika ada orang yang tidak tertarik untuk belajar ilmu-ilmu agama berarti dia terhalang dari berbagai kebaikan.
Maka ini merupakan kenikmatan dari Allah seseorang mendapat petunjuk untuk tertarik belajar agama sehingga ibadahnya semakin benar sesuai dengan yang Allah harapkan, terlebih ketika kita bisa mengkhususkan waktu belajar tentang wasiat-wasiat Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam. Ini juga merupakan sebuah kenikmatan, bagaimana seorang mempelajari perkataan yang disampaikan oleh orang yang kita cintai, Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam.
Maka pernah salah seorang ulama, ahli hadits yang bernama Abdullah ibnu Mubarak rahimahullah, beliau ini disebutkan oleh para ulama sering duduk di rumahnya untuk menelaah, mempelajari hadits Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam.
Maka sebagian orang mengatakan,
أَلَا تَسْتَوْحِشُ؟
Antum tidak khawatir, tidak takut, tidak bosan dengan kebiasaan Anda duduk di rumah sendirian, hanya membaca seperti itu?
Beliau mengatakan,
وَكَيْفَ أَسْتَوْحِشُ وَأَنَا مَعَ النَّبِيِّ ﷺ وَأَصْحَابِهِ؟
“Bagaimana aku akan merasa terasing, bosan sementara aku sedang hidup bersama Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam dan para sahabatnya.”
Beliau betul-betul menikmati pelajaran bersama hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam dan salah satu nasihat yang disampaikan seorang ahli hadits pula yaitu Waqi’ ibnu Jarrah Al-Ru’asi rahimahullah beliau mengatakan,
مَنْ طَلَبَ الْحَدِيثَ كَمَا جَاءَ فَهُوَ صَاحِبُ سُنَّةٍ
“Barangsiapa yang ingin mempelajari sebuah hadits sebagaimana dia datang dari awalnya, maka dia adalah seorang Ahlus Sunnah.”
Maka orang bertakwa, orang yang mengikuti ajaran Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam, orang yang mencintai Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam adalah orang yang erat dengan hadits-hadits beliau, orang yang tertarik untuk mendalami, menerima, berusaha mengamalkan titah dan anjuran Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam.
Dan ini menjadi ciri menjadi simbol dan perilaku yang betul-betul tercermin pada seorang yang sedang belajar ilmu hadits.
Salah ulama yang bernama Abu ‘Ashim An-Nabil beliau mengatakan,
مَنْ طَلَبَ هَذَا الْحَدِيثَ فَقَدْ طَلَبَ أَعْلَى أُمُورِ الدِّينِ
“Barangsiapa yang mempelajari peninggalan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam, nasihat-nasihat beliau berarti dia telah mempelajari sebuah pembahasan yang paling tinggi di dalam agama.
فَيَجِبُ أَنْ يَكُونَ خَيْرَ النَّاسِ
Maka sudah sepantasnya dia menjadi orang yang paling baik.”
Maka ikhwah sekalian, kaum Muslimin rahimana wa rahimakumullah.
Semoga kita menjadi orang-orang yang dikumpulkan bersama orang yang kita cintai, ketika kita berusaha mendalami, mempelajari hadits yang disampaikan oleh orang yang paling kita cintai yaitu Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala dapat memberikan kepada kita petunjuk, bimbingan dan kemudahan untuk mempelajari hadits-hadits tersebut, sehingga kita semakin dekat dengan sunnah dan ajaran Nabi-Nya.
Wallahu Ta’ala ‘A’lam.
وصلى الله وسلم وبارك على عبده ورسوله نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين، و الحمد لله رب العالمين
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين، والعاقبة للمتقين، ولا عدوان إلا على الظالمين، وأشهد أن لا إله إلا الله إله الأولين والآخرين وأشهد أن محمدا عبده ورسوله سيد الأنبياء والمرسلين وعلى آله وصحابته والتابع ومن تبعهم بأحسن الى يوم الدين، اما بعد
Anggota grup Whatsapp Dirosah Islamiyah rahimana wa rahimakumullah.
Insyaallah kita akan mempelajari hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam yang dirangkai dalam kitab Riyadush Shalihin yang ditulis oleh Imam An-Nawawi rahimahullahu ta’ala seorang ulama ahli hadits, seorang ulama ahli bahasa, seorang ulama ahli fiqih yang menjadi teladan bagi banyak kaum muslimin.
Bahkan sebagian ulama mengatakan hampir kaum muslimin secara mayoritas tidak bisa lepas dari karya-karya dan tulisan beliau. Ketika beliau banyak menyusun buku hadits tentang keistimewaan perbekalan menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Di antara karya yang luar biasa adalah Kitab Riyadush Shalihin, buku yang beliau tulis untuk menjadi bekal orang yang ingin melakukan perjalanan panjang menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Beliau adalah seorang ulama yang dilahirkan di kota Damaskus di daerah Nawa’ yang menjadi bagian dari kota Damaskus. Ketika beliau dilahirkan beliau bukan seorang yang dilahirkan di tengah keluarga ulama. Bahkan beliau sempat diminta membantu orang tuanya menjadi penjaga toko atau penjaga warung di pasar.
Beliau yang bernama Yahya ibnu Syaraf An-Nawawi.
Yahya ibnu Syaraf ibnu Murri ibnu Hasan ibnu Husain ibnu Muhammad Al-Hizami rahimahullahu ta’ala.
Beliau dikatakan An-Nawawi karena lahir di daerah Nawa dan para ulama menyebutkan beliau tinggal di sana, kemudian sempat pindah ke daerah Damaskusnya selama 28 tahun, sehingga beliau juga dikatakan Ad-Dimasyqiy.
Mulai beliau belajar pada saat anak-anak kecil di zamannya mengajak beliau untuk bermain akan tetapi beliau tidak mau. Bahkan dalam biografi beliau, beliau sampai menangis karena tidak mau untuk diajak anak-anak sebayanya. Beliau lebih suka untuk membaca Al-Qur’an, sehingga salah seorang yang hidup di zaman itu yang bernama Yasin rahimahullah memperhatikan kebiasaan anak ini, maka beliau membawa Imam An-Nawawi rahimahullah kepada pengajar yang ada di masjid kemudian mengatakan, “Anak ini bisa jadi orang yang paling terpandang nanti pada zamannya.”
هَذَا الصَّنْعُ يُرْجِعَ أَنْ يَكُونَ أَعْلَمَ أَهْلِ زَمَانِهِ وَأَزْهَدَهُمْ
“Anak ini bisa jadi nanti pada saatnya menjadi orang yang paling alim, menjadi orang yang paling zuhud.”
Kemudian Imam Nawawi rahimahullah mulai belajar membaca Al-Qur’an, membaca Al-Qur’an di usia yang masih sangat kecil sehingga beliau mampu mengkhatamkan Al-Qur’an sebelum beliau baligh. Lalu ayahnya pun membawa beliau untuk belajar di kota Damaskus yang pada saat itu menjadi kota perkumpulannya para ulama, sehingga beliau mulai meniti jalan thalabul ‘ilm, mempelajari ilmu-ilmu agama di usia yang masih relatif muda.
Beliau mulai belajar di saat umurnya 19 tahun dan beliau waktu itu sudah hafal Al-Qur’an. Beliau sampai pernah bercerita tentang pengalaman belajarnya dengan mengatakan,
بَقِيتُ نَحْوَ سَنَتَيْنِ لَمْ أَضَعْ جَنْبِيَ بالْأَرْضِ
“Selama dua tahun aku tidak pernah merasakan tidur di atas tempat yang nyaman untuk tidur.”
Beliau mengatakan, “Aku tidak pernah tidur seperti orang yang nyaman di atas tanah.”
واتقوت بجراية المدرسه
“Dan aku hanya makan dari makanan-makanan yang tersedia di tempatku belajar.”
Yaitu roti dan semisalnya.
Beliau mulai meniti belajarnya berusaha menjaga waktunya kemudian menunaikan ibadah haji pada saat usia yang masih relatif muda, 22 tahun beliau sudah menunaikan ibadah haji, dalam rangka (beliau) agar bisa lebih fokus dalam belajarnya, sampai pada saat beliau sudah mulai terlihat kecerdasan, luasnya ilmunya. Maka beberapa orang memberikan gelar beliau muhyiddin orang yang bisa menghidupkan agama, akan tetapi beliau tidak mau. Bahkan beliau pernah marah kepada orang yang memberikan gelar tersebut.
Beliau mengatakan,
لا أَجْعَلُ فِي حِلٍّ مَنْ لَقَّبَنِي مُحْيِي الدِّينِ.
“Aku tidak maafkan orang yang memberikan aku gelar dengan kata-kata mahyiddin.”
Di saat sebagian besar kaum muslimin bangga dengan pujian dari masyarakat, ketika sudah berhasil untuk mempelajari sekian seni ilmu atau barangkali satu bidang ilmu, dia akan bangga dan bahagia sekali ketika ada pujian. Bahkan kalau perlu pujian itu dicari. Gelar-gelar itu itu pun dicari, pakar hadits seorang ahli, peneliti, dan sebagainya.
Ini bertentangan dengan kebiasaan para ulama, mereka tidak mau ketika pujian itu datang untuk disematkan kepada mereka hanya karena mereka belajar, mencari dan mendalami ilmu-ilmu syariat untuk ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Maka Imam Ahmad rahimahullah pernah satu saat beliau dipuji oleh orang, maka beliau mengatakan,
يا فلان ان الرجل إذا عرف نفسه لا ينفعه كلام الناس
“Wahai Fulan, sesungguhnya seseorang apabila kenal tentang kepribadian dirinya, hakikat kekurangan maupun kelebihan dirinya dia tidak akan memperdulikan perkataan manusia.”
Wallāhu ta’ālā a’lam.
وصلى الله وسلم وبارك على عبده ورسوله نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين، و الحمد لله رب العالمين
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين، والعاقبة للمتقين، ولا عدوان إلا على الظالمين، وأشهد أن لا إله إلا الله إله الأولين والآخرين وأشهد أن محمدا عبده ورسوله سيد الأنبياء والمرسلين وعلى آله وصحابته والتابع ومن تبعهم بأحسن الى يوم الدين، اما بعد
Anggota grup Whatsapp Dirosah Islamiyah rahimana wa rahimakumullah.
Insyaallah kita akan mempelajari hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam yang dirangkai dalam kitab Riyadush Shalihin yang ditulis oleh Imam An-Nawawi rahimahullahu ta’ala.
Imam An-Nawawi rahimahullah memiliki gelar Abu Zakaria dan beliau memiliki karya-karya yang banyak, sekalipun umur beliau tidak panjang. Beliau meninggal di usia yang relatif masih dikatakan muda, 40 tahun. Akan tetapi beliau telah meninggalkan banyak karya untuk kaum muslimin. Seperti kita sebutan bahwa hampir kebanyakan kaum muslimin tidak bisa lepas dari karya-karya beliau.
Di antara karya-karya itu kebanyakan beliau tuliskan pada seni ilmu hadits karena beliau memang seorang ahli hadits, banyak yang beliau tuliskan di antaranya adalah Syarah atau penjelasan Shahih Muslim. Kemudian buku yang akan kita bahas insyaaAllah Riyadush Shalihin, berikutnya adalah kitab Al-Arbain An-Nawawi yang kitab ini sangat masyhur di kalangan para penuntut ilmu.
Termasuk beliau juga menuliskan Syarah Shahih Bukhari akan tetapi tidak sempat beliau selesaikan. Sebagaimana juga beliau pernah menulis beberapa catatan tentang penjelasan Sunnan Abi Dawud, akan tetapi (juga) sama buku ini tidak sempat beliau selesaikan.
Kemudian beliau juga banyak memiliki tulisan dalam permasalahan fiqih, Sebagaimana kita ketahui beliau bermadzhabkan Asy-Syafi’i, maka beliau memiliki kitab yang tidak sedikit dalam madzhab ini. Bahkan buku yang beliau tulis menjadi buku rujukan yang sangat penting dalam madzhabnya. Di antaranya adalah Kitab Minhajut Thalibin, kemudian ada kitab Raudhatut Thalibin dan dua-duanya ini merupakan kitab ringkasan dari yang beliau baca dari salah seorang Imam madzhab Syafi’i juga yaitu Imam Ar-Rafi’i rahimahullah.
Beliau baca kemudian beliau ringkas kitab-kitab Imam Ar-Rafi’i dengan diwujudkan pada karya beliau yang kita sebutkan tadi. Termasuk buku yang beliau tulis adalah kitab Al-Majmu’ Syahru Al-Muhadzdzab, ini juga merupakan kitab rujukan dalam madzhab Syafi’i hanya saja beliau tidak sempat menyelesaikan, sehingga buku itu akhirnya diselesaikan oleh orang yang datang setelahnya.
Yang jelas buku beliau dalam masalah madzhab Asy-Syafi’i sangat banyak, sehingga seperti yang kita sebutkan bahwa hampir seluruh kaum muslimin tidak dapat lepas dari jasa beliau dalam menjelaskan buku-buku, menjelaskan syarah-syarah, dan ilmu hadits maupun ilmu fiqih.
Kemudian Ikhwah sekalian.
Beliau ini memiliki sifat yang wara’, zuhud, berhati-hati dalam urusan dunia. Sebagaimana ibadah menjadi kebiasaan yang dilaksanakan oleh banyak kaum muslimin, para ulama terlebih-lebih. Beliau juga demikian berhati-hati sekali, bahkan di antara kebiasaan yang dinukil tentang biografi beliau, beliau tidak pernah makan dengan lauk yang lebih dari satu macam.
Kemudian juga beliau tidak mau makan dari makanan yang diberikan di buah-buahan di daerah Damaskus. Alasannya karena di sana banyak buah-buahan yang diwakafkan untuk orang-orang yang sedang menghadapi masalah akhirnya mendapatkan bantuan maka beliau tidak ingin.
Karena kehati-hatian beliau, beliau tidak ingin mengambil bagian dari wakaf-wakaf yang diberikan kepada orang yang berkepentingan. Dan beliau sangat berhati-hati dengan waktunya, ibadahnya, dan juga termasuk ilmu yang beliau jaga.
Ketika beliau berada dalam proses belajarnya karena sangking semangatnya, dalam satu hari beliau bisa menghadiri sampai dua belas kajian, dua belas materi yang beliau juga baca berbeda-beda. Ada beberapa yang disebutkan oleh para ulama me jelaskan biografi beliau tiga di antaranya adalah ilmu fiqih kemudian beberapa di antaranya adalah bahasa, kemudian beberapa di antaranya beliau sempat membaca Syarah Shahih Muslim dan sebagainya.
Dan semua yang beliau baca ini bukan kajian yang hanya mendengarkan saja akan tetapi beliau berusaha untuk menta’lif atau mencatat semua yang beliau rasa penting. Dan ini disebutkan oleh Ibnu Athar murid beliau. Dikatakan bahwa, “Guru saya dalam satu hari bisa membaca sampai dua belas kitab kepada gurunya”.
Dan Imam An-Nawawi rahimahullah sendiri menceritakan,
وكنت أعلق جميع ما يتعلق فِي ذَلِكَ
“Dan aku berusaha untuk mencatat semua yang berkaitan pelajaran yang sedang aku pelajari tersebut.
من شرح مشكل، وإيضاح عبارة، وضبط لغة
Masalah bahasa aku akan tulis, kalau seandainya ada kata-kata yang tidak jelas, aku akan tulis pula.”
Ini menunjukkan gaya para ulama dalam belajar mereka, sehingga mereka betul-betul bisa meninggalkan bekas dan jasa untuk kaum muslimin.
Wallāhu ta’ālā a’lam.
وصلى الله وسلم وبارك على عبده ورسوله نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين، و الحمد لله رب العالمين
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين، والعاقبة للمتقين، ولا عدوان إلا على الظالمين، وأشهد أن لا إله إلا الله إله الأولين والآخرين وأشهد أن محمدا عبده ورسوله سيد الأنبياء والمرسلين وعلى آله وصحابته والتابع ومن تبعهم بأحسان الى يوم الدين، اما بعد
Anggota grup Whatsapp Dirosah Islamiyah rahimana wa rahimakumullah.
Insyaallah kita akan mempelajari hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam yang dirangkai dalam kitab Riyadush Shalihin yang ditulis oleh Imam An-Nawawi rahimahullahu ta’ala.
Dan kitab yang akan kita pelajari ini merupakan kumpulan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam yang mencakup berbagai pembahasan karena Imam An-Nawawi rahimahullah beliau sengaja menulis kitab ini agar dapat dijadikan bekal untuk orang yang akan melakukan perjalanan akhirat untuk menuju Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Beliau sebutkan pada permulaan ataupun muqaddimah bukunya, beliau katakan bahwa hakikat dan tujuan Allah menciptakan kita adalah untuk beribadah, maka sudah sepantasnya orang yang sadar, orang berakal, orang yang tahu tujuan akhirnya adalah menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala dia berusaha untuk merealisasikan semua yang bisa mendukung ibadahnya.
Dan dia mencukupkan diri dengan sebatas kebutuhan terhadap urusan dunia, zuhud merupakan pilihan yang perlu dijadikan pertimbangan inti pada perjalanan setiap muslim. Beliau mengingatkan firman Allah
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56).
Allah menyatakan, “Tidaklah Allah ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” Maka semua yang kita pelajari tujuannya adalah untuk merealisasikan dan mendukung proses tujuan kita diciptakan.
Kemudian beliau menyitir hadits Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam,
مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
“Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka dia mendapatkan pahala sebagaimana pahala pelakunya.” (HR. Muslim, no.1677)
Dia akan juga kecipratan balasan kebaikan pada orang yang melakukannya.
Kemudian dalam hadits lain Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam juga mengatakan,
فَوَاللَّهِ لأَنْ يُهْدَى بِكَ رَجُلٌ وَاحِدٌ خَيْرٌ لَكَ مِنْ حُمْرِ النَّعَمِ
“Sungguh engkau dapat menjadi penyebab seseorang mendapatkan hidayah lebih baik daripada engkau akan mendapatkan unta merah.” (HR. Bukhari no. 2942 dan Muslim no. 2406, dari Sahl bin Sa’ad).
Maka dengan motivasi tersebut Imam An-Nawawi rahimahullah mengarang kitab atau menyusun buku Riyadush Shalihin dan kumpulan hadits-hadits ini memiliki berbagai bab atau pembahasan di antaranya adalah masalah Tauhid.
Beliau akan memulai dengan masalah niat, ketika seseorang akan beramal bagaimana mengatur tujuan dan niatnya agar ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta’ala kemudian beliau sebutkan hal-hal yang berhubungan dengan adab. Beliau sebutkan Kitab Al-Libas, Kitab Ath-Ima, cara seorang makan berpakaian dan juga berbagai hal yang berkaitan dengan urusan yang bisa menjadi bekal seorang menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Hadits-hadits yang akan beliau sebutkan beliau berusaha untuk menyebutkan hadits-hadits yang shahih sekalipun ada beberapa hadits yang ternyata memang menjadi pelengkap sehingga kedudukannya di bawah hadits yang shasih maupun hasan, akan tetapi para ulama terbiasa menyebutkan beberapa hadits yang bisa disebutkan hadits yang dhaif apabila hadits itu berkaitan dengan masalah akhlak maupun hal-hal yang sifatnya zuhud, raqaif dan sebagainya.
Pun demikian biasanya para ulama akan menyebutkan hadits yang shahih terlebih dahulu kemudian hadits yang dhaifnya sebagai pelengkap dan menambah muatan ilmiah pada hadits-hadits yang beliau sebutkan.
Kemudian di antara kebiasaan Imam An-Nawawi rahimahullah dan ini menjadi keistimewaan kitab yang akan kita pelajari, adalah beliau akan menyebutkan firman Allah terlebih dahulu pada setiap bab yang akan beliau bahas.
Beliau akan awali dengan membahas Al-Qur’an, baru setelah itu beliau ikuti dengan beberapa hadits, termasuk hadits pertama atau bab pertama yang beliau jadikan sebagai pembuka kitab beliau, beliau sebutkan ada setidaknya tiga ayat Al-Qur’an kemudian beliau sebutan dua belas hadits yang menjadi pembahasan pada bab itu. Ini menjadi salah satu ciri khas maupun keistimewaan sang Imam dan juga karyanya.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala dapat memberikan kepada kita petunjuk, bimbingan, dan kemudahan untuk mempelajari hadits-hadits tersebut, sehingga kita semakin dekat dengan sunnah dan ajaran Nabi-Nya.
Wallāhu ta’ālā a’lam.
وصلى الله وسلم وبارك على عبده ورسوله نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين، و الحمد لله رب العالمين
Bab 1: Ikhlas dan Menghadirkan Niat Dalam Setiap Perbuatan dan Ucapan, Baik Yang Terang-Terangan Maupun Yang Sembunyi-Sembunyi
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين، والعاقبة للمتقين، ولا عدوان إلا على الظالمين، وأشهد أن لا إله إلا الله إله الأولين والآخرين وأشهد أن محمدا عبده ورسوله سيد الأنبياء والمرسلين وعلى آله وصحابته والتابع ومن تبعهم بأحسان الى يوم الدين، اما بعد
Anggota grup Whatsapp Dirosah Islamiyah rahimana wa rahimakumullah.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa memberikan kepada kita bimbingan dan hidayah-Nya. Sehingga kita mudah untuk menerima kebenaran, mempelajari Islam dan berada di atas jalan istiqamah sampai kita menghadap kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam keadaan yang diridhai.
Pada kesempatan kali ini kita akan mulai membahas tentang bab pertama dari kitab Riyadush Shalihin yaitu bab tentang masalah ikhlas dan kita sampaikan bahwa di antara metode yang ditempuh oleh Imam An-Nawawi rahimahullahu ta’ala penulis kitab ini, beliau akan senantiasa menyebutkan dalil.
Diawali dengan dalil Al-Qur’an, kemudian diikuti dengan dalil dari hadits-hadits yang shahih. Dan ini merupakan metode yang banyak ditempuh para ulama, mereka akan lebih menitik beratkan kepada dalil, sehingga ketika memiliki pendapat bukan hanya sekedar pikiran yang didahulukan, akan tetapi mereka akan senantiasa mengukur pikiran tersebut dengan dalil yang ada dalam Al-Qur’an maupun hadits Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam.
Pembahasan pertama yang akan kita bahas adalah:
بَابُ الْإِخْلَاصِ وَإِحْضَارِ النِّيَّةِ فِي جَمِيعِ الْأَعْمَالِ وَالْأَقْوَالِ وَالْأَحْوَالِ الْبَارِزَةِ وَالْخَفِيَّةِ
Pembahasan tentang ikhlas dan berusaha menghadirkan niat pada sebuah amal atau semua perbuatan perkataan dan semua keadaan yang tampak maupun tidak tampak.
Pembahasan ikhlas menjadi sorot pada fokus para ulama dalam setiap amal mereka, dalam setiap ibadah, dalam menyampaikan pelajaran senantiasa fokus mereka tertuju pada masalah ikhlas. Karena ikhlas akan berpengaruh erat dengan diterimanya atau tidak amal tersebut.
Dan ikhlas sendiri dalam bahasa akhlasha (أخْلَصَ) atau dari kata khalusha خَلَصَ artinya adalah bersih, murni belum tercampur, bahkan ahli bahasa Ibnu Faris rahimahullah beliau mengatakan, sesuatu yang dikatakan al-khalish.
Al-khalish itu adalah كل شيء إن ابيضّ setiap yang putih يمتزج بصفاء الثلج dia Istimewa, karena kejernihannya bagaikan es.
Ini dari asal kata yang terkandung pada kata-kata ikhlas, maka hakikat ikhlas ini disebutkan oleh para ulama mereka mengatakan artinya adalah صدق النية مع الله, artinya bagaimana seseorang jujur dalam pendirian maupun niat hatinya untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Sebagian mengatakan ikhlas itu artinya
إِفْرَاضُ الْحَقِّ بِقَصْدٍ
“Mengesakan Allah dalam setiap niat yang akan kita kerjakan.”
Dan ini akan sejalan dengan dalil yang akan kita bahas, intinya seseorang dalam melaksanakan ibadah dan dia ingin ikhlas, hakikat keikhlasan adalah mempersembahkan setiap amal hanya untuk Allah dan tidak boleh dia terjatuh dalam kesyirikan dalam amal apapun. Karena orang yang tidak bisa meninggalkan kesyirikan berarti dia tidak akan bisa memurnikan amal ibadahnya untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Orang kafir jahiliyah mereka dulu beramal menunaikan ibadah haji, berdoa, akan tetapi ibadah mereka tercampur, sehingga mereka dikatakan syirik pada saat ibadah mereka tidak dimurnikan hanya untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka para ulama ketika membicarakan tentang keikhlasan ketakwaan, kuat agama dengan bertauhid kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala maka erat kaitannya dengan harus membersihkan diri dari segala macam kesyirikan.
Karena kesyirikan ini akan bisa mencemari ibadah kita, bahkan kalau perlu akan menghancurkan amalan ibadah yang kita persembahan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Imam An-Nawawi rahimahullah memulai dengan tiga ayat dalam pembahasan ini, beliau menyebutkan tiga ayat yang berkaitan dengan ikhlas Lillahi Ta’ala, kemudian berikutnya mengikuti dengan dua belas hadits yang akan menegaskan tentang pembahasan ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Kita akan mempelajari bahwa ikhlas yang dikehendaki dalam setiap amal ibadah kita adalah Tauhid kepada Allah. Ayat pertama yang beliau sebutkan adalah ayat kelima dari surat Al-Bayyinah.
أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيطَانِ الرَّجِيمِ ۞
بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ
وَمَآ أُمِرُوٓاْ إِلَّا لِيَعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤۡتُواْ ٱلزَّكَوٰةَۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلۡقَيِّمَةِ
Mereka tidak diperintahkan kecuali untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, mengikhlaskan agama ini hanya untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala, menunaikan shalat, menunaikan zakat.
وَيُقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤۡتُواْ ٱلزَّكَوٰةَۚ
Dan itulah agama yang lurus.
Kata-kata ikhlas dalam beribadah artinya adalah memurnikan ibadah yang kita kerjakan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Imam Al-Baqawi dalam tafsirnya menyebutkan dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, seorang ahli tafsir terkemuka di kalangan para sahabat beliau mengatakan, bahwa setiap ibadah yang disebutkan di dalam Al-Qur’an maka maksudnya adalah Tauhid.
Maksudnya adalah Tauhid kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seseorang ketika membaca firman Allah,
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku.” kata Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Maksudnya adalah liwahidun untuk mengesakan Aku kata Allah. Firman Allah dalam surat Al-Baqarah,
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai sekalian manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (QS. Al-Baqarah:21).
Maka maksudnya اعْبُدُوا رَبَّكُمُ artinya وحدوا ربكم artinya esakan ibadah itu untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ini adalah inti dari makna ikhlas, maka ayat pertama ini merupakan inti dakwah para Rasul, menjernihkan Islam dari berbagai kotoran dan tercoreng morengnya ibadah ini dari kesyirikan-kesyirikan.
Maka Ibnu Katsir ketika beliau menyebutkan ayat ini, beliau menafsiri dengan firman Allah yang serupa seperti dalam Al-Qur’an di ayat yang lain Allah mengatakan,
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِى كُلِّ أُمَّةٍۢ رَّسُولًا أَنِ ٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَٱجْتَنِبُوا۟ ٱلطَّـٰغُوتَ
“Dan telah kami utus pada setiap umat, setiap generasi ada rasul-rasul yang mengingatkan mereka untuk beribadah kepada Allah dan untuk meninggalkan segala macam ibadah kepada selain Allah yang dikatakan thaghut.” (QS. An-Nahl: 36).
Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala juga mengatakan dalam surat Al- Anbiyya,
وَمَآ أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِىٓ إِلَيْهِ أَنَّهُۥ لَآ إِلَـٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ فَٱعْبُدُونِ
Dan aku tidaklah kata Allah.
“Dan Kami tidaklah mengutus seorang Rasul dari dulu melainkan kami akan berikan dia wahyu untuk mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Aku, maka sembahlah aku kata Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (QS. Al-Anbiyya: 25).
Maksudnya adalah Esakan Aku. Mengesakan dalam berdoa, mengesakan dalam shalat, dalam menyembelih dalam bernadzar, dalam segala hal. Kita mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ini inti dari ikhlas, bukan hanya sekedar kita tidak ingin pujian.
Betul! Itu merupakan salah satu pembahasan dalam keikhlasan, akan tetapi lebih dari itu ibadah yang ikhlas adalah ibadah yang betul-betul murni dipersembahkan kepada Allah, lepas dari segala macam tujuan selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa membimbing kita menjadi hamba-hamba Allah yang mukhlisin yang bisa memurnikan segala macam amal ibadah kita untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala.
وصلى الله وسلم وبارك على عبده ورسوله نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين، و الحمد لله رب العالمين
Bab 1: Ikhlas dan Menghadirkan Niat Dalam Setiap Perbuatan dan Ucapan, Baik Yang Terang-Terangan Maupun Yang Sembunyi-Sembunyi
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين، والعاقبة للمتقين، ولا عدوان إلا على الظالمين، وأشهد أن لا إله إلا الله إله الأولين والآخرين وأشهد أن محمدا عبده ورسوله سيد الأنبياء والمرسلين وعلى آله وصحابته والتابع ومن تبعهم بأحسان الى يوم الدين، اما بعد
Anggota grup Whatsapp Dirosah Islamiyah rahimana wa rahimakumullah.
Pembahasan pertama yang akan kita bahas adalah:
بَابُ الْإِخْلَاصِ وَإِحْضَارِ النِّيَّةِ فِي جَمِيعِ الْأَعْمَالِ وَالْأَقْوَالِ وَالْأَحْوَالِ الْبَارِزَةِ وَالْخَفِيَّةِ
Pembahasan tentang ikhlas dan berusaha menghadirkan niat pada sebuah amal atau semua perbuatan perkataan dan semua keadaan yang tampak maupun tidak tampak.
Ayat kedua pada surat Al-Hajj ayat 37. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyatakan,
لَن يَنَالَ ٱللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَآؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ ٱلتَّقۡوَىٰ مِنكُمۡۚ
“Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan sampai kepada-Nya baik daging kurban maupun darahnya, akan tetapi yang akan sampai kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah ketakwaan kalian yang sedang mempersembahkan sembelihan itu, baik dalam keadaan kurban Iedul Adha maupun dalam hadyu yang dipersembahkan ketika seseorang menunaikan ibadah haji.”
Ayat ini ditegaskan Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya untuk menampik kebiasaan orang Jahiliyyah, mereka dulu ketika memberikan sesembelihan mereka akan menumpahkan sebagian darah dan dagingnya kepada Baitullah kepada Ka’bah. Maka sebagian sahabat mengatakan,
و نحن اول بنضة
Kalau begitu kita lebih berhak untuk itu karena kita sudah kenal Islam, ketika kita ingin menyembelih untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala kita lakukan seperti itu.
Maka turun firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,
لَن يَنَالَ ٱللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَآؤُهَا
Yang sampai itu bukan darah dagingnya.
وَلَٰكِن يَنَالُهُ ٱلتَّقۡوَىٰ مِنكُمۡۚ
Tidak usah seperti itu ketakwaan kalian yang akan dinilai.
Ini menunjukkan bahwa dalam ibadah penyembelihan merupakan sebuah simbol ketakwaan keimanan Tauhid kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Ibnu Katsir menyebutkan dengan tegas bahwa kaum muslimin tidak boleh sama dengan orang-orang Jahiliyyah. Ketika mereka juga sama mempersembahkan seperti itu, maka orang Islam memiliki ibadah dengan cara yang lebih istimewa, lebih mulia.
Dan ini juga ada pelajaran penting yang diambil oleh Imam Asy-Syafi’i, Imam Az-Zuhri dan para ulama lainnya yang mengatakan bahwa, amal ibadah merupakan bagian dari keimanan seseorang, artinya ketika ada orang beriman maka tidak cukup dia hanya mengucapkan perkataan, “Saya adalah sudah orang beriman.” Dan dia katakan, “Saya yakin seyakin-yakinnya”, akan tetapi tidak beramal, shalat tidak, puasa tidak, maksiat jalan terus. Ini bukan menunjukkan cerminan orang yang beriman.
Kita lihat bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala mengidentikan ketakwaan dengan ibadah yang dilakukan, sehingga erat kaitannya iman antara keyakinan hati, ketakwaan dengan amal ibadah yang dilakukan dengan sungguh-sungguh sambil menjaga agar amal ibadah tersebut bisa murni untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Pada ayat ketiga Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam surat Ali-Imran ayat 29.
Allah menyatakan,
قُلۡ إِن تُخۡفُواْ مَا فِي صُدُورِكُمۡ أَوۡ تُبۡدُوهُ يَعۡلَمۡهُ ٱللَّهُۗ
“Katakan wahai Muhammad, “Kalau seandainya kalian ingin menyembunyikan amal ibadah kalian atau kalian menyembunyikan sesuatu dalam dada atau kalian tampakkan, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala tahu semua itu.”
Kata Ibnu Katsir rahimahullah, Allah Subhanahu wa Ta’ala ingin menegaskan kepada kaum muslimin bahwa semua yang akan kalian lakukan الضمائر والظواهر, yang tampak dan tidak tampak, yang lahir maupun bathin Allah tahu semua. Berarti harus ada kolerasi antara yang batin dan yang lahir, amal hati dan amal anggota badan.
Dan ini juga merupakan salah satu tanda keikhlasan, sebagian ulama mengatakan bahwa ikhlas itu artinya adalah استواء أعمال العبد في الظاهر والباطن amal seorang hamba sama yang tampak dan tidak tampak, yang ada dalam hati maupun yang dia kerjakan dan dapat dilihat oleh orang lain. Tidak ada perbedaan yang dirasakan dalam hati maupun ibadah yang ditampilkan.
Ini merupakan tanda keikhlasan, sekalipun seseorang tidak merasa bahwa ikhlasnya adalah ikhlas yang sukses dan berhasil, karena para ulama mengatakan,
من رَأَى في إخلاصه الإخلاص فقد احتاج إخلاصه إلى الإخلاص
“Barangsiapa menyangka bahwa dirinya telah berhasil dalam ikhlas maka keikhlasan dia membutuhkan keikhlasan yang lainnya.”
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa membimbing kita menjadi hamba-hamba Allah yang mukhlisin yang bisa memurnikan segala macam amal ibadah kita untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala.
وصلى الله وسلم وبارك على عبده ورسوله نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين، و الحمد لله رب العالمين
Bab 1: Ikhlas dan Menghadirkan Niat Dalam Setiap Perbuatan dan Ucapan, Baik Yang Terang-Terangan Maupun Yang Sembunyi-Sembunyi
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين، والعاقبة للمتقين، ولا عدوان إلا على الظالمين، وأشهد أن لا إله إلا الله إله الأولين والآخرين وأشهد أن محمدا عبده ورسوله سيد الأنبياء والمرسلين وعلى آله وصحابته والتابع ومن تبعهم بأحسان الى يوم الدين، اما بعد
Anggota grup Whatsapp Dirosah Islamiyah rahimana wa rahimakumullah.
Satu hadits yang masyhur kita pelajari pada kesempatan kali ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu dan ini menjadi perhatian para ulama sehingga sering sekali para ulama menjadikan hadits ini sebagai pembuka pada karya-karya Ilmiyyah mereka karena kaitannya erat dengan masalah keikhlasan.
وعنْ أَميرِ الْمُؤْمِنِينَ أبي حفْصٍ عُمرَ بنِ الْخَطَّابِ بْن نُفَيْل بْنِ عبدالْعُزَّى بن رياحِ بْن عبداللَّهِ بْن قُرْطِ بْنِ رَزاحِ بْنِ عَدِيِّ بْن كَعْبِ بْن لُؤَيِّ بنِ غالبٍ القُرَشِيِّ العدويِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ
Ini disebutkan tentang nasabnya Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu oleh Imam An-Nawawi rahimahullahu ta’ala.
Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu mengatakan:
سمعْتُ رسُولَ اللهِ ﷺ يقُولُ:
Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,
إنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
“Sesungguhnya setiap amal hanya akan dinilai dari niatnya. Dan setiap orang akan mendapatkan pahala tergantung pada yang diniatkan.”
فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ
“Maka barangsiapa yang melaksanakan hijrah dan tujuannya adalah untuk Allah dan Rasul-Nya maka dia akan mendapatkan pahala keikhlasan untuk Allah dan Rasul-Nya itu.”
وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إلَى مَا هَاجَرَ إلَيْهِ
“Barangsiapa yang tujuan hijrahnya adalah untuk mendapatkan keduniaan atau karena seorang wanita yang akan dia nikahi, maka dia akan mendapatkan balasan tentang hijrahnya sesuai dengan niat yang dia sampaikan.”
Hadits ini disepakati oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim.
Imam An-Nawawi mengatakan,
رَوَاهُ إِمَامَا الْمُحَدِّثِينَ
Diriwayatkan oleh dua orang Imam dalam ilmu hadits.
أَبُو عَبْدِ اللهِ مُحَمَّدُ بنُ إِسْمَاعِيل بن إِبْرَاهِيم بن الْمُغِيرَة بن بَرْدِزبَهالْجُعْفِيُّ الْبُخَارِيُّ
Diriwayatkan oleh dua ulama ahli hadits terkemuka yaitu Abu Abdillah Imam Al-Bukhari ini adalah nasabnya.
وَأَبُو الْحُسَيْنِ مُسْلِمٌ بنُ الْحَجَّاج بن مُسْلِم الْقُشَيْرِيُّ النَّيْسَابُورِيُّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا فِي “صَحِيحَيْهِمَا” اللذَينِ هُمَا أَصَحُّ الْكُتُبِ الْمُصَنَّفَةِ في علم الحديث
Dan yang kedua adalah Imam Muslim dengan sanad atau nasab yang disebutkan tadi dalam buku mereka berdua yang sama-sama dikenal dengan kitab Shahih dan buku beliau berdua merupakan buku yang diyakini oleh kaum muslimin, ahli hadits, dan ahli fiqih serta seluruh kaum muslimin sebagai buku yang paling sah untuk dijadikan pegangan.
Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu merupakan sahabat yang mulia, sahabat yang memiliki keistimewaan yang tidak diragukan di tengah kaum muslimin bahkan di tengah para sahabat. Di saat Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam masih hidup beliau sudah dijanjikan masuk surga.
Dalam hadits yang shahih diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam mengatakan:
بَيْنَا أَنَا نَائِمٌ
Ketika aku tertidur, aku melihat (bermimpi).
Dan mimpi para nabi adalah wahyu sebagaimana ditegaskan oleh banyak para ulama.
رَأَيْتُنِي فِي الْجَنَّةِ
Aku melihat aku di surga.
فَرأت قَصْرا
Maka aku melihat ada sebuah istana.
فَإِذَا امْرَأَةٌ تَتَوَضَّأُ إِلَى جَانِبِ قَصْرٍ
Ada seorang wanita sedang wudhu di sebuah istana tersebut.
فَقُلْتُ لِمَنْ هَذَا الْقَصْرُ
Aku bertanya, “Ini istana siapa?”
Maka para malaikat mengatakan,
لِعُمَرَ بْنِ الْخَطَّاب
Ini adalah istana milik Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu.
Maka Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam pun ingat, tentang kecemburuan Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu sampai beliau mengatakan,
فَذَكَرْتُ غَيْرَتَهُ فَوَلَّيْتُ مُدْبِرًا
Maka aku ingat kecemburuan Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu maka aku segera berpindah, segera berpaling dari tempat ini.
Menunjukkan bahwa beliau masih hidup sudah dijanjikan akan ada surga yang menanti beliau, dan beliau merupakan orang yang agamanya kuat. Ini merupakan penyaksian Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam.
Ketika Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam tertidur. Dalam shahih Bukhari dan Muslim beliau mengatakan,
رَأَيْتُ النَّاسَ يُعْرَضُونَ عَلَىَّ
Ketika aku melihat dalam mimpiku banyak orang-orang yang ditampilkan (ditampakkan).
وَعَلَيْهِمْ قُمُصٌ
Mereka memiliki baju-baju.
مِنْهَا مَا يَبْلُغُ الثُّدِيَّ
Sebagian baju mereka hanya sampai kepada dadanya.
وَمِنْهَا مَا دُونَ ذَلِكَ
Sebagian ada yang sampai di bawahnya.
وَعُرِضَ عَلَىَّ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ وَعَلَيْهِ قَمِيصٌ يَجُرُّهُ
Ternyata Umar bin Khaththab membawa baju yang sampai digeret-geret (diseret-seret).
Maka para sahabat bertanya,
فَمَا أَوَّلْتَ ذَلِكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ
Apa yang engkau tafsirkan dari mimpi yang engkau lihat?
Beliau mengatakan, الدِّينَ (agama).
Menunjukkan Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu kualitas agamanya besar sekali, tinggi sekali dan beliau ditakuti oleh orang-orang musyrikin bahkan syaithan pun takut.
Dalam shahih Bukhari dan Muslim disebutkan,
مَا لَقِيَكَ الشَّيْطَانُ قَطُّ سَالِكًا فَجًّا إِلاَّ سَلَكَ فَجًّا غَيْرَ فَجِّكَ
“Tidaklah syaithan menemui engkau dalam satu jalan (engkau lewat di situ kemudian syaithan akan lewat di situ) melainkan dia akan lari terbirit-birit (mencari jalan lain).”
Ini menunjukkan keistimewaan Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Beliau meriwayatkan hadits ini tentang masalah niat.
إِنَّمَا الْأَعْمَال بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لكل امْرِئ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِه (sampai akhir)
Hadits ini berkaitan tentang masalah amal, tentang keikhlasan, tentang amalan hati.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa membimbing kita menjadi hamba-hamba Allah yang mukhlisin yang bisa memurnikan segala macam amal ibadah kita untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala.
وصلى الله وسلم وبارك على عبده ورسوله نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين، و الحمد لله رب العالمين
Bab 1: Ikhlas dan Menghadirkan Niat Dalam Setiap Perbuatan dan Ucapan, Baik Yang Terang-Terangan Maupun Yang Sembunyi-Sembunyi
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين، والعاقبة للمتقين، ولا عدوان إلا على الظالمين، وأشهد أن لا إله إلا الله إله الأولين والآخرين وأشهد أن محمدا عبده ورسوله سيد الأنبياء والمرسلين وعلى آله وصحابته والتابع ومن تبعهم بأحسان الى يوم الدين، اما بعد
Anggota grup Whatsapp Dirosah Islamiyah rahimana wa rahimakumullah.
Satu hadits yang masyhur kita pelajari pada kesempatan kali ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu.
وعنْ أَميرِ الْمُؤْمِنِينَ أبي حفْصٍ عُمرَ بنِ الْخَطَّابِ بْن نُفَيْل بْنِ عبدالْعُزَّى بن رياحِ بْن عبداللَّهِ بْن قُرْطِ بْنِ رَزاحِ بْنِ عَدِيِّ بْن كَعْبِ بْن لُؤَيِّ بنِ غالبٍ القُرَشِيِّ العدويِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ
Ini disebutkan tentang nasabnya Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu oleh Imam An-Nawawi rahimahullahu ta’ala.
Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu mengatakan:
سمعْتُ رسُولَ اللهِ ﷺ يقُولُ: إنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ
وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إلَى مَا هَاجَرَ إلَيْه
Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya setiap amal hanya akan dinilai dari niatnya. Dan setiap orang akan mendapatkan pahala tergantung pada yang diniatkan. Maka barangsiapa yang melaksanakan hijrah dan tujuannya adalah untuk Allah dan Rasul-Nya maka dia akan mendapatkan pahala keikhlasan untuk Allah dan Rasul-Nya itu. Barangsiapa yang tujuan hijrahnya adalah untuk mendapatkan keduniaan atau karena seorang wanita yang akan dia nikahi, maka dia akan mendapatkan balasan tentang hijrahnya sesuai dengan niat yang dia sampaikan.”
Hadits ini disepakati oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim.
Para ulama mengatakan bahwa hadits ini mencakup sepertiga ilmu. Sebagian ulama mengatakan setengah ilmu semuanya ada pada hadits ini karena semua ilmu yang dipelajari berkaitan dengan amalan seorang hamba.
Dan amalan seorang hamba hanya dua saja bagiannya satu amalan yang tampak dan satu amalan hati. Dan hadits ini berkaitan dengan amalan hati, sedangkan amalan yang tampak harus benar harus cocok dengan ajaran Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam dan lainnya.
Intinya pentingnya sebuah niat pada sebuah amal adalah sesuatu yang disepakati para ulama, fungsinya menurut para ulama niat itu akan membedakan antara seseorang yang ikhlas dan tidak ikhlas, kemudian niat juga dapat memisahkan, membedakan antara sebuah aktivitas yang dilakukan sebagai kebiasaan maupun ibadah.
Contohnya tidak makan, seorang tidak makan karena apa? Karena diet atau karena sakit sehingga tidak bisa makan dan tidak boleh makan, atau orang yang memang niat untuk berpuasa.
Ketika seorang melaksanakan ibadah pun niat akan betul-betul membedakan. Apakah yang dilakukan merupakan niat ibadah yang wajib. Puasa wajib atau puasa sunnah dan masing-masing ada pahalanya. Ini fungsi niat.
Kalau pun seandainya dia akan melaksanakan puasa yang wajib, maka itu pun berbeda-beda, niatnya akan membedakan, apakah puasa nadzar, apakah puasa kafarah atau hukuman, kemudian puasa Ramadhan. Apalagi puasa sunnah yang banyak sekali macamnya dan niat yang akan membedakan antara amal itu dilakukan untuk apa dan apakah ikhlas atau tidak.
Dan amal ini akan diterima oleh Allah tergantung niatnya, bisa sebuah amal tidak diterima sama sekali dan bisa diterima akan tetapi pahalanya disesuaikan dengan kadar kualitas keimanan niat yang disampaikan.
Dan Ibnu Rajab Al-Hambali mengatakan, Niat merupakan amalan hati, tempatnya di hati bukan di mana-mana. Sehingga ketika seseorang ingin berusaha mengikhlaskan niat bukan caranya dengan memproklamirkan. Itu bukan cara yang tepat, akan tetapi bagaimana dia menata hatinya.
Dan seseorang bahkan seandainya diberikan oleh Allah sebuah tugas untuk melakukan sebuah aktivitas tanpa niat dia akan kesulitan, orang mau melaksanakan aktivitas harian tidur saja dia akan memiliki niat. Di ruang tamu kemudian dia bergegas menuju ke tempat (ruang tidur) ini niat. Dia pasti akan ada dihatinya niat bahwa dia akan melakukan sebuah aktivitas.
Ketika akan berpuasa malam hari dia beli sahur atau dia bangun malam dia stel alarm itu merupakan niat karena kalau seandainya dia tidak memiliki niat mana mungkin dia mengerjakan itu semua. Maka benar kata Ibnu Rajab seandainya seseorang diberikan tugas untuk melakukan aktivitas sesuatu apapun tanpa niat susah doa.
Ikhwah sekalian. Disebutkan di sini contohnya saja yaitu perjalanan hijrah, (perjalanan hijrah) dan ini akan disampaikan dengan semua amal, hanya disebutkan masalah hijrah karena ini merupakan amalan yang sangat dibutuhkan pengorbanan. Hijrah merupakan ibadah yang berat. Seorang meninggalkan tempatnya, meninggalkan tanah kelahirannya kekayaannya bahkan keluarganya untuk menuju Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Berkorban ke tempat sebuah yang baru tidak tahu di sana akan menjadi lebih baik atau bagaimana, akan tetapi ketika seseorang ikhlas karena Allah dan juga Rasul-Nya dia akan mendapatkan niatnya. Pahalanya akan disesuaikan dengan keikhlasan niat dalam berhijrah.
Dan para ulama mengatakan hijrah ini banyak macamnya ada hijrah meninggalkan negara kafir, ada hijrah yang dilakukan dalam bentuk meninggalkan tempat yang banyak maksiatnya, ada hijrah dalam bentuk meninggalkan segala macam kemaksiatan. Semua yang bisa mengeruhkan hati, membuat orang terpuruk dalam kubangan maksiat kemudian kita tinggalkan itu juga merupakan hijrah yang memiliki amal, pahala yang sangat besar.
Dan ini merupakan salah satu ukuran dan contoh saja, bukan hanya masalah hijrah akan tetapi intinya seseorang ketika mengamalkan sebuah ibadah apapun, maka dia dituntut untuk berikhlas sebagaimana dalam hadits ini. Dan ini merupakan tanda diterimanya atau tidak sebuah amalan.
Ada perkataan bagus sekali yang dinukil oleh Al-Qadhi Iyadh rahimahullah mengatakan bahwa salah seorang guru kami mengatakan, إِنَّمَا الْأَعْمَال memiliki dua makna;
Yang pertama,
تجرد العمل من الشرك بالله بخالص التوحيد
Memurnikan sebuah amal dari segala macam kesyirikan untuk Allah saja.
Yang kedua,
تجرده بِخَالِصِ السُّنَّةِ
Berusaha memurnikan amalan tersebut untuk sesuai dengan ajaran Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam.
Ini pernyataan yang disebutkan oleh Al-Qadhi Iyadh Al-Maliki dalam kitab beliau Ikmalu Al-Mu’lim.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa membimbing kita menjadi hamba-hamba Allah yang mukhlisin yang bisa memurnikan segala macam amal ibadah kita untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala.
وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين، والحمد لله رب العالمين
Bab 1: Ikhlas dan Menghadirkan Niat Dalam Setiap Perbuatan dan Ucapan, Baik Yang Terang-Terangan Maupun Yang Sembunyi-Sembunyi
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين، والعاقبة للمتقين، ولا عدوان إلا على الظالمين، وأشهد أن لا إله إلا الله إله الأولين والآخرين وأشهد أن محمدا عبده ورسوله سيد الأنبياء والمرسلين وعلى آله وصحابته والتابع ومن تبعهم بأحسان الى يوم الدين، اما بعد
Anggota grup Whatsapp Dirosah Islamiyah rahimana wa rahimakumullah.
Kita kembali membahas hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam dari kitab Riyadush Shalihin masih berkaitan dengan permasalahan amal yang digantungkan pada niat seseorang. Ikhlas dalam beramal akan sangat menentukan diterimanya atau tidak sebuah amal di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Hadits kedua:
وَعَنْ أُمّ الْمُؤْمِنِينَ أُمِّ عَبْد الله عَائِشَةَ رضي الله عنها
Dari shahabiyah Ummi Al-Mukminin Ummu Abdillah Aisyah radhiyallahu ‘anha.
قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم :
Beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:
يَغْزُو جَيْشٌ الْكَعْبَةَ، فَإِذَا كَانُوا بِبَيْدَاءَ مِنَ الأَرْضِ يُخْسَفُ بِأَوَّلِهِمْ وَآخِرِهِمْ
“Ada sebuah pasukan yang akan menyerang Ka’bah ketika mereka sampai di baida’a (بَيْدَاءَ).
⇒Baida’a (بَيْدَاءَ) artinya adalah tempat yang lapang, kosong tidak ada tanaman tinggi maupun yang rendah seperti lembah.
Ketika mereka sampai di tempat yang luas tersebut maka tiba-tiba Allah jadikan mereka terbenam dimasukkan ke dalam tanah dari orang pertama sampai orang paling belakang.
قَالَتْ:
Maka Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan,
قُلْتُ : يَا رَسُولَ الله ، كَيْفَ يُخْسَفُ بأوَّلِهِمْ وآخِرِهِمْ وَفِيهِمْ أَسْوَاقُهُمْ وَمَنْ لَيسَ مِنْهُمْ!؟
“Ya Rasul, bagaimana mereka akan ditenggelamkan semuanya, orang yang paling depan sampai orang yang paling belakang sementara di tengah-tengah mereka ada orang yang bukan dari golongan mereka, yaitu orang-orang yang di pasar, orang yang jual-beli, orang yang datang karena kebutuhan dan mereka tidak memiliki niat yang sama untuk memerangi Ka’bah?”
Bagaimana mereka ikut serta dalam musibah besar tersebut, ditenggelamkan di dalam tanah. Maka Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam menjawab,
يُخْسَفُ بِأوَلِهِمْ وَآخِرِهِمْ، ثُمَّ يُبْعَثُونَ عَلَىٰ نِيَّاتِهِمْ
“Semua sudah Allah tentukan akan ditenggelamkan semuanya ke dalam tanah, dari awal sampai akhir, dari paling depan sampai belakang.”
Nanti pada hari kiamat mereka akan dibangkitkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sesuai dengan niat yang tersembunyi di dalam hati mereka. Apakah mereka termasuk golongan orang yang akan menyerang Ka’bah atau orang yang memang tidak sengaja berada di tengah-tengah mereka.
Hadits ini muttafaqun ‘alaihi, disepakati keshahihannya dan lafadznya merupakan lafadz Al-Bukhari.
كما قال النووي رحمه الله
Imam An-Nawawi mengatakan lafadz yang dipilih adalah lafadz Imam Al-Bukhari, hadits ini disepakati oleh Imam Bukhari dan Muslim.
Aisyah radhiyallahu ‘anha إحدى أمهات المؤمنين (salah satu dari istri Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam yang menjadi ibunya orang-orang yang beriman). Maka ketika ada orang yang tidak mengakui salah satu dari istri Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam sebagai ibu orang beriman, maka dia tidak beriman.
Pernah suatu saat Aisyah radhiyallahu ‘anha diberitahu oleh seseorang bahwa ada yang tidak mengakui beliau sebagai ibunya, maka beliau mengatakan صدق iya jujur. “Aku adalah Ummul mukminin dan aku bukan Ummul munafikin, aku bukan ibunya orang-orang munafik.”
Aisyah radhiyallahu ‘anha salah satu istri Nabi yang paling cerdas, nasabnya bangsawan. Beliau orang yang paling dicintai oleh Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam. Satu-satunya istri yang dinikahi oleh Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam dalam keadaan belum pernah menikah sebelumnya.
Beliau tegas oleh Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam dinyatakan sebagai orang yang paling dicintai. Dalam shahih Bukhari dan Muslim sahabat Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya,
يا رسولَ اللَّهِ من النَّاسِ أحبُّ إليكَ
“Ya Rasulullah, siapa orang yang paling engkau cintai?”
Maka Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam menjawab, “Aisyah, dia adalah orang yang paling aku cintai.”
Maka Amr bin ‘Ash radhiyallahu ‘anhu mengatakan,
مِنَ الرِّجالِ
“Maksud ana dari orang laki-laki?”
Maka Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam spontan mengatakan,
أبوها
“Ayahnya.”
Ketika Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam akan meninggal maka beliau bertanya kepada istri-istrinya,
أيْن أنا غَدًا، أيْن أنا غَدًا
Maksudnya jatahku untuk beringgah dan bermalam di istri mana? Mengingat istri beliau banyak. Akan tetapi dalam pertanyaan ini menunjukkan ada sebuah isyarat bahwa beliau يُرِيدُ عَائِشَةَ beliau ingin segera sampai pada jatah giliran Aisyah radhiyallahu ‘anha.
Maka istri-istri Nabi pun paham (shallallahu ‘alayhi wa sallam) maka mereka,
فَأَذِنَ لَهُ أَزْوَاجُهُ يَكُونُ حَيْثُ شَاء
“Mereka mengizinkan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam dirawat di manapun beliau suka.”
Maka Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam dirawat di rumah ‘Aisyah sampai Allah panggil beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam.
Dan beliau ini merupakan orang yang telah Allah sucikan di dalam Al-Qur’an. Ini sebuah catatan penting bagi setiap orang yang beriman pernah di dalam sebuah riwayat yang shahih. Gembong munafikin di kota Madinah pada saat itu (Abdullah bin Ubay bin Salul) menuduh beliau berzina dengan salah seorang sahabat.
Dan fitnah itu menyebar sehingga sebagian kaum muslimin terfitnah dengan tuduhan itu, bahkan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam sempat dirundung galau lama sekali. Ini menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam tidak tahu (berkata ghaib) perkara ghaib sehingga beliau shallallahu ‘alayhi wa sallam tidak tahu apakah istrinya betul-betul berzina atau tidak, sehingga beliau sempat dirundung gelisah yang luar biasa.
Bagaimana seorang tokoh terhormat, ternyata istrinya dituduh berzina oleh seseorang, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala turunkan Al-Qur’an sepuluh ayat tentang penyucian ‘Aisyah dari tuduhan tersebut.
Dan di situ dikatakan,
يَعِظُكُمُ ٱللَّهُ أَن تَعُودُواْ لِمِثۡلِهِۦٓ أَبَدًا إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ
“Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan atau memperingatkan nasihat kepada kalian, jangan sampai kembali terulang, kejadian ikut-ikutan untuk bersu’udzhan berprasangka buruk kepada Aisyah radhiyallahu ‘anha.” (QS An-Nur: 17).
Dan beliau ketika sudah Allah tegaskan kesuciannya di dalam Al-Qur’an berarti tidak halal lagi bagi setiap orang yang beriman yang mengimani Al-Qur’an kemudian masih memiliki keyakinan bahwa Aisyah radhiyallahu ‘anha telah melakukan perbuatan tersebut.
Maka An-Nawawi rahimahullah dalam syarah shahih Muslim beliau mengatakan bahwa,
براءة عائشة رضي الله عنها من الإفك
Penyucian Aisyah radhiyallahu ‘anha dari tuduhan berzina.
هي براءة قطعية بنص القرآن العزيزف
Merupakan sebuah penyucian yang tegas sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an yang sangat mulia.
فإذ تشكك فيها إنسان
Apabila ada orang yang ragu, apakah betul Aisyah radhiyallahu ‘anha suci dari tuduhan itu atau tidak?
والعياذ بالله
Kata Imam An-Nawawi rahimahullah, beliau mengatakan naudzubillah kalau ada orang yang masih merasa keraguan, memilih keraguan dalam hatinya dari kesucian Aisyah radhiyallahu ‘anha
صار كافراً مرتداً بإجماع المسلمين
Maka dia bisa kufur, dia bisa murtad dari Islam dengan kesepakatan kaum muslimin.
Hal senada juga ditegaskan oleh Ibnu Katsir rahimahullah ketika beliau menafsiri surat An-Nur tentang penyucian Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau mengatakan,
أجمع العلماء رحمهم الله قاطبة على أن من سبها بعد هذا ورماها به بعد هذا الذي ذكر في هذه الآية فإنه كافر لأنه معاند للقرآن
“Para ulama semuanya sepakat bahwa setelah datang firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, penyucian dari Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang Aisyah terlepas dari tuduhan itu.”
Kok ternyata masih ada yang menuduh Aisyah radhiyallahu ‘anha, masih ada yang menuduh dengan tuduhan perbuatan seperti ini setelah jelas ada firman Allah yang telah menegaskan kesucian Aisyah radhiyallahu ‘anha. Maka telah kafir karena dia telah membangkang dari penegasan Al-Qur’an.
Maka kaum muslimin rahimana wa rahimakumullah.
Sudah sepantasnya orang beriman merasa cemburu ketika keluarganya atau salah satu dari anggota terutama ibunya dijelekkan oleh orang yang tidak suka dengan kita. Terutama orang-orang yang tidak beriman atau merasa hasad dengan keimanan orang-orang beriman, lalu mereka berusaha untuk merobek kehormatan Nabi kita shallallahu ‘alayhi wa sallam. Maka sudah sepantasnya kita membencinya.
Dan sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an orang yang menuduh Aisyah radhiyallahu ‘anha berarti telah menyakiti Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam, sampai dalam shahih Bukhari beliau mengatakan di atas mimbar ketika sampai akhirnya beliau galau dan gelisah, sakit hati.
Akhirnya beliau mengatakan,
من يعذرني من رجل قد بلغ أذاه في أهل
“Siapa orang yang bisa mencarikan maaf untuk orang yang betul-betul menyakiti aku, karena dia telah menuduh keluargaku.”
Allah menyatakan,
إِنَّ ٱلَّذِينَ يُؤْذُونَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ لَعَنَهُمُ ٱللَّهُ فِى ٱلدُّنْيَا وَٱلْـَٔاخِرَةِ وَأَعَدَّ لَهُمْ عَذَابًۭا مُّهِينًۭا
“Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya. Allah akan melaknatinya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan.” (QS Al-Ahzab: 57).
Orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya maka Allah akan laknat mereka di dunia dan di akhirat dan Allah telah sediakan bagi mereka adzab yang siksa yang sangat pedih.
Dan termasuk orang yang menuduh Aisyah radhiyallahu ‘anha berarti telah menuduh Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam. Dia telah tuduh Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam buruk, jelek akhlaknya, tidak terhormat kebiasaannya. Karena di dalam Al-Qur’an Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan,
ٱلْخَبِيثَـٰتُ لِلْخَبِيثِينَ وَٱلْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَـٰتِ ۖ وَٱلطَّيِّبَـٰتُ لِلطَّيِّبِينَ وَٱلطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَـٰتِ
“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)……” (QS An-Nur: 26).
Perempuan yang buruk itu hanya pantas mendapatkan suami orang yang buruk pula, sebagaimana (orang yang) laki-laki yang buruk akan mendapatkan istri yang buruk. Sementara orang yang shalihah akan mendapatkan yang shalih dan (orang yang) laki-laki yang shalih akan mendapatkan istri yang shalihah.
Kata Ibnu Katsir rahimahullahu ta’ala,
ما كان الله ليجعل عائشة زوجة لرسول الله صلى الله عليه وسلم إلا وهي طيبة، لأنه أطيبة
“Tidak mungkin Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan Aisyah radhiyallahu ‘anha sebagai istri Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam kecuali karena Aisyah adalah orang yang baik.”
Kecuali karena beliau orang pilihan, orang yang terhormat, orang yang bersih
لأنه أطيب من كل طيب من البشر
Karena Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam adalah orang yang paling baik dari semua orang baik di dunia ini.
Maka tidak mungkin Allah pilihkan Aisyah radhiyallahu ‘anha sebagai istri Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam kecuali beliau adalah orang yang baik dan suci. Bahkan dalam shahih Bukhari dan Muslim disebutkan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam menikah dengan Aisyah dengan wahyu.
Sebagaimana dalam shahih Bukhari dan Muslim Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam mengatakan,
أُرِيتُكِ في المَنَامِ مَرَّتَيْنِ
Dalam shahih Bukhari disebutkan, “Aku melihat engkau dalam mimpi dua kali.”
Dalam riwayat Muslim dikatakan,
أُرِيتُكِ فِي الْمَنَامِ ثَلَاثَ لَيَالٍ،
Tiga malam.
جَاءَنِي بِكِ الْمَلَكُ فِي سَرَقَةٍ مِنْ حَرِيرٍ
Seorang malaikat datang untuk membawamu tertutup dengan kain dari sutra.
فَيَقُولُ: هَذِهِ امْرَأَتُكَ
Maka dikatakan kepadaku, “Ini adalah istrimu. “
فَأَكْشِفُ عَنْ وَجْهِكِ فَإِذَا أَنْتِ هِيَ
Ketika aku sibakkan penutup muka ternyata engkau.
فَقُلت:
Maka aku mengatakan kata Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam,
إِنْ يَكُ هَذَا مِنْ عِنْدِ اللهِ، يُمْضِهِ
“Kalau seandainya ini memang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, Allah akan menjadikan mimpi ini terealisasi.”
Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala jaidkan seperti itu.
Kata Ibnu Katsir rahimahullah, “Seandainya Aisyah radhiyallahu ‘anhu bukan orang yang suci, maka tidak mungkin beliau menjadi istri Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam.”
شرعا ولا قدرا.
Secara takdir tidak mungkin dan secara syari’ tidak mungkin juga, karena Allah sudah mengakui. Allah telah menegaskan kebaikannya, kesuciannya. Dan ini merupakan sebaik-baik petunjuk untuk orang yang mau menerima petunjuk.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa membimbing kita menjadi hamba-hamba Allah yang mukhlisin yang bisa memurnikan segala macam amal ibadah kita untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala.
وصلى الله وسلم وبارك على عبده ورسوله نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين، و الحمد لله رب العالمين
Bab 1: Ikhlas dan Menghadirkan Niat Dalam Setiap Perbuatan dan Ucapan, Baik Yang Terang-Terangan Maupun Yang Sembunyi-Sembunyi
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين، والعاقبة للمتقين، ولا عدوان إلا على الظالمين، وأشهد أن لا إله إلا الله إله الأولين والآخرين وأشهد أن محمدا عبده ورسوله سيد الأنبياء والمرسلين وعلى آله وصحابته والتابع ومن تبعهم بأحسان الى يوم الدين، اما بعد
Anggota grup Whatsapp Dirosah Islamiyah rahimana wa rahimakumullah.
Kita kembali membahas hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam dari kitab Riyadush Shalihin masih berkaitan dengan permasalahan amal yang digantungkan pada niat seseorang. Ikhlas dalam beramal akan sangat menentukan diterimanya atau tidak sebuah amal di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Hadits kedua:
وَعَنْ أُمّ الْمُؤْمِنِينَ أُمِّ عَبْد الله عَائِشَةَ رضي الله عنها
Dari shahabiyah Ummi Al-Mukminin Ummu Abdillah Aisyah radhiyallahu ‘anha.
قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم :
Beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:
يَغْزُو جَيْشٌ الْكَعْبَةَ، فَإِذَا كَانُوا بِبَيْدَاءَ مِنَ الأَرْضِ يُخْسَفُ بِأَوَّلِهِمْ وَآخِرِهِمْ
“Ada sebuah pasukan yang akan menyerang Ka’bah ketika mereka sampai di baida’a (بَيْدَاءَ).
⇒Baida’a (بَيْدَاءَ) artinya adalah tempat yang lapang, kosong tidak ada tanaman tinggi maupun yang rendah seperti lembah.
Ketika mereka sampai di tempat yang luas tersebut maka tiba-tiba Allah jadikan mereka terbenam dimasukkan ke dalam tanah dari orang pertama sampai orang paling belakang.
قَالَتْ:
Maka Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan,
قُلْتُ : يَا رَسُولَ الله ، كَيْفَ يُخْسَفُ بأوَّلِهِمْ وآخِرِهِمْ وَفِيهِمْ أَسْوَاقُهُمْ وَمَنْ لَيسَ مِنْهُمْ!؟
“Ya Rasul, bagaimana mereka akan ditenggelamkan semuanya, orang yang paling depan sampai orang yang paling belakang sementara di tengah-tengah mereka ada orang yang bukan dari golongan mereka, yaitu orang-orang yang di pasar, orang yang jual-beli, orang yang datang karena kebutuhan dan mereka tidak memiliki niat yang sama untuk memerangi Ka’bah?”
Bagaimana mereka ikut serta dalam musibah besar tersebut, ditenggelamkan di dalam tanah. Maka Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam menjawab,
يُخْسَفُ بِأوَلِهِمْ وَآخِرِهِمْ، ثُمَّ يُبْعَثُونَ عَلَىٰ نِيَّاتِهِمْ
“Semua sudah Allah tentukan akan ditenggelamkan semuanya ke dalam tanah, dari awal sampai akhir, dari paling depan sampai belakang.”
Nanti pada hari kiamat mereka akan dibangkitkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sesuai dengan niat yang tersembunyi di dalam hati mereka. Apakah mereka termasuk golongan orang yang akan menyerang Ka’bah atau orang yang memang tidak sengaja berada di tengah-tengah mereka.
Hadits ini muttafaqun ‘alaihi, disepakati keshahihannya dan lafadznya merupakan lafadz Al-Bukhari.
كما قال النووي رحمه الله
Imam An-Nawawi mengatakan lafadz yang dipilih adalah lafadz Imam Al-Bukhari, hadits ini disepakati oleh Imam Bukhari dan Muslim.
Hadits ini adalah tentang adanya sebuah pasukan besar yang ingin menghancurkan Ka’bah. Dulu dalam sejarah kelahiran Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam pernah ada pasukan besar, pasukan gajah yang ingin menghancurkan Ka’bah sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala binasakan mereka.
Dan nanti akan lagi ada pasukan yang sangat besar yang akan kembali menghancurkan Ka’bah dan Allah Subhanahu wa Ta’ala akan kembali hancurkan mereka. Namun yang menjadi perhatian kita pada hadits ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan tunjukkan kekuasaan-Nya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala akan hancurkan dari orang pertama orang yang paling di depan sampai orang yang paling di belakang, sehingga tidak tersisa satu pun. Ketika mereka sampai di sebuah tempat hamparan yang luas tidak ada lagi orang yang bersembunyi di bawah lembah di atas bukit dan sebagainya, tempat semuanya hamparan, tapi Allah Subhanahu wa Ta’ala tenggelamkan semuanya. Allah tenggelamkan semuanya.
Maka Aisyah radhiyallahu ‘anha bertanya, bukankah di sana macam-macam orangnya, tidak semua orang pasukan, tidak semuanya tentara yang akan menghancurkan Ka’bah?
Akan tetapi Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam menyatakan,
يُخْسَفُ بِأوَلِهِمْ وَآخِرِهِمْ، ثُمَّ يُبْعَثُونَ عَلَىٰ نِيَّاتِهِمْ
Semua dihancurkan akan tetapi masing-masing hanya akan mempertanggung-jawabkan sesuai dengan kemauan dan niat masing-masing.
Kalau niatnya baik maka dia akan dibangkitkan sebagai yang baik, akan tetapi kenapa dia harus dihancurkan?
Maka kata Ibnu Hajar rahimahullah dalam Fathu Bari’ beliau mengatakan, mereka ini dihancurkan atau ditenggelamkan bersama mereka karena memang ajalnya sudah tiba, ajalnya sudah tiba akan mati dengan cara yang seperti itu. Akan tetapi pada hari kiamat nanti akan dibedakan antara orang yang betul-betul niat untuk menghancurkan dengan orang yang tidak ada niat.
Sebagian mereka ada orang yang di pasar, maka dikatakan dalam hadits ini, وَفِيهِمْ أَسْوَاقُهُمْ di situ ada orang-orang pasar, maksudnya bukan hanya pasar akan tetapi orang-orang yang sedang jual-beli di situ. Mereka tidak sengaja, hanya sedang jualan, ada orang juga datang karena keperluan, atau mungkin mereka menjual untuk para tentara itu. Akan tetapi ketika jatuh sebuah musibah mereka tidak terkecuali.
Dan ini seperti syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin bisa masuk dalam firman Allah,
وَٱتَّقُوا۟ فِتْنَةًۭ لَّا تُصِيبَنَّ ٱلَّذِينَ ظَلَمُوا۟ مِنكُمْ خَآصَّةًۭ
“Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu.” (QS Al-Anfal: 25).
Hati-hatilah dengan sebuah siksaan, sebuah ujian yang tidak akan menimpa kepada orang-orang zhalim saja, akan tetapi bisa kepada orang-orang yang di sekitar orang zhalim itu. Apabila di tengah-tengah itu sudah banyak kezhaliman, sehingga orang-orang yang tidak zhalim sedikit yang menang adalah orang-orang yang zhalim.
Maka sangat tidak menutup kemungkinan mereka akan terkena imbas hukuman, maka di sini Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah memberikan sebuah pelajaran tentang bisanya seseorang terciprati akibat buruk dari pertemanan dengan orang-orang yang tidak baik.
Beliau mengatakan,
أن الأعمال تعتبر بنية العامل
Semua amal akan dinilai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala tergantung pada niat orang yang melakukan.
والتحذير من مصاحبة أهل الظلم
Akan tetapi dalam hadits ini juga merupakan sebuah peringatan dan teguran dari menjadikan seorang yang zhalim sebagai teman.
ومجالستهم
Dan juga suka duduk bersama dengan mereka.
وتكثير سوادهم
Juga termasuk memberikan dukungan kepada mereka, sehingga seolah terlihat orang yang zhalim ini banyak, karena kita ikut mendukung mereka.
إلا لمن اضطر إلى ذلك.
Kecuali untuk orang yang memang terpaksa mau tidak mau harus bergaul dengan mereka, harus berinteraksi dengan mereka, akan tetapi tetap harus hati-hati karena memang akibatnya seperti ini.
Maka kata Al-Hafidz Ibnu Hajar, berkaitan dengan masalah orang-orang yang ada di pasar tadi mereka ini siapa? Dan kenapa mereka harus mendapatkan hukuman dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka kata Al-Hafidz Ibnu Hajar,
ويتردد النظر في مصاحبة التاجر لأهل الفتنة
Akan tetapi ada dua kemungkinan yang pada orang-orang pedagang itu, orang-orang kaya, pedagang sukses yang mereka suka bergaul dengan orang-orang ahli fitnah, orang yang membawa bencana, orang yang membawa ujian untuk orang-orang yang beriman.
هل هي إعانة لهم على ظلمهم
Apakah pergaulan mereka dengan orang-orang ahlul fitnah itu termasuk bentuk membantu mereka dalam kezhalimannya.
أو هي من ضرورة البشرية، ثم يعتبر عمل كل أحد بنيته
Atau mungkin ini adalah sebuah bentuk sesuatu yang terpaksa. Mereka mau tidak mau harus menghadapi orang zhalim karena mereka berjualan, sehingga mereka mau tidak mau harus membantu orang-orang yang zhalim itu atau mereka harus bertransaksi dengan orang yang zhalim itu.
Kemudian mereka nanti pada hari kiamat, kalau pun seandainya akhirnya mereka akan mendapatkan musibah dan hukuman dari orang-orang yang zhalim maka mereka akan dibangkitkan dengan niat mereka.
Maka kata Al-Hafidz Ibnu Hajar sebagian orang yang ada di tentara itu, ada yang terpaksa di antara tentara itu barangkali ada yang terpaksa atau ada orang yang memang semangat untuk menghancurkan Ka’bah. Maka pada hari kiamat nanti Allah Subhanahu wa Ta’ala tentu akan menghisab atau akan memperhitungkan di antara mereka tidak akan sama orang yang terpaksa dengan orang yang tidak terpaksa.
Hadits ini jelas menunjukkan bahwa,
إن للنية تَأْثِيرًا في العمل لتضع الخبر
Dalam hadits ini jelas diterangkan bahwa sebuah niat sangat memberikan pengaruh bagi amalan seseorang.
Kita lihat bagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membedakan di antara orang-orang yang sama mendapatkan hukuman. Ada yang dihancurkan tapi karena niatnya jelek maka dia akan dihukum dengan kejelekannya.
Ada orang yang niatnya shalih atau kebetulan dia bersama mereka, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan ampuni semua akan digantungkan pada amal masing-masing. Akan tetapi tadi yang kita sebutkan pelajaran yang sangat penting, agar seorang berhati-hati dari kawan-kawan yang buruk, sehingga kita khawatir ketika kita berada di tengah-tengah orang yang buruk kemudian ditimpa oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sebuah hukuman kita akan berada di tengah-tengah mereka sehingga hukuman itu akan mengenai kita.
Memang amalan akan digantungkan pada niatnya, akan tetapi tentu kita tidak ingin bahwa keseharian kita amal ibadah kita kemudian kebiasaan kita dipengaruhi oleh orang-orang yang buruk sehingga kita khawatir akan ditimpa dengan sesuatu yang menimpa orang-orang yang zhalim itu.
Semoga kita dijadikan sebagai orang yang mengambil pelajaran, mendengarkan kata-kata yang baik dan memilah-milih sehingga mengikuti kebenaran di manapun kebenaran itu berada.
Dan semoga kita dibuka oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala pintu kemudahan untuk menerima hidayah agar kita senantiasa berada di jalan istiqamah sampai kita menggapai jalan husnul khatimah.
Wallahu ta’ala a’lam.
وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين، و الحمد لله رب العالمين
Bab 1: Ikhlas dan Menghadirkan Niat Dalam Setiap Perbuatan dan Ucapan, Baik Yang Terang-Terangan Maupun Yang Sembunyi-Sembunyi
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين، والعاقبة للمتقين، ولا عدوان إلا على الظالمين، وأشهد أن لا إله إلا الله إله الأولين والآخرين وأشهد أن محمدا عبده ورسوله سيد الأنبياء والمرسلين وعلى آله وصحابته والتابع ومن تبعهم بأحسان الى يوم الدين، اما بعد
Anggota grup Whatsapp Dirosah Islamiyah rahimana wa rahimakumullah.
Masih dalam pembahasan niat, kita telah bahas pada beberapa penjelasan hadits yang lalu bahwa seseorang akan menjadi sah amalnya apabila dia niatkan amal tersebut karena Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Sebagaimana seseorang ketika memiliki aktivitas dan dia lakukan perbuatan tersebut jika seandainya dia niatkan maka akan dilihat akan dicatat sebagai ibadah akan tetapi jika dia laksanakan biasa tanpa niat akan menjadi sebuah aktivitas dan rutinitas biasa.
Ini merupakan fungsi dari niat dan juga termasuk sebuah amalan ketika belum dilakukan oleh seseorang maka pahalanya akan diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala karena seseorang telah meniatkan amal tersebut, hanya saja dia terhalang karena sebuah udzur. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan segala kemurahannya akan tetap memberikan pahala kepada orang yang sudah meniatkan akan melakukan amalan tersebut.
Dalam hadits yang ketiga dari shahabiyah Ummi Al-Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau mengatakan:
وَعَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها قَالَتْ: قَالَ النَّبيُّ صلى الله عليه وسلم : لا هِجْرَةَ بَعْدَ الْفَتْحِ، وَلكِنْ جِهَادٌ وَنِيَّةٌ، وَإِذَا اسْتُنْفِرْتُمْ فَانْفِرُوا. مُـتَّـفَقٌ عَلَيْهِ.
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim.
Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam menyatakan, “Tidak ada hijrah lagi setelah dibukakan atau ditaklukkannya kota Mekkah, akan tetapi orang yang masih ingin melaksanakan ibadah seperti orang yang akan melakukan hijrah dia bisa melaksanakan jihad dan dia perlu membenarkan niatnya.
وَإِذَا اسْتُنْفِرْتُمْ فَانْفِرُوا.
Apabila engkau telah diperintahkan oleh seorang imam seorang waliyul amr, orang pemimpin muslim, agar engkau segera menunaikan jihad, maka berangkatlah.
Hadits ini merupakan pembahasan pada saat itu ketika kaum muslimin di zaman sahabat ingin mendapatkan pahala hijrah. Hijrah dalam artinya meninggalkan apa yang disukai dari kota tempat tinggalnya menuju kota Madinah bersama Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam memiliki pahala yang sangat besar.
Jangankan orang yang berhijrah dengan orang yang tidak berhijrah, bahkan orang yang berhijrah di awal masa Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam berangkat meninggalkan kota Mekkah menuju kota Madinah dengan orang yang berangkat belakangan dibedakan.
Infaknya orang yang memberikan hartanya di awal Islam dengan orang yang berinfak di belakang hari dibedakan pahalanya, maka para sahabat menghendaki atau berharap setelah ditaklukannya kota Mekkah mereka juga ingin mendapatkan pahala hijrah, akan tetapi Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam menyatakan bahwa hijrah itu tujuannya untuk menyelamatkan agama.
Hijrah dari kota Mekkah menuju kota Madinah agar seseorang bisa beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, di saat orang-orang kafir Quraisy waktu itu menindas orang-orang Islam, akan tetapi ketika Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam dengan para sahabatnya berhasil membuka dan menaklukkan kota Mekkah sehingga kota Mekkah menjadi kota Islam, maka fungsi berhijrah dari kota Mekkah menuju kota Madinah sudah selesai. Karena dua-duanya mungkin untuk digunakan beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Ini yang dikatakan pada intisari hadits لا هِجْرَةَ بَعْدَ الْفَتْحِ tidak ada lagi hijrah yang dilakukan dengan sebuah wujud perpindahan seorang dari kota Mekkah ke kota Madinah, akan tetapi para ulama menyatakan bahwa hijrah yang dilakukan dengan sifat yang sama ketika seseorang tinggal di kota yang susah untuk melaksanakan agama, untuk beribadah kepada Allah masih terus berlangsung sampai akhir zaman.
Ketika seseorang meninggal di negeri minoritas, sudah untuk beribadah, selalu mendapatkan intimidasi, dipojokkan, dizhalimi dan dia susah untuk menunjukkan syiar-syiar keislaman maka apabila dia mampu dan dia mendapatkan kesempatan untk berhijrah maka hijrah ini masih berlaku. Karena tujuan hijrah adalah untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Akan tetapi dalam hadits ini yang dibahas adalah hijrahnya kaum muslimin dari kota Mekkah ke kota Madinah. Maka orang yang hijrah dari kota Mekkah ke kota Madinah setelah ditaklukannya kota Mekkah mereka tidak ada kewajiban melaksanakannya, akan tetapi Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam menyatakan,
وَلكِنْ جِهَادٌ وَنِيَّةٌ
Akan tetapi orang yang ingin tetap mendapatkan pahala yang tinggi, mendapatkan ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala bisa tetap kalian lakukan sebuah amal yaitu dengan berjihad dan dengan niat yang shahih.
Maka Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah, beliau ketika mengomentari hadits tersebut beliau mengatakan,
الهجرة بمعنى مفارقة الوطن التي كانت مطلوبة إلى المدينة انقطعت
Hijrah dalam arti meninggalkan tanah kelahiran, kampung halaman yang dulu mereka betul-betul dituntut dalam awal perjalanan Islam sekarang sudah selesai. Meninggalkan Mekkah menuju Madinah hijrah itu telah selesai.
لكن المفارقة بسبب الجهاد باقية
Akan tetapi meninggalkan tanah kelahiran dan kampung halaman yang tujuannya untuk berjihad meninggikan kalimat Allah Subhanahu wa Ta’ala, perbuatan dan amal itu masih terlaksana dengan ketentuan dalam syariat yang benar.
وكذلك المفارقة بسبب نية صالحة
Demikian pula ketika seseorang meninggalkan kampung halaman dengan niat yang bersih, niat yang benar.
كالفرار من الكفر
Sebagaimana seorang yang lari dari kekufuran.
والخروج في طلب العلم
Atau orang yang meninggalkan kampung halaman dengan niat yang benar untuk belajar.
Atau juga,
والفرار من الفتن
Orang yang meninggalkan kampung halaman karena ingin meninggalkan berbagai musibah dalam agama, cobaan yang besar, dan segala macam yaitu fitnah.
Maka
والنية في جميع ذلك
Dan semua niat masih tetap akan dijadikan sebagai patokan dan standar bahwa seseorang akan mendapatkan pahala itu.
Meninggalkan kampung halaman karena belajar karena lari dari kekufuran, karena lari dari terjadinya berbagai macam petaka, agama yang bisa menghancurkan ibadahnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala maka hal ini masih tetap dianjurkan.
Sebagaimana para ulama mengatakan, hijrah dari kata-kata hajr, meninggalkan, masih tetap ditunjukkan atau diperintahkan kepada seorang untuk meninggalkan segala macam kemaksiatan. Dan ini akan terus berlangsung sampai hari kiamat. Ini dalam hadits yang disebutkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari jalur Aisyah radhiyallahu ‘anha juga terdapat kabar gembira.
Ketika Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam menyatakan,
لا هِجْرَةَ بَعْدَ الْفَتْحِ
Tidak akan ada lagi hijrah dari kota Mekkah ke kota Madinah setelah Mekkah ditaklukan.
Dan penyebabnya sebagaimana disebutkan oleh para ulama karena kota Mekkah sudah menjadi negara Islam. Kata Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah para ulama mengambil kesimpulan berarti dalam hadits ini terdapat kabar gembira, bahwa kota Mekkah akan menjadi darul Islami abadan, kota Mekkah akan menjadi negara Islam selamanya, karena Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam sudah mengatakan, “Setelah ini sudah tidak ada lagi hijrah dari kota Mekkah,” tidak perlu seorang meninggalkan kota Mekkah untuk mempertahankan agama.
Dan ini menjadi kabar gembira untuk kaum muslimin ketika mereka akan mendatangi tempat itu, menunaikan ibadah haji dan umrah dengan tenang, beribadah kepada Allah berdoa. Dan ini juga merupakan salah satu tanda kenabian, ketika Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam mengabarkan bahwa kota Mekkah akan dimakmurkan dengan ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Ini menjadi patokan kita bahwa kota Mekkah merupakan kota yang mulia, terlepas dari siapa yang telah mengurus urusan kota itu. Dan ini menjadi ketenangan bagi kita, ketika kita datang ke tempat itu untuk bersimpuh beribadah kepada Allah, bukan justru meragukan keislaman penduduk kota itu, kemudian kita katakan bahwa perlu adanya hijrah meninggalkan kota itu menuju kota lain yang tidak jelas dalilnya. Ini merupakan salah satu fenomena kesalahan dalam berpikir.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang bisa istiqamah di atas sunnah. Wallahu Ta’ala A’lam.
وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين، والحمد لله رب العالمين
Bab 1: Ikhlas dan Menghadirkan Niat Dalam Setiap Perbuatan dan Ucapan, Baik Yang Terang-Terangan Maupun Yang Sembunyi-Sembunyi
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين، والعاقبة للمتقين، ولا عدوان إلا على الظالمين، وأشهد أن لا إله إلا الله إله الأولين والآخرين وأشهد أن محمدا عبده ورسوله سيد الأنبياء والمرسلين وعلى آله وصحابته والتابع ومن تبعهم بأحسان الى يوم الدين، اما بعد
Anggota grup Whatsapp Dirosah Islamiyah rahimana wa rahimakumullah.
Masih tentang pembahasan niat dan juga merupakan salah satu anjuran yang akan menjadikan seorang mukmin memperhatikan niatnya sebelum beramal. Seseorang bisa saja mendapatkan pahala yang mulia sekali pun dia belum melaksanakan sebuah amal.
Dari Jabir ibnu Abdillah Al-Anshari radhiyallahu ‘anhuma,
وعَنْ أَبِي عَبْدِ الله جَابِرِ بْنِ عَبْدِ الله الأنصَارِيِّ رضي الله عنهما قَالَ: كُـنَّا مَعَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فِي غَزَاةٍ
Jabir ibnu Abdillah radhiyallahu ‘anhum menceritakan, kami dahulu pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam dalam sebuah pertempuran
فَقَالَ: إِنَّ بِالْمَدِينَةِ لَرِجَالاً
Sesungguhnya kata Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam di kota Madinah ada beberapa orang.
مَا سِرْتُمْ مَسِيراً، وَلاَ قَطَعْتُمْ وَادِياً إِلاَ كَانُوا مَعَكُمْ
Tidaklah kalian menempuh sebuah jalan yang susah di pegunungan dan kalian menyembrangi sebuah lembah melainkan kalian akan mendapatkan pahala seperti kalian.
حَبَسَهُمُ الْمَرَضُ
Mereka tetap mendapatkan pahala dari pahala yang kalian dapatkan dengan kepayahan yang kalian dapatkan dalam perjalanan ini karena mereka tidak bisa datang karena mereka sakit.
Dalam sebuah riwayat disebutkan
إلاَ شَرَكُوكُمْ فِي الأجْرِ
“Mereka orang-orang yang ada di kota Madinah mendapatkan pahala sebagaimana kalian mendapatkan pahala.”
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dan hadits ini disebutkan oleh Jabir ibnu Abdillah radhiyallahu ‘anhuma sahabat Nabi yang mulia, sahabat Nabi yang masih muda. Ayah beliau seorang sahabat yang meninggal terbunuh di kota Madinah pada saat perang Uhud.
Ayah beliau Abdullah ibnu Amr ibnu Harram meninggalkan di peperangan Uhud ketika beliau meninggalkan anak-anak perempuan, sehingga dalam shahih Muslim sahabat Jabir radhiyallahu ‘anhu mengatakan,
غَزَوْتُ مع رَسولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ تِسْعَ عَشْرَةَ غَزْوَةً.
Aku pernah mengikuti perang bersama Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam sembilan belas peperangan, kemudian beliau mengatakan,
لَمْ أَشْهَدْ بَدْرًا، وَلَا أُحُدًا
Akan tetapi aku belum sempat untuk mengikuti perang yang sangat istimewa yaitu perang Badr dan perang Uhud.
مَنَعَنِي أَبِي
Karena Ayahku menghalangiku atau melarangku untuk ikut perang bersama Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam
فَلَمَّا قُتِلَ، لَا أَتَخَلَّفْ عبدا
Ketika Ayahku terbunuh di perang Uhud maka aku tidak pernah absen dari pertempuran bersama Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam.
Dan beliau ini dititipi oleh ayahnya dengan adik-adik yang banyak, berjumlah sembilan orang semuanya perempuan. Sehingga ayahnya ketika berangkat berperang Jabir ibnu Abdillah diberikan wasiat, “Kamu tidak ikut akan tetapi kamu harus urus rumah tangga kita.” Sehingga ketika akhirnya ayahnya terbunuh di perang Uhud kemudian Jabir ibnu Abdillah ingin menikah beliau pun mengawali pernikahan dengan menikahi seorang janda.
Ketika Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bertanya,
أَبِكْرًا أَمْ ثَيِّبًا
Kamu sudah menikah dengan seorang gadis atau seorang janda?
Dia mengatakan بَلْ ثَيِّبًا aku menikahi seorang janda, Ya Rasulullah! Seorang yang pernah menikah dan sudah berumur.
Maka ditanya oleh Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam,
فَهَلاَّ بِكْرًا تُـلاَعِبُهَا
Kenapa engkau tidak menikah dengan seorang gadis sehingga engkau bisa lebih bermesraan dengan istri baru itu?
Maka Jabir ibni Abdillah mengatakan,
إِنَّ أَبِي قُتِلَ يَوْمَ أُحُدٍ
Sesungguhnya ayahku telah terbunuh di pertempuran Uhud.
وَتَرَكَ تِسْعَ بَنَاتٍ
Dan beliau meninggalkan sembilan orang anak perempuan.
فَكَرِهْتُ أَنْ أَجْمَعَ إِلَيْهِنَّ جَارِيَةً خَرْقَاءَ مِثْلَهُنَّ
Dan aku tidak ingin ketika aku menikah aku membawa sebuah beban baru seorang wanita sampai mereka yang sama-sama masih kecil.
فَتَزَوَّجْتُ امْرَأَةً تَقُومُ عَلَيْهِنَّ وَتُصْلِحُهُنَّ
Akan tetapi aku menikahi seorang janda yang bisa membantu mengurus adik-adikku.
Ini merupakan salah satu pengorbanan di rumah tangga sahabat Nabi. Ketika ayahnya terbunuh di medan pertempuran setelah itu Jabir ibni Abdillah berangkat untuk melakukan pertempuran terus.
Dan beliau juga sama tetap belajar untuk mendalami agama Allah sampai diriwayatkan di antara biografi Jabir ibni Abdillah beliau sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam pernah melakukan perjalanan dari kota Madinah ke kota Syam selama sekitar satu bulan untuk menemui salah seorang sahabat yang bernama Abdullah ibnu Unais, mempelajari satu hadits Nabi saja.
Sehingga beliau merupakan seorang referensi di kota Madinah pada saat itu. Bahkan beliau dipanjangkan umurnya oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sehingga kaum muslimin banyak belajar dari Jabir ibnu Abdillah radhiyallahu ‘anhuma. Beliau meninggal pada saat umurnya sudah lebih dari sembilan puluh tahun sampai matanya buta.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang bisa istiqamah di atas sunnah. Wallahu Ta’ala A’lam.
وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين، والحمد لله رب العالمين
Bab 1: Ikhlas dan Menghadirkan Niat Dalam Setiap Perbuatan dan Ucapan, Baik Yang Terang-Terangan Maupun Yang Sembunyi-Sembunyi
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين، والعاقبة للمتقين، ولا عدوان إلا على الظالمين، وأشهد أن لا إله إلا الله إله الأولين والآخرين وأشهد أن محمدا عبده ورسوله سيد الأنبياء والمرسلين وعلى آله وصحابته والتابع ومن تبعهم بأحسان الى يوم الدين، اما بعد
Anggota grup Whatsapp Dirosah Islamiyah rahimana wa rahimakumullah.
Masih tentang pembahasan niat.
Hadits yang kedua masih semakna dengan hadits Ibnu Abdillah adalah yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu.
Anas bin Malik mengatakan,
رَجَعْنَا مِنْ غَزْوَةِ تَبُوكَ مَعَ النَّبِيِّ ﷺ
Kami pulang dari perang Tabuk bersama Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam.
Dan ini menunjukkan bahwa kisah yang diceritakan oleh Jabir ibnu Abdillaha adalah perang Tabuk. Dan Tabuk merupakan daerah yang jauh dari kota Madinah, sekitar 800 Km dan mereka dulu berangkat menggunakan unta, kuda, dan semacamnya untuk bertempur di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
فَقَالَ:
Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam mengatakan,
إِنَّ أَقْوَامَاً خلْفَنَا بالمدِينةِ
Sesungguhnya ada orang-orang (sekelompok) kaum di kota Madinah,
مَا سَلَكْنَا شِعْباً وَلاَ وَادِياً إِلاَّ وَهُمْ مَعَنَا
Tidaklah kita semua yang hadir melaksanakan pertempuran ini kemudian pulang melewati jalan di pegunungan, menempuh sebuah jalan-jalan terjal dan juga termasuk wadian (lembah-lembah) melainkan mereka akan mendapatkan pahala yang kita dapatkan.
حَبَسَهُمْ الْعُذْرُ
Mereka ingin mengikuti perjalanan kita akan tetapi mereka terhalang oleh sebuah udzur.
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu.
Anas bin Malik juga sama merupakan sahabat Nabi yang mulia yang masih muda, beliau dilahirkan sepuluh tahun sebelum hijrah Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam ke kota Madinah. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam datang, maka Anas bin Malik yang masih muda sepuluh tahun dibawa oleh ibunya untuk menghadap kepada Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam.
Kemudian ibunya mengatakan,
يا رسول الله خيدمك أنس
Ini adalah pembantumu, Ya Rasulullah!
فدع الله له
Wahai Rasul, doakan beliau.
Maka akhirnya didoakanlah Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu dengan doa yang masyhur, Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam menyatakan
اللَّهُمَّ أكْثِرْ مَالَهُ، ووَلَدَهُ، وبَارِكْ له فِيما أعْطَيْتَهُ
Ya Allah berikanlah dia harta dan anak yang banyak dan berkahilah apa yang Engkau berikan kepadanya.
Maka Anas bin Malik bercerita, “Sebelum aku meninggal aku telah menguburkan dari anak cucuku sampai seratus orang lebih.” Karena anaknya banyak, kemudian hartanya juga banyak, bahkan umurnya juga banyak.
Beliau dipanjangkan usianya sampai lebih dari seratus tahun, dan Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau merupakan orang yang sangat cinta dan meneladani Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam.
Kisah yang sangat masyhur ketika beliau menemani Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam mendatangi undangan seorang sahabat, sampai Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam menyantap hidangan yang diberikan berupa roti kemudian sayur yang ada daging dan juga ada marok atau kuahnya, kemudian di situ ada buah labu.
Maka Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu menceritakan,
فَرَأَيْتُ رَسولَ اللَّهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم يَتَتَبَّعُ الدُّبَّاءَ مِن حَوْلِ الصَّحْفَةِ
Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam makan dengan lahap sampai beliau membersihkan bekas makanan itu sampai tidak tersisa sekali padahal di situ ada duba’ atau ada sebuah lauk berupa labu.
Maka kata Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu,
فَلَمْ أزَلْ أُحِبُّ الدُّبَّاءَ مِن يَومِئِذٍ
Dan sejak saat itu aku suka untuk makan duba (buah labu).
Karena beliau melihat Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam makan buah labu. Ini menunjukkan bagaimana kadar kecintaan para sahabat Nabi ketika mereka ingin meneladani Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam. Membuktikan kecintaan dengan ketaatan, dengan menyamakan amal dan juga hobi serta kebiasaan mereka dengan apa yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam.
Sebagaimana yang disampaikan juga tentang kebiasaan Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhuma. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu mengatakan,
ما رأيت أحدًا أشبه بصلاة رسول الله ﷺ من ابن أم سليم انس بن مالك
Kami tidak pernah melihat shalat yang mirip dengan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam sebagaimana shalat sahabat Anas bin Malik, anaknya Ummu Sulaim.
Ini merupakan sebuah usaha para sahabat dalam membuktikan kecintaan mereka kepada Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam dengan berusaha menyamakan ibadah mereka dengan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam.
Dan ini merupakan sebaik-baik bukti bukan seperti orang yang mengaku cinta akan tetapi jauh dari ajaran, orang yang mengatakan cinta tapi tidak taat.
Orang Arab mengatakan,
تَعصي الإِلَهَ وَأَنتَ تُظهِرُ (تزعم) حُبَّهُ إ هَذا مَحالٌ في القِياسِ بَديعُ
لَو كانَ حُبُّكَ صادِقاً لَأَطَعتَهُ إ إِنَّ المُحِبَّ لِمَن يُحِبُّ مُطيعُ
Engkau bermaksiat kepada Allah sambil menyangka bahwa engkau mencintai Allah ini merupakan sebuah perkataan yang sangat hina. Seandainya cintamu adalah cinta yang jujur niscaya akan taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala karena kebiasaan di semua manusia. Orang yang cinta akan taat kepada orang yang dicintai.
Maka merupakan sebuah hal yang wajar dan tuntutan dalam Islam untuk orang yang mengatakan cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam sudah sepantasnya mereka melakukan apa yang diamalkan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam, meneladani termasuk dalam hal yang ditinggalkan.
Ditinggalkan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam berarti kita tinggalkan, seperti ini adalah sebuah usaha untuk meneladani Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam dan membuktikan kecintaan.
Dalam hadits ini, Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam menyatakan bahwa orang-orang yang turut, niat untuk melakukan sebuah ibadah, mereka akan mendapatkan pahala dari ibadah tersebut sekalipun mereka belum sempat melakukannya.
Kita bayangkan jihad merupakan ibadah yang mulia untuk meninggikan kalimat Allah Subhanahu wa Ta’ala di muka bumi, untuk menghilangkan kekufuran, kesyirikan segala macam dan membutuhkan perjuangan, harta, jiwa, dan raga. Akan tetapi sebagian kaum muslimin tidak memiliki modal yang sama sehingga mereka tidak bisa melakukan apa yang bisa dilakukan kaum muslimin lainnya.
Ketika mereka tidak mampu untuk melakukan jihad di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala akan tetapi mereka sudah meniatkan, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas niat mereka dengan memberikan pahala yang juga didapatkan oleh orang-orang yang sempat mengerjakannya.
Dan ini merupakan penghormatan Allah kepada setiap kaum muslimin yang berusaha dengan niat dan tekad yang benar untuk melakukan sebuah ibadah. Tentu niat yang benar adalah orang betul-betul ingin mengerjakan bukan hanya sekedar khatharat kata para ulama, hanya sekedar pikiran yang terlintas, “Ah, saya juga pengen seperti itu,” tapi tidak ada niatan untuk mengerjakan.
Orang yang betul-betul niat dia adalah orang yang bertekad untuk mengerjakan, kemudian barangkali sudah melakukan sebab akan tetapi terhalang karena ketidakmampuan. Ini yang disebutkan dalam hadits orang yang sudah ingin meniatkan sebuah amal kemudian terhalang karena ketidakmampuan dia akan mendapatkan pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Sebagaimana dalam hadits,
مَن هَمَّ بحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْها، كُتِبَتْ له حَسَنَةً (كامل)
“Orang yang sudah meniatkan sebuah amal akan tetapi dia belum sempat untuk melaksanakan maka dia akan mendapatkan pahala kebaikan yang sempurna.”
Ini jika belum diamalkan, akan tetapi merupakan kemurahan Allah yang lebih banyak ketika seorang berhasil mengamalkan sebuah ibadah dan dia berusaha untuk merutinkan, ternyata di kemudian hari dia mendapatkan sebuah udzur. Dia terbiasa melakukan shalat berjamaah, dia terbiasa melaksanakan puasa, terbiasa shadaqah, belajar thalabul ilmi akan tetapi tiba-tiba dia sakit, atau dia sedang safar. Sehingga karena orang yang sedang melakukan perjalanan biasa terbatas dari beberapa aktivitas maka dia akan tetap mendapatkan pahala sempurna apa yang dia lakukan kebiasaannya.
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh shahih Bukhari Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam menyatakan,
إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ، كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا
“Apabila seorang hamba sakit atau sedang melakukan perjalanan jauh lalu dia tidak bisa melakukan beberapa aktivitasnya maka dia akan mendapatkan pahala sempurna apa yang biasa dia lakukan ketika dia sedang tidak safar maupun sedang tidak sakit.”
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang bisa istiqamah di atas sunnah. Wallahu Ta’ala A’lam.
وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين، والحمد لله رب العالمين
Bab 1: Ikhlas dan Menghadirkan Niat Dalam Setiap Perbuatan dan Ucapan, Baik Yang Terang-Terangan Maupun Yang Sembunyi-Sembunyi
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين، والعاقبة للمتقين، ولا عدوان إلا على الظالمين، وأشهد أن لا إله إلا الله إله الأولين والآخرين وأشهد أن محمدا عبده ورسوله سيد الأنبياء والمرسلين وعلى آله وصحابته والتابع ومن تبعهم بأحسان الى يوم الدين، اما بعد
Anggota grup Whatsapp Dirosah Islamiyah rahimana wa rahimakumullah.
Kita masih membahas tentang masalah niat. Niat yang menjadi penentu pahala setiap aktivitas kita. Dan para ulama mengatakan bahwa sebuah amal tergantung besar kecilnya dari apa yang diniatkan.
Para ulama sebagian mereka mengatakan,
رُبَّ عَمَلٍ صَغِيرٍ تُعَظِّمُهُ النِّيَّةُ، وَرُبَّ عَمَلٍ كَبِيرٍ تُصَغِّرُهُ النِّيَّةُ
“Berapa banyak amal yang kecil terlihat sepele dan remeh menjadi besar posisinya di sisi Allah Azza wa Jalla karena niatnya bagus, sebaliknya sebuah amal sekali pun terlihat istimewa di sisi manusia akan berarti sepele dan tidak ada apa-apanya di sisi Allah ‘Azza wa Jalla.”
Ketika niat orang yang melakukan tidak benar dan lurus sesuai dengan syariat, maka para ulama mengingatkan sekali tentang urgensi dan pentingnya niat. Mereka mengatakan,
تعلموا النية فإنها أبلغ من العمل
“Belajarlah niat sebenar-benarnya karena sesungguhnya niat ini lebih kuat dan lebih banyak pengaruhnya daripada amal itu sendiri.”
Thayyib. Kaum muslimin, kita akan mempelajari dua hadits insyaaAllah.
Yang pertama hadits yang diriwayatkan oleh seorang sahabat Nabi yang ayahnya juga seorang sahabat Nabi bahkan kakeknya adalah seorang sahabat Nabi. Dan kelebihan ketika kita membahas hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam kita pun akan mengerti dan mengenal orang-orang yang menjadi pilihan Allah yang pernah diciptakan untuk menjadi para pembela Rasul shallallahu ‘alayhi wa sallam.
وَعَنْ أَبِي يَزِيدَ مَعْنِ بْنِ يَزِيدَ بْنِ الأَخْنَسِ رضي الله عنهم
Dari Abu Yazid, namanya Ma’an ibnu Yazid ibnu Al-Akhnas.
Kunyah dia Abu Yazid nama bapaknya Yazid, jadi dia adalah Ma’an ibnu Yazid Abu Yazid. Kemudian nama kakaknya Al-Akhnas dan mereka semua adalah sahabat Nabi, maka disebutkan oleh Imam An-Nawawi rahimahullah,
وَهُوَ وأَبُوهُ وَجَدُّهُ صَحَابيِّونَ
Dia, ayahnya, kakeknya adalah para sahabat Nabi ridhwanullah ta’ala alaihim shallallahu ‘alayhissalaam.
قَالَ: كَانَ أَبِي يَزِيدُ أخْرَجَ دَنَانِيرَ يَتَصَدَّقُ بِهَا
Dia mengatakan, Ayahku pernah satu saat menyisihkan sebagian hartanya untuk disedekahkan.
فَوَضَعَهَا عِنْدَ رَجُلٍ فِي الْمَسْجِدِ
Maka beliau meletakkan atau mengamanahkan kepada seseorang untuk membagikannya di masjid.
فَجِئْتُ فَأخَذْتُهَا، فَأَتَيْتُهُ بِهَا
Maka aku pun datang dan aku mendapatkan jatah dari bagian sedekah ayahku itu. Maka aku pun mendatangi bapakku karena aku telah mendapatkan sedekah yang diberikan atau dikeluarkan oleh ayahku.
فَقَالَ:
Maka ayahku mengatakan (ayahku kaget),
وَاللهِ مَا إِيَّاكَ أَرَدْتُ
“Aku tidak ingin mengeluarkan sedekah ini untukmu, Nak!”
فَخَاصَمْتُه إِلَىٰ رَسُولِ الله صلى الله عليه وسلم
“Maka aku pun memperkarakan atau mengadakan perdebatan dan aku angkat urusannya, aku laporkan di depan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam.”
Maka Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,
لَكَ مَا نَوَيْتَ يَا يَزِيدُ، وَلَكَ مَا أَخَذْتَ يَا مَعْنُ
“Wahai Yazid engkau akan mendapatkan pahala sesuai yang engkau niatkan dan wahai Ma’an (anak Yazid) engkau pun berhak untuk mendapatkan harta ini karena engkau pun memiliki niat yang benar.”
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari rahimahullah.
Dan di awal hadits ini disebutkan dalam shahih Bukhari justru menunjukkan tentang keistimewaan yang dimiliki oleh sahabat Ma’an ibnu Yazid tadi. Beliau mengatakan tentang hubungan beliau yang dekat dengan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam.
Beliau mengatakan,
بايعت النبي الله صلى الله عليه وسلم أنا وأبي وجدي
Aku membai’at Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam untuk siap membela Islam ketika beliau masuk Islam, kemudian mengatakan, “Aku siap membela engkau Ya Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam. Saat beliau masuk Islam beliau beserta ayahnya, kakeknya. Ini menunjukkan sebuah keistimewaan.
Dan Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan, “Jika seandainya seorang sahabat Ma’an ini kemudian menikah, karena dalam kelanjutan hadits ini beliau mengatakan tentang keistimewaan kedekatan beliau dengan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam.
وخطب علي فأنكحني
Di antara ciri kedekatan kepada Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam sampai Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam melamarkan aku. Beliau melamarkan aku untuk menikahi seorang gadis
فأنكحني
Sampai Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam yang menikahkan aku.
Ini menunjukkan kedekatan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam dengan sahabat Ma’an ibnu Yazid.
Kata Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah, “Kalau seandainya dalam pernikahan itu, akhirnya beliau dikaruniai seorang anak kemudian lahir di zaman Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam, maka anak itu pun akan menjadi seorang sahabat. Maka beliau akan mendapatkan keistimewaan memiliki predikat seorang sahabat Nabi empat garis keturunan.”
Ma’an, ayahnya, kakeknya kemudian kalau seandainya anaknya pun lahir. Ini jelas sebuah keistimewaan. Sebagaimana dinukil dari biografi keluarga Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu. Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu memiliki seorang cucu yang dilahirkan di zaman Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam.
Abu Bakar memiliki anak yang bernama Abdurrahman, kemudian Abdurrahman memiliki anak seorang yang bernama Muhammad, dan Muhammad dilahirkan di zaman Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam sehingga beliau (Muhammad Ibnu Abdurrahman) seorang sahabat, anaknya sahabat, anaknya sahabat, dan anaknya sahabat. Muhammad Ibni Abdurrahman ibni Abi Bakar ibni Abi Quhafah.
Dan termasuk yang pernah diriwayatkan seperti kisah ini adalah seperti kisah lain yang menjadi kekasih Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam yaitu Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma. Usamah anak dari Zaid bin Haritsah.
Dan dalam sebuah riwayat disebutkan oleh Imam Hakim rahimahullah, Al-Haritsah akhirnya datang untuk masuk Islam sehingga mereka bertiga merupakan sahabat Nabi.
Dan dalam riwayat dikatakan Usamah akhirnya memiliki anak di zaman Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam sehingga anaknya, anak Usamah kalau tidak salah namanya Yazid karena Usamah diberikan gelar Abu Yazid.
Maka jika seandainya mereka semua telah lahir di zaman Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam maka ini adalah seorang sahabat Yazid ibn Usamah ibni Zaid ibnu Haritsah
Empat generasi menjadi sahabat Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam semuanya dan jelas merupakan sebuah keistimewaan dan beliau dalam hadits ini menyebutkan tentang kejadian yang menunjukkan posisi niat yang sangat berharga.
Bagaimana seorang ingin melakukan sebuah aktifitas ibadah tanpa sengaja pun ternyata tetap mendapatkan pahala. Ceritanya dalam hadits ini ayahnya Ma’an yaitu Yazid ibnu Al-Akhnas beliau ingin mengeluarkan hartanya untuk disedekahkan.
Dalam beberapa riwayat disebutkan oleh Hafidz Ibnu Hajar ayahnya kemudian menyerahkan kepada seorang untuk dibagikan di masjid dan Ma’an yang menjadi orang yang memang membutuhkan datang ke masjid, kemudian dikira oleh orang yang dipercayai ayahnya. Dikira bahwa orang ini adalah orang yang berhak mendapatkan, maka dikasihkan.
Ketika dia mendapatkan ternyata ini adalah sedekah ayahnya maka dia lapor (kepada ayahnya) uang dinar yang dia terima dari orang kepercayaan abinya (ayahnya) dan ini merupakan sedekah abinya, maka diambil kemudian dilaporkan kepada ayahnya. “Aku mendapatkan ini dari jatah orang yang engkau percayai.” Ternyata ayahnya kaget.
Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan, “Bisa jadi ayahnya tidak ingin memberikan uang sedekahnya kepada anaknya.” Kalau seandainya aku ingin ngasih engkau nak, aku langsung kasih bukan aku kasih lewat perantara orang kemudian merupakan sedekah dari uang yang aku keluarkan.
Dalam hal ini ternyata Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam mengizinkan dan menganggap bahwa sedekah dari ayahnya yaitu Yazid ibnu Al-Akhnas adalah sedekah yang sah dan diterima dan berpahala di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sedangkan anaknya yang bernama Yazid dia pun dibenarkan untuk mengambil harta itu, sekalipun harta itu dari ayahnya.
Para ulama berbeda pendapat dalam hal ini disebutkan pula bagaimana hukum seorang yang mengeluarkan zakat akan tetapi diberikan kepada anaknya. Terjadi perbedaan pendapat di antara para ulama.
Sebagian mereka mengatakan tidak boleh kecuali jika seandainya dia tidak ingin menggugurkan kewajiban lainnya dengan memberikan zakat kepada anaknya.
Contohnya ini seperti disebutkan oleh syaikh Shalih Muhammad bin Utsaimin rahimahullah, beliau mengatakan contohnya seorang ayah misalkan dia memiliki uang yang disendirikan dan ini merupakan uang zakat. Tiba-tiba tanpa sengaja anaknya kecelakaan dan anaknya fakir, lalu anaknya diberikan oleh ayahnya uang dari zakatnya untuk berobat.
Maka kata syaikh Muhammad shalih bin Utsaimin ini dibolehkan, akan tetapi jika seandainya seorang ayah memberikan zakat hartanya kepada anaknya tujuannya adalah agar dia bisa menggabung antara nafkah yang diberikan kepada anak dengan zakat yang dikeluarkan maka ini tidak boleh. Karena tujuan dia mengeluarkan zakat adalah untuk menggugurkan sebagian kewajibannya.
Sekali pun sebagian ulama lain mengatakan tidak boleh memberikan zakat kepada anak dan terus ke bawah juga ayah juga terus ke atas. Ini untuk kehati-hatian.
Kemudian para ulama juga membahas bolehkah seseorang mengeluarkan shadaqah atau zakat wajibnya kepada orang yang tidak berhak? Jumhur ulama mengatakan bahwa hukumnya tidak boleh sehingga orang yang tidak sengaja mengeluarkan zakatnya kepada orang yang tidak berhak untuk maka dia harus mengulang kembali, sekali pun sebagian ulama mengatakan tidak apa-apa. Buktinya adalah hadits yang disebutkan dari Ma’an ibni Yazid ibni Al-Akhnas radhiyallahu ta’ala ‘anhum dalam hadits ini.
Dan ini ikhwah sekali kaum muslimin, menunjukkan betapa niat tersebut sangat berpengaruh ketika seseorang melakukan aktifitas maka Allah Azza wa Jalla akan melihat niatnya dan amal itu akan menjadi sah atau tidak tergantung niatnya.
Diberikan contoh beberapa kasus oleh para ulama yang paling jelas dan sering terjadi di tengah kaum muslimin adalah ketika seorang suami mendapatkan istrinya ada akhlak yang tidak dikehendaki sehingga dia marah, kemudian dia akan mengatakan, kata-kata ungkapan yang merupakan kiasan, “Kau pulang saja ke rumah orang tuamu” atau “Kalau begitu kamu bereskan semua baju-bajumu di sini, kamu pindah rumah”, dan sebagainya.
Ini bukan merupakan lafadz yang sharih (tegas) untuk mengatakan, kamu saya cerai atau bagaimana, akan tetapi ini merupakan kata-kata kiasan. Maka akan dikembalikan hukumnya sesuai dengan niat suami ketika mengucapkan kata-kata tersebut.
Kalau seandainya dia niatkan untuk cerai maka akan jatuh talak, akan tetapi jika seandainya dia hanya murni marah-marah biasa atau hardik atau ancaman, maka cerai itu tidak jatuh. ini adalah beberapa kisah atau kasus yang hampir serupa.
Termasuk di antaranya adalah termasuk ketika seorang ingin wakaf lalu dia salah salam mewakafkan. Dia punya rumah tiga kemudian dia katakan, “Aku ingin wakafkan rumah ini untuk pesantren, aku ingin memberikan rumah yang tengah,” padahal dalam hatinya dia tidak ingin yang tengah akan tetapi dia ingin memberikan rumah yang paling besar di sebelah kanannya.
Maka yang akan dijadikan pedoman adalah niatnya. Dan tentu akan ditanya, “Benar Antum akan mewakafkan rumah Antum yang sini?”, maka dia akan katakan, “Sebenarnya niat saya akan memberikan yang ini.”
Maka kesalahan lisan dalam mengucapkan atau kesalahan dalam anggota badan berbuat akan disetarakan dengan niat yang ada dalam hati.
Maka dalam dalam madzhab Imam Syafi’i rahimahullah mereka para ulamanya yang mengatakan bahwa ketika akan melaksanakan ibadah shalat harus diiringi dengan mengucapkan lafadz. Apabila ada orang mengatakan, “Aku niat untuk melaksanakan shalat Zhuhur,” kemudian dalam hatinya tidak. Dia mengatakan, “Aku niat untuk melaksanakan shalat Ashar, maka yang akan dijadikan standar sah atau tidaknya shalat dia adalah apa yang ada dalam hati
Dan itu mungkin sekali, karena sebagian kaum muslimin tidak perhatian dengan apa yang dia ucapkan, dia mengatakan, “Pokoknya aku mau shalat seperti ini,” karena dia hanya hafal ushali seperti ini kemudian dia salah dalam mengucapkan. Shalat Zhuhur dia katakan shalat Ashar, maka dalam madzhab Syafi’i seandainya dalam hati dia meniatkan sesuatu kemudian lafadznya tidak sama dengan hatinya maka yang akan dijadikan standar adalah ada dalam hatinya.
Semoga Allah Azza wa Jalla menjadikan kita termasuk orang-orang yang bisa mendengarkan perkataan yang baik dan mengikutinya dan memudahkan kita untuk menerima kebenaran, menerima hidayah. Sehingga kita bisa istiqamah di atas sunnah.
وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين، والحمد لله رب العالمين
Bab 1: Ikhlas dan Menghadirkan Niat Dalam Setiap Perbuatan dan Ucapan, Baik Yang Terang-Terangan Maupun Yang Sembunyi-Sembunyi
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين، والعاقبة للمتقين، ولا عدوان إلا على الظالمين، وأشهد أن لا إله إلا الله إله الأولين والآخرين وأشهد أن محمدا عبده ورسوله سيد الأنبياء والمرسلين وعلى آله وصحابته والتابع ومن تبعهم بأحسان الى يوم الدين، اما بعد
Anggota grup Whatsapp Dirosah Islamiyah rahimana wa rahimakumullah.
Kita berpindah, yaitu hadits Sa’ad bin Abi Waqash radhiyallahu ta’ala ‘anhu masih tentang masalah niat. Dan hadits ini disebutkan oleh Imam An-Nawawi rahimahullah dengan menyebutkan sanad Sa’ad bin Abi Waqash radhiyallahu ‘anhu dengan panjang.
Beliau katakan,
وَعَنْ أَبِي إِسْحَاقَ سَعْدِ بْنِ أبِي وَقَّاصٍ مَالِكِ بْنِ أُهَيْب بْنِ عَبْدِ مَنَافِ بن زَهْرَةَ بْنِ كِلاَبِ بْنِ مُرَّةَ بْنِ كَعْبِ بْنِ لُؤَيّ بْنِ غَالِب الْقُرَشِيِّ الزُهْرِيّ رضي الله عنه
Ini adalah nasabah dari Sa’ad ibnu Abi Waqash radhiyallahu ta’ala ‘anhu.
Sa’ad bin Abi Waqash adalah seorang sahabat yang nasabnya akan bertemu dengan salah satu kakek Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam, sehingga beliau masih termasuk kerabat Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam. Karena beliau adalah seorang dari kabilah Quraisy.
Di sebutkan,
أَحَدِ الْعَشَرَةَ الْمَشْهُودِ لَهُمْ بِالْجَنَّة رضي الله عنهم
Sa’ad bin Abi Waqash merupakan salah satu dari sahabat yang dijanjikan masuk surga oleh Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam sedang beliau masih hidup.
جَاءني رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم يَعُودُنِي عَامَ حَجَّةِ الْوَدَاعِ مِنْ وَجَعٍ اشْتدَّ بِي
Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam ketika kejadian haji wada menjengukku, ketika aku sedang sakit parah dan keras.
Dalam sebuah riwayat dikatakan, “Sampai aku hampir mati.”
Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam menjenguk dan aku pun mengatakan,
فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ الله إِنِّي قَدْ بَلَغَ بِي مِنَ الْوَجَعِ مَا تَرَى
“Ya Rasul, engkau tahu aku sudah keras sekali sakitnya.
وَأنَا ذُو مَالٍ
Aku memiliki harta yang banyak.
وَلاَ يَرِثُنِي إِلَّا ابْنَةٌ لِي،
Aku tidak memiliki ahli waris kecuali satu anak perempuan.
أَفَاَتَصَدَّقُ بِثُلُثَيْ مَالِي ؟
Bolehkan aku menyedekahkan semua hartaku sekarang 2/3 dari harta yang ada?
قَالَ: لا
Kata Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam, “Tidak.”
قُلْتُ: فَالشَّطْرُ يَا رَسُولَ الله؟
Kalau begitu ya Rasulullah, aku sedekahkan setengahnya.
Maka Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam
فَقَالَ: لا
Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam menjawab, “Tidak.”
قُلْتُ: فَالثُّلُثُ يَا رَسُولَ الله؟
Kalau begitu aku akan sedekahkan aku akan wasiatkan sepertiga hartaku.
Maka Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam kembali dan mengatakan,
قَالَ: الثُّلُثُ وَالثُّلُثُ كَثِيرٌ
Sepertiga itu banyak.
Dalam riwayat lain dikatakan, كَبِيرٌ itu adalah besar.
إِنَّكَ إنْ تَذَرَ وَرَثتَكَ أَغْنِيَاءَ خَيْرٌ مِنْ أَنْ تَذَرَهُمْ عَالَةً يَتكَفَّفُونَ النَاسَ
Kamu kalau seandainya tinggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya itu akan lebih baik daripada engkau tinggalkan mereka dalam keadaan fakir meminta-minta orang.
يَتكَفَّفُونَ النَاسَ
Artinya meminta dengan tangan mereka.
Kasihan sekali!
وَإِنَّكَ لَنْ تُنْفِقَ نَفَقَةً تَبْتَغِي بِهَا وَجْهَ الله إلَّا أُجرْتَ بِهَا
Engkau tidaklah akan memberikan sebuah nafkah, sedekah atau harta yang engkau berikan melainkan engkau akan mendapatkan pahala seandainya engkau mengharapkan pahala dari Allah Azza wa Jalla.
حَتَّىٰ مَا تَجْعَلُ فِي فِيِّ امْرَأَتِك.
Sampai pun pemberian itu engkau berikan kepada istrimu sendiri sebagai sebuah nafkah. Engkau akan mendapatkan pahala jika ada niat untuk Allah Azza wa Jalla.
Maka Sa’ad bin Abi Waqash mengatakan,
قفَقُلْتُ: يَا رَسُولَ الله أُخَلَّفُ بَعْدَ أَصْحَابِي؟
Ya Rasul, apakah aku akan ditinggal sampai mati di Mekkah lagi, di sini ya Rasulullah? Setelah para sahabatku pulang ke kota Madinah?
Dan para ulama menjelaskan bahwa orang yang sudah melaksanakan hijrah dengan meninggalkan kota Mekkah ke kota Madinah, maka tidak boleh lagi dia kembali untuk menjadi penduduk Mekkah setelah hijrahnya. Karena para ulama mengatakan, Orang yang sudah hijrah dari kota Mekkah ke kota Madinah dia akan batal untuk mendapatkan pahala hijrah seandainya dia kembali menjadi penduduk Mekkah.
Maka Sa’ad bin Abi Waqash saat menunaikan ibadah haji bersama Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam kemudian beliau sakit, beliau khawatir akan batal pahala hijrahnya.
Maka beliau tanya,
أُخَلَّفُ بَعْدَ أَصْحَابِي
Apakah aku akan ditinggal kemudian aku sakit terus sampai mati di sini?
Dalam riwayat dikatakan para ulama mengatakan, tafsirannya apakah aku akan dipanjangkan umurku setelah para sahabatku meninggal? Maka Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam mengatakan,
إِنَّكَ لَنْ تُخَلَّفَ فَتَعْمَلَ عَمَلاً تَبْتَغِي بِهِ وَجْهَ الله إِلا ازْدَدْتَ بِهِ دَرَجَةً وَرِفْعَةً
Tidaklah engkau ditinggal atau engkau akan dipanjangkan umurnya kemudian engkau berbuat amal yang banyak karena mengharap pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, melainkan setiap amalmu itu akan menambahmu derajat di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala dan akan meninggikan posisimu.
وَلَعَلَّكَ أَنْ تُخَلَّفَ حَتَىٰ يَنْتَفَعَ بِكَ أَقْوَامٌ وَيُضَرَّ بِكَ آخَرُونَ.
Dan bisa jadi engkau justru akan panjang umur sampai sebagian orang memanfaatkan Panjang umurmu dan sebagian orang akan dirugikan dengan panjang umurmu, yaitu orang-orang kafir dan yang lainnya.
اللهم أَمْضِ لأَصْحَابِي هجْرَتَهُم
Kata Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam, “Ya Allah, lengkapkan, sempurnakan pahala hijrah untuk para sahabatku.
وَلاَ تَرُدَّهُمْ عَلَىٰ أَعْقَابِهِمْ
Jangan engkau jadikan mereka mungkir kembali menjadi orang yang berbalik arah setelah mereka beriman.
لكِن الْبَائسُ سَعْدُ بْنُ خَوْلَةَ
Akan tetapi sayang sekali, kejadian menghinggapi Sa’ad ibnu Khaulah (salah seorang sahabat Nabi)
يَرْثي لَهُ رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم أَنْ مَاتَ بِمَكَّةَ
Beliau pada saat itu sakit kemudian meninggal di kota Mekkah.
Sebagian ulama mengatakan bahwa Sa’ad ibnu Khaulah beliau sudah Islam akan tetapi beliau tidak segera berhijrah atau ada yang mengatakan bahwa beliau berhijrah sampai menyaksikan, menghadiri perang Badr kemudian balik lagi ke kota Mekkah sampai meninggal di sana.
Maka Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam dalam hadits Muttafaqun alayhi ini menyayangkan, jangan sampai ada sahabatku yang seperti itu, meninggal kembali di kota Mekkah setelah dia hijrah.
Hadits ini juga sama menunjukkan posisi niat, bagaimana seorang melakukan aktifitas harian tanggung jawab bahkan sesuatu yang wajib untuk dia kerjakan, memberikan nafkah kepada keluarga dan dia jadikan itu sebagai sesuatu yang ikhlas karena Allah ternyata Allah Azza wa Jalla akan memberikan pahala yang istimewa.
Juga demikian orang yang meninggal dan dia meninggalkan harta yang tidak sedikit untuk keturunannya, kalau seandainya seseorang meniatkan itu agar orang yang ada setelahnya bisa menjaga kehormatan mereka, tidak meminta-minta, tidak mengandalkan dan meminta kepada orang lain. Maka ini merupakan sebuah tindakan terhormat yang berpahala.
Kata Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam lebih baik engkau tinggalkan keluargamu dalam keadaan cukup daripada engkau tinggalkan mereka dalam keadaan fakir. Maka seandainya engkau memiliki harta yang banyak yang paling berhak mendapatkan perhatian dengan harta tersebut adalah orang-orang yang ada di sekitarnya kita.
Termasuk dalam hal ini adalah pembahasan tentang seorang yang akan memberikan wasiat. Tidak boleh seorang memberikan wasiat lebih dari sepertiga bahkan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu mengatakan,
وَدِدْتُ أَنَّ النَّاسَ غَضُّوا مِنَ الثُّلُثِ إِلَى الرُّبُعِ فِي الْوَصِيَّةِ
“Seandainya orang-orang semua menjadikan patokan kalau mau berwasiat mereka wasiat dari 1/3 menjadi 1/4 saja.”
Maksimal sudah 1/4 akan tetapi para ulama mengatakan bahwa seorang boleh saja akan memberikan wasiat, memberikan hartanya ketika akan mati, memberikan 1/3 hartanya di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk Fulan, untuk Fulan, dan sebagainya dengan catatan tidak boleh lebih dari 1/3.
Kalau seandainya lebih dari 1/3 maka hukumnya makruh kecuali apabila ahli warisnya ridha. Tentu orang kaya yang memiliki banyak harta mewarisi harta, 1/3 dari hartanya akan besar. Dan ahli warisnya adalah orang-orang yang paling berhak untuk mewarisi harta tersebut. Seandainya ahli warisnya adalah seorang yang shalih maka tentunya mereka akan bisa memanfaatkan harta itu untuk ibadah dan mendekatkan kepada Allah yang nanti pahalanya akan mengalir kepada orang tuanya.
Sedikit tentang Sa’ad bin Abi Waqash kita belum jelaskan tentang biografi beliau. Beliau adalah salah seorang sahabat sepuluh yang dijanjikan akan mendapatkan surga ketika beliau masih hidup. Beliau bahkan menjadi orang pertama yang melemparkan anak panah di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Beliau (Sa’ad bin Abi Waqash) termasuk fursan atau pendekar dari para sahabat dan beliau korbankan keselamatan dirinya untuk menjaga Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam. Di awal hijrah Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam merasa kurang aman kurang tenang sehingga beliau sering kali tidak bisa tidur.
Dalam shahih Muslim dikatakan, beliau susah untuk tidur, أَرِقَ Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam beliau ditimpa kegundahan, kegalauan tidak bisa tidur malam sampai akhirnya beliau mengatakan,
لَيْتَ رَجُلًا صَالِحًا يَحْرُسُنِي اللَّيْلَةَ
“Aku ingin kalau seandainya malam ini ada orang shalih yang datang untuk menjagaku.”
Tiba-tiba Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam mendengar ada suara pedang dan suara senjata. Rasulullah mengatakan, من siapa di luar? Ternyata orang itu adalah Sa’ad bin Abi Waqash.
جِئْتُ أحْرُسُكَ
Kata beliau, “Aku datang untuk menjagamu ya Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam.”
Dalam hadits ini sampai Aisyah mengatakan, Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam pun tidur dengan mendengkur karena rasa aman dan tenang.
Dalam hadits ini terdapat pujian dari Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam bahwa beliau adalah orang yang shalih karena ketika Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam berandai-andai dan beliau mengatakan, “Seandainya ada orang shalih yang datang untuk menjagaku malam hari ini.”
Ternyata yang datang adalah seorang Sa’ad ibnu Abi Waqash. Maka beliau merupakan orang yang didambakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam.
Kelebihan Sa’ad bin Abi Waqash radhiyallahu ta’ala ‘anhu, beliau adalah seorang sahabat yang terkabul doanya. Dalam sebuah riwayat yang disampaikan oleh Ibnu Hibban Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam menyatakan,
اللَّهمَ استجِب إذا دعاكَ
“Ya Allah jadikan hambamu ini apabila berdoa engkau kabulkan.”
Dan beliau terkenal sekali memiliki doa yang sering dikabulkan sampai beliau pernah dizhalimi oleh seseorang, maka beliau mendoakan orang yang menzhalimi itu. Beliau dituduh telah menjadi seorang menjadi seorang gubernur tetapi tidak adil.
Apabila beliau memerintahkan untuk berperang beliau tidak ikut perang, apabila beliau membagi rampasan beliau tidak adil. Maka Sa’ad bin Abi Waqash mengatakan,
اللهم إن كان عبدك قام رياءً وسمعة فأطل عمره وأطل فقره، وعرضه للفتن
“Ya Allah apabila hambamu ini hanya ingin dipuji orang, dia melakukan kebohongan maka panjangkan umurnya dan tegaskanlah atau panjangkan juga luaskan kefakirannya dan jerumuskan dia ke dalam fitnah.”
Maka perawi kisah ini ketika mendengarkan itu dia mengatakan,
ولقد رأيتُ حجبَيْهِ سقِيتَانِ على عَيْنَيْهِ
“Aku melihat bulu matanya sampai menutupi matanya.”
Karena sudah tua sekali akan tetapi sayangnya orang tua ini apabila dilewati seorang perempuan dia akan pegang perempuan itu dia akan goda. Padahal sudah tua, ketika ditanya kenapa engkau seperti itu, sudah tua ternyata engkau masih melakukan seperti orang miskin juga.
Beliau mengatakan,
أصابتني دعوة سعد
“Aku terkena doanya Sa’ad bin Abi Waqash radhiyallahu ‘anhu.”
Dan termasuk pelajaran yang diambil dari keistimewaan Sa’ad bin Abi Waqash radhiyallahu ‘anhu ketika beliau ditanya apa kunci agar engkau mudah dikabulkan doamu oleh Allah Azza wa Jalla?
Disebutkan oleh Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah dalam Jami’ Al-Ulum wa Al- hikam. Beliau ketika ditanya oleh seorang tentang kuncinya, agar doanya gampang dikabulkan oleh Allah Azza wa Jalla.
Beliau mengatakan,
ما رافقت إلا فمًا لقّنته الا وإنا لعالم من أين يجيء ومن أين خرج.
“Tidaklah satu suapan yang aku angkat ke mulut ini kecuali aku tahu darimana asalnya dan kemana akan digunakan.”
Semoga Allah Azza wa Jalla menjadikan kita termasuk orang-orang yang bisa mendengarkan perkataan yang baik dan mengikutinya dan memudahkan kita untuk menerima kebenaran, menerima hidayah. Sehingga kita bisa istiqamah di atas sunnah.
وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين، والحمد لله رب العالمين
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين، والعاقبة للمتقين، ولا عدوان إلا على الظالمين، وأشهد أن لا إله إلا الله إله الأولين والآخرين وأشهد أن محمدا عبده ورسوله سيد الأنبياء والمرسلين وعلى آله وصحابته والتابع ومن تبعهم بإحسن الى يوم الدين، أما بعد
Anggota grup Whatsapp Dirosah Islamiyah rahimana wa rahimakumullāh.
Masih tentang masalah niat, seseorang perlu betul-betul mengoreksi hatinya karena Allāh subhānahu wa ta’ālā akan memperhatikan hati sebelum tindakan yang keluar dari seseorang. Hadits Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu akan kita bahas pada kesempatan kali ini.
وعنْ أبي هريرةَ عبدِ الرحمانِ بنِ صخرٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم: إنَّ الله لا ينْظُرُ إِلى أجْسَامِكُمْ ولا إِلى صُوَرِكمْ، وَلَكن ينْظُرُ إلى قُلُوبِكمْ رواه مسلم
Dari Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu yang dikenal dengan nama Abdurrahman Ibn Shakhr dan nama ini adalah nama yang paling dikenal. Para ulama menyebutkan bahwa Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu dikenal dengan kunyah lebih banyak daripada nama aslinya demikian pula nama ayahnya bahkan sebagian ulama menyebutkan bahwa nama beliau dan nama ayahnya diperselisihkan sampai ada 20 pendapat lebih.
Ini menunjukkan betapa kaum muslimin perhatian dengan masalah kunyah dan juga perhatian mereka terhadap para sahabat nabi ridwanullāh ta’ālā ‘alaihim. Dan Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu merupakan sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits riwayat beliau lebih dari 5000 hadits yang disebutkan dan beliau sampaikan dari Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam padahal Islam beliau atau masuk Islam beliau bukan merupakan orang pertama-tama akan tetapi karena semangat beliau dalam menuntut ilmu, menimba nasihat-nasihat nubuwah yang membuat beliau bisa menjadi sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits dan paling banyak menghafalkannya dan ini dipuji oleh para sahabat senior.
Thalhah ibn Ubaidillah mengatakan,
والله ما أشك أنه سمع من رسول الله صلى الله عليه وسلم ما لم نسمع، وعلم ما لم نعلم
Aku sendiri tidak ragu bahwa Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu mendengarkan hadits yang tidak pernah kami dengar dan beliau tahu tentang apa yang kami tidak tahu.
Abdullah ibn Umar yang mengatakan,
يا أبا هريرة، أنت كنت ألزمنا لرسول الله صلى الله عليه وسلم وأحفظنا لحديثه
Wahai Abu Hurairah, betul-betul Anda merupakan orang yang paling disiplin dan sering dalam menemani Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam untuk belajar dan paling hafal tentang hadits-haditsnya.
Ini karena beliau sangat semangat sampai sebagian orang tidak suka sehingga mereka mencibir, “Kenapa Abu Hurairah yang baru masuk Islam orang belakangan tiba-tiba hadits yang disampaikan lebih banyak, mana sahabat-sahabat senior, kenapa mereka tidak meriwayatkan tiba-tiba Abu Hurairah yang meriwayatkan?”. Seolah-olah ada semacam ketidakpercayaan dengan apa yang disampaikan oleh Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu.
Maka dalam riwayat yang shahih disebutkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu mengatakan,
يقولون أكثر أبو هريرة
Mereka bilang Abu Hurairah terlalu banyak meriwayatkan hadits.
Ini artinya adalah semacam sindiran maka Abu Hurairah mengatakan,
والله الموعد
Nanti kita akan perhitungkan di depan Allāh subhānahu wa ta’ālā.
Maka beliau sebutkan diantara penyebab kenapa beliau banyak meriwayatkan hadits ada dua hal. Yang pertama beliau sampaikan bahwa beliau adalah orang yang paling banyak menemani Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam untuk belajar, menimba ilmu dari Beliau ketika beliau mengatakan,
كان إخواننا من المهاجرين كان شغلهم الصفق بالأسواق
Kaum muhajirin dari sahabat Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam mereka sibuk berdagang,
وكان إخواننا من الأنصار شغلهم قيام على أموالهم
Sementara sahabat anshor kebanyakan mereka sibuk mengurus kebun-kebun mereka
وكنت امرءا مسكينا
Sedangkan aku orang fakir, orang miskin tidak memiliki banyak harta.
وألزم رسول الله صلى الله عليه وسلم على ملء بطني
Sementara aku berusaha belajar kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam dan berusaha untuk mempertahankan hidup sesuai dengan kebutuhan berperut saja ini yang membuat akhirnya aku hafal apa yang mereka tidak hafal, aku paham apa yang mereka tidak paham.
Kemudian penyebab yang kedua adalah karena Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam mendoakan beliau. Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam suatu saat mengatakan,
أيكم يبسط ثوبه، فيأخذ من حديثي هذا
Siapa di antara kalian yang siap untuk membentangkan bajunya atau selendangnya, kemudian dia akan mendengarkan semua hadits-haditsku.
ثم يجمعه إلى صدره
Kemudian dia akan meletakkan bajunya di dadanya.
فإنه لم ينس شيئا سمعه
Dia tidak akan lupa pada setiap apa yang dia dengar
Maka Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu mempraktekkan itu. Di antara sahabat yang hadir beliau segera melepaskan burdahnya atau pakaian yang ada di atasnya kemudian beliau bentangkan.
ﺣﺘﻰ ﻓﺮﻍ ﻣﻦ ﺣﺪﻳﺜﻪ
Kata Abu Hurairah sampai Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam selesai dalam menyampaikan berbagai hadits.
ﺛﻢ ضممته ﺇﻟﻰ ﺻﺪﺭﻱ
Maka aku ambil bajuku tadi kemudian aku letakkan di dadaku. Maka kata beliau,
فما نسيت بعد ذلك اليوم شيئا حدثني به
Dari sejak saat itu aku tidak pernah lupa terhadap hadits yang disampaikan Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam.
Ini merupakan penyebab kenapa Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu adalah sahabat yang banyak meriwayatkan hadits. Satu lagi poin penting yaitu Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu menjadi simbol keimanan seseorang yang mencintai para sahabat. Kita tahu bahwa mencintai para sahabat merupakan sebuah standar keimanan Ahlus Sunnah Wal Jamaah, akan tetapi dalam sebuah riwayat yang shahih Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu di doakan oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam.
Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam menyatakan,
اللهم حبب عُبيدك هذا وأمه إلى عبادك المؤمنين، وحببهم إليهما
أو كما قال رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم
Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam mendoakan, “Ya Allāh, jadikan hamba kecilmu ini maksudnya Abu Hurairah berserta ibunya cinta kepada hamba-hambamu yang beriman dan jadikan orang-orang beriman cinta kepada mereka.”
Kata Abu Hurairah,
فما خلق مؤمن سمع بي ولا يراني إلا أحبني
Kata Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu tidaklah ada seorang mu’min mendengar namaku meskipun dia tidak pernah melihatku kecuali dia akan cinta kepada Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu
Dan ini menjadi sebuah tanda yang tidak heran ketika ada sebagian musuh-musuh Islam berusaha untuk mencela Abu Hurairah. Tujuan mereka adalah untuk mencela hadits yang dia bawa agar hadits ini ditolak oleh kaum muslimin maka mereka sebarkan, mereka lancarkan tuduhan-tuduhan terhadap Abu Hurairah. Benar kata Abu Hurairah orang beriman mendengar nama Abu Hurairah akan cinta dan akan berterima kasih kepada beliau yang berjasa memuat hadits-hadits Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam dan disampaikan Dan ini menjadi keistimewaan yang beliau miliki di antara sekian para sahabat Nabi ridwanullāh ta’ālā ‘alaihim, shallallāhu ‘alaihi wa sallam
Na’am, hadits ini disebutkan ,
إنَّ الله لا ينْظُرُ إِلى أجْسَادِكُمْ
Dalam riwayat lain dikatakan,
أجْسَامِكُمْ
Dua-duanya dalam riwayat shahih muslim
Allāh subhānahu wa ta’ālā tidak melihat jasad kalian,
ولا إِلى صُوَرِكمْ
Dan juga tidak dalam masalah penampilan,
وَلَكن ينْظُرُ إلى قُلُوبِكمْ
Akan tetapi Allāh subhānahu wa ta’ālā akan melihat kepada hati kalian, artinya bukan berarti amal shalih tidak penting. Karena dalam riwayat yang lain, dalam lafadz juga yang disampaikan oleh Imam Muslim rahimahullāh ada tambahan “وأعمالكم”
وَلَكن ينْظُرُ إلى قُلُوبِكمْ وأعمالكم
Akan tetapi Allāh melihat terhadap kejernihan, kelurusan dan kebenaran niat yang ada pada hati kalian dan juga pada amal kalian. Maka dalam hadits ini ada penekanan untuk lebih perhatian terhadap urusan hati agar hati ini tidak dikotori sesuatu yang bisa merusak atau mengurangi kualitas amal seorang muslim, ibadah kepada Allāh subhānahu wa ta’ālā
Dan Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullāh mengingatkan bahwa hadits ini senada dengan firman Allāh subhānahu wa ta’ālā
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ
Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allāh di antara kalian adalah orang yang paling bertakwa.
[QS Al-Hujurat: 13]
Ketakwaan letaknya pada hati. Amal seseorang akan dinilai dari kejernihan dan kelurusan hatinya. Apabila seseorang beramal dengan ikhlas maka ini merupakan sebaik-baik modal untuk diterima oleh Allāh subhānahu wa ta’ālā. Ketika seseorang menampilkan sebuah amal, ini ditegaskan oleh al-Qurthubi rahimahullāh dalam hadits ini beliau mengatakan bahwa amal yang nampak pada lahiriah merupakan sebuah persangkaan yang memuat kemungkinan dan tidak bisa dijadikan sebuah penilaian pasti akan tetapi kepastian itu hanya Allāh yang tahu ketika Allāh melihat hati seseorang maka ada pesan disitu agar seseorang membersihkan hati sebelum beramal. Dan ketika Allāh subhānahu wa ta’ālā akan melihat hati sebelum penampilan yang nampak pada seseorang maka seseorang perlu mendahulukan perhatiannya pada kejernihan hati sebelum dia memilih keshalihan amal.
Karena tidak jarang orang beramal shalih ternyata hatinya busuk sebaliknya ada orang yang mengerjakan sebuah amal yang oleh semua orang dikatakan itu adalah amal yang jelek atau biasa akan tetapi ketika Allāh subhānahu wa ta’ālā melihat hatinya tulus, ikhlas maka Allāh besarkan sebuah amal dan dijadikan seorang menjadi mulia karena kejernihan hatinya.
Dengan demikian berarti ada pula isyarat agar seseorang tidak terlalu maghrur (tertipu) dengan penampilan shalihnya seseorang. Orang tidak bisa memastikan ketika penampilan seseorang shalih taat kepada Allāh subhānahu wa ta’ālā selalu beribadah lalu dia akan pasti menjadi penghuni surga, tidak ada yang bisa memastikan seperti itu.
Karena hakikat hatinya adalah Allāh yang tahu sebagaimana seorang juga jangan terlalu terburu-buru untuk menilai keburukan seseorang karena penampilan lahiriyah penampilan combang camping, malas beribadah, tidak terlihat di masjid misalkan, jarang terlihat di pengajian berarti orang ini malas belum tentu karena bisa jadi banyak udzur yang dia miliki dan tidak menutup kemungkinan justru niatnya untuk menghadiri pengajian lebih besar daripada orang-orang yang sudah hadir akan tapi dia bermalas-malasan atau hadir dengan tujuan yang Allāh subhānahu wa ta’ālā tidak puji.
Maka dalam hadits ini merupakan pesan yang sangat tegas agar seseorang berhati-hati dan perhatian terhadap masalah hatinya.
Semoga Allāh subhānahu wa ta’ālā senantiasa membimbing kita untuk membersihkan hati sebelum kita beramal, mempersembahkan ibadah sebaik-baiknya untuk Allāh subhānahu wa ta’ālā.
هذا
وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين، والحمد لله رب العالمين
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين، والعاقبة للمتقين، ولا عدوان إلا على الظالمين، وأشهد أن لا إله إلا الله إله الأولين والآخرين وأشهد أن محمدا عبده ورسوله سيد الأنبياء والمرسلين وعلى آله وصحابته والتابع ومن تبعهم بإحسان الى يوم الدين، أما بعد
Anggota grup Whatsapp Dirosah Islamiyah rahimana wa rahimakumullāh.
Masih tentang masalah niat, seseorang perlu betul-betul mengoreksi hatinya. Hadits berikutnya dari sahabat Abu Musa Abdullah Ibn Qais Al-Asy’ari radhiyallāhu ‘anhu,
قَالَ:
سُئِلَ رسولُ الله صلى الله عليه وسلم عَنِ الرَّجُلِ يُقاتلُ شَجَاعَةً، ويُقَاتِلُ حَمِيَّةً، ويُقَاتِلُ رِيَاءً، أَيُّ ذلِكَ في سبيلِ الله؟
Dari sahabat Abu Musa Abdullah Ibn Qais Al-Asy’ari radhiyallāhu ‘anhu
Beliau mengatakan suatu saat Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam ditanya oleh seseorang, ada orang yang berjihad, berperang akan tetapi tujuannya agar dia nampak berani, ada orang lain berperang karena dia mempertahankan kehormatan atau rasa malu atau karena marah atau karena gengsi, orang lain berjihad berperang karena riya’ ingin dilihat dalam riwayat dikatakan,
لِيُرَى مَكَانُهُ
Agar dia bisa melihat posisi dia di seluruh warga dan masyarakat.
أَيُّ ذلِكَ في سبيلِ الله؟
Mana di antara beberapa orang yang disebutkan dengan sifat yang berbeda-beda itu memiliki niat dan tujuan dalam berperang, siapa di antara mereka yang berhak untuk dijadikan mujahid fīsabilillāh?
فقال رَسُول الله – صلى الله عليه وسلم
Maka Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ قَاتَلَ لِتَكونَ كَلِمَةُ اللهِ هي العُلْيَا، فَهوَ في سبيلِ اللهِ.
Barang siapa yang berperang dengan tujuan agar kalimat Allāh yang ditinggikan, hukum-hukumnya ditegakkan, untuk memerangi orang-orang yang memerangi Islam maka dia adalah orang yang berjihad di jalan Allāh. (Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim).
مُتَّفَقٌ عَلَيهِ
Disepakati keshahihannya
Hadits ini diriwayatkan oleh sahabat Abu Musa Al-Asy’ari. Abu Musa sebagaimana disebutkan dalam hadits ini, nama beliau adalah Abdullah Ibn Qais radhiyallāhu ‘anhu dari kabilah Al-Asy’ariyin, kabilah yang tinggal di daerah Yaman. Beliau datang kemudian menyatakan keIslaman kemudian beliau kembali lagi ke Yaman karena Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam perintahkan untuk pulang di saat kondisi kaum muslimin belum mendapatkan kekuatan yang banyak sehingga sahabat ini perlu mendapatkan keamanan dalam beribadah.
Maka Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam perintahkan beliau untuk pulang ke Yaman hingga beliau bersama sekitar 50 orang sahabat lainnya yang juga sudah masuk Islam ingin berangkat menemui Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam akan tetapi kemudian terdampar dan susah dengan gelombang ombak sehingga beliau menepi ke daerah Habasyah.
Dis ana beliau bertemulah dengan rombongan muhajirin yang pertama tama yaitu Ja’far Ibn Abi Talib berserta rombongannya yang berhijrah dari Kota Makkah ke daerah Habasyah. Maka beliau bergabung dengan rombongan dari Ja’far Ibn Abi Talib kemudian pada saatnya akhirnya Abu Musa beserta rombongan dan sahabat Ja’far Ibn Abi Talib mereka semua bersama untuk berhijrah ke Kota Madinah sehingga ketika mereka sampai ke Kota Madinah mereka sampai setelah terjadinya Perang Khaybar.
Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallāhu ‘anhu memiliki keistimewaan ketika Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam pernah mendoakan beliau. Beliau mengatakan,
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِعَبْدِ اللهِ بْنِ قَيْسٍ ذَنْبَهُ
Ya Allāh ampunilah dosa-dosa Abdullah Ibn Qais maksudnya adalah Abu Musa Al-Asy’ari
وَأَدْخِلْهُ يَوْمَ القِيَامَةِ مَدْخَلًا كَرِيْمًا
Dalam shahih Bukhari dan Muslim kemudian Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam mendoakan Abu Musa, “Ya Allāh pada hari kiamat nanti masukkan dia ke dalam tempat yang istimewa.”
Ini menjadi kabar gembira, sejak Abu Musa masih hidup telah mendapatkan doa dari Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam pada hari kiamat nanti beliau akan mendapatkan tempat yang istimewa dan ini menunjukkan bahwa keistimewaan beliau akan terus beliau pegang sampai beliau meninggal sampai Abu Musa radhiyallāhu ‘anhu menghadap Allāh subhānahu wa ta’ālā.
Karena apabila Abu Musa seperti yang dikritik oleh orang-orang khawarij atau orang-orang lain yang mengkafirkan para sahabat, beliau telah berubah murtad setelah Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam meninggal maka tidak mungkin Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam mendoakan sahabatnya dengan doa yang bisa bermanfaat di hari kiamat kelak Dan beliau juga dikenal dengan sahabat yang bersuara bagus bahkan satu saat Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam melewati kampung tempat orang-orang asy’ariyin tinggal di situ.
Mereka dikenal dengan orang-orang yang suka melaksanakan shalat tahajud dan qiyamul lail termasuk di antaranya Abu Musa al-Asy’ari radhiyallāhu ‘anhu sampai Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam pernah diam-diam mendengarkan bacaan Abu Musa radhiyallāhu ‘anhu kemudian mengatakan,
لَقَدْ أُوتِيتَ مِزْمَارًا مِنْ مَزَامِيرِ آلِ دَاوُدَ
“Sungguh wahai Abu Musa, Engkau telah mendapatkan anugerah dari Allāh suara yang indah bagaikan seruling yang dimiliki oleh keluarga Nabi Dawud”
Dan hadits ini disebutkan dalam Shahih Bukhari dan Muslim sampai sebagian tabi’in mengatakan,
إن كان ليصلي بنا فنود أنَّه قرأ سورة البقرة من حسن صوته
Sampai satu saat beliau pernah menjadi imam kami, kami sampai berkeinginan agar beliau membaca surat al-Baqarah saja karena suaranya yang indah dan bagus.
Abu Musa al-Asyari meriwayatkan hadits ini tentang pertanyaan seseorang kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam, ada orang berperang, berkorban dengan jiwa raganya akan tetapi tujuannya berbeda. Dalam sebuah riwayat ditambahi,
والرَّجُلُ يُقَاتِلُ لِلْمَغْنَمِ
Ada seseorang yang berjihad tujuannya adalah untuk mendapatkan bagian rampasan perang dan sebagian yang lain tujuannya adalah agar dia bisa membalas dendam, dan ini masuk kata Hafizh Ibnu Hajar termasuk bagian dari
يُقَاتِلُ حَمِيَّةً
Seseorang berperang tujuannya adalah untuk membela rasa marahnya, karena marah akhirnya dia bisa berperang.
Maka sang penanya bertanya kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam, “Siapa di antara orang-orang yang berbeda tujuan ini yang berhak untuk menyandang gelar seorang mujahid fī sabīlillāh. Maka Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam menafikan itu semua. Akan tetapi Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam menyebutkan sebuah sifat bahwa orang yang ingin dikatakan berjihad di jalan Allāh adalah orang yang tujuannya dalam berperang untuk meninggikan kalimat Allāh ‘azza wa jalla, hukum-hukumnya kemudian Al-Qur’an dan Islam ditegakkan. Inilah orang yang bisa dikatakan sebagai mujahid fī sabīlillāh.
Berarti hadits ini menunjukkan bahwa fokus dalam penekanan yang membedakan antara hasil sama-sama peperangan yang dilakukan oleh orang yang berniat berbeda adalah hati. Ketika seseorang memiliki niat dalam pertempurannya untuk mendapatkan ridha Allāh untuk meninggikan agama Allāh subhānahu wa ta’ālā maka orang ini akan mendapatkan pahala dari sisi Allāh subhānahu wa ta’ālā.
Dan ini yang akan menunjukkan standar pahala besar seseorang atau tidak. Tapi bagaimana jika seandainya ada orang yang tujuannya ingin mendapatkan ridha Allāh akan tetapi juga dia ingin mendapatkan dunia dan ini para ulama mengatakan jika seandainya, ini disampaikan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari, kalau seandainya dua tujuan itu sama besarnya maka bisa jadi orang ini masuk dalam tiga jenis yang ditanyakan kepada Rasūl shallallāhu ‘alaihi wa sallam, ketika seseorang memiliki niatan-niatan yang oleh Rasūl shallallāhu ‘alaihi wa sallam tidak dianggap.
Akan tetapi jika seandainya ada orang yang bertujuan untuk meninggikan Kalimātullāh ‘azza wa jalla kemudian sisanya dia dapatkan sebagai bentuk buah dari apa yang dia niatkan dan ini bukan merupakan tujuan utama dan dia suka dengan apa yang dia dapatkan dia mendapatkan rampasan perang dia bahagia, maka kata para ulama ini dinukil oleh Hafizh ibnu Hajar dan Ath-Thabari rahimahumallāh,
إذا كان أصل الباعث هو الأول لا يضره ما عرض له بعد ذلك
Apabila tujuan utama dia adalah untuk mendapatkan tingginya Kalimātullāh ‘azza wa jalla kemudian setelah itu ada lainnya, ada tambahan-tambahan yang bisa membahagiakan dia maka ini tidak akan mengganggu keshalihan, kejernihan niatnya, bahkan Al-Hafizh ibnu Hajar mengatakan bahwa ini adalah pendapat jumhur atau mayoritas ulama dan di sini ada penekanan wajibnya seseorang ikhlas dalam beramal.
Kalau seandainya jihad yang akan bisa meninggikan dan memuliakan Islam dengan izin Allāh subhānahu wa ta’ālā ternyata Rasūl shallallāhu ‘alaihi wa sallam mengingatkan jika salah niat maka dia tidak akan dinilai sebagai orang yang berjihad di jalan Allāh bagaimana dengan amal-amal lainnya. Maka seorang mujahid akan dinilai keikhlasannya apabila tujuan dari berperang adalah untuk meninggikan Kalimātullāh ‘azza wa jalla atau hukum-hukum-Nya dan juga kandungan yang diajarkan dalam Islam.
Na’am, dan di sini disebutkan dalam Fathul Bari juga merupakan isyarat tentang tidak berharganya dunia. Untuk apa seseorang mati-matian untuk mendapatkan dunia kalau akhirnya Allāh subhānahu wa ta’ālā tidak nilai apa yang dia kerjakan sekalipun pengorbanan itu sampai kepada pengorbanan jiwa.
Semoga Allāh subhānahu wa ta’ālā senantiasa membimbing kita untuk membersihkan hati sebelum kita beramal, mempersembahkan ibadah sebaik-baiknya untuk Allāh subhānahu wa ta’ālā.
هذا وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين
والحمد لله رب العالمين
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين، والعاقبة للمتقين، ولا عدوان إلا على الظالمين، وأشهد أن لا إله إلا الله إله الأولين والآخرين وأشهد أن محمدا عبده ورسوله سيد الأنبياء والمرسلين وعلى آله وصحابته والتابع ومن تبعهم بإحسان الى يوم الدين، أما بعد
Anggota grup Whatsapp Dirosah Islamiyah rahimana wa rahimakumullāh.
Masih tentang niat, kita akan membahas dan melanjutkan hadits-hadits yang terangkai dalam kitab Riyadhus Shalihin.
Hadits ke-9 dari sahabat Abi Bakrah Nufai’ bin Al-Harits Ats-Tsaqafi, beliau adalah seorang sahabat yang pernah dibebaskan oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam, beliau tinggal di Bani Tsaqif. Ketika Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam mengepung Bani Tsaqif di Thaif orang ini melemparkan diri dengan menggunakan bakrah. Bakrah itu artinya dalam bahasa Arab adalah katrol (lingkaran, bundaran yang digunakan untuk mengambil air di sumur). Orang ini menggunakan bak bakrah untuk menyelamatkan diri keluar kabur dari tembok mereka kemudian lari menghadap Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam masuk Islam. Kemudian beliau mengatakan, “Ya, Rasūlullāh aku seorang budak.” Maka Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam segera bebaskan dia sehingga dia bangga sekali dengan julukan, “Aku adalah maula Rasūlillāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam, aku mantan budak yang dibebaskan oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam. Setelah kejadian itu Bani Tsaqif menghadap ke Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam minta agar Abu Bakrah dikembalikan menjadi seorang budak lagi.
Akan tetapi Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam mengatakan tidak. Beliau atau orang ini adalah thalīqullāh wa thahīqu Rasūlillāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam (طليق الله وطليق رسول الله). Abu Bakrah merupakan orang yang sudah Allāh dan Rasūl-Nya bebaskan, tidak mungkin dia kembali menjadi seorang budak. Beliau seorang ahli ibadah dan terkenal dengan orang yang mulia. Sehingga anak-anaknya pun menjadi orang-orang terpandang di zaman itu
عن أبي بَكرَةَ نُفيع بنِ الحارثِ الثقفيِّ رضي الله عنه:
Dari sahabat Abu Bakrah Nufai’ bin Al-Harits Ats-Tsaqafi radhiyallāhu ‘anhu,
أَنَّ النَّبيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ
Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا التَقَى المُسلِمَان بسَيْفَيهِمَا فالقَاتِلُ وَالمَقْتُولُ في النّارِ
Apabila ada dua orang Islam yang bertemu dan saling membunuh dengan dua senjata masing masing maka orang yang membunuh dan yang terbunuh akan masuk neraka.
قُلتُ: يا رَسُولَ اللهِ هذا القَاتِلُ فَمَا بَالُ المقْتُولِ؟
Maka aku mengatakan ya Rasūlallāh kalau orang yang membunuh masuk ke dalam neraka itu hal yang wajar, akan tetapi kenapa orang yang terbunuh juga berhak untuk masuk neraka.
قَالَ: إنَّهُ كَانَ حَريصًا عَلَى قتلِ صَاحِبهِ
Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam mengatakan karena orang yang terbunuh juga bersemangat untuk membunuh saudaranya atau lawannya dalam perang tanding tersebut
Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim. Hadits ini muttafaqun ‘alaih disepakati keshahihannya.
Hadits ini menunjukkan bahwa niat seseorang untuk membunuh sekalipun belum terlaksana akan tetapi telah mengambil salah satu sebabnya akan menghasilkan sebuah dosa dan ganjarannya. As Subki rahimahullāh dalam kitab beliau Al-Halabiyat, beliau mengatakan bahwa haditsun nafis atau yang dinamakan bisikan hati ada lima tingkatan.
Yang pertama adalah al-hajis. Al-Hajis adalah sebuah lintasan yang ada dalam pikiran, langsung terbersih pada pikiran ini namanya al-hajis. Kalau al-hajis ini pertama kali datang tidak segera ditampik dan dihilangkan maka berubah menjadi al-khathir. Al-khathir juga sama, sebuah pikiran yang melintas akan tetapi agak lama sehingga orang yang memikirkan agak membutuhkan waktu untuk membiarkan pikiran itu berada pada otaknya. Apabila pikiran itu tidak segera diusir, maka berubah kembali menjadi haditsun nafs. Haditsun nafs artinya juga sama yaitu bisikan jiwa.
As-Subqi mengatakan perbedaan yang ketiga ini orang yang memikirkan sudah sampai pada tahapan ragu, aku kerjakan atau tidak, apa masalahatnya kalau seandainya aku kerjakan. Apabila hal ini segera dihilangkan maka juga tidak ada efek sama sekali. Ketiga hal ini semua bisa dikatakan bisikan hati tidak berefek pada dosa maupun pahala.
Apabila seorang meniatkan untuk melakukan sebuah kemaksiatan akan tetapi sifatnya masih hanya terlintas pada pikiran, kemudian dia usir maka tidak akan ada dosanya. Dalam sebuah hadits Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam menyatakan,
ان الله تجاوز عن امتي ما حدثت به انفسها ما لم تعمل او تتكلم
Allāh subhānahu wa ta’ālā mengampuni dosa yang terbersit pada pikiran salah satu dari umatku selama itu hanya bertahan pada lintasan berfikir, tidak dia kerjakan selama dia belum mengatakan dan dia belum kerjakan sama sekali.
Maka tiga hal tadi al-hajs, al-khathir, dan haditsun nafs merupakan sesuatu yang dimaafkan selama tidak membuahkan perkataan. Kemudian tiga hal itu kalau seandainya tetap dipertahankan pada pikiran seseorang maka akan berubah menjadi al-hamm.
Al-hamm artinya adalah keinginan seseorang yang sudah bisa memberikan keputusan kalau begitu aku akan kerjakan. Ini juga masih dalam tahapan al-hamm belum sampai kepada derajat eksekusi, mengerjakan, entah dia berbicara atau dia melangkah dan sebagainya. Ini kalau seandainya sifatnya kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala akan tetapi jika sifatnya keburukan maka dia tidak akan mendapatkan dosa. Ini merupakan kemurahan Allāh dalam hadits yang shahih diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim, Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam menyatakan,
مَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كُتِبت له حَسَنَةً كَامِلَةً
Orang yang berkeinginan dengan kuat ingin mengerjakan sebuah kebaikan tapi dia belum mudah untuk mengerjakan maka dia akan mendapatkan pahala kebaikan satu kebaikan.
وَإِنْ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كُتِبت له عَشْرَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِمائَةِ ضِعْفٍ إِلىَ أَضْعَافٍ كَثِيْرَةٍ
Kalau dia memiliki keinginan, kemudian dia berhasil untuk mengerjakannya maka dia akan mendapatkan kebaikan yang dilipatkangandakan sampai 10 kali, 700 kali sampai lebih sesuai dengan kehendak Allāh subhānahu wa ta’ālā dan sesuai dengan kebaikan dan ketulusan niat orang yang mengerjakan. Akan tetapi,
مَنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كُتِبت له حَسَنَةً
Ada orang yang berkeinginan mengerjakan sebuah keburukan dia belum bisa, belum sempat mengerjakan akan tetapi segera dia tampik maka justru dia akan mendapatkan pahala, satu kebaikan. Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam menyatakan apabila dia berkeinginan jelek, akan tetapi dia tidak jadi kerjakan maka dia justru akan mendapatkan pahala akan tetapi,
فإِنْ عمل بِهَا كُتِبت له سَيِّئَةً وَاحِدَةً
Akan tetapi jika dia berhasil mengerjakan keburukan itu, dia akan mendapatkan dosa satu tingkatan dari apa yang dia kerjakan. Ini merupakan kemurahan Allāh subhānahu wa ta’ālā
Nah ini namanya hamm, selama belum berubah menjadi sebuah praktek maka dia tidak akan berefek pada sebuah dosa akan tetapi dia akan memberikan nilai baik apabila dia niatkan dengan amal soleh
Yang terakhir adalah al-‘azm (العزم). Al-‘azm (العزم) artinya adalah tekad. Dia betul-betul sudah akan mengerjakan tinggal sebentar lagi berubah menjadi pelaksanaan dan ini juga sama dengan sebelumnya. Maka dalam kasus yang kita sebutkan dua orang muslim yang saling menyerang dua-duanya akan masuk neraka karena yang satu sudah membunuh akan tetapi yang satu terbunuh dia sudah niat sekali dan sudah mengambil sebab.
Apa yang dia kerjakan dari niat hatinya sudah dia iringi dengan tindakan, maka saat itu dia sudah melaksanakan sebuah sebab dan sebab itu merupakan sebab dosa. Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang shahih mengatakan,
مَن رفع عليْنا السِّلاحَ فليسَ مِنَّا
Orang yang mengangkat senjata kepada saudara muslimnya maka dia bukan termasuk dari golongan kami.
Berarti dalam hadits ini ada pelajaran penting, di antaranya adalah masalah niat. Sangat pentingnya niat sampai seseorang belum terlaksana membunuh saudaranya dia sudah mendapatkan ancaman untuk masuk neraka.
Al-Hafizh ibn Hajar mengatakan maksudnya finnār (في النّارِ) artinya dia berhak untuk masuk ke neraka. Dia bisa dimasukkan ke neraka karena dia telah melakukan tindakan bodoh dengan saling membunuh akan tetapi aqidah al-sunnah wal-jama’ah meyakini bahwa pelaku dosa besar di antaranya adalah membunuh, dia akan berada pada kehendak Allāh subhānahu wa ta’ālā pada hari kiamat selama dia masih bertauhid kepada Allāh.
Apabila dia memang Allāh ‘azza wa jalla kehendaki akan diampuni maka sekalipun dosanya banyak Allāh yang akan mengatur. Orang yang terbunuh akan dibuat memaafkan kemudian dia akan dimaafkan sehingga dia akan masuk surga akan tetapi jika Allāh subhānahu wa ta’ālā memang menghendaki dia harus mempertanggungjawabkan tindakan dosa besarnya maka Allāh ‘azza wa jalla akan bersihkan dia dengan masuk ke dalam neraka.
Yang jelas niat ini sangat membedakan, perbuatan yang sama bisa bernilai beda karena niatnya yang berbeda. Dalam hadits yang shahih diriwayatkan oleh Imam Muslim Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam pernah didatangi seseorang kemudian bertanya,
يا رسول الله ارايت رجلا ياتيني يريد اخذ مالي
Ya Rasūlullāh bagaimana pendapat antum apabila ada seseorang datang kepadaku dia ingin merampas hartaku. Maka Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam mengatakan,
فلا تعطه
Jangan kamu berikan.
يا رسول الله أرأيت إن قتلته
Kata Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam bagaimana jika seandainya aku perangi dia, maka Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam mengatakan,
قاتله
Nggak apa-apa kamu perangi saja.
يا رسول الله أرأيت إن قُتِلْته
Bagaimana pendapat antum seandainya aku terbunuh.
Kata Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam,
فأنت شهيد
Kamu terbunuh karena engkau telah mempertahankan harta yang akan diambil seseorang maka engkau syahid kalau seandainya terbunuh karena usahamu untuk mempertahankan harta merupakan sesuatu yang dibenarkan dalam syariat. Maka seseorang itu bertanya lagi
يا رسول الله أرأيت إن قتلته
Wahai Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam bagaimana pendapat antum seandainya aku yang berhasil membunuhnya. Maka Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam mengatakan,
هو في النار
Dia akan berada di neraka, maksudnya juga sama dengan hadits yang kita bahas, dia berhak untuk masuk neraka.
Kita lihat bagaimana perbedaan hasil yang ditumbuhkan dari niat yang berbeda. Orang yang sama saling membunuh dia berhak dua-duanya untuk masuk neraka, pembunuh dan yang terbunuh. Demikian pula orang yang ingin merampas harta seandainya dia gagal untuk melakukan kejahatannya lalu dia terbunuh dari orang yang akan dia rampas maka dia masuk neraka, karena niat dari awal sudah buruk.
Akan tetapi orang yang ingin mempertahankan hartanya kemudian dia berusaha untuk mempertahankan dan sampai terbunuh maka dia dikatakan syahid. Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang shahih juga diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dan An-Nasai, Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam mengatakan,
من قتل دون ماله فهو شهيد من قتل دون أهله فهو شهيد من قتل دون عرضه فهو شهيد
Orang yang mati terbunuh karena mempertahankan kehormatannya, keluarganya, hartanya maka dia syahid.
Tentunya dikatakan syahid di sini adalah syahidul akhirah, dia tetap di dunia diperlakukan seperti orang yang tidak syahid, dimandikan, dikafani, dishalatkan kemudian dikuburkan seperti biasa. Akan tetapi dia mendapatkan pahala orang yang syahid di akhirat nanti.
Ini menunjukkan betapa pentingnya nilai sebuah niat, sama-sama dalam kasus pertikaian, pembunuhan akan tetapi ketika niat seorang baik maka Allāh subhānahu wa ta’ālā memperlakukan pelakunya dengan pahala dan dosa yang berbeda.
Kemudian pelajaran penting lainnya jelas ada larangan untuk saling membunuh atau membunuh kaum muslimin. Membunuh merupakan sebuah dosa besar yang sangat besar. Rasūlullāh subhānahu wa ta’ālā mengatakan,
من حمل علينا السلاح فليس منا
Barangsiapa yang mengangkat senjata untuk membunuh melukai, menciderai saudara sesama muslim maka dia bukan termasuk golongan kami.
Para ulama mengatakan artinya dia telah melakukan sebuah tindakan yang bukan merupakan tuntunan agama ini, bukan merupakan jalur yang diterapkan Rasūlullāh subhānahu wa ta’ālā dan orang-orang pilihan di sekitarnya.
Maka hadits ini menjadi pelajaran penting agar seseorang baik-baik menjaga diri termasuk niat dalam setiap amal yang akan dia kerjakan sehingga seorang tidak terjerumus ke dalam sesuatu yang dia anggap biasa akan tetapi na’udzubillāh hasilnya seseorang bisa terjerat ke dalam hukuman Allāh subhānahu wa ta’ālā yaitu neraka.
Bagaimana kaum muslimin di zaman sahabat mereka sempat terjadi pertempuran di antara mereka karena ada alasan perbedaan pendapat. Para ulama mengatakan bahwa di antara akidah ahlus sunnah wal jama’ah,
الكف عما شجر فيما بينهم
Ahlus sunnah meyakini bahwa mereka perlu menahan diri, tidak perlu membahas siapa yang salah siapa yang benar dan tidak perlu memperbincangkan keburukan para sahabat. Karena para sahabat semuanya ‘udul, orang-orang terpercaya, orang beriman dan mereka adalah ahli dalam ijtihad sehingga apa yang mereka ambil sebagai pilihan semua antara mendapatkan 1 pahala atau 2 pahala.
Seorang alim yang ahli dalam ijtihad kemudian dia salah dalam memilih sebuah pilihan, maka dia akan mendapatkan 1 pahala. Sementara apabila dia benar maka dia akan mendapatkan 2 pahala. Para sahabat ketika mereka melihat terjadi sebuah fitnah sampai akhirnya mengharuskan untuk saling bertemu dengan senjata, sebagian sahabat mengatakan bahwa kebenaran harus ditegakkan. Sebagian sahabat yang merasa kurang memahami kondisi pada saat itu, mereka memilih untuk tinggal di rumah, tidak ikut-ikut dalam pertemuan 2 pasukan antara sahabat Ali dan sahabat Mu’awiyah radhiyallāhu ‘anhum ajma’in. Sehingga mereka mengatakan lebih baik aku di rumah, tidak ikut-ikut apa yang terjadi di lapangan sana.
Nah, mereka semua akan mendapatkan pahala, pahala ijtihad mereka, kedalaman ilmu dan iman mereka mengantarkan mereka kepada derajat ijtihad. Ahlus sunnah yang berada di belakang Allāh selamatkan mereka dari terjerumus ke dalam pertempuran itu apa susahnya dan apa beratnya kita menjaga diri agar tidak sampai menceritakan, membicarakan keburukan yang terjadi di antara para sahabat Nabi.
Ini merupakan pembahasan yang ada dalam hadits ke-9 tentang penting dan bagaimana nilai sebuah niat pada dua amal yang bisa dikatakan sama akan tapi hasilnya berbeda.
Semoga Allāh subhānahu wa ta’ālā menjadikan kita semua mudah untuk menerima kebenaran, melaksanakan sunnah Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam, bisa istiqamah di atas sunnah sampai kita menggapai husnul khatimah. Wallāhu ta’ālā a’lam.
وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين، والحمد لله رب العالمين
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين، والعاقبة للمتقين، ولا عدوان إلا على الظالمين، وأشهد أن لا إله إلا الله إله الأولين والآخرين وأشهد أن محمدا عبده ورسوله سيد الأنبياء والمرسلين وعلى آله وصحابته والتابع ومن تبعهم بإحسان الى يوم الدين، أما بعد
Anggota grup Whatsapp Dirosah Islamiyah rahimana wa rahimakumullāh.
Masih tentang niat, kita akan membahas dan melanjutkan hadits-hadits yang terangkai dalam kitab Riyadhus Shalihin.
Hadits ke-10 dari Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu dan kita telah jelaskan biografi beliau dan juga keistimewaan-keistimewaannya,
عن أبي هريرةَ رضي الله عنه قَالَ: قالَ رَسُول الله صلى الله عليه وسلم
Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,
صَلاةُ الرَّجلِ في جمَاعَةٍ تَزيدُ عَلَى صَلاتهِ في سُوقِهِ وبيتهِ بضْعًا وعِشرِينَ دَرَجَةً
Shalat seseorang yang dilakukan berjama’ah bersama kaum muslim memiliki nilai pahala yang lebih daripada shalat yang dia lakukan sendiri di rumah maupun di pasarnya dengan 20 sekian kali lipat.
وَذَلِكَ
Sebabnya adalah.
أنَّ أَحدَهُمْ إِذَا تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الوُضوءَ
Sebagian mereka ketika berwudhu kemudian memperbaiki dan menyempurnakan wudhunya.
ثُمَّ أَتَى المَسْجِدَ لا يُرِيدُ إلاَّ الصَّلاةَ، ولاَ يَنْهَزُهُ إِلاَّ الصَلاةُ
Kemudian setelah berwudhu dengan wudhu yang sempurna lalu dia keluar dari rumahnya ke masjid, tidak ada niat selain untuk shalat dan memang tidak ada motivasi selain melaksanakan shalat.
لَمْ يَخْطُ خُطْوَةً إِلاَّ رُفِعَ لَهُ بِهَا دَرجَةٌ، وَحُطَّ عَنْهُ بها خَطِيئَةٌ
Dia tidak melangkahkan satu langkahnya melainkan Allāh subhānahu wa ta’ālā akan gugurkan satu dosa kemudian ditambahkan satu tingkatan derajat pahala dia.
حَتَّى يَدْخُلَ المَسْجِدَ
Sampai dia masuk masjid.
Dalam riwayat Muslim disebutkan,
كَانَتْ خَطْوَتَاهُ إحْدَاهُما تَحُطُّ خَطِيئَةً، وَإحْدَاهُما تَرْفَعُ دَرَجَةً
Dalam riwayat Muslim yang lain, hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim akan tetapi dalam riwayat Muslim dikatakan dua langkahnya satu mengugurkan dosa satu meninggikan derajat dia sampai dia masuk masjid. Apabila dia sudah masuk masjid,
فَإِذَا دَخَلَ المَسْجِدَ، كَانَ فِي الصَّلَاةِ مَا كَانَتِ الصَّلَاةُ هي التي تَحْبِسُهُ
Apabila dia sudah masuk masjid kemudian dia melaksanakan shalat sunnah, selama dia masih menunggu shalat yang akan dikerjakan shalat fardhunya maka dia akan dituliskan Allāh mendapatkan pahala orang yang terus-terusan melakukan shalat.
وَالْمَلَائِكَةُ يُصَلُّونَ علَى أَحَدِهم (أَحَدِكُمْ) ما دَامَ في مَجْلِسِهِ الذي صَلَّى فيه
Malaikat akan terus mendoakan orang tadi selama dia berada di tempat yang dia gunakan untuk shalat pertama tadi sampai dia menunggu shalat berikutnya.
يقولونَ
Para malaikat mengatakan,
اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ له، اللَّهُمَّ تُبْ عليه
Ya, Allāh rahmati dia, ampuni dia, terima taubatnya.
ما لَمْ يُؤْذِ فِيهِ، ما لَمْ يُحْدِثْ فِيهِ
Selama orang tadi tidak menyakiti orang lain dan juga tidak batal selama dia menunggu shalat.
Hadits ini seperti kita sebutkan muttafaqun ‘alaih (مُتَّفَقٌ عليه), disepakati keshahihannya dan lafazhnya adalah lafazh Imam Muslim.
Hadits ini juga sama, pelajaran pentingnya adalah bagaimana seseorang ketika dia melakukan ritual dan amal yang disebutkan dalam hadits ini (wudhu di rumah) dan ini merupakan sunnah Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam, ketika seorang akan melaksanakan shalat di masjid tidak apa-apa dia wudhu di masjid tetapi ketika dia ingin mendapatkan kesempurnaan maka dia wudhu di rumahnya, memperbaiki wudhunya, menyempurnakan sesuai dengan ajaran Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam lalu dia keluar rumah tidak ingin berangkat ke kantor kemudian mampir masjid atau dia ingin belanja karena dekat dengan masjid sekalian ke masjid.
Akan tetapi betul-betul dia keluar dari rumah untuk menuju rumah Allāh untuk melaksanakan shalat berjama’ah maka Allāh subhānahu wa ta’ālā akan menuliskan pahala-pahala tadi, didoakan malaikat, kemudian dianggap shalat sampai shalat yang dia tunggu dia laksanakan. Selama dia menunggu antara shalat sunnah dengan shalat fardhunya maka dia akan mendapatkan pahala shalat terus menerus.
Ini menunjukkan bahwa orang yang meniatkan dari sejak awal akan melaksanakan shalat dia akan mendapatkan pahala yang terus menerus bahkan yang istimewa pada hadits ini adalah orang itu akan didoakan malaikat. Kita bayangkan malaikat merupakan makhluk Allāh yang sangat besar, kuat, dan istimewa.
لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ
Mereka adalah makhluk-makhluk yang tidak pernah bermaksiat kepada Allāh dan semua perintah Allāh mereka kerjakan. Sekarang makhluk yang kuat itu mendoakan kita, karena kita menunggu shalat berjama’ah di masjid. Setelah kita berwudhu di rumah kemudian kita meniatkan untuk datang ke masjid melaksanakan shalat.
Para ulama mengatakan bahwa semua keistimewaan itu akan didapatkan apabila dia melakukan hal-hal yang disebutkan dalam hadits. Whudu di rumah, melangkah berjalan ke masjid, kemudian dia shalat sunnah, dan dia tidak berpindah sampai shalat yang dia tunggu terlaksana. Ini menunjukkan keistimewaan niat pula, bagaimana seseorang niat dari rumah akan mendapatkan pahala bertingkat-tingkat. Dan pahala shalat sudah dimulai sejak dia berwudhu, ketika di rumah dia berwudhu maka pahala yang ada dalam wudhu itu akan menggugurkan dosa-dosa yang dia lakukan.
Ketika dia membasuh mukanya maka dosa yang ditimbulkan dari matanya, hidungnya dan juga mulutnya akan jatuh bersama,
آخرِ قطرِ الماءِ
Bersama dengan akhir tetesan air yang dia gunakan untuk membasuh mukanya. Apabila dia telah membasuh dua tangannya maka semua dosa yang dilakukan dengan kedua tangannya akan turun pula bersama akhir tetesan air dari
أصابعه
Dari ujung jarinya.
Kemudian apabila dia membasuh kepalanya maka dosa-dosa yang ditimbulkan dari kepalanya juga akan sama berjatuhan bersama air terakhir yang menetes dari ujung rambutnya dan kaki juga demikian maka ini menunjukkan keistimewaan.
Kemudian setelah itu dia melangkah, Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang shahih beliau mengatakan,
إنَّ أَعْظَمَ النَّاسِ أَجْرًا في الصَّلَاةِ أَبْعَدُهُمْ إلَيْهَا مَمْشًى، فأبْعَدُهُمْ
(Muttafaqun ‘alaih)
Orang yang paling besar pahalanya ketika melaksanakan shalat berjama’ah di masjid adalah justru orang yang langkahnya paling jauh, semakin jauh dari masjid semakin panjang langkahnya maka semakin besar pahalanya. Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam mengatakan demikian.
Bahkan ini hadits diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Dalam shahih Muslim disebutkan bahwa justru pahala yang akan dicatat oleh Allāh subhānahu wa ta’ālā dari langkah seseorang ketika akan melaksanakan shalat berjama’ah bukan hanya ketika dia berangkat bahkan pulangnya juga demikian. Sebagaimana disebutkan dalam shahih Muslim dari sahabat Ubay bin Ka’ab, beliau katakan,
كانَ رَجُلٌ لا أَعْلَمُ رَجُلًا أَبْعَدُ مِنَ المَسْجِدِ منه، وَكانَ لا تُخْطِئُهُ صَلَاةٌ
Aku kenal ada seseorang tidak ada yang rumahnya paling jauh dari masjid dari orang ini, bahkan dia tidak pernah ketinggalan shalat berjama’ah.
فقِيلَ له
Maka ada yang mengatakan kepadanya,
لَوِ اشْتَرَيْتَ حِمَارًا تَرْكَبُها في الظَّلْمَاءِ والرَّمْضَاءِ
Kalau seandainya antum membeli tunggangan seekor keledai agar Antum bisa tunggangin di kegelapan malam dan ketika panas yang betul-betul terik, Anda bisa terselamatkan dari panasnya padang pasir. Jawaban sahabat tadi beliau katakan,
إنه ما يَسُرُّنِي أن يكون مَنْزِلِي إلى جَنْبِ المَسْجِدِ
Sesungguhnya aku tidak tertarik untuk mendekatkan masjid dengan rumahku.
وإنِّي أُرِيدُ أَنْ يُكْتَبَ لي مَمْشَايَ إلى المَسْجِدِ، وَرُجُوعِي إلى أَهْلِي حين رَجَعْتُ
Aku ingin ditulis pahala langkahku ketika aku datang ke masjid untuk melaksanakan shalat jama’ah dan juga ketika aku kembali menuju rumahku lagi.
Ketika Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam mendengar sahabat tadi mengatakan demikian, Beliau mengatakan dalam shahih Muslim,
قدْ جَمع اللَّهُ لكَ ذلكَ كُلَّهُ
Semua yang engkau niatkan telah Allāh kabulkan semua dan pahalanya telah dikumpulkan untukmu semua.
Ini menunjukkan bahwa pahala ketika seorang melangkahkan kaki untuk menuju shalat jama’ah akan dituliskan pula ketika dia pulangnya dan ini menjadi pahala keistimewaan orang yang datang ke masjid untuk melaksanakan shalat jama’ah.
Maka selain pelajaran tentang pentingnya niat dalam ibadah seseorang, di sini juga ada penekanan untuk melaksanakan shalat berjama’ah. Shalat berjama’ah sekalipun sebagian ulama berbeda pendapat, ada yang mengatakan sunnah muakkadah, dalam madzhab syafi’i juga demikian. Ada juga yang mengatakan fardhu kifayah, dalam madzhab syafi’i fardhu kifayah. Sunnah muakkadah pendapat Abu Hanifah, dalam madzhab Al-Hanabilah wajib dan fardhu ‘ain untuk melaksanakan shalat berjama’ah karena Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam pernah bertekad untuk membakar rumah orang-orang yang tidak melaksanakan shalat berjama’ah bahkan Abdullah bin Mas’ud mengatakan,
ولقد رأيتنا وما يتخلف عنها إلا منافق معلوم النفاق
Kami para sahabat menganggap bahwa orang yang ketinggalan dengan sengaja dan sering untuk tidak melaksanakan shalat berjama’ah, kami menganggap dia termasuk orang munafik yang terlihat jelas kemunafikannya. Maka pendapat ini yang dipegangi para sahabat.
ولقد كان الرجل يؤتى به يهادى بين الرجلين حتى يقام في الصف
Ada sebagian orang di kalangan kami dia sakit sampai tidak kuat berjalan, bangun dibopong atau dipapah dua orang sampai dia bisa berdiri di shaf kaum muslimin.
Bagaimana semangat para sahabat dalam melaksanakan shalat berjama’ah. Ini menunjukkan betapa kuat pendapat yang mengatakan shalat berjama’ah adalah wajib untuk kaum laki-laki. Maka tidak sepantasnya kaum muslimin yang ingin menjadi orang yang meneladani ajaran Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam untuk bermudah-mudah dalam melaksanakan shalat berjama’ah, meninggalkannya dan lebih memilih shalat di rumah.
Semoga Allāh subhānahu wa ta’ālā menjadikan kita semua mudah untuk menerima kebenaran, melaksanakan sunnah Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam, bisa istiqamah di atas sunnah sampai kita menggapai husnul khatimah. Wallāhu ta’ālā a’lam.
وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين، والحمد لله رب العالمين
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين، والعاقبة للمتقين، ولا عدوان إلا على الظالمين، وأشهد أن لا إله إلا الله إله الأولين والآخرين وأشهد أن محمدا عبده ورسوله سيد الأنبياء والمرسلين وعلى آله وصحابته والتابع ومن تبعهم بإحسان الى يوم الدين، أما بعد
Anggota grup Whatsapp Dirosah Islamiyah rahimana wa rahimakumullāh.
Masih berkaitan dengan pembahasan niat, betapa niat seseorang dalam hati akan dapat mempengaruhi hasil dari amal seseorang baik berupa pahala maupun dosa yang ditimbulkan oleh niat seseorang, apabila niat tersebut ternyata memiliki beberapa pendukung untuk melakukan sebuah keburukan.
Kita sampai pada hadits yang ke-11
عن أبي العبَّاسِ عبدِ اللهِ بنِ عباسِ بنِ عبد المطلب رضِيَ اللهُ عنهما
Dari sahabat Abdullah bin Abbas radhiyallāhu ‘anhuma, kunyahnya adalah Abul Abbas.
عن رَسُول الله صلى الله عليه وسلم فيما يروي عن ربهِ، تباركَ وتعالى
Beliau meriwayatkan dari Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam tentang apa yang Allāh firmankan. Allāh subhānahu wa ta’ālā berfirman,
إنَّ اللهَ كَتَبَ الحَسَنَاتِ والسَّيِّئَاتِ ثُمَّ بَيَّنَ ذلِكَ
Sesungguhnya Allāh subhānahu wa ta’ālā telah menuliskan semua kebaikan dan semua keburukan. Kemudian Allāh subhānahu wa ta’ālā menjelaskan secara rinci tentang apa yang disebutkan dengan al-hasanāt was sayyiāt (الحَسَنَاتِ والسَّيِّئَاتِ), apa itu kebaikan-kebaikan dan apa keburukan dan bagaimana keadaannya.
فَمَنْ هَمَّ بحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَها اللهُ تَبَارَكَ وتَعَالى عِنْدَهُ حَسَنَةً كامِلَةً
Barangsiapa yang memiliki keinginan untuk mengerjakan sebuah kebaikan akan tetapi dia belum sempat untuk mengerjakan, maka Allāh subhānahu wa ta’ālā telah menuliskan pahala baginya satu kebaikan yang sempurna.
وَإنْ هَمَّ بهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللهُ عَشْرَ حَسَناتٍ إِلى سَبْعمئةِ ضِعْفٍ إِلى أَضعَافٍ كَثيرةٍ
Akan tetapi ketika ada seseorang yang memiliki keinginan untuk mengerjakan sebuah kebaikan lalu dia berhasil untuk mengerjakannya maka Allāh subhānahu wa ta’ālā akan menuliskan pahalanya sepuluh kali lipat kebaikan dari apa yang dia kerjakan bahkan bisa lebih dari itu sampai tujuh ratus kali lipat atau berlipat-lipat lebih dari itu.
وإنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ
Akan tetapi barangsiapa yang memiliki keinginan untuk mengerjakan sebuah keburukan kemudian,
فَلَمْ يَعْمَلْهَا
Lalu dia belum sempat mengerjakannya,
كَتَبَهَا اللهُ تَعَالَى عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلةً
Allāh subhānahu wa ta’ālā akan mencatat bagi dia kebaikan yang sempurna ketika dia memiliki niat untuk mengerjakan amal keburukan lalu dia urungkan niatnya.
وَإنْ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللهُ سَيِّئَةً وَاحِدَةً. مُتَّفَقٌ عليهِ
Akan tetapi apabila dia memiliki niat untuk mengerjakan keburukan lalu dia berhasil mengerjakannya maka Allāh subhānahu wa ta’ālā hanya akan menuliskan untuknya dosa satu keburukan sesuai dengan apa yang dia kerjakan.
Hadits ini muttafaqun ‘alaih (مُتَّفَقٌ عليه), disepakati keshahihannya dan hadits ini diriwayatkan oleh sahabat yang mulia Abdullah ibn Abbas radhiyallāhu ‘anhuma. Nasab beliau adalah nasab yang bergabung dengan nasab Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam.
Abdullah ibn Abbas ibn Abdul Mutthalib ibn Hasyim ibn Abdi Manaf ibn Qushay ibn Kilab Al-Qurasy Al-Hasyimy. Beliau merupakan sepupu Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam, ayah beliau adalah Al-Abbas ibn Abdul Mutthalib radhiyallāhu ‘anhu seorang sahabat yang merupakan paman Rasūl shallallāhu ‘alaihi wa sallam, sehingga nasab beliau merupakan nasab yang mulia.
Beliau termasuk sahabat Nabi yang junior di kala itu karena beliau dilahirkan ketika dakwah pertama kerasulan Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam telah dimulai 10 tahun. Ketika kaum musyrikin Quraisy Mekkah mengepung Bani Hasyim karena dakwah Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam, di tengah-tengah pengepungan dari kepanikan dan kesulitan itulah Abdullah bin Abbas dilahirkan.
Lalu beliau turut hijrah di kemudian hari ke kota Madinah. Beliau belajar kepada Rasūl shallallāhu ‘alaihi wa sallam, selalu bersemangat dalam belajar menimba ilmu kepada Rasūl shallallāhu ‘alaihi wa sallam. Ketika Rasūl shallallāhu ‘alaihi wa sallam meninggal pun sahabat ibn Abbas waktu itu masih berusia 13 tahun. Akan tetapi beberapa keistimewaan beliau membuat beliau mudah untuk memahami agama ini sampai beliau menjadi rujukan dan referensi kaum muslimin di kala itu.
Beliau pernah didoakan oleh Rasūl shallallāhu ‘alaihi wa sallam dengan doa beliau,
اللَّهُمَّ عَلِّمْهُ الكتاب
Ya Allāh ajarkanlah kepada Ibn Abbas Al-Qur’anul Karim dalam riwayat shahih Bukhari.
Dalam riwayat lainnya Abdullah bin Abbas juga didoakan oleh Rasūl shallallāhu ‘alaihi wa sallam agar beliau paham terhadap agama ini.
اللّهُمَّ فَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
Ya, Allāh pahamkan ibn Abbas terhadap agama ini.
Dan ini merupakan sebuah tanda keistimewaan seseorang, tanda Allāh ‘azza wa jalla menghendaki kebaikan seseorang dengan dipahamkan agamanya.
مَن يُرِدِ اللهُ به خيرًا يُفَقِّهْه في الدينِ
(Muttafaqun ‘alaih)
Orang yang diinginkan kebaikan oleh Allāh subhānahu wa ta’ālā maka dia akan dipahamkan agamanya.
Dan Ibnu Abbas didoakan oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam agar bisa paham terhadap agama ini. Sehingga beliau dikenal dengan habrul ummah (حَبْر الأمّة), tintanya umat ini karena dalamnya pemahaman beliau termasuk ketajaman dalam mengetahui tafsir-tafsir ayat Al-Qur’an sehingga beberapa sahabat memuliakan Abdullah bin Abbas radhiyallāhu ‘anhu sekalipun beliau adalah sahabat yang junior pada saat itu.
Sampai sebagian sahabat sempat merasakan iri ketika Abdullah bin Abbas yang masih kecil oleh Umar bin Khatthab radhiyallāhu ‘anhu yang pada saat itu sudah menjadi khalifah senantiasa mendampingkan Abdullah ibnu Abbas di majelis para sahabat senior. Sampai sebagian mereka mengatakan seolah-olah mereka tidak terima,
لما تدخل هذا في مجالسنا ولنا ابناء مثله
Kenapa engkau hanya mengajak Abdullah bin Abbas untuk duduk bersama kita sementara kita juga punya anak-anak seumur dia. Maka Umar bin Khatthab radhiyallāhu ‘anhu mengatakan,
إنه كما قد علمتم
Dia adalah orang yang kalian kenal.
Akan tetapi suatu saat Umar bin Khatthab radhiyallāhu ‘anhu ingin menunjukkan betapa pemahaman Abdullah ibn Abbas radhiyallāhu ‘anhuma adalah pemahaman yang sangat jarang dipahami oleh orang-orang senior di kalangan sahabat sekalipun. Suatu saat Umar bin Khatthab radhiyallāhu ‘anhu sengaja menguji para sahabat dengan tafsir sebuah ayat, yaitu firman Allāh subhānahu wa ta’ālā di surat An-Nashr. Allāh subhānahu wa ta’ālā menyatakan,
إِذَا جَآءَ نَصْرُ ٱللَّهِ وَٱلْفَتْحُ
[QS An-Nashr: 1]
Apabila telah datang pertolongan Allāh dan kemenangannya.
Maka Umar bin Khatthab bertanya kepada para sahabatnya, “Apa yang kalian pahami dari firman Allāh ini?”
Maka mereka mengatakan,
إنا أمرنا أن نحمد الله ونستغفره إذ نصرنا وفتح علينا
“Kita diperintahkan Allāh subhānahu wa ta’ālā untuk banyak-banyak memujinya dan beristighfar karena Allāh subhānahu wa ta’ālā telah memberikan kepada kita kemenangan dan juga pertolongan.”
Akan tetapi ketika Umar bin Khatthab radhiyallāhu ‘anhu bertanya kepada Abdullah bin Abbas,
وأنت ماذا تفهم منها؟
“Apa yang kamu pahami terhadap ayat ini?”
Maka Abdullah bin Abbas mengatakan,
أجل رسول الله صلى الله عليه وسلم
“Ayat ini memberikan pesan telah datangnya ajal Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam.”
Ternyata Umar bin Khatthab mengatakan,
وأنا ما كنت أفهم إلا ما تقول
“Dan aku pun demikian, aku tidak memahami dan mengetahui tafsir dari surat ini kecuali apa yang engkau katakan.”
Ayat ini berkaitan dengan pesan Allāh subhānahu wa ta’ālā bahwa ajal Rasūl shallallāhu ‘alaihi wa sallam telah dekat. Ini menunjukkan keistimewaan beliau yang sampai akhirnya dijuluki dengan habrul ummah (حَبْر الأمّة) atau tintanya umat ini dan beliau adalah sahabat yang sangat dalam, dalam mengetahui tafsir Al-Qur’an sehingga Abdullah bin Mas’ud radhiyallāhu ‘anhu mengatakan,
نعم ترجمان القرآن عبد الله بن عباس
“Sebaik-baik ahli tafsir yang ada pada umat ini adalah sahabat Abdullah ibn Abbas.”
Bukan hanya tafsir saja, bahkan dalam ilmu yang lain beliau merupakan orang yang terdepan dalam memahaminya. Sehingga salah seorang tabi’in yang bernama Masruq ibn Azda’ mengatakan,
كنت اذا رايت ابن عباس قلت اجمل الناس
“Kalau aku melihat Abdullah ibn Abbas aku memandangnya sebagai orang yang paling tampan.”
وإذا تكلم قلت: أفصح الناس
“Akan tetapi apabila aku mendengarkan beliau sudah mulai berbicara aku merasa bahwa beliau adalah orang yang paling fasih.”
وإذا تحدث قلت: أعلم الناس
“Apabila beliau sudah mulai mengajarkan, sudah mulai menyampaikan ilmu maka aku katakan beliau adalah orang yang paling banyak ilmunya.”
Demikian merupakan salah satu figur keteladanan seorang sahabat Nabi yang juga merupakan keluarga Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam. Dan Rasūl shallallāhu ‘alaihi wa sallam mengatakan,
من أبطَأ به عمَلُه لَمْ يُسرِعْ به نسَبُه
(HR Abu Dawud, Ad-Dārimi, Ibnu Hibbān)
Orang yang memiliki amal yang sangat rendah tidak akan bisa hanya sekedar mengandalkan nasabnya.
Ini dibuktikan oleh Abdullah bin Abbas radhiyallāhu ‘anhuma, beliau bukan hanya seorang ahlul bait akan tetapi beliau adalah orang yang bersemangat dalam mempelajari ilmu agama ini dan beliau adalah orang yang berhati-hati dalam mengamalkan sunnah Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam.
Semoga kita dapat meneladani beliau karena kepandaian dan ketakwaan yang beliau miliki, bukan hanya karena nasab maupun kemuliaan yang disebabkan oleh takdir Allāh subhānahu wa ta’ālā. Semoga Allāh subhānahu wa ta’ālā memudahkan kita untuk mengerjakan agama ini dengan benar dan kita dimudahkan untuk menerima petuah Rasūl shallallāhu ‘alaihi wa sallam. Wallāhu ta’ālā a’lam.
وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين، والحمد لله رب العالمين
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين، والعاقبة للمتقين، ولا عدوان إلا على الظالمين، وأشهد أن لا إله إلا الله إله الأولين والآخرين وأشهد أن محمدا عبده ورسوله سيد الأنبياء والمرسلين وعلى آله وصحابته والتابع ومن تبعهم بإحسان الى يوم الدين، أما بعد
Anggota grup Whatsapp Dirosah Islamiyah rahimana wa rahimakumullāh.
Masih berkaitan dengan pembahasan niat, kita sampai pada hadits yang ke-11
عن أبي العبَّاسِ عبدِ اللهِ بنِ عباسِ بنِ عبد المطلب رضِيَ اللهُ عنهما، عن رَسُول الله صلى الله عليه وسلم فيما يروي عن ربهِ تباركَ وتعالى إنَّ اللهَ كَتَبَ الحَسَنَاتِ والسَّيِّئَاتِ ثُمَّ بَيَّنَ ذلِكَ فَمَنْ هَمَّ بحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَها اللهُ تَبَارَكَ وتَعَالى عِنْدَهُ حَسَنَةً كامِلَةً وَإنْ هَمَّ بهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللهُ عَشْرَ حَسَناتٍ إِلى سَبْعمئةِ ضِعْفٍ إِلى أَضعَافٍ كَثيرةٍ وإنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللهُ تَعَالَى عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلةً وَإنْ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللهُ سَيِّئَةً وَاحِدَةً. مُتَّفَقٌ عليهِ
Dari sahabat Abdullah bin Abbas radhiyallāhu ‘anhuma, kunyahnya adalah Abul Abbas. Beliau meriwayatkan dari Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam tentang apa yang Allāh firmankan. Allāh subhānahu wa ta’ālā berfirman, “Sesungguhnya Allāh subhānahu wa ta’ālā telah menuliskan semua kebaikan dan semua keburukan.”
Kemudian Allāh subhānahu wa ta’ālā menjelaskan secara rinci tentang apa yang disebutkan dengan al-hasanāt was sayyiāt (الحَسَنَاتِ والسَّيِّئَاتِ), apa itu kebaikan-kebaikan dan apa keburukan dan bagaimana keadaannya. Barangsiapa yang memiliki keinginan untuk mengerjakan sebuah kebaikan akan tetapi dia belum sempat untuk mengerjakan maka Allāh subhānahu wa ta’ālā telah menuliskan pahala baginya satu kebaikan yang sempurna.
Akan tetapi ketika ada seseorang yang memiliki keinginan untuk mengerjakan sebuah kebaikan lalu dia berhasil untuk mengerjakannya maka Allāh subhānahu wa ta’ālā akan menuliskan pahalanya sepuluh kali lipat kebaikan dari apa yang dia kerjakan bahkan bisa lebih dari itu sampai tujuh ratus kali lipat atau berlipat-lipat lebih dari itu.
Akan tetapi barangsiapa yang memiliki keinginan untuk mengerjakan sebuah keburukan lalu dia belum sempat mengerjakannya, Allāh subhānahu wa ta’ālā akan mencatat bagi dia kebaikan yang sempurna ketika dia memiliki niat untuk mengerjakan amal keburukan lalu dia urungkan niatnya.
Akan tetapi apabila dia memiliki niat untuk mengerjakan keburukan lalu dia berhasil mengerjakannya maka Allāh subhānahu wa ta’ālā hanya akan menuliskan untuknya dosa satu keburukan sesuai dengan apa yang dia kerjakan. Hadits ini muttafaqun ‘alaih, disepakati keshahihannya.
Ikhwah sekalian, hadits ini menunjukkan tentang betapa pentingnya sebuah niat dan kita sudah bahas kemarin bahwa As-Subki (السبكي) dalam Al-Halabiyāt (الحلبيات) menyebutkan al-khatharāt (الخطرات) atau sesuatu yang sempat terbersit dalam hati ada lima tingkatan.
Yang pertama al-hajs (الهجس). Al-hajs (الهجس) artinya adalah pertama kali seorang terbayang sesuatu dan ini merupakan saat pertama seorang terpikir kepada sebuah pikiran. Kalau ternyata pikiran itu mulai agak bertahan maka dikatakan al-khāthir (الخاطر), kemudian apabila lebih lama lagi bertahan lalu seorang yang memikirkan ini mulai ragu saya kerjakan atau tidak maka berubah menjadi hadītsun nafs (حديث النفس).
Dan tiga hal ini para ulama mengatakan seseorang yang merasakannya tidak akan diperhitungkan baik pahala maupun dosanya. Akan tetapi jika sudah mulai dia agak condong kepada salah satu sikap, mulai mengerjakan atau tidak maka saat itu dia sudah berubah menjadi al-hamm (الهم). Al-hamm (الهم) juga sama artinya adalah sesuatu yang dipikirkan dalam hati akan tetapi orang yang memikirkan sudah mulai condong untuk mengerjakan.
Lalu berpindah kepada derajat berikutnya atau tingkatan selanjutnya adalah al-‘azm (العزم) yang dikatakan tekad. Akan tetapi semua selama belum diiringi dengan perkataan atau perbuatan kita pernah sampaikan bahwa itu tidak akan dicatat sebagai dosa karena dalam hadits yang shahih daripada Imam Bukhari dan Muslim, Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam menyatakan,
إن الله تجاوز عن أمتي ما حدثت به أنفسها ما لم تعمل أو تتكلم
Sesungguhnya Allāh subhānahu wa ta’ālā memaklumi atau mengampuni apa yang sering dipikirkan oleh hambaku atau umat-umat ini selama sesuatu yang terbesit dalam pikiran maupun hati belum sampai terwujudkan dalam sebuah perbuatan maupun perkataan.
Sedangkan al-hamm (الهم) dan al-‘azm (العزم) dan yang kita bahas pada kali ini adalah seseorang yang sudah mulai memikirkan, betul-betul memiliki keinginan yang kuat untuk mengerjakan perbuatan itu. Akan tetapi ternyata Allāh subhānahu wa ta’ālā memiliki keistimewaan dan kemurahan kepada umat ini dan dalam hadits ini pelajaran pertama adalah betapa Allāh subhānahu wa ta’ālā Maha Pemurah.
Ketika Allāh subhānahu wa ta’ālā memberikan pahala untuk orang yang memiliki keinginan yang baik sekalipun dia belum sempat mengerjakan maka dia akan mendapatkan kebaikan. Akan tetapi ketika Allāh subhānahu wa ta’ālā melihat ada seseorang memiliki keinginan buruk sampai akhirnya dia berhasil mengerjakan maka dosa yang diberikan hanya satu derajat saja sesuai dengan apa yang dia kerjakan.
Dan ini sesuai dengan firman Allāh subhānahu wa ta’ālā,
مَن جَآءَ بِٱلْحَسَنَةِ فَلَهُۥ عَشْرُ أَمْثَالِهَا
[QS Al-An’am: 160]
Setiap orang yang dapat mengerjakan sebuah kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala sepuluh kali lipat .
وَمَن جَآءَ بِٱلسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزَىٰٓ إِلَّا مِثْلَهَا وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ
[QS Al-An’am: 160]
Akan tetapi setiap orang yang mengerjakan sebuah keburukan dia tidak akan mendapatkan balasannya kecuali hanya satu keburukan yang sesuai dengan dia kerjakan dan mereka tidak akan dizhalimi oleh Allāh ‘azza wa jalla.
Ini merupakan kemurahan Allāh, ketika seseorang diperlakukan oleh Allāh dengan adil pada saat dia mengerjakan sebuah keburukan. Satu keburukan akan diberikan satu keburukan (dosanya) sedangkan orang yang mengerjakan kebaikan maka Allāh subhānahu wa ta’ālā akan lipatgandakan perbuatan baik.
Niat belum mengerjakan ternyata Allāh sudah tuliskan. Contoh seseorang ingin berwudhu’ agar dia bisa sempurna dalam membaca Al-Qur’an, ternyata karena adanya kesibukan atau ada kepentingan akhirnya dia tidak jadi untuk melaksanakan wudhu’ maka dia sudah mendapatkan kebaikan.
Orang ingin masuk masjid agar dia bisa menunaikan shalat dhuha, sampai depan masjid ternyata ada orang yang menelepon kemudian segera berangkat ke kantor misalkan, maka dia sudah mendapatkan pahala karena ini merupakan kemurahan Allāh subhānahu wa ta’ālā. dalam memberikan pahala maupun dosa untuk hamba-Nya yang beriman.
إنَّ اللهَ كَتَبَ الحَسَنَاتِ والسَّيِّئَاتِ
Hadits ini merupakan hadits qudsi, hadits yang merupakan firman Allāh subhānahu wa ta’ālā yang disampaikan oleh Rasul shallallāhu ‘alaihi wa sallam. Allāh subhānahu wa ta’ālā. menuliskan setiap keburukan dan kebaikan. Semua kebaikan dan keburukan telah Allāh subhānahu wa ta’ālā tulis.
Dan ini memiliki dua makna, makna yang pertama Allāh telah menuliskan semua, artinya dalam catatan takdir secara lengkap (al-lauh al-mahfuzh) pada kitab yang menulis semua takdir makhluk. Dan ini sebagaimana dalam Al-Qur’an dikatakan,
إِنَّا كُلَّ شَىْءٍ خَلَقْنَٰهُ بِقَدَرٍ
[QS Al-Qamar: 49]
Kami ciptakan semua makhluk yang ada dengan takdir-Ku.
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim, Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam menyatakan,
كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الخَلَائِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ
Allāh subhānahu wa ta’ālā telah menuliskan semua takdir yang akan terjadi pada makhluk-makhluk ini 50 ribu tahun sebelum Allāh menciptakan langit dan bumi.
Ini bisa dipahami dengan makna takdir. Allāh subhānahu wa ta’ālā telah menuliskan semua kebaikan dan semua keburukan. Akan tetapi bisa juga dipahami dengan makna kedua bahwa setiap orang yang mengerjakan kebaikan akan ditulis, setiap orang yang mengerjakan semua keburukan akan ditulis. Ini juga sejalan dengan firman Allāh subhānahu wa ta’ālā,
مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
[QS Qaf: 18]
Tidaklah ada seseorang mengucapkan satu perkataan ataupun seseorang mengerjakan sebuah perbuatan melainkan kami akan menulis melalui malaikat Kami.
Kata Ibnu Katsir rahimahullāh,
هذان الملكان الكريمان يكتبان كل ما يعمله المرء من قول أو فعل
Yang dimaksudkan dalam ayat ini adalah Allāh subhānahu wa ta’ālā menciptakan dua malaikat yang akan mencatat segala perbuatan anak Adam, baik yang dilakukan dalam bentuk perbuatan maupun perkataan.
Dan disebutkan bahwa malaikat yang menuliskan kebaikan berada pada sisi yang kanan kemudian malaikat yang menuliskan pada arah yang kiri akan menuliskan hal-hal yang buruk dan ini merupakan perhatian Allāh subhānahu wa ta’ālā kepada makhluk yang Allāh ciptakan. Ini juga merupakan pesan agar seseorang berhati-hati dalam berkata maupun berbuat.
Semoga Allāh subhānahu wa ta’ālā memudahkan kita untuk mengerjakan agama ini dengan benar dan kita dimudahkan untuk menerima petuah Rasūl shallallāhu ‘alaihi wa sallam. Wallāhu ta’ālā a’lam.
وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين، والحمد لله رب العالمين
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين، والعاقبة للمتقين، ولا عدوان إلا على الظالمين، وأشهد أن لا إله إلا الله إله الأولين والآخرين وأشهد أن محمدا عبده ورسوله سيد الأنبياء والمرسلين وعلى آله وصحابته والتابع ومن تبعهم بإحسان الى يوم الدين، أما بعد
Anggota grup Whatsapp Dirosah Islamiyah rahimana wa rahimakumullāh.
Masih berkaitan dengan pembahasan niat, kita sampai pada hadits yang ke-11
عن أبي العبَّاسِ عبدِ اللهِ بنِ عباسِ بنِ عبد المطلب رضِيَ اللهُ عنهما، عن رَسُول الله صلى الله عليه وسلم فيما يروي عن ربهِ تباركَ وتعالى إنَّ اللهَ كَتَبَ الحَسَنَاتِ والسَّيِّئَاتِ ثُمَّ بَيَّنَ ذلِكَ فَمَنْ هَمَّ بحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَها اللهُ تَبَارَكَ وتَعَالى عِنْدَهُ حَسَنَةً كامِلَةً وَإنْ هَمَّ بهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللهُ عَشْرَ حَسَناتٍ إِلى سَبْعمئةِ ضِعْفٍ إِلى أَضعَافٍ كَثيرةٍ وإنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللهُ تَعَالَى عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلةً وَإنْ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللهُ سَيِّئَةً وَاحِدَةً. مُتَّفَقٌ عليهِ
Dari sahabat Abdullah bin Abbas radhiyallāhu ‘anhuma, kunyahnya adalah Abul Abbas. Beliau meriwayatkan dari Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam tentang apa yang Allāh firmankan. Allāh subhānahu wa ta’ālā berfirman, “Sesungguhnya Allāh subhānahu wa ta’ālā telah menuliskan semua kebaikan dan semua keburukan.”
Kemudian Allāh subhānahu wa ta’ālā menjelaskan secara rinci tentang apa yang disebutkan dengan al-hasanāt was sayyiāt (الحَسَنَاتِ والسَّيِّئَاتِ), apa itu kebaikan-kebaikan dan apa keburukan dan bagaimana keadaannya. Barangsiapa yang memiliki keinginan untuk mengerjakan sebuah kebaikan akan tetapi dia belum sempat untuk mengerjakan maka Allāh subhānahu wa ta’ālā telah menuliskan pahala baginya satu kebaikan yang sempurna.
Akan tetapi ketika ada seseorang yang memiliki keinginan untuk mengerjakan sebuah kebaikan lalu dia berhasil untuk mengerjakannya maka Allāh subhānahu wa ta’ālā akan menuliskan pahalanya sepuluh kali lipat kebaikan dari apa yang dia kerjakan bahkan bisa lebih dari itu sampai tujuh ratus kali lipat atau berlipat-lipat lebih dari itu.
Akan tetapi barangsiapa yang memiliki keinginan untuk mengerjakan sebuah keburukan lalu dia belum sempat mengerjakannya, Allāh subhānahu wa ta’ālā akan mencatat bagi dia kebaikan yang sempurna ketika dia memiliki niat untuk mengerjakan amal keburukan lalu dia urungkan niatnya.
Akan tetapi apabila dia memiliki niat untuk mengerjakan keburukan lalu dia berhasil mengerjakannya maka Allāh subhānahu wa ta’ālā hanya akan menuliskan untuknya dosa satu keburukan sesuai dengan apa yang dia kerjakan. Hadits ini muttafaqun ‘alaih, disepakati keshahihannya.
Hadits ini menunjukkan betapa sebuah niat akan berpengaruh pada hasil yang dia kerjakan. Dikatakan bahwa orang yang mengerjakan sebuah perbuatan yang baik dan berhasil dia mengerjakan niatnya tadi, maka Allāh subhānahu wa ta’ālā akan memberikan kebaikan,
(إِلى) عَشْرَ حَسَناتٍ إِلى سَبْعمئةِ ضِعْفٍ إِلى أَضعَافٍ كَثيرةٍ
Sebuah perbuatan dilipatkan bagi Allāh menjadi sepuluh kali lipat kebaikan kemudian ada yang lipatkan menjadi sab’i mi’ah (سَبْعمئةِ), sampai tujuh ratus kali lipat, bahkan ada yang tidak bisa dihitung lagi, karena adh’āfan katsīrah (أَضعَافٍ كَثيرةٍ) sampai berlipat-lipat.
Ibnu Hubairah, Ibnu Rajab Al-Hambali dan juga Syaikh Muhammad Ibnu Shalih Utsaimin, menyebutkan bahwa semua yang berkaitan dengan pelipatgandaan pahala amal seseorang, akan didasarkan kepada ikhlasnya niat dalam mengerjakan. Dan keikhlasan seorang bertingkat-tingkat maka seberapa besar derajat keikhlasan seseorang, maka akan semakin besar pahala yang dia dapatkan.
Ini disebutkan oleh Ibnu Hubairah rahimahullāh maksud dari hadits ini, adalah
مقدار ما يكون فيها من خلوص النيه وايقاعها في مواضعها
Setiap amal akan didasarkan kepada tingkat keikhlasan niat yang dia kerjakan dan bagaimana dia memposisikan niat itu pada tempat yang tepat. Kemudian Ibnu Rajab Al-Hambali mengatakan ketika Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam membeda-bedakan ada orang yang mendapatkan pahala sekian, ada yang mendapatkan pahala sekian, akan didasarkan kepada empat hal.
Yang pertama adalah husnil islam (حسن الاسلام) karena baik dan buruknya atau tinggi dan rendahnya pengetahuan seseorang terhadap Islamnya. Yang kedua adalah kamālul ikhlās bagaimana kesempurnaan ikhlasnya. Yang ketiga adalah fadlul ‘amal (فضل العمل), tergantung pada keistimewaan amal yang dia kerjakan.
Kemudian yang terakhir adalah al-hājatu ilaihi (الحاجة اليه), kebutuhan seseorang terhadap amal yang dia kerjakan dan ini sejalan dengan yang disampaikan oleh Syaikh Muhammad Ibnu Shalih Utsaimin rahimahullāh betapa seorang bisa mendapatkan pahala semakin besar ketika dia bisa membuktikan atau menerapkan dua catatan syarat dalam diterimanya amal, yaitu ikhlas dan mutaba’ah.
Semakin ikhlas seseorang dan semakin benar amal seseorang, maka akan semakin sempurna pahala yang dia dapatkan. Ini sejalan dengan yang disampaikan Ibnu Rajab. Husnul islam, seorang bisa paham dengan baik terhadap agamanya akan berpengaruh pada amal yang dia kerjakan.
Kemudian ikhwah sekalian, hadits yang tadi dikatakan seseorang yang,
هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللهُ تَعَالَى عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلةً
Orang yang ingin mengerjakan keburukan lalu dia tidak jadi mengerjakan maka dia akan mendapatkan kebaikan.
Ini disebutkan apabila dia meninggalkan perbuatan itu karena ketakwaannya kepada Allāh, karena takut kepada Allāh subhānahu wa ta’ālā. Sehingga dalam shahih Bukhari dan Muslim disebutkan,
إنَّما تَرَكَه من جَرَّاىَ
Orang itu tidak jadi mengerjakan perbuatan maksiat karena dia takut kepada Aku.
Maka para ulama mengatakan apabila seseorang berniat untuk mengerjakan keburukan akan tetapi dia tidak jadi mengerjakannya karena takut orang-orang atau karena riya’, karena dilihat orang. Aku tidak jadi mengerjakan itu karena orang-orang pada melihat saya ingin dipuji karena aku tidak mengerjakannya maka pahala itu tidak dia dapatkan. Bahkan bisa jadi dia justru mendapatkan dosa karena takut kepada orang sementara tidak takut kepada Allāh adalah hal yang haram. Sementara orang juga meninggalkan sebuah perbuatan ingin dipuji orang juga merupakan riya’ yang diharamkan.
Maka hadits yang berkaitan dengan seseorang yang ingin mengerjakan perbuatan buruk lalu dia mendapatkan pahala karena dia tinggalkan, karena alasan takut kepada Allāh. Bukan takut kepada orang maupun ingin dipuji orang. Termasuk berikutnya apabila ada orang yang berbuat untuk melakukan keburukan lalu dia tinggalkan karena memang dia tidak mampu padahal dia sudah berusaha maka orang tersebut tetap mendapatkan dosa.
Kita katakan bahwa al-hamm (الهم) merupakan keinginan, al-‘azm (العزم) merupakan tekad. Belum dicatat sebagai sebuah dosa manakala berkaitan dengan maksiat sampai dia beriringan dengan perkataan maupun perbuatan. Maka ketika seseorang sudah mulai mengerjakan lalu dia tidak mampu untuk melanjutkan pekerjaannya entah karena ada orang yang mengawasi atau karena dia tidak mampu untuk mengerjakan maksiat itu, maka dia telah melakukan beberapa sebab dan usaha, maka dia akan mendapatkan dosa.
Maka di antara pembahasan yang berkaitan dengan ini adalah hadits yang pernah kita sampaikan sebelumnya,
إِذَا الْتقَى الْمُسْلِمَانِ بسيْفيْهِمَا فالْقاتِلُ والمقْتُولُ في النَّارِ
Apabila ada dua orang muslim yang saling membunuh masing-masing sudah menggunakan senjata maka pembunuh maupun yang dibunuh akan sama-sama masuk neraka atau berhak untuk mendapatkan siksa neraka.
Dan ini juga sama dengan orang yang berandai-andai bermaksiat sementara dia tidak mampu. Dalam sebuah hadits yang shahih berkenaan At-Tirmidzi dan Ibnu Majah, Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam. memberikan gambaran seseorang yang mengatakan,
لو أنَّ لي مالًا مثلَ فلانٍ لعملتُ مثله
Seandainya aku punya harta aku akan melakukan apa yang dia kerjakan, yaitu perbuatan maksiat. Maka kata Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam,
فهما في الوِزْرِ سواءٌ
Maka dua orang itu sama-sama mendapatkan dosanya, dia belum mengerjakan akan tetapi karena dia ingin mengerjakan, seandainya dia memiliki wasilah atau sarana untuk mengerjakan maksiat itu.
Maka kita pahami betapa bahayanya seseorang yang memiliki niat dan dia tidak jaga niat tersebut. Sebuah amal akan terbuang sia-sia manakala dia tinggalkan bukan karena Allāh dan sebuah amal justru akan mendapatkan pahala di sisi Allāh yang besar manakala seseorang memiliki niat yang baik dan pemahaman agama maupun kadar disiplin mengikuti sunnah ajaran Rasul shallallāhu ‘alaihi wa sallam dengan baik dan benar.
Semoga Allāh subhānahu wa ta’ālā memudahkan kita untuk mengerjakan agama ini dengan benar dan kita dimudahkan untuk menerima petuah Rasul shallallāhu ‘alaihi wa sallam.
Wallāhu ta’ālā a’lam.
وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين، والحمد لله رب العالمين
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين، والعاقبة للمتقين، ولا عدوان إلا على الظالمين، وأشهد أن لا إله إلا الله إله الأولين والآخرين وأشهد أن محمدا عبده ورسوله سيد الأنبياء والمرسلين وعلى آله وصحابته والتابع ومن تبعهم بإحسان الى يوم الدين، أما بعد
Anggota grup Whatsapp Dirosah Islamiyah rahimana wa rahimakumullāh.
Kita akan membahas hadits terakhir pada pembahasan niat, tentang sebuah amal yang ikhlas karena Allāh. Ketika seseorang melakukan amal shalih niat karena Allāh subhānahu wa ta’ālā maka amal shalih tersebut dapat menjadi penyebab keselamatan seseorang. Lebih luas dari itu seseorang bisa menjadikan amal-amal shalih tersebut sebagai sebab untuk mendapatkan permintaannya kepada Allāh subhānahu wa ta’ālā.
Kita akan mempelajari hadits yang diriwayatkan oleh seorang sahabat Nabi, Abdullah bin Umar. Kunyahnya Abu Abdirrahman radhiyallāhu ‘anhuma, seorang sahabat yang mulia, junior karena usianya yang sangat muda. Nasab beliau sudah pernah kita sebutkan bersama nasab ayahnya Umar bin Khatthab radhiyallāhu ‘anhu.
Dan Abdullah bin Umar radhiyallāhu ‘anhuma termasuk seorang sahabat yang masih kecil, beliau masuk Islam bersama ayahnya. Para ulama yang menyebutkan biografi beliau mengatakan bahwa beliau hijrah dari kota Makkah ke kota Madinah sebelum ayahnya. Bahkan beliau karena masih kecil kejadian perang badar belum bisa beliau ikuti berikut perang Uhud, karena beliau masih dianggap belum sampai kepada usia dewasa. Baru ketika terjadi perang Khandaq Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam mengizinkan beliau untuk mengikutsertakan diri karena sudah dianggap dewasa.
Ketika terjadi Fathu Makkah atau penaklukkan kota Makkah yang dilakukan oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam pada tahun ke-8 Hijriyah, umur beliau pada saat itu baru 20 tahun. Akan tetapi semangat beliau dalam belajar dan mengambil nasihat berikut hadits-hadits Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam membuat posisi beliau sebagai orang yang menjadi rujukan, referensi dan ulama di kalangan sahabat. Beliau meriwayatkan lebih dari 2000 hadits Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam bahkan Imam Malik rahimahullāh mengatakan sepeninggal Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam Abdullah bin Umar berhak memberikan fatwa selama 60 tahun.
Abdullah bin Umar terkenal sebagai seorang yang sangat disiplin dalam mengikuti ajaran Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam bahkan beliau berusaha untuk melaksanakan shalat di tempat-tempat yang pernah Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam manfaatkan untuk shalat. Satu saat ketika Fathu Makkah Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam masuk ke dalam Ka’bah. Tidak banyak sahabat yang masuk bersama beliau shallallāhu ‘alaihi wa sallam, ada Bilal ibnu Rabah kemudian ada Usama bin Zaid kemudian ada satu orang lagi, kemudian pintu Ka’bah ditutup agar tidak semua sahabat ikut masuk ke dalam sehingga tidak cukup Ka’bah untuk dilaksanakan oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam sebagai tempat shalat.
Ketika pintu terbuka maka Abdullah bin Umar segera bertanya di mana Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam, berapa raka’at Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam shalat karena Abdullah bin Umar ingin betul-betul mengikuti apa yang dilaksanakan oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam.
Beliau juga dikenal sebagai seorang sahabat yang sangat shalih, orang yang ahli ibadah. Dalam Shahih Bukhari dan Muslim diceritakan bahwa kebiasaan Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam adalah bertanya kepada para sahabatnya tentang mimpi yang dilihat oleh para sahabatnya. Kemudian Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam pun menafsirkan mimpi-mimpi itu sehingga Abdullah bin Umar berharap pengen melihat satu mimpi yang akan disampaikan kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam untuk dita’wilkan.
Satu saat beliau cerita aku adalah seorang pemuda, dalam Shahih Bukhari dan Muslim disebutkan demikian. Aku adalah seorang azaban (عزب), orang yang belum menikah.
فكنت أنام في المسجد
Aku pun tidur di masjid, ini menunjukkan bahwa tidur di masjid pun tidak apa-apa. Kemudian dia mengatakan satu saat aku bermimpi ada dua malaikat mengambilku kemudian aku dibawa menuju neraka. Seolah-olah neraka itu dilipat bagaikan sumur, kemudian seolah-olah di neraka itu ada qarnan (قرن), ada dua tanduknya seperti sumur.
Kemudian aku melihat di sana beberapa orang yang aku kenal, maka aku ketakutan sehingga datanglah satu malaikat mendatangi dua malaikat bersamaku kemudian satu malaikat itu mengatakan kepadaku,
لَنْ تُرَاعَ، لَنْ تُرَاعَ
Engkau tidak perlu takut, engkau tidak perlu takut, dua kali.
Ketika aku terjaga aku pun berusaha untuk menemui Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam, aku datang ke rumah saudariku, Hafshah bintu Umar. Aku katakan kepadanya agar disampaikan kepada Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam perihal mimpiku maka Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam menyatakan,
نعم الرجل عبد الله لو قام من الليل
Sebaik-baik orang adalah Abdullah seandainya dia bisa melaksanakan shalat malam, maka rawi dari hadits tersebut mengatakan,
فكان عبد الله بعد لا ينام من الليل الا قليلا
Sejak saat itu Abdullah bin Umar tidak pernah tidur malam melainkan sebentar saja. Ini menjadi bukti bahwa beliau adalah seorang ahli ibadah, beliau termasuk orang-orang yang sangat berhati-hati terhadap dunia.
Jabir bin Abdullah radhiyallāhu ‘anhuma mengatakan,
ما منا احد إلا ومال به الدنيا او الا مالت به الدنيا إلا عمر وابنه عبد الله
Kata Jabir ibn Abdullah, hampir semua dari kita kalangan para sahabat akhirnya terpengaruh dengan dunia, menikmati dunia seisinya kecuali satu orang dan anaknya yaitu Umar dan anaknya Abdullah bin Umar
Dan diriwayatkan, ini disebutkan oleh Ibn Rajab Al-Hambali dalam kitab Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, satu saat Abdullah bin Umar mengatakan,
ما شبعت منذ اربعة اشهر وليس ذلك اني لا اقدر عليه ولكن ادركت اقواما يجوعون اكثر مما يشبعون
Kata Abdullah bin Umar aku telah merasakan tidak kenyang selama 4 bulan dan aku sengaja seperti itu bukan karena aku tidak mampu untuk mendapatkan sebab untuk kenyang, akan tetapi aku pernah mendapatkan komunitas sekelompok orang. Mereka lebih banyak lapar daripada kenyang.
Ini salah satu bentuk zuhud atau wara’, kehati-hatian beliau dalam menyikapi dunia. Akhirnya beliau dipanjangkan umurnya oleh Allāh ‘azza wa jalla, ketika beliau meninggal umur beliau sampai pada usia 86 hingga beliau sempat buta di akhir hayatnya. Dan beliau pun seperti disampaikan sebelumnya selalu menjadi mufti, menjadi orang-orang yang dijadikan rujukan ketika mereka membutuhkan hingga akhirnya beliau mati diracun oleh Hajjaj Ibn Yusuf Ats-Tsaqafi.
Hajjaj Ibn Yusuf memerintahkan seseorang agar meletakkan racun pada ujung tombak atau besi di bagian bawah tombaknya. Ketika Abdullah bin Umar radhiyallāhu ‘anhuma dalam perjalanan maka orang suruhan Hajjaj Ibn Yusuf mendekati, berusaha merangsek mendekati Abdullah bin Umar kemudian ia meletakkan ujung dari tombak itu yang sudah dilumuri racun, ditumbukkan ke kaki Abdullah bin Umar hingga Abdullah bin Umar merasakan sakit, beberapa hari kemudian meninggal radhiyallāhu ‘anhu wa ardhahu.
Semoga Allāh subhānahu wa ta’ālā memudahkan kita untuk memperbaiki amal kita, memperbaiki niat kita sehingga kita berhasil mencapai ridha Allāh, sukses dunia dan akhirat.
Wallāhu ta’ālā a’lam.
وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين، والحمد لله رب العالمين
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين، والعاقبة للمتقين، ولا عدوان إلا على الظالمين، وأشهد أن لا إله إلا الله إله الأولين والآخرين وأشهد أن محمدا عبده ورسوله سيد الأنبياء والمرسلين وعلى آله وصحابته والتابع ومن تبعهم بإحسان الى يوم الدين، أما بعد
Anggota grup Whatsapp Dirosah Islamiyah rahimana wa rahimakumullāh.
Kita akan membahas hadits terakhir pada pembahasan niat, tentang sebuah amal yang ikhlas karena Allāh. Ketika seseorang melakukan amal shalih niat karena Allāh subhānahu wa ta’ālā maka amal shalih tersebut dapat menjadi penyebab keselamatan seseorang. Lebih luas dari itu seseorang bisa menjadikan amal-amal shalih tersebut sebagai sebab untuk mendapatkan permintaannya kepada Allāh subhānahu wa ta’ālā.
وعن أبي عبد الرحمان عبدِ الله بنِ عمرَ بن الخطابِ رضيَ اللهُ عنهما، قَالَ: سمعتُ رسولَ الله – صلى الله عليه وسلم – يقول وعن أبي عبد الرحمان عبدِ الله بنِ عمرَ بن الخطابِ رضيَ اللهُ عنهما، قَالَ: سمعتُ رسولَ الله – صلى الله عليه وسلم – يقول انطَلَقَ ثَلاثَةُ نَفَرٍ مِمَّنْ كَانَ قَبْلَكُمْ حَتَّى آوَاهُمُ المَبيتُ إِلى غَارٍ فَدَخلُوهُ فانْحَدرَتْ صَخْرَةٌ مِنَ الجَبَلِ فَسَدَّتْ عَلَيْهِمُ الغَارَ فَقالُوا: إِنَّهُ لاَ يُنْجِيكُمْ مِنْ هذِهِ الصَّخْرَةِ إِلاَّ أَنْ تَدْعُوا اللهَ بصَالِحِ أعْمَالِكُمْ قَالَ رجلٌ مِنْهُمْ: اللَّهُمَّ كَانَ لِي أَبَوانِ شَيْخَانِ كبيرانِ، وكُنْتُ لا أغْبِقُ قَبْلَهُمَا أهْلًا ولاَ مالًا فَنَأَى بِي طَلَب الشَّجَرِ يَوْمًا فلم أُرِحْ عَلَيْهمَا حَتَّى نَامَا فَحَلَبْتُ لَهُمَا غَبُوقَهُمَا فَوَجَدْتُهُما نَائِمَينِ فَكَرِهْتُ أَنْ أُوقِظَهُمَا وَأَنْ أغْبُقَ قَبْلَهُمَا أهْلًا أو مالًا فَلَبَثْتُ – والْقَدَحُ عَلَى يَدِي – أنتَظِرُ اسْتِيقَاظَهُما حَتَّى بَرِقَ الفَجْرُ والصِّبْيَةُ يَتَضَاغَوْنَ عِنْدَ قَدَميَّ فاسْتَيْقَظَا فَشَرِبا غَبُوقَهُما اللَّهُمَّ إنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ذلِكَ ابِتِغَاء وَجْهِكَ فَفَرِّجْ عَنّا مَا نَحْنُ فِيهِ مِنْ هذِهِ الصَّخْرَةِ فانْفَرَجَتْ شَيْئًا لا يَسْتَطيعُونَ الخُروجَ مِنْهُ قَالَ الآخر: اللَّهُمَّ إنَّهُ كانَتْ لِيَ ابْنَةُ عَمّ، كَانَتْ أَحَبَّ النّاسِ إليَّ وفي رواية: كُنْتُ أُحِبُّها كأَشَدِّ مَا يُحِبُّ الرِّجَالُ النساءَ فأَرَدْتُهَا عَلَى نَفْسِهَا فامْتَنَعَتْ منِّي حَتَّى أَلَمَّتْ بها سَنَةٌ مِنَ السِّنِينَ فَجَاءتْنِي فَأَعْطَيْتُهَا عِشْرِينَ وَمئةَ دينَارٍ عَلَى أَنْ تُخَلِّيَ بَيْني وَبَيْنَ نَفْسِهَا فَفعَلَتْ حَتَّى إِذَا قَدَرْتُ عَلَيْهَا – وفي رواية: فَلَمَّا قَعَدْتُ بَينَ رِجْلَيْهَا، قالتْ: اتَّقِ اللهَ وَلاَ تَفُضَّ الخَاتَمَ إلاّ بِحَقِّهِ فَانصَرَفْتُ عَنْهَا وَهيَ أَحَبُّ النَّاسِ إليَّ وَتَرَكْتُ الذَّهَبَ الَّذِي أعْطَيتُها اللَّهُمَّ إنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ذلِكَ ابْتِغاءَ وَجْهِكَ فافْرُجْ عَنَّا مَا نَحْنُ فيهِ فانْفَرَجَتِ الصَّخْرَةُ، غَيْرَ أَنَّهُمْ لا يَسْتَطِيعُونَ الخُرُوجَ مِنْهَا وَقَالَ الثَّالِثُ: اللَّهُمَّ اسْتَأْجَرْتُ أُجَرَاءَ وأَعْطَيْتُهُمْ أجْرَهُمْ غيرَ رَجُل واحدٍ تَرَكَ الَّذِي لَهُ وَذَهبَ فَثمَّرْتُ أجْرَهُ حَتَّى كَثُرَتْ مِنهُ الأمْوَالُ فَجَاءنِي بَعدَ حِينٍ، فَقالَ: يَا عبدَ اللهِ، أَدِّ إِلَيَّ أجْرِي فَقُلْتُ: كُلُّ مَا تَرَى مِنْ أجْرِكَ: مِنَ الإبلِ وَالبَقَرِ والْغَنَمِ والرَّقيقِ فقالَ: يَا عبدَ اللهِ، لاَ تَسْتَهْزِىءْ بي فَقُلْتُ: لاَ أسْتَهْزِئ بِكَ فَأَخَذَهُ كُلَّهُ فاسْتَاقَهُ فَلَمْ يتْرُكْ مِنهُ شَيئًا الَّلهُمَّ إنْ كُنتُ فَعَلْتُ ذلِكَ ابِتِغَاءَ وَجْهِكَ فافْرُجْ عَنَّا مَا نَحنُ فِيهِ فانْفَرَجَتِ الصَّخْرَةُ فَخَرَجُوا يَمْشُون
Dari sahabat Abdullah bin Umar, kunyahnya Abu Abdirrahman radhiyallāhu ‘anhuma, “Aku mendengar Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, jauh sebelum zaman kalian ada tiga orang yang sedang melakukan perjalanan kemudian mereka kemalaman, sehingga mereka butuh untuk menginap di sebuah goa maka mereka masuk ke dalam goa tersebut.
Tiba-tiba sebuah batu besar dari gunung jatuh kemudian menutup mulut goa yang mereka tinggal. Maka mereka saling berdiskusi, bertukar pendapat dengan mengatakan sesungguhnya kali ini kalian tidak akan bisa selamat kecuali dengan meminta kepada Allāh dengan amal-amal shalih yang pernah kalian lakukan.
Maka salah satu dari tiga orang tersebut mengatakan, “Ya Allāh aku memiliki dua orang tua yang sudah berumur tua dan aku berusaha untuk mendahulukan mereka kedua dalam memberikan air susu yang aku perah di malam hari. Aku tidak akan mendahulukan siapapun sekalipun anak dan istriku dalam memberikan susu yang aku perah pada malam hari. Satu saat aku terpaksa terlambat pulang karena ketika aku mencari sesuatu entah kayu bakar atau dahan dan kebutuhan lainnya aku terpaksa mencari dengan jarak yang agak jauh sehingga aku terlambat pulang maka kedua orang tuaku sudah terlelap tidur.
Maka seperti biasa aku memarah susu untuk keduanya akan tetapi ternyata aku mendapati kedua orang tuaku sudah tidur. Maka aku tidak ingin membangunkan keduanya sehingga mengganggu istirahat mereka berdua. Akan tetapi aku juga tidak ingin memberikan air susu ini kepada seseorang pun sebelum kedua orang tuaku.
Maka aku terus memegangi wadah yang ada susunya itu, aku menunggu keduanya terbangun sampai terbit fajar. Sedangkan anak-anakku yang masih kecil-kecil mereka merengek di kakiku agar mereka mendapatkan jatah untuk minum air susu itu. Akan tetapi aku tetap tidak memberikan mereka karena aku tidak ingin mendahulukan seorang pun daripada kedua orang tuaku.
Maka akhirnya ketika fajar telah menyingsing keduanya terbangun kemudian dua-duanya pun minum dari air susu yang aku perah semalam. Ya Allāh seandainya engkau telah menilai apa yang aku perbuat untuk kedua orang tuaku betul-betul ikhlas karena mencari keridhaanmu maka bebaskan kami dari himpitan batu yang menutup jalan keluar kami pada goa ini.” Maka akhirnya batu itu bergeser sedikit. Terlihat bahwa ada rongga yang terdapat pada mulut goa itu akan tetapi mereka tetap tidak bisa keluar dengan rongga yang kecil.
Maka orang kedua pun berdoa, “Ya Allāh, aku dulu memiliki sepupu yang perempuan, yang sangat cantik dan dia aku cintai sekali. Dalam riwayat yang lain: aku mencintainya bagaikan seorang laki-laki yang betul-betul jatuh mabuk kepayang terhadap seorang wanita. Aku ajak dia berzina akan tetapi dia tidak mau sampai ketika satu saat ia dan keluarganya tertimpa kemiskinan yang sangat sehingga ia mendatangiku karena butuh. Maka aku pun memberikan dia uang, aku berikan dia 120 dinar, 120 dinar itu merupakan jumlah yang besar sebagian ulama mengatakan 1 dinar hampir sama dengan 4 ¼ gram emas, itu 1 dinar.
Kalau 120 dinar berarti sekitar 510 gram, itu berarti kalau kita bandingkan perkiraannya dengan harga emas di zaman sekarang sampai 400 juta lebih. Nah ini bukan jumlah yang sedikit dan dia memberikan harta dengan jumlah besar itu dengan syarat perempuan itu setuju apabila diajak untuk berzina. Karena sangat butuh maka sang perempuan rela.
Sehingga ketika aku sudah betul-betul menguasainya, dalam riwayat lain dikatakan: ketika aku telah berada di antara dua kakinya. Maka dia tiba-tiba mengatakan, “Takutlah kamu kepada Allāh, jangan engkau pecahkan cincin itu kecuali dengan cara yang benar.” Maka aku pun tiba-tiba terhenti kemudian aku tinggalkan dia sekalipun dia merupakan orang yang paling aku cintai dari wanita yang pernah aku lihat dan aku biarkan untuknya emas yang telah aku berikan dengan jumlah yang besar 120 dinar. Ya Allāh seandainya aku lakukan itu betul-betul karena engkau nilai ikhlas karenamu maka bebaskan kami dari kesulitan yang sedang kami alami.”
Maka tiba-tiba batu itu pun bergeser dan mulut goa kembali terbuka hanya saja tetap mereka bertiga belum mampu untuk keluar dengan rongga yang terbuka dari batu yang bergeser tersebut.
Akhirnya orang ketiga berdoa, “Aku pernah menyewa beberapa pekerja kemudian aku berikan semua upah mereka kecuali satu orang pekerja. Dia belum mengambil jatahnya akan tetapi dia pergi dan meninggalkan jatah upahnya. Maka aku pun kembangkan harta yang sedikit yang menjadi upah orang pekerja yang aku suruh tadi, aku kembangkan harta itu. Karena masa yang lama akhirnya harta yang sedikit berubah menjadi harta yang besar dan banyak.
Kemuadian setelah beberapa lama, barangkali bertahun-tahun orang tadi datang kepadaku dengan mengatakan, “Wahai hamba Allāh, bayarkan kepadaku upahku yang dulu pernah aku berhak untuk mendapatkannya karena aku bekerja untukmu!” Maka aku katakan kepada dia, “Kamu lihat semua itu, kamu berhak untuk mengambil semua karena itu semua merupakan upah atau jatah yang engkau dapatkan, di sana ada domba-domba, ada sapi dan ada onta bahkan budak yang sekarang sedang menggembala menjadi jatahmu.”
Dia kaget pekerja itu, “Apakah upahku sebanyak ini?” Maka dia mengatakan, “Kamu menghina saya, kamu jangan menghina saya, saya hanya minta upah, jangan kamu hina dengan yang ada di hadapanku.” Aku katakan, “Aku serius, aku tidak menghinamu tapi itu adalah jatahmu yang sempat aku kembangkan kemudian semua yang menjadi hasil dari dasar uang yang engkau berhak untuk mendapatkannya kamu ambil semua termasuk hasil-hasil dari pengembangan uang itu.” Maka pekerja tadi mengambil semuanya, dia bawa semua hewan ternak berikut penggembala budak yang menjadi penanggung jawab dari hewan-hewan ternak tersebut dia tidak meninggalkan sesuatu apapun. Ya Allāh, seandainya aku lakukan itu dan engkau nilai ikhlas karenamu maka berilah kami jalan keluar, bebaskan kami dari apa yang sedang kami alami.”
Akhirnya batu itu pun bergeser kemudian celah yang ada di mulut gua itu berhasil terbuka sehingga cukup untuk mereka lewati, untuk keluar, akhirnya mereka keluar dan mereka berjalan.”
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim
Semoga Allāh subhānahu wa ta’ālā memudahkan kita untuk memperbaiki amal kita, memperbaiki niat kita sehingga kita berhasil mencapai ridha Allāh, sukses dunia dan akhirat.
Wallāhu ta’ālā a’lam.
وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين، والحمد لله رب العالمين
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين، والعاقبة للمتقين، ولا عدوان إلا على الظالمين، وأشهد أن لا إله إلا الله إله الأولين والآخرين وأشهد أن محمدا عبده ورسوله سيد الأنبياء والمرسلين وعلى آله وصحابته والتابع ومن تبعهم بإحسان الى يوم الدين، أما بعد
Anggota grup Whatsapp Dirosah Islamiyah rahimana wa rahimakumullāh.
Kita akan membahas hadits terakhir pada pembahasan niat, diriwayatkan dari jalur sahabat Abdullah bin Umar radhiyallāhu ‘anhuma.
Hadits ini memuat beberapa pelajaran penting.
1. Pelajaran pertama adalah niat yang ikhlas merupakan sesuatu yang sangat mahal. Allāh ‘azza wa jalla betul-betul menjadikan bahwa niat yang ikhlas menjadi sebab ditinggikan derajat seseorang, didengarkan permintaannya, diselamatkan dari musibah yang sedang menimpa. Dan ini disebutkan karena dalam hadits itu mereka mengatakan pada doa masing-masing,
اللَّهُمَّ إنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ذلِكَ ابِتِغَاء وَجْهِكَ
Ketika mereka mengatakan, “Ya Allāh jika seandainya engkau nilai semua amal kami adalah amal-amal yang engkau nilai ikhlas, maka penuhilah permintaan kami.”
2. Fa’idah kedua adalah anjuran untuk tawassul atau meminta kepada Allāh subhānahu wa ta’ālā agar dikabulkan sebuah doa dengan perantara amal yang shalih. Para ulama mengatakan bahwa tawassul bisa dilakukan dengan tiga hal,
1) Yang pertama adalah dengan doa orang yang shalih yang masih hidup dan mampu untuk mendoakan.
2) Yang kedua dengan nama dan sifat Allāh kita minta, Ya Razzāq (يا الرزاق), wahai ya maha pemberi rizki, urzuqni! berilah kami rizki!
3) Kemudian yang ketiga adalah dengan bertawassul pada amal-amal shalih yang kita kerjakan dalilnya adalah hadits yang kita pelajari ini.
Al-Imam An-Nawawi rahimahullāh mengatakan,
ويستدل من هذا الحديث انه يستحب للانسان ان يدعو في حال كربه وفي الاستسقاء وغيره ان يدعو الى الله بصالح عمله
Kata Imam An-Nawawi rahimahullāh diambil pelajaran dari hadits ini adalah disukainya seseorang, disunnahkan mereka untuk berdoa pada saat terhimpit dengan sebuah musibah ketika mereka melaksanakan shalat istisqa’ atau yang lainnya untuk bertawassul minta kepada Allāh subhānahu wa ta’ālā melalui perantara amal-amal shalih mereka, kenapa?
لانهم فعلوه فاستجيب لهم
Karena mereka, orang-orang yang terhimpit dalam gua itu minta kepada Allāh dengan amal-amal shalih mereka, ternyata Allāh kabulkan permintaan mereka.
ولان النبي صلى الله عليه وسلم ذكرهم في موضع الثناء
Dan karena Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam menyebutkan kisah mereka dengan nada pujian. Ini menunjukkan bahwa amal-amal tersebut, tawassul meminta kepada Allāh dengan perantara amal shalih merupakan hal yang disyariatkan.
3. Yang ketiga adalah tiga amal shalih tersebut merupakan amal yang pilihan. Seorang berbakti kepada orang tua maka para ulama sepakat berbakti kepada orang tua merupakan hal yang wajib. Dan selama seorang mampu kemudian tidak diperintahkan dalam hal yang maksiat oleh orang tuanya, maka dia wajib untuk mentaati. Jika mereka membangkang perintah orang tua maka mereka telah melakukan dosa besar.
Kemudian termasuk di antaranya adalah memberikan upah kepada si pekerja sebelum kering keringatnya. Ada hadits yang berkaitan dengan itu,
أَعْطُوا الأَجِيرَ أَجْرَهُ قَبْلَ أَنْ يَجِفَّ عَرَقُهُ
Dalam hadits yang shahih dikatakan berikan upah kepada pekerja sebelum kering-keringatnya.
Bahkan dalam hadits yang shahih diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Allāh ‘azza wa jalla mengatakan,
ثَلَاثَةٌ أَنَا خَصْمُهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Ada tiga golongan yang akan berurusan dengan-Ku pada hari kiamat, di antaranya adalah,
ورَجُلٌ اسْتَأْجَرَ أَجِيرًا فَاسْتَوْفَى مِنْهُ فَلَمْ يُعْطِ له أَجْرَهُ.
Dan ada orang yang menyewa seorang pekerja ketika dia telah mengambil jasanya dia tidak segera membayarkan jasa atau upahnya.
Kemudian berikutnya adalah orang yang menjaga diri dari kehormatan terjerumus ke dalam perzinaan na’udzubillāh. Ini merupakan dosa yang sangat besar dan orang yang merasa diawasi Allāh ‘azza wa jalla, dia dapat menghindarkan diri dari perbuatan maksiat dan ini merupakan salah satu golongan yang akan diselamatkan Allāh mendapatkan naungan Allāh subhānahu wa ta’ālā pada hari kiamat yang pada saat itu tidak naungan kecuali naungan Allāh subhānahu wa ta’ālā.
Semoga Allāh subhānahu wa ta’ālā memudahkan kita untuk memperbaiki amal kita, memperbaiki niat kita sehingga kita berhasil mencapai ridha Allāh, sukses dunia dan akhirat.
Wallāhu ta’ālā a’lam.
وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين، والحمد لله رب العالمين


Assalamualaikum. Afwan, boleh minta audio materi yang ke-25? Syukron