Kitab: Aqidah Ath-Thahawiyah
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله
Halaqah yang ke-152 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-Aqidah Ath-Thahawiyah yang ditulis oleh Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāh.
Beliau mengatakan raḥimahullāh
وَالِاسْتِطَاعَةُ ضَرْبَانِ
Dan al-istiṭāʿah itu ada dua macam.
أَحَدُهُمَا الِاسْتِطَاعَةُ الَّتِي يَجِبُ بِهَا الفِعْلُ – مِنْ نَحْوِ التَّوْفِيقِ الَّذِي لَا يَجُوزُ أَنْ يُوصَفُ المَخْلُوقُ بِهِ -: فَهِيَ مَعَ الفِعْلِ
Yang pertama adalah istithāʿah yang terjadi bersama fiʿl, bersamaan dengan perbuatan seseorang, allatī yajibu bihā al-fiʿl — yang terjadi dengannya perbuatan. Maksudnya adalah yang bersamaan dengan perbuatan seseorang.
Ketika kita melakukan sesuatu, bisa melakukan sesuatu, berarti kita dinamakan memiliki istithāʿah, berarti antum mampu, ketika engkau benar-benar bisa melakukan sesuatu tersebut. Antum sedang melakukan shalat, antum sedang melakukan puasa, berarti antum di sini memiliki istithāʿah. Ini istithāʿah yang terjadi bersamaan dengan perbuatan antum. Nah, inilah yang dinamakan — atau dengan kata lain dinamakan dengan tawfīq — seperti antum mengatakan, “Semoga Allāh ﷻ memberikan tawfīq kepadamu.” Ini adalah dengan tawfīq Allāh ﷻ, yaitu Allāh ﷻ yang menjadikan kita bisa untuk menyempurnakan perbuatan ini, menjadikan kita mampu untuk melakukan perbuatan ini.
Seseorang bisa melakukan shalat 5 waktu, atau melakukan shalat Ashar misalnya tadi, berarti Allāh ﷻ telah memberikan tawfīq kepadanya untuk bisa menyelesaikan shalat Ashar 4 rakaat. Ini tawfīq. Jadi kalau kita mengatakan, “Waffaqakallāh ya akhiy, Semoga Allāh ﷻ memberikan tawfīq kepadamu,” yaitu memudahkan kamu untuk beramal, menggerakkan antum untuk melakukan berbagai kebaikan.
Wa billāhi at-tawfīq wa al-hidāyah — dengan tawfīq dari Allāh ﷻ dan juga hidāyah Allāh ﷻ. Biasanya disebutkan oleh seseorang di akhir pertemuan, karena memang Allāh ﷻ yang menjadikan dia mampu untuk berbicara, yang memudahkan urusan mereka.
الَّذِي لَا يَجُوزُ أَنْ يُوصَفُ المَخْلُوقُ بِهِ
Yang tidak boleh bersifat seorang makhluk dengannya
Karena tawfīq ini yang memberikan adalah Allāh ﷻ. Yang memberikan tawfīq hanya Allāh ﷻ. Ini maksud ucapan beliau: alladhī lā yajūzu ayyūṣafa al-makhlūqu bihi — yang memberikan tawfīq adalah Allāh ﷻ, bukan makhluk. Yang memberikan kemampuan, yang memberikan istithāʿah ketika melakukan perbuatan adalah Allāh ﷻ. Makhluk tidak memberikan tawfīq. Yang memberikan tawfīq adalah Allāh ﷻ saja.
Wa billāhi at-tawfīq, dan hanya Allāh ﷻ yang memberikan tawfīq.
Wa mā tawfīqī illā billāh, dan tidaklah tawfīq-ku kecuali dengan Allāh ﷻ yaitu Allāh ﷻ yang memberikan tawfīq kepada.
Apa dalil bahwa al-istithāʿah ini terkadang maknanya adalah bersamaan dengan fiʿl? Di antara dalilnya adalah firman Allāh dalam QS. Hūd: 20:
وَمَا كَانَ لَهُم مِّنْ دُونِ ٱللَّهِ مِنْ أَوْلِيَآءَ يُضَـٰعَفُ لَهُمُ ٱلْعَذَابُ ۚ مَا كَانُوا۟ يَسْتَطِيعُونَ ٱلسَّمْعَ وَمَا كَانُوا۟ يُبْصِرُونَ
Dan tidaklah mereka memiliki penolong-penolong selain Allāh. Allāh akan melipatgandakan untuk mereka adzab. Dahulu mereka tidak mampu untuk mendengar dan mereka tidak melihat. (QS. Hūd: 20)
Maksudnya bagaimana mereka tidak mampu mendengar? Yaitu mereka dulu tidak mau mendengar Allāh ﷻ, tidak memberikan tawfīq kepada mereka untuk mendengar nasihat yang disampaikan dan dakwah yang disampaikan oleh para Nabi dan juga para Rasul. Itu maksud firman Allāh ﷻ: mā kānū yastatīʿūna as-samʿa, padahal telinga mereka sehat, normal.
Wa mā kānū yubṣirūn — dan mereka tidak melihat, maksudnya tidak melihat kekuasaan Allāh ﷻ yang begitu hebat. Tapi mereka tidak mengambil pelajaran dari apa yang mereka lihat. Berarti di sini adalah istithāʿah bersamaan dengan perbuatan mereka. Ini adalah istithāʿah maʿa al-fiʿl.
Alat-alat pendengaran mereka, alat penglihatan mereka sehat, normal. Tapi Allāh ﷻ tidak memberikan tawfīq kepada mereka, sehingga mereka pun tidak bisa mendengar apa yang disampaikan oleh para Rasul. Mendengar yang bermanfaat, kalau hanya mendengar ayat, mungkin mereka mendengar, tapi mendengar yang menjadikan mereka mendapatkan hidāyah, mereka tidak mendapatkan istithāʿah tersebut. Tidak mendapatkan tawfīq dari Allāh ﷻ. Ini istithāʿah bersama fiʿl.
Kemudian juga dalil yang lain, ketika Allāh ﷻ menceritakan tentang Nabi Khidhir ʿalaihissalām, yang berkata kepada Nabi Mūsā:
قَالَ إِنَّكَ لَن تَسْتَطِيعَ مَعِىَ صَبْرًۭا
Sungguh, engkau wahai Mūsā, tidak mampu bersabar bersamaku. (QS. Al-Kahf: 67)
Lan tastatīʿa — engkau tidak mampu bersabar bersamaku. Berarti di sini yang dinafikan, yang diingkari adalah istithāʿah maʿa al-fiʿl. Allāh ﷻ tidak memberikan tawfīq untuk bisa sabar saat itu. Berarti ada di sana istithāʿah yang bersama fiʿl.
Kemudian juga firman Allāh ﷻ yang lain, dalam surat yang sama, yaitu QS. Al-Kahf:
قَالَ أَلَمْ أَقُل لَّكَ إِنَّكَ لَن تَسْتَطِيعَ مَعِىَ صَبْرًۭا
Bukankah aku telah berkata kepadamu, wahai Mūsā, bahwasanya engkau tidak mampu untuk bersabar bersamaku. (QS. Al-Kahf: 72)
Karena ini adalah bukan perkara yang ringan. Bagaimana dia membunuh seorang anak, dan kita tahu bahwasanya membunuh ini adalah perkara yang diharamkan. Merusak kapal orang lain, sementara itu adalah kapal orang-orang miskin, yang dengannya mereka mencari uang. Namun Khidhir ʿalaihissalām melakukan itu semua dengan wahyu Allāh ﷻ. Beliau mengetahui sesuatu yang tidak diketahui oleh Nabi Mūsā ʿalaihissalām.
Berarti di sini yang dinafikan adalah istithāʿah bersama fiʿl. Nabi Mūsā ʿalaihissalām tidak mampu bersabar saat itu. Dan yang dinafikan di sini adalah istithāʿah bersama fiʿl. Kalau istithāʿah sebelum fiʿl, beliau punya. Nanti akan disebutkan, apa yang dimaksud dengan istithāʿah sebelum fiʿl, sebelum perbuatan. Yaitu normal anggota badannya, dia memiliki kesehatan, penglihatannya normal, pendengarannya normal. Maka ini dinamakan istithāʿah sebelum fiʿl, sebelum berbuat — kesehatan, keselamatan indera, maka ini adalah dinamakan dengan kemampuan istithāʿah sebelum perbuatan.
Itu adalah dalil bahwasanya di sana ada istithāʿah bersama fiʿl. Berarti ucapan Muʿtazilah, yang mereka menafikan istithāʿah bersama fiʿl, ini adalah keliru, tidak benar. Buktinya, Allāh ﷻ menyebutkan, dalam beberapa dalil berkaitan dengan masalah istithāʿah bersama fiʿl ini.
Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

