Home > Belajar Islam > Pendidikan Anak > Perkataan Imam al-Gazzali Tentang Pendidikan Anak

Perkataan Imam al-Gazzali Tentang Pendidikan Anak

🌍 Belajar Islam
🎙 Ustadz Beni Sarbeni حفظه لله تعالى
📗 Pendidikan Anak
〰〰〰〰〰〰〰

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه وَمَنْ وَالاَهُ. أمَّا بعد

Para pendengar yang budiman, Bapak/Ibu sekalian yang semoga diberkahi oleh Allah rabbul ‘alamin, kita lanjutkan kajian tentang pendidikan anak. Kali ini saya akan bacakan perkataan Abu Hamid al-Gazzali seorang pakar pendidikan Islam, dalam kitabnya yang sanagat terkenal yaitu kitab Ihya Ulumuddin.

Al-Gazzali rahimahullah berkata:

“Ketahuilah bahwa cara mendidik anak-anak adalah diantara perkara yang sangat-sangat penting, karena anak adalah amanat yang Allah titipkan kepada kedua orang tuanya.”

“Hati mereka yang suci adalah mutiara yang sangat berharga, jika mereka dibiasakan dan diajarkan dengan kebaikan maka dia akan tumbuh dengannya, akhirnya ia pun berbahagia di dunia dan akhirat, adapun jika dia dibiasakan dengan keburukan juga dibiarkan sebagaimana binatang maka dia akan sengsara dan celaka.”

Diantara hal yang sangat penting dalam dunia pendidikan adalah proses membiasakan anak, seorang anak jika terbiasa semenjak kecil dengan kebaikan maka kebaikanlah yang akan dia dapatkan, jika membiasakan dengan keburukan semenjak dini maka keburukanlah yang akan dia dapatkan.

“Menjaga anak adalah dengan mendidiknya dan mengajarkannya akhlaq terpuji, juga menjaganya dari teman-teman yang buruk.”

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ ناراً

“Jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka.”

Menjaga keluarga, menjaga anak-anak yaitu dengan mendidiknya. Sebagaimana inipun diriwayatkan dari seorang Shahabat yang mulia Ali bin Abi Thalib.

قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ Maksudnya ajarkan dan didiklah!

“Lalu ketika orang tua melihat tanda-tanda Tamyiz[1] maka hendaklah orang tua mengawasinya dengan baik, awal pertama kali tamyiz itu adalah nampaknya rasa malu.”

“Jika seorang anak meninggalkan sebagian perbuatan karena rasa malunya maka itu semata-mata terjadi karena cahaya akal dalam dirinya sehingga dia bisa melihat sebagian perkara seagai keburukan.”

Misalnya malu karena terlihat aurotnya itu tanda-tanda tamyiz, dan tentunya setiap anak berbeda-beda tamyiznya itu, kadang sebelum usia tujuh tahun dia sudah tamyiz ada juga yang usia tamyiznya tujuh tahun.

“Ini adalah karunia dari Allah untuknya dan kabar gembira akan akhlaq dan kejernihan hati, ini adalah petunjuk akan kesempurnaan akal ketika dia balig nanti.”

Semakin cepat dia tamyiz, menyadari suatu hal adalah kurang pantas, bahwa ini lah hal yang pantas, semakin dia cepat tamyiz nya maka semakin baik keadaan anak tersebut. Cepatnya tamyiz menunjukkan kecerdesan anak.

Anak yang sudah memiliki rasa malu tidak sepatutnya ditinggalkan akan tetapi dibantu dengan rasa malu dan tamyiz yang ada dalam dirinya.

Dibantu untuk lebih bisa memahami, sehingga dia melakukan mana yang baik dan meninggalkan mana yang buruk.

Katrena jika seorang anak di awal perkembangannya diabaikan maka – biasanya – akan menjadi seorang yang buruk akhlaknnya, menjadi pendusta, orang yang hasad, pencuri, selalu mengadu domba, selalu mengeluh, anak yang iseng, banyak tertawa, suka melakukan makar dan tidak memiliki rasa malu sama sekali.

Semua itu bisa dijaga dengan pendidikan yang baik, kemudian dengan kesibukan di sekolah, ia sibuk dengan belajar al-Qur’an dan as-Sunnah, demikian pula dengan banyak membawakannya kisah orang-orang baik sehingga tertanam dalam diri mereka cinta akan orang-orang yang shalih.

Selanjutnya ketika nampak akhlaq yang indah dari seorang anak, maka hal itu mesti diapresiasi, yakni memuliakan dan dibalas dengan sesuatu yang membahagiakannya, bahkan tidak masalah jika dipuji di hadapan kawan-kawannya.

Jika dia melakukan pelanggaran pada kesempatan lainnya maka diabaikan (kita pura-pura tidak tahu) dan tidak boleh dipermalukan, apalagi jika dia melakukannya secara sembunyi-sembunyi dan berusaha untuk menutupinya, jika dia pertama kali melakukannya.

Adapun jika dia melakukannya untuk kedua kali maka ditegur secara sembunyi-sembunyi seraya mengatakan kepadanya:

“Jangan sampai kau ulangi lagi perbuatan itu sehingga engkau malu di hadapan orang lain!”

Jadi, ada larangan juga adapula sesuatu yang bersifat sangsi, yaitu kamu akan malu dihadapan orang lain.

Bahkan yang lebih bagus lagi, kita menegurnya dengan mengingatkan kepadanya tentang Allah,

“Jangan sampai kau ulangi lagi, karena Allah membenci perbuatan yang seperti itu!”

Kata-kata yang kedua ini lebih baik dari yang pertama, agar tumbuh rasa takut dalam hatinya kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Bahkan saat memujinya kita katakan

“MasyaAllah, sungguh Allah mencintai akhlak yang seperti itu.”

Sehingga tumbuh rasa cinta pada Allah rabbul ‘alamin, sehingga tumbuh pada dirinya ingin sekali dicintai Allah rabbul ‘alamin.

Jangan terlalu banyak menegur dalam setiap waktu, sehingga menjadi ringan baginya mendengarkan teguran, menjadi ringan baginya melakukan hal-hal yang buruk, bahkan perkataan orang tua sudah tidak lagi berpengaruh baginya.

Jagalah wibawa di hadapannya maka janganlah memarahinya kecuali sesekali, dan hendaklah bagi seorang ibu menakut-nakuti anaknya dengan bapaknya dan melarang anaknya melakukan hal-hal buruk.

Hendaklah seorang Ibu menakut-nakuti anaknya dengan bapaknya dan melarang anaknya melakukan hal-hal buruk.

“Awas kalau mengulangi perbuatan itu akan ibu sampaikan kepada bapa!”

Jadi apa yang disampaikan imam Al-Gazzali ini mengandung beberpa faidah:

1. Seorang ibu tidak mesti menegurnya mengatasnamakan dirinya, misalnya dia mengatakan “Ibu benci dengan apa yang kamu perbuat”. Justru untuk menjaga wibawa ibu sendiri, si Ibu mengatakan “Nanti kalau kau mengulangi hal itu, akan ibu sampaikan kepada bapak!”.

2. Kalimat itu pun menunjukkan bahwa Ibu pun begitu hormat pada suaminya (bapak).

3. Seorang Ibu harus menjaga wibawa suami (bapak dari anak tersebut), jangan sampai merendahkan wibawa dari bapa itu sendiri dihadapan anaknya.

Hendaklah seorang anak dibiasakan untuk melakukan aktifitas fisik, berjalan, bergerak dan olahraga di siang hari sehingga tidak dikalahkan dengan kemalasan.

Hendaklah seorang anak dilarang dari sikap berbangga di hadapan teman-temannya dengan sesuatu yang dimiliki kedua orang tuanya, bahkan hendaklah seorang anak dibiasakan dengan ketawadhuan ?(rendah hati) dan memuliakan setiap orang yang bergaul dengannya, juga berkata-kata dengan lemah lembut.

Hendaklah seorang anak diajarkan bahwa kemuliaan itu ketika kita memberi bukan ketika kita mengambil (menerima), bahkan mengambil itu adalah kehinaan.

Jika orang tua mereka adalah orang-orang fakir maka hendaklah diajarkan bahwa Thama (mengharapkan apa yang ada di tangan orang lain) dan mengambil itu adalah kehinaan, Thama adalah sifat seekor anjing, yang biasa menjulurkan lidahnya karena menunggu sesuap makanan.

Hendaklah seorang anak dibiaskan agar tidak meludah di majlis (tidak sembarang meludah), tidak menguap di hadapan orang lain, tidak membelakangi orang lain, tidak meletakan kaki di atas kaki, tidak meletakan telapak tangan di bawah dagunya, juga tidak menyandarkan kepala di tangannya, karena semua perbuatan tersebut menunjukan rasa malas.

Hendaklah seorang anak diajarkan tata cara duduk yang baik, dan dilarang dari banyak bicara, kemudian dijelaskan bahwa prilaku seperti itu menunjukan sedikitnya rasa malu.

Orang yang duduknya sembarangan, itu menunjukan sedikitnya rasa malu.

Hendaklah seorang anak dicegah dari kebiasaan bersumpah, benar atau dusta yang ia katakan, sehingga ia tidak membiasakan hal itu semenjak kecil. Sumpah itu dilakukan hanya ketika dia benar-benar membutuhkan.

Hendaklah seorang anak dicegah mengawali pembicaraan, dan hendaklah dibiaskan agar tidak berbicara kecuali sebatas jawaban dan sesuai dengan pertanyaan, hendaklah seorang anak diajarkan bagaimana mendengar dengan baik ketika orang yang lebih tua darinya berbicara, berdiri bagi orang yang lebih tua darinya dan memberikan tempat untuknya, diajarkan bagaimana duduk di hadapan orang tua.
Hendaklah seorang anak dicegah dari perkataan-perkataan yang buruk, mencela dan melaknat, juga dijauhkan dari orang-orang yang lisannya seperti itu, karena semuanya prilaku tersebut menular, bahkan Imam Al-Gazzali mengatakan:
“Asal pendidikan anak-anak adalah menjaga mereka dari teman-teman yang akhlaknya buruk.”
Kemudian Imam Al-Gazzali mengatakan
Hendaklah seorang anak diajarkan bagaimana dia taat, kepada kedua orang tua nya, kepada gurunya, kepada orang yang mendidiknya, dan kepada setiap orang yang lebih tua darinya, baik orang yang dekat maupun orang yang jauh.
Dan ketika anak itu sudah masuk usia tamyiz, hendkalah tidak ditoleransi ketika dia meninggalkan bersuci, meninggalkan shalat. Diperintahkan untuk membiasakan puasa di bulan ramadhan.
Awal segala perkara itu yang mesti dijaga, sekarang anak di awal pendidikannya saat masuk usia tamyiz ini yang perlu dijaga, karena seorang anak dengan jauharnya, dengan kebersihannya, dengan apa yang ada dalam hatinya pada aslinya dia diciptakan untuk bisa menerima kebaikan maupun keburukan, kedua orang tuanyalah yang menjadikan anak itu cenderung kepada kebaikan ataupun keburukan.
Karena itu Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ

“Setiap anak terlahir dalam keadaan fitrah, Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Majusi, atau Nasrani.”
Para pendengar yang dumuliakan oleh Allah rabbul ‘alamin, demikianlah perkataan Imam Al-Gazzali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin terkait dengan masalah pendidikan anak, perkataan Imam Al-Gazzali ini menunjukkan pentingnya pendidikan anak sejak dini. Semoga apa yang saya sampaikan bermanfaat.
Akhukum fillah
Abu Sumayyah Beni Sarbeni

وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

________________________________________
[1] Tamyiz itu saat dimana seorang anak telah mengetahui mana yang hak, mana yang batil sesuai dengan kadarnya, sebgaian Ulama mengatakan sekitar usia 7 tahun, walaupun ada yang tamyiz sebelum 7 tahun.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *