Home > Kelas UFA > Silsilah Amalan Hati dan Penyakit Hati > Materi 24 – Poin Penting Menyembunyikan Amal Shaleh

Materi 24 – Poin Penting Menyembunyikan Amal Shaleh

🌍 Kelas UFA
🎙 Ustadz Firanda Andirja, MA حفظه لله تعالى
📗 Silsilah Amalan Hati dan Penyakit Hati
〰〰〰〰〰〰〰

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

Ikhwan dan akhwat yang ditahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, berkaitan dengan masalah menyembunyikan amal shalih, ada dua poin yang perlu saya sampaikan.

*1. Bolehnya menampakkan amal shalih*

Poin pertama, bahwasanya menampakkan amal shalih itu boleh, bukan berarti tidak boleh. Yang penting seseorang tetap ikhlas. Tetapi bagaimanapun menyembunyikan amal shalih itu pahalanya lebih besar.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِن تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ ۖ وَإِن تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ…

“Jika kalian menampakkan sedekah, maka itu adalah hal yang baik sekali. Dan jika kalian menyembunyikannya dan kalian berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik lagi bagi kalian.” (QS. Al-Baqarah[2]: 271)

*Jadi pahala amal yang tersembunyi lebih besar daripada amalan yang terang-terangan.*

Nah, setan sebagaimana penjelasan Ibnul Qayyim Rahimahullahu Ta’ala, ingin berusaha semaksimal mungkin agar pahala kita menjadi berkurang atau menjadi sirna.

*Ketika seorang sudah beramal shalih dan dia diam-diam, maka setan berusaha agar dia cerita, setan menggelitiki hatinya, membuat dia gatal ingin cerita*.

Sampai akhirnya dia cerita, entah bulan depan, entah tahun depan, entah dua tahun kemudian, kemudian dia cerita, maka berubahlah.

*Dan dia ceritanya masih ikhlas. Dia cerita sekedar sharing pengalaman, dan dia masih ikhlas. Maka pahalanya berubah. Tadinya dicatat sebagai amalan yang tersembunyi dan pahalanya spesial kemudian dirubah catatannya menjadi amalan yang nampak. Tetap dapat pahala tapi pahalanya kurang.*

Kemudian setan belum puas. Setan ingin lagi dia cerita dan cerita sampai dia cerita supaya riya‘, supaya dipuji oleh orang. Ketika itu akhirnya dia terjerumus dalam dosa karena dia ingin menampakkan, mensum’ahkan amalan yang sudah dia lakukan. Dan itu adalah tujuan setan yang ingin agar pahala kita menjadi sia-sia. Ini poin pertama.

*2. Dua jenis amalan*

Poin kedua, ikhwan dan akhwat yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, apakah semua amal shalih disyariatkan untuk disembunyikan?

Maka diperinci oleh Al-‘Izz bin Abdussalam bahwasanya amal shalih pada umumnya ada dua:

Amalan yang disyariatkan untuk disyiarkan

📌 *Yang pertama adalah amal shalih yang memang disyariatkan untuk disyiarkan*.

Ini biasanya berkaitan dengan amalan-amalan yang wajib. Seperti adzan, iqamat, bertakbir, khutbah, shalat berjamaah, ini adalah syiar. Kemudian misalnya Amar ma’ruf nahi munkar, shalat jumat, shalat Ied, menghantar jenazah, ini perkara-perkara yang memang harus dinampakkan, karena ini syiar kaum muslimin. Jangan disembunyikan, justru harus disiarkan. Bagaimana kalau ada orang melakukan amalan ini semua? Dia tetap mensyiarkan dan dia berusaha ikhlas, dia berjuang untuk tetap ikhlas.

📌 *Amalan yang sunnahnya disembunyikan*

Yang kedua adalah amalan-amalan yang tidak demikian, yaitu amalan-amalan yang disunnahkan untuk disembunyikan. Seperti misalnya shalat sunnah, seorang menyembunyikan shalat sunnah, baca Al-Qur’an, berdzikir, seperti ini sunnahnya untuk disembunyikan. Sedekah juga disunahkan untuk disembunyikan. Ini adalah amalan-amalan yang tidak butuh syiar.

Beda dengan sedekah wajib seperti zakat, maka ditampakkan. Kalau sedekah wajib kita tampakkan. Yaitu agar orang-orang miskin tahu bawasanya kita bayar zakat, sehingga mereka tidak su’udzon: “Ini orang kaya kok tidak bayar zakat.” Kita tampakkan kita bayar zakat, kita berikan kepada tetangga kita. Sehingga kita tampakkan untuk menghilangkan tuduhan yang tidak-tidak. Dan ini juga adalah syiar.

Demikian juga udhiyah yang masuk dalam golongan yang pertama, adalah kita tampakkan, bahwa ini syiar. Kita menyembelih untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala .

Tapi yang sunnah-sunnah seperti membaca Al-Qur’an, dzikir, shalat-shalat sunnah, sedekah sunnah, maka hendaknya kita sembunyikan.

Kecuali seorang adalah qudwah (panutan), maka tidak mengapa dia nampakkan amal shalihnya dengan niat agar diikuti.

Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا

“Barangsiapa yang mencontohkan satu amal yang baik (seperti dia mencontohkan sedekah), maka bagi dia pahala (sedekah) dan bagi dia pahala orang orang yang meniru-nirunya.” (HR. Muslim, Ahmad, An-Nasa’i, At-Tirmidzi)

Hadits ini diucapkan oleh Nabi ketika ada seorang sahabat yang bersedekah, setelah dia bersedekah akhirnya diikuti sahabat-sahabat yang lain.

Maka jika seseorang adalah panutan, maka dia nampakkan amal shalih yang dia kerjakan. Sedekah dia nampakkan. Tidak semua tentunya, dia tampakkan sebagai contoh dan sisanya dia sembunyikan.

Kemudian juga shalat sunnah, dia shalat rawatib mungkin dia tampakkan agar dilihat oleh orang dan agar orang mengikuti, kemudian dia baca Qur’an di masjid agar orang mengikuti.

Seperti ini, *kalau dia panutan maka dia nampakkan sebagian amal dia dan sisanya dia sembunyikan*. Sehingga dia menggabungkan dua-duanya, ada amal shalih yang dia sembunyikan yang pahalanya sangat besar dan ada amal yang dia tampakkan bukan untuk riya’, *tapi dia bertujuan agar memotivasi orang-orang untuk bisa mengikutinya.*

Demikian ikhwan dan akhwat yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala, semoga bermanfaat.

والله أعلمُ ﺑﺎ ﻟﺼﻮﺍﺏ

image_pdfimage_print

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top