Home > Bimbingan Islam > Tematik > Nasehat Terbaik Orang Tua Kepada Pemuda

Nasehat Terbaik Orang Tua Kepada Pemuda

🌍 BimbinganIslam.com
🎙 Ustadz Rosyid Abu Rosyidah حفظه لله تعالى
📗 Kajian Tematik
〰〰〰〰〰〰〰

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

الْحَمْدُ للَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى. الْحَمْدُ لِلَّهِ والصلاة وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ وعلى اله وصحبه ومن والاه لا حول ولا قوة الا بالله

Mā’āsyiral muslimīn saudara-saudaraku sekalian yang menyintai sunnah dan dicintai oleh Allāh.

Jika kita perhatikan, ada beberapa lafal-lafal yang dinasehatkan orang tua kepada putranya, terutama yang masih remaja, yang masih pemuda, beberapa hal perlu sedikit diluruskan.

Seringkali karena rasa cinta yang mendalam dari seorang orang tua kepada putranya atau putrinya, ia mengatakan:

“Wahai anakku kalau kamu ada apa-apa di luar sana beritahu bapak.”

Atau ia mengatakan kepada putranya:

“Nak, kalau butuh apa-apa minta sama bapak.”

Maka, mā’āsyiral muslimīn, saudara-saudaraku sekalian yang menyintai sunnah dan dicintai oleh Allāh.

Ada satu hadīts yang menarik. Hadīts ini banyak di antara kita yang sudah menghapalnya, bahkan in Syā Allāh sudah lama menghapalnya.

Hadīts yang dinukilkan oleh Imām Nawawi rahimahullāh dalam Arba’in An Nawawīyyah hadits ke-19. Ketika Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan:

يَا غُلَامُ إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ احْفَظْ اللَّهَ يَحْفَظْكَ احْفَظْ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلْ اللَّهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَاعْلَمْ أَنَّ الْأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ وَلَوْ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ رُفِعَتْ الْأَقْلَامُ وَجَفَّتْ الصُّحُفُ

(HR Tirmidzi nomor 2440, versi Maktabah Al Ma’arif Riyadh nomor 2516)

Maka hadīts ini, saudara-saudaraku sekalian, sebetulnya hadīts yang sangat menarik, yaitu ketika kita melihat dari siapa yang meriwayatkan hadīts ini, kepada siapa Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam menyampaikan hadīts ini.

Hadīts ini diriwayatkan dari shahābat ‘Abdullāh ibnu ‘Abbās, beliau merupakan shahābat yang mulia dan kemuliannya juga berupa keistimewaan baginya jikalau kita melihat bagaimana sosok Ibnu ‘Abbās di mata kita sekarang.

Saudara-saudaraku, shahābat Ibnu ‘Abbās ini bersama Rasūlullāh tidak lama. Ada berbagai riwayat yang menjelaskan, ada yang mengatakan bahwa shahābat Ibnu ‘Abbās radhiyallāhu ‘anhum bersama Rasūlullāh di startnya pada saat beliau berusia 8 atau 9 tahun. Kemudian:

√ Ada yang mengatakan sampai usia 11 tahun.

√ Ada yang mengatakan sampai usia 13 tahun.

√ Ada yang mengatakan sampai usia 15 tahun.

Ada perbedaan dikalangan para ulamā. Anggap kita memakai standar yang tengah yaitu 13 tahun.

Maka ketika kita melihat bahwasanya Ibnu ‘Abbās radhiyallāhu ‘anhu bersama Rasūlullāh ketika berusia 8 sampai 13 tahun, kurang lebih sekitar 5 tahun.

Apa yang disampaikan oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam kepada seorang bocah, seorang pemuda yang usianya 13 tahun?

Beliau mengatakan:

يَا غُلَامُ إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ احْفَظْ اللَّهَ يَحْفَظْكَ احْفَظْ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلْ اللَّهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ

“Nak, aku mengajarkan kepadamu beberapa kalimat, jagalah Allāh maka Allāh akan menjagamu, jagalah Allāh niscaya engkau akan dapati Allāh berada didepanmu menjadi penolongmu, kalau engkau meminta sesuatu maka mintalah kepada Allāh, kalau engkau meminta perlindungan maka mintalah perlindungan kepada Allāh.”

Mā’āsyiral muslimīn, saudara-saudaraku sekalian yang mencintai sunnah dan dicintai Allāh.

Pernahkah kita memberikan nasehat kepada putra/putri kita yang masih remaja yang mungkin berusia 13 tahun, seusia bocah lulusan SD, mengatakan sebuah nasehat yang sarat makna seperti ini, yang penuh dengan faedah seperti ini?

Sering kali diantara kita mengatakan:

“Nak, kalau diluar sana ada yang mengganggu mu beri tahu bapak nak.”

Atau sering kali kita mengatakan kepada putri kita:

“Kalau kamu minta sesuatu jangan minta kepada yang lain, mintalah pada bapak.”

Ketahuilah bahwa ini tidak sebagaimana yang diajarkan oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam kepada seorang bocah di kala itu. Seorang bocah yang kemudian dengan keistimewaannya, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam menasehatkan sesuatu yang sarat makna.

Seusia 13 tahun, yang mana kalau seumuran kita sekarang, di zaman kita baru saja lulus SD, namun nasehatnya benar-benar sarat makna.

Menyerukan kepada para pemuda, hendaklah ketika kita meminta sesuatu mintanya kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, bukan kepada abi kita atau bapak kita.

Ketika kita meminta atau membutuhkan bantuan, meminta pertolongan mintanya kepada Allāh.

Maka marilah kita sebagai orang tua dan juga kepada adik-adik kita (para pemuda atau yang mungkin masa remaja) baru saja masuk masa-masa pubernya, kita nasehatkan sebuah nasehat yang lebih mencontoh terhadap apa yang dicontohkan oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Kalau anak kita menginginkan sesuatu kita kabarkan, kita sampaikan kepadanya:

“Nak, kalau kamu minta sesuatu minta kepada Allāh.”

Ajarkan!

“Ketika engkau minta laptop nak, maka mintalah kepada Allāh, ‘Yā Allāh, saya butuh laptop, maka tolong yā Allāh semoga bapak, engkau berikan rejeki yang lebih sehingga bisa memberikan saya laptop’.”

Atau ketika anak kita mungkin butuh kendaraan, kita sampaikan nasehat yang indah.

“Nak, kalau memang kamu rasa butuh kendaraan, minta sama Allāh, semoga Allāh yang Maha kaya melalui wasīlah siapapun itu kemudian memberikanmu motor.”

Kalau ini terjadi jama’ah sekalian, saudara-saudaraku sekalian, sang anak benar-benar akan menjadikan Allāh sebagai gantungan pertamanya.

Ketika akhirnya ia mendapatkan laptop yang ia pertama kali ucapkan terima kasih, bukan kepada bapaknya.

Ketika ia mendapatkan hadiah motor dari pamannya, sebab karena dia berdo’a, maka ia mengucapkan terima kasih yang pertama bukan kepada pamannya tetapi kepada Allāh.

Maka mā’āsyiral muslimīn rahimani wa rahimakumullāh, dalam kelanjutan hadīts ini sejatinya Nabi kita yang mulia Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam juga mengajarkan kepada para pemuda yaitu Ibnu ‘Abbās agar tidak menjadi pemuda yang galau, agar tidak menjadi pemuda yang mudah baper.

Kenapa?

Karena dalam kelanjutan hadīts tersebut Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

وَاعْلَمْ أَنَّ الْأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ

“Ketahuilah bahwasanya, seandainya manusia ini kemudian bersepakat untuk memberikan manfaat kepadamu, ketahuilah nak, engkau tidak akan mendapatkan manfaat itu kalau Allāh tidak menghendakimu mendapatkan manfaat itu.”

Melainkan kalau engkau mendapatkan manfaat bukan karena segerombolan manusia tetapi karena Allāh telah memutuskan untukmu.

Begitu juga sebaliknya:

وَلَوْ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ

“Kalau ada segerombolan manusia (sekumpulan pemuda) hendak mencelakanmu, hendak mengeroyokmu, maka ketahuilah engkau tidak akan dicelakan, tidak akan dikeroyok melainkan itu sudah menjadi ketetapan Allāh Subhānahu wa Ta’āla atasmu.”

Maka jama’ah sekalian, saudara-saudaraku yang menyintai sunnah dan dicintai Allāh.

Ini mengajarkan kepada pemuda ketika diberikan nasehat seperti ini selain yang pertama penggantungan diri yang utama hanya kepada Allāh, maka kemudian iman terhadap taqdir.

Keimānan pada taqdir bukan kepada quantitas atau kwalitas orang. Ketika ada segerombolan orang yang mungkin hendak memberikan manfaat kepada kita, kita tidak mudah baper, tidak mudah luluh karenanya, tidak mudah disogok.

Begitu pula ketika kita hendak dicelakakan, hendak dicelakai oleh siapapun itu maka kita tidak mudah ciut nyalinya, kecil hatinya.

Ini mengajarkan kekokohan mental dan ini, jama’ah sekalian, sudah diajarkan oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dikala itu kepada pemuda.

Maka wahai ayah, wahai bapak:

√ Janganlah pelit engkau memberikan nasehat yang sarat makna kepada pemuda.

√ Jangan engkau hanya memberikan nasehat-nasehat yang sepele namun bobotlah, beri bobot yang lebih dalam nasehatmu kepada anak.

Karena anak itu adalah aset kita. Ketika kita mengantungkan anak ini kepada Allāh dan mengajarkan kepada anak bahwa ia menggantungkan segalanya kepada Allāh maka ini akan mengkokohkan mentalnya, agar anak tidak mudah baper, tidak mudah galau, tidak mudah disogok, tidak mudah dicelakai dan lain sebagainya.

Dan ini sungguh sebuah parenting nabawi yang telah diajarkan beberapa puluh abad yang lalu, oleh para generasi terbaik.

Mereka langsung mendapatkan bimbingan dari Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Siapa kita di akhir zaman seperti ini yang tidak mau mencontoh mereka?

Maka mā’āsyiral muslimīn, saudara-saudaraku sekalian, mari kita bimbing adik-adik kita, bimbing pemuda-pemuda kita, bukan hanya dalam lingkup keluarga kita namun juga remaja-remaja masjid, DKM-DKM masjid, anak tetangga kita ataupun saudara kita yang notabenenya mereka syabab, notabenenya mereka pemuda, kita kokohkan mental mereka, perkuat keimānan mereka, melalui nasehat-nasehat sarat makna.

Maka jangan sampai kecintaan kita yang berlebih kepada putra/putri kita memberikan fitnah kepada kita.

Maka marilah saudara-saudaraku sekalian, kita mencontoh bagaimana Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam memberikan nasehat kepada pemuda dan mari kita praktekkan itu kepada pemuda disekeliling kita.

Ini yang mungkin bisa saya sampaikan.

أفول ما تسمعون وآخر الكلام وآخر الدعوان عن الحمد لله رب العالمين

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

image_pdfimage_print

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top