Home > Bimbingan Islam > Kitab Syamail Muhammadiyah > Halaqah 10 | Hadits 10 dan 11

Halaqah 10 | Hadits 10 dan 11


🌍 BimbinganIslam.com
👤 Ustadz Ratno, Lc
📗 Kitab Syamail Muhammadiyah (Sifat dan Akhlak yang dimiliki Nabi Muhammad ﷺ)
📝 Imām Abū Īsā At Tirmidzī

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ الْخَلْقَ وَالْأَخْلَاقَ وَالْأَرْزَاقَ وَالْأَفْعَالَ، وَلَهُ الشُّكْرُ عَلَى إِسْبَاغِ نِعَمِهِ الظَّاهِرَةِ وَالْبَاطِنَةِ بِالْإِفْضَالِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّهِ وَرَسُولِهِ الْمُخْتَصِّ بِحُسْنِ الشَّمَائِلِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْمَوْصُوفِينَ بِالْفَوَاضِلِ وَالْفَضَائِلِ، وَعَلَى أَتْبَاعِهِ الْعُلَمَاءِ الْعَامِلِينَ بِمَا ثَبَتَ عَنْهُ بِالدَّلَائِلِ. أما بعد

Sahabat BiAS yang semoga selalu dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Pada pertemuan ke-10 ini, kita akan membaca hadīts kesepuluh dan kesebelas yang dibawakan oleh Imām At Tirmidzī dalam kitāb Asy Syamāil Al Muhammadiyyah.

Beliau (Imām At Tirmidzī) rahimahullāh berkata :

10 – حَدَّثَنَا هَنَّادُ بْنُ السَّرِيِّ قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْثَرُ بْنُ الْقَاسِمِ، عَنْ أَشْعَثَ، يَعْنِي ابْنَ سَوَّارٍ، عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ، عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ أنه قَالَ: «رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي لَيْلَةٍ إِضْحِيَانٍ، وَعَلَيْهِ حُلَّةٌ حَمْرَاءُ، فَجَعَلْتُ أَنْظُرُ إِلَيْهِ وَإِلَى الْقَمَرِ، فَلَهُوَ عِنْدِي أَحْسَنُ مِنَ الْقَمَرِ»

Imām At Tirmidzī meriwayatkan hadīts kesepuluh ini lengkap dengan sanadnya. Di antara Imām At Tirmidzī hingga shahābat Jābir bin Samurah radhiyallāhu ta’āla ‘anhu ada empat orang.

Jābir Bin Samurah radhiyallāhu ta’āla ‘anhu pernah bercerita tentang keindahan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam, saat itu beliau membandingkan antara Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dengan bulan, ternyata keindahan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bisa mengalahkan keindahan bulan.

Beliau radhiyallāhu ta’āla ‘anhumā berkata :

_”Aku pernah melihat Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam pada malam bulan purnama, saat itu Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) sedang memakai baju merah, aku perhatikan keindahan wajah Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) dan keindahan bulan. (Setelah aku bandingkan keindahan keduanya), ternyata wajah Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) lebih indah dari pada bulan.”_

Mari kita bahas lafadz hadīts ini,

“Aku pernah melihat Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam pada saat bulan purnama.”

Dalam hadīts disebutkan dengan: ليلة اضحيان.

Dijelaskan oleh para ulamā, bahwa maknanya adalah: ليلة مقمرة , yaitu malam yang terhiasi dengan bulan, baik bulan tersebut masih tipis atau sudah besar.

Ada juga sebagian yang mengatakan bahwa: ليلة اضحيان, merupakan hari kedelapan bulan-bulan hijriyah.

Namun Syaikh Abdurrazāq menjelaskan, bahwa kata tersebut diartikan dengan bulan purnama dalam keadaan bulan saat itu telah sempurna.

Lafadz selanjutnya adalah:

“Saat itu Beliau sedang memakai hullah hamra’ (baju yang berwarna merah).”

Sebagaimana telah kita bahas pada pertemuan yang terdahulu, bahwa hukum menggunakan pakaian berwarna merah ada khilāf di antara ulamā. Dan Syaikh Abdurrazāq dalam syarah beliau terhadap kitāb As Syamāil, (kitāb yang kita pelajari ini), beliau mengatakan:

“Yang terlarang adalah baju yang berwarna merah polos, adapun kalau ada garis putih atau hitam atau yang lainnya dalam baju tersebut maka diperbolehkan memakainya.”

Lafadz selanjutnya adalah:

“Ternyata wajah Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) lebih indah dari pada bulan.”

Maksudnya adalah setelah dibandingkan oleh Jābir bin Samurah, antara Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam yang sedang memakai baju merah dengan bulan yang saat itu sedang sempurna (purnama) ternyata Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam lebih indah untuk dipandang dari pada rembulan yang sedang purnama.

Pelajaran yang bisa kita ambil dari hadīts ini adalah:

⑴ Tentang wajah Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam, yang mana wajah Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) lebih indah untuk dipandang dan dinikmati dari pada keindahan bulan purnama.

Hadīts ini merupakan hadīts yang dibawakan oleh Imām At Tirmidzī dalam kitāb Sunnan beliau dengan nomor 2811, Akan tetapi hadīts ini ada kelemahan di dalamnya, karena di dalamnya ada seorang rawi yang bernama Asy’asy ibnu Sawwār ( أَشْعَثَ ابْنَ سَوَّارٍ), dhaif.

Ibnu Hajar berkata :

“Beliau (Asy’asy ibnu Sawwār) adalah seorang hakim di kota Ahwaz, dalam ilmu hadīts beliau dhaif.”

Sehingga hadīts ini dhaif, akan tetapi datang hadīts yang mendukungnya, sebagaimana dibawakan oleh Imām At Tirmidzī dengan nomor 11, tepat setelah hadīts ini.

Dan hadīts tersebut juga diriwayatkan oleh Imām Al Bukhāri dengan nomor 3552, sehingga hadīts nomor 10 (hadīts yang sedang kita bahas ini) derajatnya menguat.

Dan kita bisa memahami dan meyakini bahwasanya wajah Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam lebih indah dari pada bulan saat purnama.

Adapun hadīts kesebelas yang menguatkan makna hadīts kesepuluh ini adalah sebagai berikut:

Al Imām At Tirmidzī rahimahullāh dalam kitāb As Syamāil berkata :

11 – حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ وَكِيعٍ، قَالَ حَدَّثَنَا حُمَيْدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الرُّؤَاسِيُّ، عَنْ زُهَيْرٍ، عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ قَالَ: سَأَلَ رَجُلٌ الْبَرَاءَ بْنَ عَازِبٍ: أَكَانَ وَجْهُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِثْلَ السَّيْفِ؟ قَالَ: «لَا، بَلْ مِثْلَ الْقَمَرِ»

Seorang laki-laki pernah bertaya kepada Al Bara’ bin Āzib radhiyallāhu ta’āla ‘anhumā:

“Apakah wajah Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam seperti pedang?”

Maksud penanya ada dua kemungkina:

(1) Seperti pedang dalam keindahan dan kilauannya atau

(2) Seperti pedang dalam dalam panjangnya.

Beliau (Al Bara’ bin Āzib radhiyallāhu ta’āla ‘anhumā) menjawab :

“Tidak, Beliau seperti bulan (dalam pancaran sinar dan bentuknya).”

⇒ Maksudnya bahwa pancaran sinar wajah Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) tidak seperti pedang, namun seperti bulan dan bentuk wajah Beliau juga bukan memanjang seperti pedang akan tetapi seperti bulan. Namun sebagaimana kata para ulamā, tidak bundar seratus persen.

Semoga pertemuan kali ini membawa manfaat dan bisa membuat kita semakin terbayang dengan wajah yang lebih indah dari pada bulan saat purnama dan semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla memberikan kesempatan kepada kita untuk melihat dan bisa berkumpul bersama Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) di akhirat kelak. Āmīn

Wallāhu A’lam bishawāb.

image_pdfimage_print

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top