Halaqah 015 | Hadits 14

🌍 BimbinganIslam.com
👤 Riki Kaptamto, Lc
📗 Kitab Bahjatu Qulūbul Abrār Wa Quratu ‘Uyūni Akhyār fī Syarhi Jawāmi’ al Akhbār
(Mutiara Hikmah Penyejuk Hati, Syarah 99 Hadits Pilihan)
📝 Syaikh Abdurrahmān bin Nāshir As Sa’dī

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله ربّ العالمين والصلاة والسلام على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين، اما بعد

Kaum muslimin dan muslimat rahīmani wa rahīmakumullāh.

Ini adalah halaqah kita yang ke-15 dalam mengkaji kitāb بهجة قلوب الأبرار وقرة عيون الأخيار في شرح جوامع الأخبار (Bahjatu Qulūbil abrār wa Quratu ‘uyūnil Akhyār fī Syarhi Jawāmi’ al Akhyār) yang ditulis oleh Syaikh Abdurrahmān bin Nāshir As Sa’dī rahimahullāh.

Pada halaqah kita kali ini, kita sudah sampai pada hadīts dari Abū Mūsā Al Asya’rī radhiyallāhu ta’āla ‘anhu.

Di mana beliau mengatakan bahwa Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam apabila didatangi oleh seorang yang meminta-minta atau orang yang memiliki hajah kepada beliau maka beliau mengatakan kepada para shahābat nya:

اشْفَعُوا تُؤْجَرُوا، وَيَقْضِي اللَّهُ عَلَى لِسَانِ رَسُولِهِ مَا شَاءَ

“Berikanlah syafā’at, maka kalian akan mendapatkan pahala dan Allāh telah menetapkan dari lisān RasūlullāhNya apa yang Allāh kehendaki.” (Hadīts riwayat Imām Bukhāri dan Muslim)

Hadīts ini memberikan kepada kita anjuran untuk bersemangat di dalam memberikan syafā’at kepada orang lain yang membutuhkan.

Yang dimaksud dengan syafā’at yaitu dia menjadi perantara antara orang membutuhkan dan orang yang bisa memberikan kebutuhannya.

Dia menjadi penengah di antara keduanya, supaya orang yang mampu memberikan kebutuhan yang dimau, untuk memenuhi hajat orang yang butuh tadi dan memberikan syafā’at merupakan suatu bentuk kebaikan yang diberikan kepada orang lain yang sedang membutuhkan.

Maka Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam memotivasi para shahābatnya supaya mereka bersemangat untuk memberikan syafā’at kepada orang-orang yang membutuhkan.

Sehingga kebutuhan mereka bisa dipenuhi oleh orang-orang yang mampu untuk memenehuhi kebutuhannnya. Disampaikan kebutuhannya kepada orang-orang tersebut dan beliau menyatakan bahwasanya memberikan syafā’at ini akan mendapatkan pahala.

Tidak peduli apakah syafā’atnya itu memang diterima (dikabulkan) atau ditolak, maka pahala tetap didapatkan oleh orang yang memberikan syafā’at.

Oleh karena itu Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan:

تؤجروا

“Maka kalian akan memdapatkan pahala.”

Sebagaimana Allāh Subhānahu wa Ta’āla juga telah menyatakan hal tersebut di dalam surat An Nissā: 85.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

مَنْ يَشْفَعْ شَفَاعَةً حَسَنَةً يَكُنْ لَهُ نَصِيبٌ مِنْهَا

“Barangsiapa memberi pertolongan dengan pertolongan yang baik, niscaya dia akan memperoleh bagian dari (pahala)nya”.

Ini menunjukkan tentang anjuran untuk memberikan syafā’at apabila kita tahu ada orang yang memerlukan bantuan, akan tetapi ternyata hajatnya tidak bisa tersampaikan kepada orang lain. Kita harus menjadi penengah di antara keduanya agar satu sama lain bisa saling membantu.

Dan di dalam hadīts ini kita mengetahui betapa besarnya rahmat Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam dimana beliau ingin untuk memberikan kebaikan-kebaikan kepada seluruh umat dengan cara apapun.

Oleh karena itu apabila ada orang yang datang kepada beliau secara langsung menyampaikan hajatnya beliau akan berusaha memenuhi.

Begitu pula orang yang memiliki hajat akan tetapi tidak sampai beritanya kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam maka beliau menyuruh para shahābat yang mengetahui kondisi orang tersebut supaya menginformasikan kondisinya kepada beliau yaitu menjadi syafā’at bagi mereka di sisi Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam supaya Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam juga bisa memenuhi kebutuhan mereka.

Ini menunjukkan betapa luasnya (besarnya) kasih sayang Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam kepada umat ini, serta hadīts ini juga memberikan faedah kepada kita berupa anjuran untuk mengarahkan manusia kepada kebaikan.

Seperti ada orang dia ingin memberikan kebaikan akan tetapi dia tidak tahu kepada siapa dia harus berikan kebaikan-kebaikan ini.

Dia ingin bersedekah dia tidak tahu orang-orang yang membutuhkan, maka orang yang tahu orang-orang yang membutuhkan ini dia memberikan syafā’at kepada mereka, dia sampaikan kepada orang yang ingin memberikan kebaikan ini bahwasanya di sana ada orang yang membutuhkan.

Dia menjadi syafā’at bagi orang-orang tersebut, dia menunjukkan kebaikan kepada orang tersebut dan itu adalah hakikat syafā’at, yaitu dia menjadi perantara dalam kebaikan.

Kemudian di akhir hadīts ini Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam menyatakan bahwanya segala apa yang ditetapkan atau terjadi baik bentuknya syafā’at yang diterima atau syafā’at yang tidak diterima, maka semua itu tidak lepas dari taqdir Allāh.

Seorang dia mengabulkan permintaan orang lain maka itupun adalah ketetapan taqdir Allāh yang telah Allāh tetapkan.

Atau dia tidak mampu, tidak mau untuk memberikan pada orang lain, itupun taqdir Allāh.

Oleh karena itu beliau menetapkan dari lisan Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam apa yang Allāh kehendaki.

Demikianlah penjelasan singkat tentang hadīts ini, dimana hadīts ini kita tahu bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam sangat ingin supaya umat ini, mereka memberikan syafā’at satu dengan yang lain apabila mereka tahu ada orang yang memerlukan untuk diberikan syafā’at.

In syā Allāh, kita lanjutkan lagi halaqah ini pada pertemuan mendatang.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

image_pdfimage_print

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top