Home > Bimbingan Islam > Tematik > Ramadhan Bulan Yang Dirindu

Ramadhan Bulan Yang Dirindu

🌍 BimbinganIslam.com
👤 Ustadz Ratno Abu Muhammad, Lc
📗 Kajian Tematik Bulan Sya’ban

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم القيامة، أما بعد

Sahabat BiAS rahīmaniy wa rahimakumullāh.

Tentu kita rindu untuk beribadah pada bulan penuh ampunan, bulan penuh keberkahan, bulan dimana pintu surga dibuka lebar-lebar dan pintu neraka ditutup rapat-rapat. Bulan dimana syaithān-syaithān dibelengu, bulan dimana Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengobral pahala amal kebaikan.

Sahabat BiAS rahīmaniy wa rahimakumullāh.

Bulan ini adalah bulan Sya’bān, bulan ke-8 yang berarti kita akan beranjak ke bulan yang ke-9 yaitu bulan Ramadhān.

Agar rindu kita dengan bulan Ramadhān semakin besar, agar cinta kita kepadanya semakin membara, alangkah baiknya kita dengarkan sebuah hadīts yang diriwayatkan oleh Imām Ibnu Mājah nomor 3925.

Sebuah hadits yang dishahīhkan oleh Syaikh Albāniy rahimahullāh.

Thalhah bin Ubaidillāh, salah seorang shahābat Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam pernah bercerita, ada dua orang laki-laki dari kabilah Baliy. Dimana dua orang laki-laki tersebut mendatangi Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Keduanya saat itu masuk Islām secara bersama-sama. Salah satu dari kedua laki-laki tersebut lebih rajin dari yang lainnya.

Laki-laki pertama ikut perang kemudian dia meninggal dunia dalam peperangan (mati syahīd). Adapun laki-laki kedua masih diberikan kehidupan satu tahun setelah wafatnya laki-laki yang pertama.

Sebelum kita lanjutkan kisahnya, (kita ambil kesimpulan) bahwasanya laki-laki pertama adalah seorang yang rajin dan meninggal dalam keadaan berjihād sehingga dia meninggal dalam keadaan mati syahīd, adapun laki-laki kedua kalah rajin jika dibandingkan dengan laki-laki pertama.

Setelah satu tahun meninggal laki-laki yang pertama, kemudian laki-laki kedua pun meninggal akan tetapi beliau meninggal tidak di medan perang (beliau wafat biasa).

Kemudian Thalhah bin Ubaidah berkata:

Lalu aku melihat keduanya dalam mimpi, ketika itu aku sedang berada dipintu surga dan ada dua laki-laki tersebut, maka keluarlah seseorang dari surga lalu memberikan izin kepada laki-laki kedua (laki-laki yang wafat terakhir) untuk masuk surga.

Kemudian dia keluar lagi dan baru memberikan izin untuk memasuki surga kepada laki-laki yang meninggal pertama (yang mati syahīd).

Lalu dia keluar lagi dan menemuiku (kata Thalhah) dan berkata:

“Kembalilah sekarang, belum saatnya untukmu.”

Ketika datang waktu pagi, Thalhah bin Ubaidillāh bercerita kepada orang-orang dan orang-orang pun takjub dan merasa aneh, hingga akhirnya cerita mimpi Thalhah tersebut sampai kepada Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Ketika mimpi tersebut telah disampaikan kepada Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam, maka beliaupun bertanya (kepada orang-orang yang takjub):

“Apa yang kalian takjubkan?”

Orang-orangpun menjawab:

“Wahai Rasūlullāh, laki-laki pertama kan dulu yang lebih rajin, bahkan ia mati syahīd, lalu kenapa laki-laki kedua bisa mendahuluinya masuk surga?”

Maka Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bertanya kepada mereka:

“Bukankah laki-laki kedua masih hidup satu tahun setelah syahīdnya laki-laki pertama?”

Mereka menjawab: “Iya betul.”

Lalu Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam melanjutkan pertanyaannya:

“Dan bukankah ia (laki-laki kedua) juga bertemu dengan Ramadhān lalu berpuasa, melakukan ibadah ini dan ibadah itu, masih bisa bersujud selama satu tahun kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla?”

Merekapun menjawab: “Betul, wahai Rasūlullāh.”

Lalu Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam menambahkan dan menegaskan: “Bahkan jarak antara dua orang itu antara langit dan bumi.”

Sahabat BiAS rahīmaniy wa rahimakumullāh.

Setelah kita tahu hal ini, kita tahu bahwa seseorang yang masih bisa beribadah kepada Allāh pada bulan Ramadhān memiliki keutamaan yang sangat besar, bisa menaikan derajat hingga jarak antara langit dan bumi.

Setelah kita tahu hal ini, tidakkah kita rindu Ramadhān?

Tidakkah kita ingin bertemu Ramadhān?

Tidakkah kita ingin memperbanyak ibadah pada bulan Ramadhān?

Kalau jawabannya: “Tidak,” sungguh itu sangat keterlaluan.

Beruntunglah orang-orang yang bisa beribadah dengan baik pada bulan Ramadhān, sehingga derajatnya naik, hingga jarak antara langit dan bumi.

Yā Allāh sampaikan kami pada bulan Ramadhān dan berikan taufīq dan kemudahan kepada kami untuk beribadah dengan ikhlās dan benar dikala itu.

اللَّهُمَّ سَلِّمْنَا الي رَمَضَانَ ، وَسَلِّمْهُ لَنَا ، وَتَسَلَّمْهُ مِنَّا مُتَقَبّلًا

Semoga bermanfaat.

Wallāhu Ta’āla A’lam Bishawāb.

وصلى الله علي نبينا محمد

image_pdfimage_print

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top