Home > Bimbingan Islam > Matan Abu Syuja > Kajian 090 | Zakat Fithr (3)

Kajian 090 | Zakat Fithr (3)

🌍 BimbinganIslam.com
🎙 Ustadz Fauzan ST, MA
📗 Matan Abu Syuja
📝 Ahmad bin Al-Husain bin Ahmad Al-Asfahāniy (Imam Abū Syujā’)

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وبعد

Para shahābat Bimbingan Islām yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Kita lanjutkan beberapa faedah atau permasalahan di dalam masalah zakāt secara ringkas yang mungkin pernah disebutkan tentang maksud dari zakāt fithrah.

Sudah disebutkan di dalam hadīts bahwasanya maksud disyari’atkan zakāt fithrah adalah sebagai penebus kelalaian yang dilakukan oleh seorang yang berpuasa.

Dalam hadīts:

طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ

“Sebagai pembersih dari orang-orang yang berpuasa dari perbuatan yang lalai dan perbuatan yang buruk.”

Ini adalah sebab disyari’atkannya zakāt fithrah.

Kemudian kadarnya, sebagaimana disebutkan, bahwasanya kadarnya adalah satu shā’ berdasarkan hadīts dari Ibnu Umar, beliau berkata:

فَرَضَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ من رمصان صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيْرٍ

“Bahwasanya Rasūlullāh  shallallāhu ‘alayhi wa sallam, beliau mewajibkan untuk seorang muslim setelah selesai bulan Ramadhān untuk menunaikan zakāt fithrah, satu shā’ dari kurma atau shā’ dari sya’īr.”

• Kemudian faedah berikutnya, kapan dikeluarkan zakāt fithrah?

Waktu yang wajib adalah waktu manakala tenggelam atau terbenamnya matahari di akhir hari bulan Ramadhān dan masuk waktu Syawwāl (ini waktu-waktu wajib).

Bolehkah dibayarkan sebelumnya?

Perkataan Ibnu ‘Umar radhiyallāhu ta’āla ‘anhumā di dalamnya.

وَكَانُوْا يُعْطُوْنَ قَبْلَ الْفِطْرِ بِيَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ

“Bahwasanya mereka (para shahābat radhiyallāhu ta’āla ‘anhum) mereka mengeluarkan (membayarkan zakātnya), satu hari atau dua hari sebelumnya.”

Ini menunjukkan bolehnya menunaikan zakāt fithri sebelum masuk hari ‘Iedul Fithr.

• Kemudian faedah berikutnya, siapa ahlu zakātul fithr ?

Berkata Syaikh Ibnu Utsaimin:

Bahwasanya di sana ada dua pendapat dari kalangan ahlul ‘ilmi, yaitu:

⑴ Pendapat pertama | Zakāt fithrah sebagaimana zakāt yang lainnya, diserahkan (diberikan) kepada para mustahik zakāt (8 golongan) termasuk al muallafatu qulūbuhum (orang-orang yang dilembutkan hatinya), al ghārimīn (Orang yang terlilit hutang).

⑵ Pendapat kedua | Zakāt fithrah dikeluarkan kepada fuqarā dan masākīn saja.

Dan ini beliau rajīhkan (beliau lebih memilih pendapat yang kedua ini).

• Kemudian bolehkah kita membayar zakāt dengan nilainya saja?

Jadi seorang misalnya ingin mengeluarkan zakāt. Dan dia berikan zakāt tersebut kepada orang-orang yang membutuhkan dari kalangan fuqarā berupa uang (misalnya), apakah boleh?

⇒ Maka kebanyakan para ulamā, mereka tidak memperbolehkan dan mengatakan tidak sah zakāt tersebut.

Berikut perkataan Ibnu Qudāmah rahimahullāh:

ولا تجزئ القيمة؛ لأنه عدول عن المنصوص

“Tidak sah nilai harga apabila kita berikan, karena itu keluar dari nash (yang diterapkan di dalam hadīts-hadīts tentang zakāt).”

⇒ Zakāt, semuanya adalah mengeluarkan dari makanan pokok.

Begitu juga perkataan Syaikh Bin Baz rahimahullāh:

ولا يجوز إخراج القيمة عند جمهور أهل العلم وهو أصح دليلاً ، بل الواجب إخراجها من الطعام ، كما فعله النبي صلى الله عليه وسلم وأصحابه رضي الله عنهم

“Tidak diperbolehkan untuk mengeluarkan harganya nilai uangnya berdasarkan pendapat jumhur ulamā dan telah shahīh dalīlnya bahkan yang wajib mengeluarkan dari makanan pokok, sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan para shahābat (radhiyallāhu Ta’āla ‘anhum).”

Beliau juga mengatakan:

زكاة الفطر عبادة بإجماع المسلمين ، والعبادات الأصل فيها التوقيف ، فلا يجوز لأحد أن يتعبد بأي عبادة إلا بما ثبت عن المشرع الحكيم عليه صلوات الله وسلامه

“Zakāt fithrah adalah salah satu bentuk ibadah dengan dasar ijmā’ kaum muslimin. Hukum asal ibadah adalah harus sesuai dengan tuntunan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam, maka tidak boleh seorang itu beribadah dengan ibadah apapun kecuali dengan sesuatu yang telah ditetapkan oleh sang pemberi syari’at yaitu Allāh Subhānahu wa Ta’āla melalui Rasūlullāh  shallallāhu ‘alayhi wa sallam di dalam membuat syari’at berupa ibadah.”

Karena di sana ada perkara-perkara selain ibadah seperti muamalah antara seorang kepada orang lain.

Adapun ibadah asalnya adalah taukif, artinya berhenti sampai ada dalīl yang menunjukkan bahwanya hal tersebut boleh atau tidak boleh.

Demikian yang bisa disampaikan halaqah ini dan kita akan lanjutkan pada pertemuan berikutnya.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
واخردعوانا أن الحمد لله رب العالمين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

🖋Ditranskrip oleh Tim Transkrip BiAS
_______

image_pdfimage_print

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top