Home > Bimbingan Islam > Matan Abu Syuja > Kajian 063 | Fiqh Shalāt Iedul Fitri Dan Iedul Adha (Bag.2 dari 2)

Kajian 063 | Fiqh Shalāt Iedul Fitri Dan Iedul Adha (Bag.2 dari 2)


🌍 BimbinganIslam.com
👤 Ustadz Fauzan ST, MA
📗 Matan Abu Syuja
📝 Ahmad bin Al-Husain bin Ahmad Al-Asfahāniy (Imam Abū Syujā’)

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وبعد

Para shahābat Bimbingan Islām yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta’āla, kita masuki halaqah yang ke-63 dan masih pada fasal berikutnya yaitu tentang shalāt ‘Iedul Fitri dan ‘Iedul Adha.

قال المؤلف رحمه الله

Berkata penulis rahimahullāh:

((و يخطب بعدها خطبتين يكبر في الأولى تسعا وفي الثانية سبعاً))

“Dan khutbah setelah shalāt sebanyak 2 (dua)  kali khutbah, yaitu:

√ Takbir dikhutbah pertama sebanyak 9 (sembilan) kali.
√ Takbir dikhutbah kedua sebanyak 7(tujuh) kali.”

Shahābat BiAS yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

▪ Hukum khutbah ‘Ied

Khutbah ‘Ied  hukumnya adalah sunnah, ini berdasarkan kesepakatan Imām madzhab yang empat.

▪ Waktu Khutbah ‘Ied

Waktu khutbah ‘Ied dilakukan setelah shalāt, ini berdasarkan ijma’ sebagaimana yang dinukil oleh Imām Ibnu Qudammah dan Imām Ibnu Jauzy.

▪ Tata Cara Khutbah ‘Ied

Khutbah ‘Ied dilakukan dengan 2 (dua) kali khutbah, ini merupakan kesepakatan keempat Imām madzhab, bahkan Ibnu Hazm menukilkan ijma’ akan hal tersebut.

Adapun membuka khutbah dengan takbir maka di sana ada perbedaan pendapat apakah dibuka dengan takbir ataukah dengan tahmid.

Pendapat pertama |

Khutbah dibuka dengan takbir sesuai dengan pendapat imām madzhab.

Sebagaimana disebutkan oleh penulis dimana Imām Syāfi’i menjelaskan bahwasanya takbir 9 (sembilan) kali pada khutbah pertama dan 7 (tujuh) kali pada khutbah yang kedua.

Dan beliau katakan ini sunnah, namun sandarannya adalah hadīts yang dhaif.

Pendapat kedua |

Khutbah dibuka dengan tahmid dan ini adalah pendapat Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qayyim dan Syaikh Bin Baz, serta Imām Syaukani lebih condong terhadap pendapat ini.

قال المؤلف رحمه الله

Berkata penulis rahimahullāh:

((ويكبر من غروب الشمس من ليلة العيد إلى أن يدخل الإمام في الصلاة وفي الأضحى خلف الصلوات المفروضات من صبح يوم عرفة إلى العصر من آخر أيام التشريق)).

“Dan hendaknya bertakbir mulai dari terbenamnya matahari pada malam ‘Ied sampai Imām masuk ke tempat shalāt.

Adapun pada ‘Iedul Adha, maka bertakbir setiap selesai dari sholāt fardhu mulai Subuh pada hari Arafah sampai ‘Ashar pada hari terakhir di hari-hari Tasyrik.”

Shahābat Bimbingan Islām yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Adapun seputar takbir pada shalāt ‘Iedul Fitri dan shalāt ‘Iedul Adha, ada beberapa hal yang akan kita bahas, diantaranya:

⑴ Waktu Takbir

Sebagaimana yang dijelaskan oleh  penulis, bahwasanya;

√ Untuk ‘Iedul Fitri adalah mulai terbenamnya matahari pada malam ‘Ied sampai Imām masuk tempat shalāt ‘Ied.

√ Untuk ‘Iedul Adha, mulai pada waktu Subuh hari Arafah tangal  9 Dzulhijjah sampai ‘ashar di hari akhir Tasyrik yaitu tanggal 13 Dzulhijjah.

⑵ Hukum Takbir

Adapun hukum takbir pada ‘Iedul Fitri dan ‘Iedul Adha adalah sunnah, berdasarkan pendapat mayoritas ulamā dari kalangan Mālikiyyah, Syāfi’iyah, dan Hanābilah. Bahkan Imām Nawawi menyatakan bahwa hal itu adalah ijma’.

Takbir pada shalāt ‘Iedul Fitri disebut takbir mutlaq atau takbir yang dilakukan atau diucapkan kapan saja.

⑶ Waktu Takbir

Waktu takbir dimulai semenjak terlihat hilal pada bulan Syawwal atau dengan kata lain mulai terbenamnya matahari pada malam ‘Ied atau setelah maghrib pada tanggal 30 Ramadhān. Dan ini adalah pendapat mayoritas ulamā.

Adapun waktu berakhirnya ada khilaf perbedaan pendapat dikalangan ulamā.

Dan pendapat Syāfi’iyah dan Mālikiyyah adalah berakhir manakala Imām telah datang untuk melaksanakan shalāt ‘Ied. Maka ini adalah waktu akhir untuk bertakbir pada ‘Iedul Fitri yaitu dimulai sejak terbenamnya matahari pada malam ‘Ied atau akhir dari bulan Ramadhān sampai datangnya Imām untuk melaksanakan shalāt ‘Ied.

Pendapat ini dipilih juga oleh Syaikh Utsaimin.

⑷ Hukum Takbir Muqayyad

Takbir muqayyad adalah takbir yang diucapkan setelah selesai melaksanakan shalāt.

Sehingga takbir muqayyad tidak disyariatkan pada malam ‘Iedul  Fitri,  baik setelah shalāt Maghrib atau shalāt ‘Isya atau setelah selesai shalāt ‘Ied.

⇒ Takbir pada saat  ‘Ied Fitri  yang berlaku adalah takbir  mutlaq,  maksudnya adalah bebas kapan saja baik di rumah, di pasar atau ditempat manapun dan tidak muqayyad, artinya tidak dilakukan setelah shalāt fardhu.

Ini adalah pendapat mayoritas ulamā Syāfi’iyah dan madzhab Hanābilah dan yang dipilih Imām Nawawi, Ibnu Taymiyyah dan Syaikh Utsaimin.

⇒ Adapun takbir untuk ‘Iedul Adha, maka berlaku mutlaq dan muqayyad.

Jadi selain disunnahkan di jalan-jalan, di rumah, di pasar, maka disunnahkan pula selesai melaksanakan shalāt fardhu untuk mengucapkan takbir.

⑸ Mengeraskan Takbir

Disunnahkan mengeraskan takbir bagi laki-laki manakala keluar dari rumah menuju lapangan (tempat shalāt) ‘Ied pada saat ‘Ied Fitri dan ‘Ied Adha, ini adalah pendapat mayoritas ulamā.

Ini adalah beberapa keterangan atau sunnah-sunnah yang bisa disampaikan dalam masalah shalāt ‘Iedul Fitri dan ‘Iedul Adha.

Semoga bermanfaat.

 وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم, وَآخِرُ دَعْوَاهُمْ أَنِ الْحَمْدُ الله رَبِّ الْعَالَمِينَ
________

image_pdfimage_print

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top