Home > Bimbingan Islam > Matan Abu Syuja > Kajian 053 | Shalāt Berjama’ah (Bagian 3)

Kajian 053 | Shalāt Berjama’ah (Bagian 3)


🌍 BimbinganIslam.com
👤 Ustadz Fauzan ST, MA
📗 Matan Abu Syuja
📝 Ahmad bin Al-Husain bin Ahmad Al-Asfahāniy (Imam Abū Syujā’)

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله أما بعد

Para shahābat  BiAS yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, kita lanjutkan halaqoh yang ke-53 dan kita masuk pada fasal tentang Shalāt Berjama’ah Bagian ke-3

قال المصنف:

Berkata penulis rahimahullāh

((ويجوز أن يأتم الحر بالعبد))

“Dan boleh bagi seorang yang merdeka mengikuti (menjadi makmum) dari seorang hamba sahaya (budak)”

Hal ini berdasarkan hadīts tentang ‘Āisyah Radhiyallāhu Ta’āla ‘anhā yang diriwayatkan oleh Imām Bukhāri 1/140:

وَكَانَتْ عَائِشَةُ: «يَؤُمُّهَا عَبْدُهَا ذَكْوَانُ مِنَ المُصْحَفِ»

“Dan ‘Āisyah Radhiyallāhu Ta’āla ‘anhā, beliau diimami oleh hamba sahayanya (Dzakwan) dengan membaca mushaf”

*⇛Dzakwan adalah budak ‘Āisyah Radhiyallāhu Ta’āla ‘anhā*

قال المصنف:

Berkata penulis rahimahullāh

((والبالغ بالمراهق))

“Dan begitu pula boleh bagi seorang yang bāligh menjadi makmum bagi anak kecil”

Disini adalah madzhab dari Syāfi’iyah dan kita lihat bagaimana hukum anak kecil yang menjadi imam.

*Pendapat pertama*

⇛ Bahwasanya tidak sah seorang Imām yang belum bāligh didalam shalāt yang wajib (Tidak sah hukumnya seorang anak kecil menjadi Imām dalam shalāt yang wajib)

Namun dia diperbolehkan dalam shalāt sunnah dengan syarat telah mencapai umur mumayyaz.

⇛ Umur Mumayyaz adalah umur seorang anak kecil yang sudah bisa membedakan mana yang bermanfaat dan mana yang mudharat (berbahaya)

⇛Ini adalah pendapat mayoritas (jumhur) ulamā dari kalangan :

√ Hanafiyyah
√ Mālikiyyah
√ Hanābilah

Adapun hanafiyah, mereka tidak membolehkan secara mutlak baik dalam shalāt wajib maupun shalāt sunnah.

⇛Diantara alasannya adalah bahwasanya posisi Imām adalah posisi kesempurnaan, dan anak kecil yang belum bāligh maka dia tidaklah sempurna.

*Pendapat Kedua:*

⇛Bolehnya seorang anak kecil yang mumayyaz (yang sudah tamyiz)  menjadi Imām bagi orang yang bāligh baik fardhu maupun sunnnah, namun yang lebih utama adalah seorang yang bāligh yang menjadi Imām.

⇛Ini adalah pendapat Syāfi’iyah karena mereka tidak mensyaratkan syarat bāligh untuk seorang Imām.

Dalīl mereka diantaranya adalah hadīts Amr bin salamah,” bahwasanya beliau mengimami kaumnya dizaman Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan beliau masih berumur enam atau tujuh tahun”.

Dan pendapat ini adalah pendapat yang rājih (lebih kuat).

Syaikh bin Bāz, beliau  menjawab pertanyaan dalam masalah ini:

لا بأس بإمامة الصبي إذا كان قد أكمل سبع سنين أو أكثر وهو يحسن الصلاة؛ لأنه ثبت عن النبي صلى الله عليه وسلم ما يدل على ذلك ولكن الأفضل أن يختار الأقرأ من الجماعة

“Tidak mengapa kata beliau, Imām  nya seorang anak kecil apabila dia telah menyempurnakan umurnya tujuh tahun atau lebih dan dia bagus dalam shalātnya, kata beliau bahwasanya hal itu ada dalīlnya dari Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam yang menunjukan tentang bolehnya hal tersebut, akan tetapi yang paling  afdhal adalah memilih yang paling baik bacaannya dari jama’ah atau dari kalangan orang-orang yang besar atau bāligh.

قال المصنف:

Berkata penulis rahimahullāh :

((ولا تصح قدوة رجل بامرأة))

“Dan tidak sah shalāt laki-laki yang mengikuti wanita”

*▪Bagaimana hukum Imamah wanita atau hukum wanita menjadi Imām di dalam shalāt ▪*

Ada 2 (dua) keadaan :

⑴ Apabila wanita tersebut menjadi Imām bagi para wanita yang lainnya,
maka hal ini *boleh dan sah*.

Berdasarkan dalīl-dalīl yang ada dan juga berdasarkan atsar bahwasanya ‘Āisyah Radhiyallāhu Ta’āla ‘anhā, beliau menjadi Imām dari kalangan shahābiat yang lainnya.

⑵ Wanita menjadi Imām bagi jama’ah laki-laki atau jama’ah campuran yang disana ada laki-lakinya atau jama’ah laki-laki yang masih kanak-kanak. Maka ini *hukumnya tidak sah*.

Menurut pendapat seluruh ulamā baik dari kalangan terdahulu maupun yang terkini, atau yang sekarang ini, baik ulama besar maupun yang kecil.

قال المصنف:

Berkata penulis rahimahullāh

((ولا قارئ بأمي))

“Dan tidak sah seorang qāri’ yang mengikuti shalāt seorang yang ummi”
√ Qāri’ disini (maksudnya) adalah orang yang baik dalam membaca surat Al Fātihah, karena Al Fātihah adalah termasuk rukun didalam shalāt.

√ Ummi disini (maksudnya) adalah orang yang jelek bacaan Al Fātihahnya, baik dalam makhrajnya, panjang pendeknya, tasydidnya dll, yang dapat merubah makna kalimat.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda :

يَؤُمُّ الْقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللهِ

“Hendaklah yang menjadi Imām bagi sekelompok kaum, adalah orang yang paling bagus bacaan Al Qurānnya”

(Hadīts Riwayat Imām Muslim 1/465)

Demikian, semoga bermanfaat.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين
Waakhiru dakwah ana walhamdulillah
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
____________________________

image_pdfimage_print

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top