Home > Kajian Kitab > Kitab Awaa’iqu ath Thalab > Materi 52 ~ Penuntut Ilmu Sejati Adalah Yang Tau Akan Berharganya Waktu

Materi 52 ~ Penuntut Ilmu Sejati Adalah Yang Tau Akan Berharganya Waktu

🌍 Kajian Kitab
👤 Al-Ustadz Abu Haidar As-Sundawy حفظه الله
📗 Kitab Awaa’iqu ath Thalab (Kendala Bagi Para Penuntut Ilmu)
📝 as-Syaikh Abdussalam bin Barjas Alu Abdul Karim حفظه الله

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Berkata Mualif (penulis), “Maka bagi penuntut ilmu hendaklah mereka membersihkan diri menjauhkan diri dari penyakit Taswif (menunda-nunda/lelet) hendaklah bersegera beramal mengamalkan ayat fastabiqul khoirot, mengamalkan ayat وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ “, maka disebutkan oleh Mualif disini bahwa “Penuntut ilmu itu manusia yang paling mengetahui nilai dari waktu, harga dari waktu (betapa berharganya waktu) dan orang yang paling mampu memanfaatkan waktu seluruhnya secara maksimal”. Nabi ﷺ pernah mengingatkan kepada Abdullah bin Umar radiyallahu’anhuma, kata Nabi kepada Ibn Umar, كن في الدنيا كأنك غريب، أو عابر سبيل “Jadilah kamu didunia seolah-olah kamu ini seperti orang asing atau orang yang hanya sekedar lewat“. (HR. Bukhori) Kita ini pengembara, didunia ini sementara bukan penghuni tetap. Kita sekedar lewat, lama itu menurut perhitungan kita. Maksudnya adalah menurut perhitungan kita yang super subjektif dimana nilai subjektif itu kita hanya memandang dari sudut pandang kita dengan kehidupan dunia yang sedang kita jalani tidak memandang waktu hidup kita dalam konteks seluruh perjalanan hidup kita dari awal sampai akhir. Coba kita telusuri perjalanan hidup kita sebelum sekarang. Sebelum sekarang kita berada di alam rahim ibu, 9 bulan lamanya. Berapa lama kita hidup di alam dunia anggaplah 100 tahun. 100 tahun itu lama dibanding 9 bulan, setelah 100 tahun kemudian mati, kemana kehidupan kita berlanjut ? ke alam kubur, ke alam barzah. Berapa lama ? sampai kiamat, mungkin 1000 tahun, 2000 tahun, sejuta tahun yang jelas lebih lama dibanding hidup kita di alam dunia ini. Bayangkan kalau hidup di alam barzah terus nanti dalam keadaan menderita karena kena adzab kubur wal iyadzubillah dalam jangka waktu yang lama kebayang sengsaranya dan itu kesengsaraan awal sebelum memperoleh kesengsaraan yang lebih jauh lebih dahsyat di alam akhirat. Kalau di alam kuburnya kita celaka lalu terjadi kiamat, apakah kehidupan kita selesai sampai disana ? tidak, kita terus berlanjut ke alam akhirat kita mengalami dikumpulkan di alam mahsyar, mengalami dihisab, mengalami ditimbang amal perbuatan kita, mengalami berbagai macam kejadian yang mengenaskan sampai melewati shirath yang terbentang diatas neraka wal iyadzubillah kemudian kalau selamat kita belum langsung masuk surga ada penegakan keadilan sebelum masuk surga, ada perhitungan atau kedzoliman-kedzoliman yang pernah kita lakukan didunia yang belum terbalas nanti dibalasnya dengan pahala dan dosa sampai akhirnya masuk ke surga dan masuk ke neraka. Itulah akhir dari terminal kehidupan kita surga dan neraka. Itulah kehidupan kita yang sebenarnya. Allah berfirman, وَإِنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ “Sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya“. (QS. Al-‘Ankabut : 64) Berapa lama kita disana ? yakni selama-lamanya tanpa ada masa akhir dari kehidupan. Coba liat 9 bulan di fase perut ibu, 100 tahun di alam dunia, kemudian ribuan bahkan seratus ribuan tahun di alam barzah lalu selama-lamanya di akhirat. Lihat perbandingan 100 tahun di dunia dengan di alam barzah sebentar apa lama ? sangat sebentar apalagi di akhirat nanti lebih dari sebentar. Jadi di dunia ini kita hanya lewat makanya Nabi ﷺ menyatakan كن في الدنيا كأنك غريب، أو عابر سبيل “Jadilah kamu didunia itu seolah-olah kamu ini orang asing yang cuma lewat“. Kita sudah melewati dua fase kehidupan, fase pertama diperut ibu, fase kedua alam dunia kemudian lewat beberapa puluh tahun setelah itu masuk ke alam lain terus sampai kita ke akhirat. Cuma lewat di dunia tetapi di dunia yang sebentar ini, itu yang menjadi penentu bahagia atau menderitanya kita hidup di alam barzah apalagi di alam akhirat nanti. Makanya kalau kehidupan kita yang cuma lewat ini gagal, tidak bisa diulang. Kalau di dunia kita tidak cerdas, maka kita akan menderita dengan penderitaan yang super lama. Jangan pernah ada anggapan, “Kita ini muslim walaupun dosa besar kita tetap ke surga (ke neraka dulu sementara)”, “sementaranya” itu hari diakhirat sebanding dengan 50.000 tahun menurut Ali Al-Hakim dalam kitab Tafsir Ma’rijul Qobul bukan 1000 tahun. 1 hari yang kadar lamanya sebanding dengan 50.000 tahun diakhirat.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ ، أشْهَدُ أنْ لا إلهَ إِلاَّ أنْتَ ، أسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إلَيْكَ
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *