Halaqah 159 | Allāh ﷻ Mengabulkan Doa dan Memenuhi Hajat Hamba-Nya

Kitab: Aqidah Ath-Thahawiyah
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-159 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-Aqidah Ath-Thahawiyah yang ditulis oleh Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāh.

وَاللَّهُ تَعَالَىٰ يَسْتَجِيبُ الدَّعَوَاتِ

Dan Allāh ﷻ, Dialah yang mengabulkan doa.

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِ

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan doa orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. (QS. Al-Baqarah: 186)

Berarti di sini kembali kita diingatkan oleh Al-Imām Abū Jaʿfar At-Ṭaḥāwī tentang Allāh ﷻ, tentang keimanan kepada Allāh, bahwasanya Allāh ﷻ Dialah yang mengabulkan doa. Subḥānallāh, mujību ad-daʿwah, Allāh mengabulkan doa. Tinggal kita mau berdoa kepada Allāh atau tidak.

Dan kerajaan langit, kerajaan bumi adalah milik Allāh. Dan Allāh ﷻ Mahakuasa untuk melakukan segala sesuatu. Dan kita adalah hamba Allāh yang menyembah-Nya. Kenapa kita tidak memanfaatkan ini semuanya untuk banyak meminta kepada Allāh? Bukankah di dalam hati kita ini banyak kepentingan, banyak hajat, banyak keinginan? Ingin anak jadi orang yang shāliḥ, ingin anak ḥāfiẓ Al-Qur’ān, ingin istri shāliḥah, dan seterusnya. Kenapa kita tidak meminta kepada Allāh padahal Allāh mengatakan:

إِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِ

Sesungguhnya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan doa orang yang berdoa ketika dia berdoa kepada-Ku. (QS. Al-Baqarah: 186)

Dan Allāh mengatakan:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

Dan Rabb kalian berkata: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkan (doa) kalian.” (QS. Ghāfir: 60)

Allāh menyuruh kita untuk berdoa kepada-Nya. Tapi banyak di antara kita yang meremehkan masalah doa. Mungkin ada di antara orang yang selama berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan tidak pernah berdoa kepada Allāh. Ini sesuatu yang sangat mengerikan, seakan-akan dia bisa melakukan segalanya.

Dan orang yang semakin banyak meminta kepada Allāh, maka semakin dicintai oleh Allāh. Dan semakin jarang meminta kepada Allāh, maka bisa jadi semakin dibenci oleh Allāh.

مَنْ لَمْ يَسْأَلِ ٱللَّهَ يَغْضَبْ عَلَيْهِ

Barang siapa yang tidak meminta kepada Allāh, maka Allāh marah kepadanya. (HR. At-Tirmiżī)

Kalau kita tidak meminta kepada Allāh, justru Allāh marah kepada kita. Karena ini menunjukkan kita adalah hamba yang merasa tidak butuh kepada Allāh. Tapi kalau orang sedikit-sedikit meminta, sedikit-sedikit mengangkat tangannya, sedikit-sedikit dia mengatakan: “Allāhumma, Yā Allāh, Rabbana, Yā Rabb, mudahkan saya, berikan saya”, dan seterusnya, maka Allāh semakin mencintai hamba tersebut. Berarti ini adalah hamba yang benar-benar merasa butuh kepada Allāh ﷻ.

وَٱللَّهُ يَسْتَجِيبُ ٱلدَّعْوَاتِ

Allāh itu mengabulkan banyak doa. Dan dikabulkannya doa seseorang maknanya sebagaimana disebutkan dalam Hadits:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو اللهَ بِدَعْوَةٍ، لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ، وَلَا قَطِيعَةُ رَحِمٍ، إِلَّا أَعْطَاهُ اللَّهُ بِهَا إِحْدَى ثَلَاثٍ: إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ، وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ، وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا. قَالُوا: إِذًا نُكْثِرُ، قَالَ: اللهُ أَكْثَرُ

Tidak ada seorang Muslim yang berdoa kepada Allāh dengan sebuah doa yang tidak ada di dalamnya dosa dan tidak ada di dalamnya permintaan memutus tali silaturahmi, kecuali Allāh akan memberikannya salah satu dari tiga perkara: (1) Dikabulkan doanya, (2) Disimpan di akhirat, (3) Dihindarkan dari keburukan yang setara. (HR. Aḥmad dan Al-Ḥākim, Shahih)

Tidak ada seorang Muslim yang berdoa dengan sebuah doa yang tidak ada di situ dosa dan tidak ada di situ doa yang isinya adalah memutus ṭalī silaturraḥim, kecuali dia akan diberikan satu di antara tiga perkara.

Antum meminta, berdoa, yang penting syaratnya doanya tidak ada dosa di situ dan tidak ada di situ memutus ṭalī silaturraḥim, antum akan diberikan satu di antara tiga perkara:

Yang pertama, dikabulkan doa antum tersebut, yang antum sebutkan dalam ucapan antum. Antum minta, misalnya: “Yā Allāh, semoga anak saya masuk ke pesantren ini.” Ada kemungkinan yang pertama: diterima, diterima memang di pesantren tersebut. Berarti ini adalah yang kita inginkan, yang kita sebutkan dalam doa.

Seandainya tidak dikabulkan permintaan tersebut, maka mungkin Allāh berikan yang kedua, yaitu Allāh akan menghindarkan kita dari musibah yang sepadan. Allāh ﷻ ingin menghindarkan kita dari musibah yang sepadan dengan doa kita. Kita tidak tahu perjalanan dari rumah kita ke pondok tersebut itu apa yang terjadi, atau mungkin akan terjadi sesuatu di pondok tadi. Allāh tidak kabulkan doa kita karena Allāh ingin menghindarkan kita dari musibah yang sepadan. Ini adalah kemungkinan yang kedua.

Atau yang ketiga, seandainya yang pertama dan kedua itu tidak diberikan oleh Allāh, Allāh akan menggantinya di hari Kiamat, diakhirkan di hari Kiamat, dikabulkan oleh Allāh dan akan diberikan oleh Allāh gantinya di sana, di hari Kiamat. Tentunya ganti dari Allāh, pahala dari Allāh, yang Allāh simpan di hari Kiamat inilah yang ditunggu oleh seseorang. Biarlah mungkin keinginan dia di dunia tidak dikabulkan oleh Allāh, tapi Allāh ﷻ memberikan pahala yang besar baginya di hari Kiamat.

Bukankah ini yang kita inginkan? Berarti orang yang berdoa kepada Allāh itu tidak akan rugi. Tidak akan rugi. Dia akan mendapatkan satu dari tiga kebaikan. Makanya sebagian ṣaḥabat, ketika mendengar ḥadits ini, dia mengatakan:

يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِذًا نُكْثِرُ. قَالَ: اللَّهُ أَكْثَرُ

“Wahai Rasūlullāh, kalau begitu kami akan memperbanyak doa.” Beliau menjawab: “Allāh lebih banyak (pemberian-Nya).” (HR. Aḥmad)

Wahai Rasūlullāh, kalau demikian, kita akan memperbanyak doa kepada Allāh. Ini semangatnya para ṣaḥabat, kalau demikian, kami akan banyak berdoa kepada Allāh, dikit-dikit kami akan berdoa kepada Allāh, karena pasti diberikan satu di antara tiga perkara tadi. Kalau tidak dikabulkan, akan diganti dengan yang lain: dihindarkan dari musibah, atau diberikan pahala di hari Kiamat.

Kemudian Nabi ﷺ mengatakan: Allāhu aktsar, kalian berbanyak, maka Allāh ﷻ akan lebih banyak lagi untuk memberikan kepada kalian.

وَيَقْضِي الحَاجَاتِ

Dan Allāh ﷻ, Dialah yang menunaikan hajat-hajat manusia.

Bukan makhluk yang menunaikan hajat-hajat kita. Allāh ﷻ yang menunaikan hajat-hajat manusia. Makanya kalau kita ada hajat, kembali kepada Allāh, ia meminta kepada Allāh, supaya dimudahkan untuk menunaikan hajatnya. Istikhārah, meminta kemudahan ketika kita memiliki hajat, hajat apa saja, termasuk dalam hajat dunia atau hajat ibadah. Karena Allāh ﷻ, Dialah yang yaqḍī al-ḥājāt, Dialah yang menunaikan hajat-hajat kita.

Di antara nama Allāh adalah As-Ṣamad, yang artinya adalah: Dialah tempat makhluk untuk meminta ditunaikan hajatnya kepada Allāh ﷻ. Jangan kita bergantung kepada makhluk. Kalau kita meminta kepada makhluk, maka yang namanya makhluk, mungkin dia diminta sekali dua kali, dia ya memberi. Tapi yang ketiga kali, yang keempat kali, yang namanya makhluk, tabiatnya tidak senang untuk diminta. Itu yang pertama.

Dan yang kedua, dia bukan yang menunaikan hajat kita. Dia juga makhluk seperti kita. Coba kalau kita kembali kepada Allāh, yang Maha Kaya. Semua ini adalah milik Allāh, dan Allāh ﷻ Maha Mampu untuk melakukan segalanya. Kenapa kita tidak bergantung kepada Allāh saja? Dan Dialah yang menunaikan hajat.

Bagi yang kesulitan dalam ekonomi, bagi yang belum mendapatkan keturunan, bagi yang belum mendapatkan jodoh, kenapa kita tidak bergantung dan bertawakal kepada Allāh, dan meyakini bahwasanya Allāh ﷻ, Dialah yang menunaikan hajat-hajat kita semua?

Kemudian, beliau mengatakan raḥimahullāhu taʿālā,

وَيَمْلِكُ كُلَّ شَيْءٍ

Dan Allāh ﷻ, Dialah yang memiliki segala sesuatu.

لِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ

“Kepunyaan Allāh-lah kerajaan langit dan bumi.” (QS. Āli ‘Imrān: 189)

وَلَا يَمْلِكُهُ شَيْءٌ

Dan tidak ada sesuatu yang memiliki Allāh.

Artinya, Allāh yang memiliki segala sesuatu, bukan sesuatu yang memiliki Allāh. Allāh, Dialah yang memiliki, Dialah yang menciptakan. Sedangkan selain Allāh, maka mereka mamluk, mereka semuanya dimiliki oleh Allāh. Kita semua adalah milik Allāh.

وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ

“Dan hanya milik Allāh apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi.” (QS. An-Nisā’: 131)

Kalau kita yakin bahwasanya semuanya adalah milik Allāh, maka kita bergantung dan meminta hanya kepada Allāh. Kalau kita yakin bahwasanya semuanya adalah milik Allāh, kalau suatu saat ada apa yang menjadi milik kita diambil oleh Allāh, maka itu diambil oleh Yang Memiliki, yaitu Allāh.

Kalau memang itu adalah diambil oleh Yang Memiliki, untuk apa kita marah dan untuk apa kita tidak ridha? Seperti kalau kita dititipi oleh seseorang sebuah barang, kemudian suatu saat dia mengambil barang miliknya, apakah kita marah? Tentunya tidak. Demikian pula Allāh ﷻ, Dialah yang memiliki segala sesuatu. Dialah yang memiliki keluarga kita, orang tua kita, istri kita, anak, adik dan kakak kita. Kalau suatu saat Allāh ﷻ mengambil mereka, maka Allāh ﷻ mengambil sesuatu yang menjadi milik-Nya.

Apa yang bisa kita lakukan? Hanya ridha. Ridha dengan apa yang sudah ditentukan oleh Allāh. Jangankan mereka, kita pun juga milik Allāh, yang suatu saat akan diambil kembali oleh Allāh ﷻ. Demikian pula harta kita juga milik Allāh, suatu saat akan diambil oleh Allāh ﷻ.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

image_pdfimage_print

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top