Halaqah 10 | Berpegang Teguh Kepada Ajaran Shahabat & Meneladani Mereka bag 4

Kitab:Ushulus Sunnah
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Beliau mengatakan:

وَالِاقْتِدَاءُ بِهِمْ

Dan meniru mereka.

Berarti di sini kita berpegang teguh dengan apa yang berada di atasnya, yaitu Al-Qur’an dan hadits, serta meniru mereka di dalam mengamalkannya.

Ucapan beliau والاقتداء بهم — meneladani mereka di dalam melaksanakan Al-Qur’an dan hadits, karena berpegang teguh dengan keduanya itu bukan hanya berpegang teguh dengan lafaznya saja, tapi kita harus ingat bahwasanya dia punya makna. Maka kita harus berpegang teguh dengan makna yang benar/pemahaman yang benar dari Al-Qur’an dan hadits tersebut.

Tidak cukup seseorang hanya mengandalkan paham makna ayat atau hadits ini karena sudah mengetahui bahasa Arab, kemudian tidak melihat bagaimana para sahabat raḍiyallāhu ta‘ālā ‘anhum memahami Al-Qur’an dan hadits. Dia tidak meneladani para sahabat di dalam melaksanakan Al-Qur’an dan hadits — tidak boleh yang demikian — karena kalau dia hanya mengandalkan pemahaman dia dan kemampuan dia dalam bahasa Arab atau membaca terjemahan Al-Qur’an dan hadits, kemudian berpaling dari pemahaman para sahabat, maka inilah awal dari kesesatan.

Tidaklah menyimpang kelompok yang menyimpang dan tidaklah sesat kelompok yang sesat kecuali karena mereka berpaling dari pemahaman yang benar, berpaling dari meneladani para sahabat raḍiyallāhu ta‘ālā ‘anhum. Di depan mereka ada Al-Qur’an dan hadits, tapi kalau mereka mencukupkan itu dan tidak mau meneladani para sahabat raḍiyallāhu ‘anhum di dalam menjalankan Al-Qur’an dan hadits tadi, maka ini adalah kesesatan.

Kita harus berpegang teguh dengan lafaznya dan maknanya, bukan hanya lafaznya saja. Kalau berpegang teguh dengan lafaznya maka yang ada adalah kesesatan. Contoh, misalnya ada seorang yang mengikuti sebuah aliran sesat — yang jelas itu adalah aliran sesat — dia mengatakan bahwasanya tidak wajib untuk shalat/beribadah karena sudah yakin tentang Allāh: Allāh itu ada, Allāh menciptakan alam semesta ini, dan seyakin-yakinnya. Jika sudah yakin maka tidak perlu lagi sujud, rukuk, ke masjid berjamaah, dan berpuasa di bulan Ramadan.

Kalau ada yang mengatakan, “Apa dalilnya?” Ada dalilnya di dalam Al-Qur’an. Allāh ﷻ berfirman:

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ
QS Al-Hijr: 99

“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu keyakinan.”

Mungkin dia membaca terjemahan dan mendapatkan di sana: “Sembahlah Allāh/Tuhanmu sampai datang kepadamu al-yaqīn.” Kalau yang menerjemahkan ini tidak baik memang bisa menyesatkan. Oleh karenanya, kita harus mencari terjemahan yang baik dan bisa dipercaya.

Ini menunjukkan bahwasanya kita beribadah sampai datang keyakinan. Kalau sudah yakin, tidak perlu beribadah. Apakah dikatakan berarti berpegang teguh dengan Al-Qur’an karena ada dalilnya? Apakah kita katakan demikian berarti dia berada di atas jalan yang lurus? Kita katakan: tidak, karena itu hanya berpegang teguh dengan lafaznya saja, sementara yang diminta dari kita adalah berpegang teguh dengan lafaz dan maknanya. Apakah maknanya demikian?

Apakah maknanya, “Sembahlah Allāh sampai datang kepadamu keyakinan”?

Dari mana kita mengetahui makna yang benar dari ayat ini? Dari pemahaman sahabat raḍiyallāhu ‘anhum. Bukankah para sahabat raḍiyallāhu ‘anhum telah menjelaskan makna al-yaqīn di dalam ayat ini? Dan sudah disampaikan oleh murid para sahabat yang mereka menimba ilmu dari para sahabat raḍiyallāhu ‘anhum. Apa kata mereka dan apa yang mereka tafsirkan, itu yang kita ambil. Jika kita membuka buku-buku tafsir yang disebutkan dengan sanadnya sampai kepada para sahabat Nabi ﷺ, seperti Tafsir ath-Thabari, maka akan kita dapatkan makna ayat ini dengan baik.

Yang dimaksud dengan al-yaqīn di sini adalah al-maut (kematian). Orang-orang Arab menamakan kematian dengan al-yaqīn karena ia pasti terjadi.

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ
(QS Āli ‘Imrān: 185)

“Setiap jiwa akan merasakan kematian.”

قُلْ إِنَّ ٱلْمَوْتَ ٱلَّذِى تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُۥ مُلَٰقِيكُمْ
QS Al-Jumu‘ah: 8

“Katakanlah, sesungguhnya kematian yang kalian lari darinya itu akan menemui kalian.”

Ini adalah sesuatu yang yakin. Tidak ada di antara kita yang bisa lepas dari kematian. Masing-masing dari kita akan merasakan kematian tersebut, baik menghendaki atau tidak, pasti akan merasakan yang dinamakan al-maut.

“Sembahlah Allāh sampai datang kepadamu kematian” maksudnya adalah istiqamahlah menyembah Allāh, bukan dibatasi dengan sampai 40–50 tahun, tapi sampai meninggal dunia. Maka sembahlah Allāh ﷻ — ini yang dimaksud.

Sehingga ketika Nabi ﷺ mendengar kematian saudara sepersusuan beliau, yaitu ‘Utsmān ibn Mas‘ūd, beliau mengatakan:
“Adapun ini (‘Utsmān ibn Mas‘ūd) yang dikuburkan di Baqi‘, maka ini telah datang kepadanya al-yaqīn, yaitu kematian.”

Dan di dalam Al-Qur’an, Allāh ﷻ selain dalam ayat tadi juga menggunakan al-yaqīn dengan maknanya yaitu kematian.

Sebagaimana firman Allāh yang menyebutkan orang-orang kafir masuk ke dalam neraka karena mereka tidak shalat:

مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ

“Apa yang memasukkan kalian ke dalam neraka Saqar?”

قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ
وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ الْمِسْكِينَ
وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ الْخَائِضِينَ
وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوْمِ الدِّينِ
حَتَّىٰ أَتَانَا الْيَقِينُ
(QS Al-Muddatsir: 42–47)

“(Mereka menjawab:) Kami dahulu tidak shalat, tidak memberi makan orang miskin, kami berbicara tentang sesuatu yang isinya pendustaan terhadap Al-Qur’an, kemudian kami mendustakan hari pembalasan ḥattā atānā al-yaqīn (sampai datang kepada kami keyakinan).”

Apa yang dimaksud di sini? Adalah kematian.

Kalau kita kembali kepada pemahaman para sahabat, kita akan selamat dari kesesatan. Tetapi kalau kita tidak kembali kepada pemahaman para sahabat, maka yang terjadi adalah kesesatan.

Kalau kita lihat aliran-aliran sesat yang ada, mereka juga punya dalil dari Al-Qur’an dan hadits. Antum sebutkan aliran apa saja, maka mereka bisa mendatangkan dalil dari Al-Qur’an dan hadits. Orang Jabriyyah, Qadariyyah, Mu’tazilah, Jahmiyyah, Murji’ah, dan aliran-aliran yang ada di zaman sekarang, mereka bisa mendatangkan dalil-dalil, yaitu dalil-dalil yang umum mungkin. Atau terkadang bisa mendatangkan hadits, tapi haditsnya ternyata lemah, atau dia sahih tapi tidak sesuai dengan pemahaman yang benar.

Mereka bisa membaca Al-Qur’an dan mencari-cari kira-kira apa yang bisa dijadikan dalil tentang bolehnya memberontak kepada pemerintah misalnya, atau bolehnya melakukan demonstrasi misalnya, mereka juga bisa mendatangkan. Tapi apakah itu pemahaman yang dipahami oleh para sahabat dan juga para salaf? Kalau hanya sekadar bisa mendapatkan dalilnya, iya.

Jangankan mereka, orang-orang Nasrani bisa mendatangkan dalil dari Al-Qur’an tentang benarnya akidah trinitas yang mereka yakini. Mereka mungkin mengatakan kepada orang-orang Islam:
“Bukankah Allāh di dalam Al-Qur’an sering mengatakan إِنَّا (sesungguhnya Kami)? Apa makna ‘Kami’? Satu, dua, atau lebih? ‘Kami’ adalah banyak/jamak, berarti ini menunjukkan bahwasanya Allāh itu, Tuhan itu ada tiga: Tuhan Bapa, Tuhan Anak, dan bunda Maria.”

Mereka juga bisa mendatangkan dalil dari Al-Qur’an. Kalau kita hanya berpegang dengan lafadz saja, itulah yang terjadi—yang terjadi adalah kesesatan. Adapun kalau kita kembali kepada pemahaman para salaf, kita mengetahui bahwasanya orang Arab ketika mereka mengatakan “kami” belum tentu maknanya adalah jamak. Terkadang mereka menggunakan “kami” dan dia satu orang. Tapi ini menunjukkan tentang kebesaran, menunjukkan tentang pengagungan, dan itu dipakai di dalam bahasa Arab dan mungkin di dalam bahasa kita.

Terkadang kita mengatakan kepada orang lain: “Kami telah mengirim,” padahal yang mengirim cuma satu orang tapi dia mengatakan “kami”. “Kami telah mengadakan pengajian,” padahal yang mengadakan/mengurus cuma satu orang. Ini menunjukkan membesarkan atau mengagungkan.

Kalau kita kembali kepada pemahaman salaf, selamatlah kita dari kesesatan. Makanya Imam Ahmad menjadikan ini yang pertama. Inilah sebab kesesatan aliran-aliran yang menyimpang dari jalan yang lurus karena mereka tidak kembali kepada pemahaman salaf dalam memahami Al-Qur’an dan hadits.

Orang-orang Mu’tazilah yang ada di zaman Imam Ahmad ibn Hanbal, mereka juga bisa mendatangkan ayat Al-Qur’an untuk menunjukkan tentang kebenaran manhaj mereka dan kebenaran ajaran mereka. Tapi lihat bagaimana mereka dibantah oleh ulama-ulama Ahlusunah sehingga terjadi perdebatan antara ulama Ahlusunah dengan mereka, seperti yang terjadi antara Al-Adzromi dengan seorang tokoh Mu’tazilah yaitu Ahmad ibn Abi Du’ad dalam perdebatan yang masyhur di antara keduanya.

Di situ Al-Adzromi mengatakan kepada Ahmad ibn Abi Du’ad:
“Apakah apa yang engkau dakwakan ini—bahwasanya Al-Qur’an adalah makhluk—ini dulu diketahui oleh Rasulullāh ﷺ, Abu Bakar, Umar, Utsman, dan juga Ali? Apakah mereka tahu atau tidak?”

Kemudian dia mengatakan:
“Tidak tahu.”

“Bagaimana engkau mengetahui sesuatu sementara mereka—Rasulullāh ﷺ dan para Khulafā’ur Rāsyidīn—tidak mengetahuinya? Apakah engkau merasa lebih baik daripada Rasulullāh dan para Khulafā’ur Rāsyidīn?”

Akhirnya dia berpikir, kemudian dia mengatakan:
“Oh, tidak, mereka tahu kok.”

“Kalau mereka tahu, apakah mereka menyampaikan ini kepada umat?” atau mengatakan: “Apakah luas bagi mereka untuk tidak menyampaikan ini kepada manusia?”

Karena kalau kita melihat dalil, tidak ada dikatakan oleh Nabi bahwasanya Al-Qur’an itu adalah makhluk, dan tidak pernah ada Khulafā’ur Rāsyidīn yang mengatakan Al-Qur’an itu adalah makhluk.

“Apakah luas bagi mereka untuk tidak berbicara?”
Kemudian dia mengatakan:
“Ya, luas bagi mereka untuk tidak berbicara dan tidak mendakwakan ini kepada manusia.”

Kemudian Al-Adzromi mengatakan:
“Apakah tidak luas bagimu apa yang luas bagi mereka? Kenapa mereka tidak mendakwakan ini, kemudian engkau justru malah memaksa manusia untuk mengatakan Al-Qur’an itu adalah makhluk?”

Akhirnya dia tidak bisa berbicara dan tidak bisa menjawab ucapan yang dikatakan oleh Al-Adzromi ini. Ini menunjukkan bagaimana para salaf dahulu mereka berpegang teguh dengan pemahaman para sahabat raḍiyallāhu ta‘ālā ‘anhum.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

image_pdfimage_print

5 thoughts on “Halaqah 10 | Berpegang Teguh Kepada Ajaran Shahabat & Meneladani Mereka bag 4”

  1. Assalamu alaikum warahmatullah wabarakatuh
    Kak, ahsanallahu ilaik. Afwan, al mudatsir-nya ayat 42-47
    Jazakumullah khair resumenya, saya murajaah dengan ini.
    Barakallahu fiikum

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top