Halaqah 10 : Buah dari Iman kepada Nama dan Sifat Allāh ﷻ

🌍 BimbinganIslam.com
🎙 Ustadz Afifi Abdul Wadud, BA حفظه لله تعالى
📗 Kitāb Syarhu Ushul Iman Nubdzah Fīl ‘Aqīdah (شرح أصول الإيمان نبذة في العقيدة)
📝 Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ
〰〰〰〰〰〰〰

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
إن الحمد الله وصلاة وسلام على رسول الله وعلى آله واصحابه و من والاه، و لا حول ولا قوة إلا بالله اما بعد

Sahabat BiAS, kaum muslimin rahīmani wa rahīmakumullāh.

In syā Allāh kita melanjutkan pembahasan dari Risalah Syarah Ushul Iman Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullāhu ta’āla.

Kita masih berbicara tentang mengimani Allāh Subhānahu wa Ta’āla, bahwa mengimani Allāh, ada beberapa hal yang wajib kita imani tentang Allāh.

⑴ Mengimani tentang wujudnya Allāh.
Dan ini telah kita lewati pembahasannya, mengimani tentang wujudnya Allāh bisa kita tetapkan melalui fithrah, melalui akal, melalui syariat dan juga melalui kenyataan yang ada.

⑵ Mengimani tentang Rububiyyah Allāh.
Bahwa ini merupakan keimanan yang diimani oleh seluruh manusia bahkan iblis dan Fir’aun mengimani rububiyyah Allāh. Bahwasanya Allāh sang pencipta, Allāh Subhānahu wa Ta’āla sang pemelihara alam semesta.

Sehingga mengimani Rububiyyah Allāh semata belum mengantarkan dia kepada iman yang hakiki, sampai dia mewujudkan yang ketiga yaitu iman kepada Uluhiyyah Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

⑶ Mengimani Uluhiyyah Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Dimana seorang hamba tertuntut untuk menunaikan kewajiban secara totalitas, mempersembahkan semua ibadahnya hanya kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Sehingga dia tidak musyrik tidak menyekutukan Allāh dengan memalingkan ibadahnya kepada apa dan siapa pun selain Allāh Subhānahu wa Ta’āla

⑷ Mengimani nama dan sifat Allāh Subhānahu wa Ta’āla, dan ini merupakan dasar yang sangat penting dalam membangun penghambaan kita kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Ketika kita mengimani Allāh dengan cara yang benar tentang wujud Allāh, Rububiyyah Allāh, Uluhiyyah Allāh, Asma dan sifat Allāh, maka akan membuahkan beberapa buah yang sangat indah dalam mengimani Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

• Buah Mengimani Allāh Subhānahu wa Ta’āla

تحقيق توحيد الله تعالى

*Poin Pertama* | Mewujudkan tauhīd yang benar kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

بحيث لا يتعلق بغيره رجاء ولا خوف ولا يعبد غيره

Di mana seorang akan mewujudkan tauhīd yang benar, mewujudkan tauhīd yang sesungguhnya, di mana dia tidak lagi bergantung kecuali hanya kepada Allāh, tidak lagi dia berharap kecuali kepada Allāh, tidaklah dia takut kecuali kepada Allāh, tidaklah dia beribadah kecuali kepada Allāh dan tidak beribadah kepada selain Allāh Ta’āla.

Tauhīd ini tidak akan bisa kita wujudkan kecuali kita telah mewujudkan iman kepada Allāh dalam hal wujudnya Allāh, Rububiyyah-Nya Allāh, Uluhiyyah-Nya Allāh dan Asma dan sifat-Nya.

Orang yang sekedar mewujudkan iman kepada wujudnya Allāh, belum bertauhīd.

Orang yang hanya mengimani bahwasanya Allāh adalah sang pencipta, maka belum dikatakan bertauhīd.

Lalu dikatakan bertauhīd, ketika seseorang secara totalitas mempersembahkan segala amal Ubudiyyahnya kepada Allāh saja. Bukan sekedar mengakui siapa itu Allāh. Tetapi tauhīd itu ketika seorang dia telah mengimani siapa itu Allāh.

Allāh adalah pemilik Rububiyyah dan pemilik kesempurnaan sifat. Setelah itu dia totalitas mempersembahkan ibadah hanya kepada Allāh dan tidak mempersembahkan ibadah apapun kepada apapun dan kepada siapapun.

Inilah makna yang terkandung di dalam sebuah ayat Allāh,

فَلَا تَدْعُوا۟ مَعَ ٱللَّهِ أَحَدًۭا

_”Maka jangan sekali-kali kamu berdoa kepada selain Allāh siapapun”_

(QS. Al-Jinn: 18)

Di sini ada dua poin penting:

① Falā tad’u (فَلَا تَدْعُوا۟) artinya jangan mempersembahkan ibadah jenis apapun.

Jenis apapun ibadah itu tidak boleh dipersembahkan kepada selain Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Seandainya ada seribu jenis ibadah, lalu ada satu ibadah yang kita persembahan kepada selain Allāh namanya musyrik. Namanya kita tidak mentauhīdkan Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Tauhīd itu mempersembahkan totalitas ibadah hanya kepada Allāh Ta’āla.

② Apapun dan siapapun tidak boleh kita berikan kepadanya ibadah. Walaupun itu malaikat yang terdekat, nabi yang diutus oleh Allāh Ta’āla, orang-orang shalih, atau jin dan semisalnya.

Maka apapun dan siapapun tidak dibedakan antara mempersembahkan ibadah kepada malaikat atau kepada batu, kepada nabi atau kepada kuburan. Sama saja.

Orang yang mereka mempersembahkan ibadah kepada siapapun selain Allāh namanya musyrik. Baik itu malaikat atau kuburan, nabi atau batu, jin atau pohon sama saja. Tidak dibedakan.

Ini buah yang pertama, ketika kita mengimani Allāh dengan cara yang benar kita akan betul-betul mewujudkan tauhīd yang benar.

*Poin Kedua* | Bahwa kecintaan kita dan pengagungan kita kepada Allāh Ta’āla tidak akan bisa terwujud dengan sebenarnya kecuali kita memahami nama dan sifat Allāh Ta’āla. Memiliki, memahami tentang keindahan nama-nama Allāh dan kesempurnaan sifat-sifat Allāh Ta’āla.

√ Orang semakin paham siapa Allāh maka semakin mencintai Allāh, semakin mengagungkan Allāh. Maka ada istilah, “Tak kenal maka tak sayang”, tidak kenal maka dia tidak sayang.

√ Orang yang tidak mengenal Allāh, tidak akan tumbuh kecintaan yang sempurna kepada Allāh Ta’āla.

Orang yang tidak mengenal Allāh, maka tidak akan tumbuh rasa pengagungan kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Maka di sinilah kewajiban kita mengimani, mempelajari nama-nama dan sifat Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Ada buku yang sangat bagus yang mengantarkan kita memahami nama dan sifat Allāh, lalu bagaimana kita mewujudkan ibadah kita kepada Allāh dengan nama dan sifat itu.

Silahkan baca dan simak kitab Syaikh Abdurrazaq “Fiqih Asmaul Husna” dan alhamdulillāh sudah ada terjemahannya.

Silahkan dibaca, maka itu sedikit banyak akan menuntun kita memahami nama-nama dan sifat Allāh, lalu bagaimana kita mewujudkan ibadah kepada Allāh sesuai dengan kandungan nama dan sifat-sifat Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

تحقيق عبادته بفعل ما أمر به واجتناب ما نهى عنه

*Poin Ketiga* | Orang yang mereka mengenal nama-nama dan sifat Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Orang yang mengenal Allāh dengan benar, mengimani Allāh dengan benar, dia akan mewujudkan penghambaan yang terbaik kepada Allāh Ta’āla.

Mewujudkan penghambaan kepada Allāh dengan melakukan semua yang diperintahkan Allāh, menjauhi semua yang dilarang oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Penghambaan kita kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla seperti ini, itu sangat berkaitan dengan sejauh mana kita mengenal siapa itu Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Sehingga tanpa kita benar-benar mengenal siapa itu Allāh, dan kemudian mengimani Allāh sesuai dengan apa yang telah Allāh ajarkan kepada kita, tidak akan muncul penghambaan kepada Allāh yang sesungguhnya.

Oleh karena itulah para salaf kita di antaranya mereka sampai pada tingkat bisa menikmati segala macam amal ibadah, kelezatan ibadah, kelezatan dia merasakan surga dunia bagi dia, dengan cara mengenal Allāh Ta’āla.

Maka seorang salaf mengatakan:

مساكين أهل الدنيا

Yang dikatakan orang yang betul-betul miskin di kalangan ahli dunia.

Siapa itu?

Mereka adalah:

خرجوا من الدنيا ولم يذقوا طيب نعيمها

Orang yang dikatakan miskin, layak dikasihani dari kalangan ahli dunia bukan orang tidak punya perabot, bukan orang yang tidak punya uang, bukan orang yang tidak punya jabatan tapi yang layak dikasihani, betul-betul miskin adalah orang yang mereka sampai matinya tidak merasakan sesuatu yang paling lezat yang paling nikmat alias tidak merasakan surga dunia.

Padahal manusia semuanya ingin mengejar kebahagiaan, mendapatkan yang paling lezat paling nikmat, sehingga dia kejar harta dia kejar jabatan, dia kejar kekuasaan dan ternyata tidak mendapat semuanya karena salah yang mereka kejar.

Ketika ditanyakan, “Apa yang paling lezat yang paling nikmat itu?”

Ia katakan :
_(terjemahannya…)_
Yaitu hati yang mengenal Allāh, hati yang mencintai Allāh, hati yang bisa merasa nyaman dan sejuk bersanding dengan Allāh. Inilah orang yang betul-betul meraih kebahagiaan.

Hidupnya menjadi surga dunia dengan mengenal Allāh Ta’āla, dia bisa mewujudkan penghambaan yang sempurna dan meraih buahnya yang sangat istimewa.

Pendengar sahabat BiAS, kaum muslimin rahīmani wa rahīmakumullāh.

Inilah di antara buah-buah indah ketika seorang hamba mengimani Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Semoga bermanfaat.

و صلى الله عليه وسلم الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

________________

image_pdfimage_print

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top