Halaqah 105 | Kandungan Bab 20

Kitab: Kitabut Tauhid
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-105 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Kitābut-Tauhīd alladzhī huwa haqqullāhi ʿalal ʿabīd yang ditulis oleh Al-Imām al-Mujaddid Muhammad ibn ʿAbdil Wahhāb ibn Sulaimān At-Tamīmī rahimahullāh.

Beliau mengatakan:

فِيهِ مَسَائِلُ

Di dalamnya ada beberapa permasalahan.

الْأُولَى: مَا ذَكَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي مَنْ بَنَى مَسْجِدًا يُعْبَدُ اللَّهُ فِيهِ عَلَى قَبْرِ رَجُلٍ صَالِحٍ وَلَوْ صَحَّتْ نِيَّةُ الْفَاعِلِ

1. Apa yang disebutkan oleh Rasulullāh ﷺ tentang orang yang membangun masjid yang digunakan untuk menyembah Allāh ﷻ di atas kuburan orang yang shalih, meskipun niatnya adalah benar.

Meskipun niatnya adalah benar, yaitu ingin beribadah kepada Allāh ﷻ atau ingin semangat dalam beribadah kepada Allāh ﷻ, tapi karena salah caranya dan melakukan sebuah cara yang bisa menggiring dia kepada kesyirikan, akhirnya justru mendapatkan laknat. Dia adalah orang yang paling jelek. Ini menunjukkan juga bahwasanya niat yang baik tidak cukup, harus dengan cara yang benar sesuai dengan cara Rasulullāh ﷺ.

الثَّانِيَةُ: النَّهْيُ عَنِ التَّمَاثِيلِ وَغِلَظُ الْأَمْرِ

2. Larangan untuk membuat patung dan kerasnya perkara ini. Karena bisa menyebabkan terjadinya kesyirikan.

الثَّالِثَةُ: الِاعْتِبَارُ فِي مُبَالَغَتِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي ذَلِكَ، كَيْفَ بَيَّنَ لَهُمْ هَذَا أَوَّلًا، ثُمَّ قَبْلَ مَوْتِهِ بِخَمْسٍ قَالَ مَا قَالَ، ثُمَّ لَمَّا كَانَ فِي النَّزْعِ لَمْ يَكْتَفِ بِمَا تَقَدَّمَ

3. Kita mengambil pelajaran dari bagaimana Nabi ﷺ sungguh-sungguh di dalam masalah ini.

Lihat, pertama Beliau ﷺ menjelaskan, menjelaskan kepada mereka perkara ini. Kemudian 5 hari sebelum Beliau ﷺ meninggal dunia, ternyata Beliau ﷺ mengucapkan seperti yang tadi diucapkan:

أَلَا وَإِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ كَانُوا يَتَّخِذُونَ قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ، أَلَا فَلَا تَتَّخِذُوا الْقُبُورَ مَسَاجِدَ، فَإِنِّي أَنْهَاكُمْ عَنْ ذَلِكَ

Beliau ﷺ ulang lagi. Tidak cukup dengan penjelasan yang pertama, tapi menjelang Beliau ﷺ meninggal dunia karena ini sudah mau praktek, Beliau ﷺ mengingatkan lagi. Bahkan diulang-ulang lagi, Beliau ﷺ mengatakan ini adalah perilaku orang-orang Yahudi dan Nashara dan janganlah kalian melakukan karena aku melarang yang demikian.

Kemudian ketika Beliau ﷺ fin-naza’ yaitu sudah menjelang sakaratul maut, ternyata Beliau ﷺ masih mengingatkan. Beliau ﷺ mengatakan:

لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ

Tidak mencukupkan dengan penjelasan yang pertama dan penjelasan yang kedua. Nah ini menunjukkan tentang besarnya perkara ini.

الرَّابِعَةُ: نَهْيُهُ عَنْ فِعْلِهِ عِنْدَ قَبْرِهِ قَبْلَ أَنْ يُوجَدَ الْقَبْرُ

4. Larangan Beliau ﷺ untuk melakukan ini di samping kuburan Beliau ﷺ sebelum ada kuburan.

Jadi sebelum Nabi ﷺ meninggal dunia dan ada kuburan Beliau ﷺ ternyata Beliau ﷺ sudah melarang yang demikian. Dan larangan menunjukkan tentang dikhawatirkan terjadinya. Ini kalau kuburan Beliau ﷺ saja Beliau ﷺ melarang lalu bagaimana dengan kuburan yang lain.

الْخَامِسَةُ: أَنَّهُ مِنْ سُنَنِ الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى فِي قُبُورِ أَنْبِيَائِهِمْ

5. Membangun tempat ibadah di atas kuburan orang shalih ini adalah termasuk sunnahnya (tata caranya) orang-orang Yahudi dan Nashara.

Maka jangan kita mengikuti cara mereka. Dan Nabi ﷺ mengatakan man tashabbaha bi qaumin fahuwa minhum, barangsiapa yang menyerupai sebuah kaum maka dia termasuk golongan kaum tersebut. Jangan kita tasyabbuh dengan orang-orang Yahudi dan Nashara.

السَّادِسَةُ: لَعْنُهُ إِيَّاهُمْ عَلَى ذَلِكَ

6. Laknat Nabi ﷺ kepada orang-orang Yahudi dan Nashara karena mereka menjadikan kuburan nabi mereka sebagai masjid.

Jangan kita membiarkan diri kita masuk di dalam orang-orang yang dilaknat oleh Nabi ﷺ karena sebab melakukan persis seperti yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi dan Nashara.

السَّابِعَةُ: أَنَّ مُرَادَهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَحْذِيرُنَا عَنْ قَبْرِهِ

7. Bahwasanya maksud ucapan Nabi ﷺ laknat Allāh ﷻ atas Yahudi dan Nashara maksudnya bukan hanya sekedar mengabarkan bahwa mereka itu dilaknat, tidak, tapi maksudnya lebih dalam daripada itu, ingin mengingatkan kita umatnya supaya jangan melakukan itu terhadap kuburan Beliau ﷺ.

Ini maksud Beliau ﷺ. Karena ini diucapkan menjelang Beliau ﷺ meninggal dunia. Jadi kalau orang memahami maka dia akan mengetahui bahwasanya maksud Nabi ﷺ adalah jangan sampai kita melakukan seperti yang dilakukan oleh orang Yahudi dan Nashara terhadap kuburan Beliau ﷺ.

الثَّامِنَةُ: الْعِلَّةُ فِي عَدَمِ إِبْرَازِ قَبْرِهِ

8. Penyebutan sebab kenapa tidak disingkap dan dibuka kuburan Nabi ﷺ.

Sebabnya yaitu karena khawatir orang akan mendekat ke kuburan Beliau ﷺ dan beribadah di sekitar kuburan Nabi ﷺ yang akhirnya nanti dikhawatirkan akan menjadi sebab disembahnya kuburan Nabi ﷺ.

التَّاسِعَةُ: مَعْنَى اتِّخَاذِهَا مَسْجِدًا

9. Maksud dari menjadikan kuburan sebagai masjid.

Ada dua. Yang pertama adalah membangun di atas kuburan. Kemudian yang kedua sekedar melakukan ibadah di sekitar kuburan tadi itu sudah dinamakan menjadikan itu sebagai masjid karena masjid maknanya terkadang bangunan, terkadang adalah tempat untuk sujud meskipun tidak ada bangunannya.

الْعَاشِرَةُ: أَنَّهُ قَرَنَ بَيْنَ مَنِ اتَّخَذَهَا وَبَيْنَ مَنْ تَقُومُ عَلَيْهِمُ السَّاعَةُ فَذَكَرَ الذَّرِيعَةَ إِلَى الشِّرْكِ قَبْلَ وُقُوعِهِ مَعَ خَاتِمَتِهِ

10. Beliau ﷺ menggabungkan antara orang yang menjadikan kuburan sebagai masjid dengan orang yang dia mendapatkan atau mengalami tiupan sangkakala yang pertama.

Dijadikan satu, mereka adalah orang-orang yang paling jelek. Dan orang-orang yang mendapatkan tiupan sangkakala yang pertama adalah orang-orang kuffar, ya, orang-orang kuffar yang mereka adalah orang yang paling jelek. Orang yang menjadikan kuburan sebagai masjid juga termasuk sejelek-jelek manusia. Meskipun kita tidak mengatakan dia kafir, tapi ketika Beliau ﷺ menggabungkan di antara keduanya ini menunjukkan betapa rendahnya kedudukan orang tersebut.

Maka Beliau ﷺ menyebutkan dzari’ah apa yang menyebabkan seseorang terjerumus ke dalam kesyirikan sebelum terjadinya dan menyebutkan juga khawatimatihi, akhir dari kehidupan atau akhir dari orang yang menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah.

الْحَادِيَةَ عَشْرَةَ: ذِكْرُهُ فِي خُطْبَتِهِ قَبْلَ مَوْتِهِ بِخَمْسٍ، الرَّدَّ عَلَى طَائِفَتَيْنِ اللَّتَيْنِ هُمَا أَشَرُّ أَهْلِ الْبِدَعِ، بَلْ أَخْرَجَهُمْ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ مِنَ الثِّنْتَيْنِ وَالسَّبْعِينَ فِرْقَةً، وَهُمُ الرَّافِضَةُ وَالْجَهْمِيَّةُ، وَبِسَبَبِ الرَّافِضَةِ حَدَثَ الشِّرْكُ وَعِبَادَةُ الْقُبُورِ، وَهُمْ أَوَّلُ مَنْ بَنَى عَلَيْهَا الْمَسَاجِدَ

11. Beliau ﷺ menyebutkan di dalam khutbah Beliau ﷺ lima hari sebelum meninggal dunia bantahan terhadap dua kelompok sekaligus yang mereka adalah sejelek-jelek ahlul bida’.

Ahlul bida’ ini bertingkat-tingkat. Yang paling jelek adalah dua kelompok ini. Bal akhrajahum ba’dhu ahlis salaf minats tsintaini was sab’ina firqah, bahkan sebagian salaf mengeluarkan dua kelompok ini dari 72 golongan. Karena 72 golongan dikatakan oleh Nabi ﷺ mereka adalah kulluhum fin nar mereka masuk neraka, ini masih umat Islam. Ada sebagian salaf yang tidak memasukkan dua golongan ini dalam 72. Jadi masuk 72 golongan yang menyimpang saja mereka tidak, menunjukkan tentang parahnya penyimpangan mereka. Wahumur rafidhah wal jahmiyyah. Keduanya adalah orang-orang Rafidhah dan Jahmiyyah.

Karena Nabi ﷺ di dalam khutbahnya 5 hari sebelum Beliau ﷺ meninggal dunia melarang untuk membangun masjid di atas kuburan. Sementara orang-orang Rafidhah merekalah orang-orang yang pertama kali mensunnahkan perbuatan ini. Mereka lakukan ini terhadap kuburan Husein dan kuburan orang yang dianggap itu adalah imam mereka. Kemudian bantahan terhadap Jahmiyyah karena Jahmiyyah mengingkari bahwa Ibrahim adalah khalilullāh. Dan mereka mengingkari sifat mahabbah, sementara kalau Allāh ﷻ menjadikan Ibrahim sebagai khalil berarti Allāh ﷻ punya sifat mahabbah. Dan ucapan Nabi ﷺ tadi fa innallāha qadittakhadzani khalilan menunjukkan bahwasanya Allāh ﷻ memiliki sifat mahabbah, sehingga ini bantahan terhadap orang Rafidhah dan Jahmiyyah. Dan bi sababir rafidhah hadatsasy syirk wa ibadatul qubur wahum awwalu man bana alaihal masajid, dengan sebab orang-orang Rafidhah terjadilah kesyirikan dan peribadatan terhadap kuburan dan merekalah orang yang pertama kali membangun masjid di atas kuburan.

الثَّانِيَةَ عَشْرَةَ: مَا بُلِيَ بِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ شِدَّةِ النَّزْعِ

12. Apa yang diuji dengannya Rasulullāh ﷺ berupa sakitnya an-naza’ yaitu sakitnya orang yang akan menghadapi sakaratul maut.

الثَّالِثَةَ عَشْرَةَ: مَا أُكْرِمَ بِهِ مِنَ الْخُلَّةِ

13. Tentang keutamaan yang Allāh ﷻ berikan kepada Nabi ﷺ berupa khullah yaitu dijadikan sebagai seorang kekasih.

الرَّابِعَةَ عَشْرَةَ: التَّصْرِيحُ بِأَنَّهَا أَعْلَى مِنَ الْمَحَبَّةِ

14. Penjelasan secara gamblang bahwasanya khullah ini (kekasih ini) lebih tinggi daripada hanya sekedar mahabbah.

الْخَامِسَةَ عَشْرَةَ: التَّصْرِيحُ بِأَنَّ الصِّدِّيقَ أَفْضَلُ الصَّحَابَةِ

15. Penjelasan bahwasanya Abu Bakar Ash-Shiddiq ini adalah sebaik-baik sahabat.

Beliau adalah sahabat yang paling afdhal sampai Nabi ﷺ seandainya diperbolehkan untuk mengambil seorang kekasih Beliau ﷺ akan menjadikan Abu Bakar sebagai kekasihnya.

السَّادِسَةَ عَشْرَةَ: الْإِشَارَةُ إِلَى خِلَافَتِهِ

16. Di dalamnya ada isyarat tentang siapa yang menjadi khalifah setelah Nabi ﷺ.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

image_print

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top