Kitab: Kitabut Tauhid
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله
Halaqah yang ke-89 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Kitābut-Tauhīd alladzhī huwa haqqullāhi ʿalal ʿabīd yang ditulis oleh Al-Imām al-Mujaddid Muhammad ibn ʿAbdil Wahhāb ibn Sulaimān At-Tamīmī rahimahullāh.
Masuk kita pada bab yang ke-17, yaitu
بَابُ الشَّفَاعَةِ
Bab tentang asy-syafā‘ah.
Kemudian beliau mendatangkan ucapan Abul Abbas, yaitu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.
وَقَالَ أَبُو الْعَبَّاسِ: نَفَى اللَّهُ عَمَّا سِوَاهُ كُلَّ مَا يَتَعَلَّقُ بِهِ الْمُشْرِكُونَ
Berkata Abul Abbas: Allāh ﷻ menafikan dari selain-Nya segala sesuatu yang menjadi ketergantungan orang-orang musyrikin.
Orang musyrik kenapa dia menyembah kepada selain Allāh? Terkadang mungkin meyakini bahwasanya dia yang memiliki, atau dia sekutu bagi Allāh, atau dia menolong Allāh, atau ketergantungan yang keempat meyakini bahwasanya mereka ini yang memberikan syafaat di sisi Allāh tanpa izin Allāh. Nah ini dinafikan semuanya oleh Allāh ﷻ di dalam Al-Qur’an tadi.
فَنَفَى أَنْ يَكُونَ لِغَيْرِهِ مُلْكٌ
Maka Allāh ﷻ menafikan dari selain-Nya kepemilikan. Karena Allāh mengatakan lā yamlikūna mitsqāla dzarrah, mereka tidak memiliki meskipun hanya sebesar dzarrah.
أَوْ قِسْطٌ مِنْهُ
atau bagian darinya. Artinya mereka bukan partner dan sekutu bagi Allāh.
أَوْ يَكُونَ عَوْنًا لِلَّهِ
dan Allāh menafikan mereka menolong Allāh. Artinya mereka tidak menolong Allāh sama sekali. Mereka sama sekali tidak menolong Allāh dalam menciptakan langit dan bumi. Mereka adalah makhluk di antara makhluk-makhluk Allāh.
وَلَمْ يَبْقَ إِلَّا الشَّفَاعَةُ، فَبَيَّنَ أَنَّهَا لَا تَنْفَعُ إِلَّا لِمَنْ أَذِنَ لَهُ الرَّبُّ
Dan tidak tersisa kecuali syafaat. Tadi disebutkan tiga, kemudian yang keempat adalah tentang syafaat. Kemudian Allāh menjelaskan, fa bayyana annahā lā tanfa‘u illā liman adzina lahur-Rabb. Ternyata Allāh menjelaskan bahwasanya syafaat tadi tidak akan bermanfaat kecuali bagi orang yang Allāh izinkan. Karena sebagian musyrikin ada yang bergantung kepada selain Allāh, dia ini nanti yang memberikan syafaat, sebagaimana tadi hā’ulā’i syufa‘ā’unā ‘indallāh. Ternyata Allāh jelaskan di sini bahwasanya tidak ada yang memberikan syafaat di hari kiamat kecuali setelah diizinkan oleh Allāh.
كَمَا قَالَ: وَلَا يَشْفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ارْتَضَى
Sebagaimana firman Allāh: Dan mereka (yaitu para malaikat) tidak memberikan syafaat kecuali bagi orang yang Allāh ridhai. Izin dari Allāh untuk malaikat-malaikat dan ridha Allāh ﷻ untuk orang yang diberikan syafaat.
فَهَذِهِ الشَّفَاعَةُ الَّتِي يَظُنُّهَا الْمُشْرِكُونَ هِيَ مُنْتَفِيَةٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، كَمَا نَفَاهَا الْقُرْآنُ
Maka syafaat ini yang disangka oleh orang-orang musyrikin itu dinafikan di hari kiamat, Allāh menafikan, Allāh mengingkari. Tidak ada syafaat yang jenis seperti ini, yaitu syafaat tanpa ada izin dari Allāh, syafaat caranya adalah dengan berdoa kepada wali, berdoa kepada nabi, kepada orang saleh, ini tidak ada, dinafikan oleh Allāh. Kamā nafāhal-Qur’ān – sebagaimana dinafikan oleh Al-Qur’an.
وَأَخْبَرَ النَّبِيُّ ﷺ أَنَّهُ يَأْتِي فَيَسْجُدُ لِرَبِّهِ وَيَحْمَدُهُ، لَا يَبْدَأُ بِالشَّفَاعَةِ أَوَّلًا
Dan Nabi ﷺ mengabarkan bahwasanya beliau kelak di hari kiamat akan datang kemudian bersujud untuk Allāh dan memuji Allāh ﷻ. Lihat! Bersujud memuji Allāh ﷻ. Tidak memulai dengan syafaat secara langsung. Bukan langsung meminta kepada Allāh, tapi didahului dengan memuji, bersujud (maksudnya adalah minta izin).
ثُمَّ يُقَالُ لَهُ: ارْفَعْ رَأْسَكَ، وَقُلْ يُسْمَعْ، وَاسْأَلْ تُعْطَ، وَاشْفَعْ تُشَفَّعْ
Kemudian dikatakan kepada beliau, ‘Angkat kepalamu wahai Muhammad, dan katakan niscaya akan didengar, mintalah engkau akan diberi, dan berilah syafaat niscaya engkau akan diizinkan untuk memberikan syafaat’. Berarti di sini ada izin dari Allāh. Setelah memuji, diizinkan oleh Allāh baru beliau memberikan syafaat. Ini contoh bahwasanya syafaat di hari kiamat tidak terjadi kecuali dengan izin Allāh.
Siapakah orang yang berhak untuk mendapatkan syafaat?
وَقَالَ لَهُ أَبُو هُرَيْرَةَ: مَنْ أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِكَ؟ قَالَ: مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ
Abu Hurairah pernah bertanya kepada Nabi ﷺ, siapa orang yang berbahagia dengan syafaatmu? Yang kelak akan mendapatkan syafaat Rasul, itu siapa? Orang yang mengatakan Lā ilāha illallāh ikhlas dari hatinya. Berarti dia memahami maknanya dan mengucapkan dengan ikhlas dan dia amalkan dalam kehidupan sehari-hari. Menunjukkan syafaat di hari kiamat, baik yang dilakukan oleh nabi maupun yang lain, ini semua adalah untuk orang yang mentauhidkan Allāh.
فَتِلْكَ الشَّفَاعَةُ لِأَهْلِ الْإِخْلَاصِ بِإِذْنِ اللَّهِ، وَلَا تَكُونُ لِمَنْ أَشْرَكَ بِاللَّهِ
Maka syafaat tadi adalah untuk orang yang ikhlas, untuk ahlut-tauhid saja, yang tidak menyekutukan Allāh di dunia. Makanya kenapa kita dakwah kepada tauhid dan menyuruh manusia untuk memperhatikan masalah tauhid? Supaya ini menjadi modal baginya mendapatkan syafaat di hari kiamat. Bi idznillāh, itu adalah dengan izin Allāh. Untuk ahlut-tauhid dengan izin Allāh. Dan bukan untuk orang yang menyekutukan Allāh. Justru orang yang datang kepada nabi, datang kepada wali dan meminta dan mengatakan, “Ya Wali, berikanlah syafaat untukku.” Apa yang terjadi? Dia telah mengharamkan dirinya dari syafaat. Karena dia menyekutukan Allāh, dan syirik ini adalah menghalangi seseorang untuk mendapatkan syafaat di hari kiamat.
حَقِيقَتُهُ أَنَّ اللَّهَ سُبْحَانَهُ هُوَ الَّذِي يَتَفَضَّلُ عَلَى أَهْلِ الْإِخْلَاصِ
Hakikatnya bahwasanya Allāh ﷻ kelak akan memberikan karunia kepada orang-orang yang bertauhid, ahlul-ikhlas (maksudnya adalah orang-orang yang bertauhid).
فَيَغْفِرُ لَهُمْ بِوَاسِطَةِ دُعَاءِ مَنْ أَذِنَ لَهُ أَنْ يَشْفَعَ، لِيُكْرِمَهُ وَيَنَالَ الْمَقَامَ الْمَحْمُودَ
Maka Allāh mengampuni dosa mereka (orang yang bertauhid) dengan perantara doa orang yang Allāh izinkan untuk memberikan syafaat. Diampuni dosa orang tadi dengan perantara doa orang yang Allāh izinkan. Kenapa harus perantara? Allāh ingin memuliakan dia. Allāh ingin menampakkan derajatnya, kedudukannya di hadapan manusia yang lain. Allāh mampu untuk mengampuni secara langsung. Tapi kenapa di sana dijadikan adanya syafaat? Allāh ingin menampakkan kemuliaan orang tadi di hadapan makhluk yang lain, wa yanālal maqāmal mahmūd, dan supaya dia mendapatkan kedudukan yang terpuji.
فَالشَّفَاعَةُ الَّتِي نَفَاهَا الْقُرْآنُ مَا كَانَ فِيهَا شِرْكٌ
Maka syafaat yang dinafikan oleh Al-Qur’an adalah syafaat yang di dalamnya ada kesyirikan. Jadi kalau tadi ada ayat-ayat yang isinya adalah penafian Allāh ﷻ laisa lahum min dūnihi waliyyun wa lā syafī‘. Karena Allāh mengatakan
فَمَا تَنْفَعُهُمْ شَفَاعَةُ الشَّافِعِينَ
Maka tidaklah berguna bagi mereka syafaat dari para pemberi syafaat. (QS. Al-Muddatstsir: 48)
Yang Allāh nafikan adalah syafaat yang didalamnya ada kesyirikan, diminta syafaat tadi dari selain Allāh ﷻ.
وَلِهَذَا أَثْبَتَ الشَّفَاعَةَ بِإِذْنِهِ فِي مَوَاضِعَ
Oleh karena itu Allāh ﷻ menetapkan syafaat ini dengan izin-Nya di dalam beberapa tempat di dalam Al-Qur’an.
Seperti firman Allāh man dzalladzī yasyfa‘u ‘indahū illā bi idznih. Tidak ada yang memberikan syafaat kecuali dengan izin Allāh. Wa lā yasyfa‘ūna illā limanirtadhā. Wa kam min malakin fis-samāwāti lā tughnī syafā‘atuhum syai’an illā mim ba‘di ay ya’dzanallāhu liman yasyā’u wa yardhā. Berarti di sana ada syafaat yang ditetapkan oleh Allāh. Sehingga syafaat ada dua: ada syafaat yang manfiyyah (syafaat yang dinafikan oleh Allāh), dan syafaat yang mutsbatah (yaitu syafaat yang ditetapkan oleh Allāh ﷻ).
Kalau kita mendapatkan di dalam Al-Qur’an sesuatu dinafikan oleh Allāh, sementara sesuatu ini di tempat yang lain ditetapkan oleh Allāh, maka harus kita yakini bahwasanya yang dinafikan lain dengan yang ditetapkan oleh Allāh. Karena tidak mungkin di dalam Al-Qur’an ada sesuatu yang bertentangan. Kalau kita menjamak antara ayat-ayat yang isinya adalah Allāh menafikan syafaat di hari kiamat, dan ayat-ayat yang isinya Allāh menetapkan syafaat di hari kiamat, maka kita mengetahui bahwasanya yang dinafikan oleh Allāh adalah syafaat yang dilakukan oleh orang-orang musyrikin. Cara untuk mendapatkan syafaat yang dilakukan oleh orang-orang musyrikin, yaitu dengan berdoa kepada selain Allāh, berdoa kepada nabi, berdoa kepada wali, ini dinafikan oleh Allāh ﷻ.
Adapun syafaat untuk ahlut-tauhid, untuk orang-orang yang bertauhid, ahlul ikhlash, maka ini ada sebagaimana dalam dalil-dalil yang lain. Ada di sana syafaat, dan harus kita yakini yang demikian.
وَقَدْ بَيَّنَ النَّبِيُّ ﷺ أَنَّهَا لَا تَكُونُ إِلَّا لِأَهْلِ التَّوْحِيدِ وَالْإِخْلَاصِ
Dan Nabi ﷺ telah menjelaskan bahwasanya syafaat yang demikian tidak diberikan kecuali untuk ahli tauhid dan juga ahli dalam keikhlasannya, yaitu hanya mengikhlaskan ibadah untuk Allāh ﷻ, bukan untuk yang lain.
Sebagaimana dalam hadits Abu Hurairah tadi dan juga hadits yang lain, di mana Nabi ﷺ mengatakan
لِكُلِّ نَبِيٍّ دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ، فَتَعَجَّلَ كُلُّ نَبِيٍّ دَعْوَتَهُ، وَإِنِّي اخْتَبَأْتُ دَعْوَتِي شَفَاعَةً لِأُمَّتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَهِيَ نَائِلَةٌ إِنْ شَاءَ اللَّهُ مَنْ مَاتَ مِنْ أُمَّتِي لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا.
Setiap nabi itu memiliki doa yang mustajab, doa yang dikabulkan, dan masing-masing nabi telah menyegerakan doanya di dunia. Dan sesungguhnya aku menyimpan doaku di hari kiamat sebagai syafaat bagi umatku. Dan syafaat tersebut akan didapatkan insya Allāh orang yang meninggal di kalangan umatku dan dia tidak menyekutukan Allāh dengan sesuatu apapun.
Berarti syafaat di hari kiamat hanya untuk orang-orang yang mentauhidkan Allāh saja. Maka harus kita jaga tauhid, jangan kita berbuat syirik kepada Allāh kalau memang kita ingin mendapatkan syafaatnya Rasulullāh ﷺ.
انْتَهَى كَلَامُهُ
Selesai ucapan Syaikhul Islam Abul Abbas rahimahullāh.
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
